NovelToon NovelToon
Anne Dan Anna

Anne Dan Anna

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Contest / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:269.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: tompealla kriweall

Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.

Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.

Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.

Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XXIV

Dunia ini ada

Sama dengan manusia

Ada sebagai penghuninya

Ada untuk merawatnya

Kamu itu nyata

Bukan hanya sebuah asa

Kamu ada untuk dirinya

Dan aku hanya fatamorgana

*****

Anne bangun agak kesiangan gara-gara lembut tugas semalam. Dia jadi terburu-buru dan panik sendiri. Anna melihatnya dengan mengeleng dan tersenyum sendiri. Padahal tadi dia sudah berkali-kali membangunkan Anne juga.

"Inne... hati-hati!" kata Anna memperingatkan Anne yang sedang terburu-buru saat makan pagi. Tapi sepertinya Anne tidak menghiraukan peringatan Anna sehingga dia tersedak. Anna buru-buru mengambilkan Anne minum dan memberikannya pada Anne.

"Minum dulu. Makanya hati-hati Inne!" Anna kembali menasehati Anne.

"Iya iya maaf." Anne berkata, mukanya yang memang merah menjadi semakin memerah karena menahan sakit akibat tersedak.

Anna tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk pundak Anne yang masih merasa tidak nyaman.

"Kenapa?" tanya ibu Wati saat melihat Anna yang menepuk-nepuk pundak Anne, sedangan Anne menepuk-nepuk dadanya sendiri.

"Inne tersedak Bu" jawab Anna mewakili Anne.

"Lho, hati-hati. Jangan buru-buru!" kata ibu Wati mengingatkan. Anne tersenyum kecut mendengar perkataan ibu Wati, sedangkan Anna hanya tersenyum tipis karena melihat raut wajah Anne yang sudah membaik.

"Nanti tidak usah naik angkutan. Sekalian bareng bapak ya!" Ibu Wati memberitahu.

"Memang bapak mau kemana Bu?" tanya Anne yang memang tahu jadwal pak Didik. Apalagi tidak biasanya pagi-pagi seperti sekarang ini harus pergi dan meninggalkan tugasnya mengajar di kampus.

"Bapak ada undangan ke Fatmawati. Biar nanti sekalian jalan antar kalian!" kata ibu Wati memberitahu. "Kalian siap-siap sekarang ya!" kata ibu Wati kembali. Anne dan Anna kompak mengangguk, kemudian segera menyelesaikan sarapannya.

Dengan gerakan cepat Anne mengambil tasnya dan juga tas Anna tanpa di minta. Menyerahkan pada Anna yang tersenyum sebagai ucapan terima kasih dan berjalan beriringan ke depan. Di teras depan pak Didik sudah siap sambil memanaskan mesin mobil.

"Kalian sudah siap?" tanya pak Didik begitu melihat keduanya. Anne dan juga Anna mengangguk bersamaan. Dan setelah berpamitan dengan ibu Wati yang mengantar suaminya, mereka naik ke dalam mobil dan segera berangkat sebelum jalanan Jakarta memadat di jam pagi hari.

"Kalian nanti pulangnya nunggu bapak juga. Soalnya bapak pulangnya sebelum jam kalian bubaran sekolah. Nanti biar bapak sekalian jalan lewat sekolah kalian lagi!" Pak didik berkata memberitahukan jadwalnya.

"Eh, gak merepotkan itu pak?" tanya Anne dengan mengerutkan keningnya. Anna juga mengiyakan saja.

"gak apa-apa nunggu sebentar. Sekali-kali kalian di jemput biar kayak teman-teman yang lain juga" jawab pak didik sambil tertawa kecil. Anne dan Anna pun ikut tertawa juga. Mentertawakan gurauan pak didik yang memang benar adanya.

"Tapi kalian jangan berkecil hati. Tidak semua hal yang terlihat mewah itu membawa kebahagiaan!" Pak didik berkata menasehati pada kedua anak asuhnya yang masih remaja.

"Kalian mengerti apa yang bapak maksudkan?" tanya pak didik.

"Ya pak" jawab Anne dan Anna kompak.

"Kalian harus tetap bersyukur apapun yang kalian miliki. Karena tanpa bersyukur semua tidak ada artinya." Kembali pak Didik berkata memberikan nasehatnya.

Tidak terasa, perjalanan mereka yang diselingi berbagai obrolan dan candaan itu memberikan banyak ilmu dari nasehat-nasehat pak Didik. Mereka pun kini sudah sampai di depan sekolah tempat Anne dan Anna menuntut ilmu.

"Kalian harus tetap mempertahankan nilai dan prestasi ya!" kata pak Didik saat keduanya berpamitan.

"Jagan lupa saling menjaga dan saling dukung juga!" Pak didik kembali memberikan nasehatnya sebelum kembali menjalankan mobilnya.

"Siap pak!" jawab keduanya kompak sambil mengangkat tangan selayaknya sikap memberi hormat. Pak Didik mengacungkan jempol dan menjalankan mobilnya lagi. Anne dan Anna berjalan ke gerbang sekolah dan masuk ke dalam. Siap mengikuti pelajaran hari ini.

*****

Bel pulang sekolah berdering dan anak-anak pun bersorak senang. Mereka merasa lega dengan panasnya otak yang seharian diajak perang dengan berbagai pelajaran yang harus mereka terima. Mereka pun berhamburan keluar kelas masing-masing dengan bersorak-sorai.

"Ann..." Panggil Alan saat Anna hampir saja beranjak dari tempatnya duduk. Anna pun mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Alan yang sedang berjalan mendekat.

"Ada apa?" tanya Anna begitu Alan sudah ada berdiri di sebelahnya.

"Apa anak-anak panti sudah sehat? maksudku yang kemarin sakit dan yang sempat dirawat di klinik?" jawaban Alan sekaligus bertanya juga.

"Alhamdulillah sudah kok, berkat doa dari kamu juga. Yang dirawat di klinik juga sudah pulang semalam. Terima kasih ya perhatiannya!" jawab Anne sambil tersenyum atas perhatian yang di miliki Alan.

"Aku pengen jenguk boleh? tapi motor aku g bisa membonceng sekaligus kamu dan Anne. Gimana?" Alan bertanya dengan kikuk. Dia tentu merasa tidak enak jika harus memboncengkan salah satu dan meninggalkan salah satu dari mereka berdua.

"Kebetulan kami di jemput pak Didik. Kamu ngikut saja dari belakang." Anne memberikan usul.

"Maksudnya pak Didik jemput sore ini? Tumben!" Alan merasa heran karena memang tidak seperti biasanya.

"Kebetulan beliau ada seminar tadi pagi, dan pulangnya sore ini. Jadi tadi di pesan sekalian untuk menunggu di depan." Kembali Anna menerangkan atas pertanyaan Alan.

"Oh gitu. Ok deh, ayok!" Alan pun bergegas mengambil tasnya dan menunggu Anna. Mereka berdua akhirnya keluar kelas bersama-sama menuju kelas Anne yang memang sejalan menuju ke halaman depan sekolah.

"Anna... ayok, mungkin pak Didik udah nunggu ini!" Panggil Anne begitu melihat Anna.

"Iya, ini juga jalan kok." jawab Anna, kemudian berusaha mempercepat langkahnya.

"Kamu nanti nyusul saja ya Al, aku buru-buru!" Anna berkata pada Alan yang mesti ke parkiran dulu untuk mengambil motornya.

"Iya, anti aku nyusul. Gak usah bilang sama Anne kalau aku mau datang ya!"

"Ok!" jawab Anna singkat. Mereka pun berpisah, Anna dengan langkahnya yang menuju ke tempat Anne menunggu sedangan Alan masih melangkah pelan di belakang.

"Kenapa Alan?" tanya Anne karena melihat Alan yang tidak ikut serta saat Anna mempercepat langkahnya tadi.

"Lagi ada perlu kali." Anna menjawab sebisanya . Dengan sedikit gugup dia mengandeng tangan Anne agar segera melangkah lagi ke halaman sekolah.

"Eh, pak Didik udah nunggu tuh. Ayok buruan!" Anna kembali menarik tangan Anne karena melihat mobil pak Didik yang sudah terparkir di depan. Anne pun akhirnya ikut mempercepat langkahnya mengimbangi Anna yang masih menarik tangannya.

"Pak Didik, maaf jadi menunggu kami." Sapa Anna begitu sampai di dekat mobil dan melihat pak Didik yang duduk menunggu dibalik kemudi.

"Iya gak apa-apa kok. Sekali-kali menjemput anak-anak bapak. Maaf lho, malah bapak gak pernah merhatiin kalian akhir-akhir ini." Pak Didik merasa tidak enak hati karena banyaknya kesibukan akhir-akhir ini membuatnya tidak bisa ikut mengurus anak-anak panti asuhannya.

Tak lama, mobil pun bergerak meninggalkan sekolah tempat Anne dan Anna menuntut ilmu. Mencari jalan kesuksesan yang menunggu mereka di masa depan nantinya.

1
Luciana Dwiningyad
lha kok sampe sekarang ga berlanjut, judul sama ceritanya ga nyambung
Dyah Oktina
lah... dgantung thor... kpn lanjut ceritannya..
Dyah Oktina
eh...iya... thor kla larry sdh curiga siapa adeknya knp ngak tes DNA aja.. dari pd penasaran & kelamaan kasihan mama yolanda
Dyah Oktina
yg pop tadi bukannya larry ya kok pop end nya jd alan ya thor???
TK
Kamu kapan ini Aku tulis lagi 🙊
triana 13
semangat kak
triana 13
lanjut
triana 13
like
triana 13
lanjut
triana 13
like
Restviani
lanjut
Restviani
maaf, baru bisa datang lagi
Restviani
gintani datang lagi yaaa...
lanjut...
Reo Ruari Onsiwasi
mampir lagi
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
done
🐾Ocheng🐾
hai, ocheng datang bawa Like👍semangat 💪
🐾Ocheng🐾
hadir bawa Like👍
👑Meylani Putri Putti
nyicil
👑Meylani Putri Putti
like selalu
👑Meylani Putri Putti
hadir kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!