Mencintai dan dicintai, memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun, bagi seorang Alexander Matthew harus selalu bisa dengan bijak untuk menyikapinya.
Hal yang paling sulit bagi Alex dalam mencintai yaitu memulainya. Terutama untuk membuka kembali hatinya setelah membereskan yang lama.
Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti dalam hidup Alex yaitu seberapa banyak dia mencintai, seberapa lembut dia menjalani hidup, dan seberapa ikhlas dia melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untuknya.
Kini hati Alex pun berakhir pada satu wanita yang mampu membuat dia hanya ingin hidup bersamanya untuk selamanya.
"Meski banyak wanita di luar sana yang lebih baik, lebih cantik mungkin, atau lebih sexy, aku tidak peduli! Bagiku, hanya kamu wanita satu-satunya yang terbaik dari semua wanita di luar sana, dan hanya denganmu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku!"
"Dasar gombal! Sejak kapan Tuan Muda sepertimu bisa berkata semanis ini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBW #24
Keesokan harinya, Amanda membantu menyiapkan sarapan untuk Tuan Muda Alex bersama Bi Salma.
"Apa kamu bisa masak?" Tanya Bi Salma pada Amanda.
"Bisa Bi, karena aku pernah bekerja di Kafe sebagai koki." Jawab Amanda kemudian menghela nafas panjang karena seketika ia teringat kejadian saat ia ditampar oleh istri bosnya dan dipecat.
"Hebat dong kamu! Kalau begitu nanti malam kamu yang memasak ya! Bibi yakin Tuan Muda pasti akan suka masakan darimu!" Ucap Bi Salma dengan tersenyum memuji Amanda.
"Hah? Tapi Bi, aku belum tau selera dari Tuan Alex, takutnya nanti dia tidak suka." Jawab Amanda.
"Nanti Bibi akan beri tau kamu apa saja makanan yang disukai Tuan Muda. Ayo cepat bawa ini kemeja!" Ucap Bi Salma kemudian menyuruh Amanda membantu membawa sarapan ke meja makan.
Setelah mengobrol sambil membuat sarapan, Bi Salma dan Amanda membawa sarapannya ke ruang makan dan menatanya dimeja sebelum Tuan Mudanya turun untuk sarapan.
"Bi, kenapa tidak ada yang membantu pekerjaan Bibi disini?" Tanya Amanda yang merasa penasaran.
"Membantu apa? Bibi disini hanya memasak saja karena Tuan Muda tidak mengijinkan Bibi mengerjakan pekerjaan rumah." Jawab Bi Salma sambil tersenyum.
"Tapi kenapa tidak ada pelayan di Villa sebesar ini Bi?" Tanya Amanda kembali.
"Karena Tuan Muda tidak mau kalau Villanya dihuni oleh orang asing." Jawab Bi Salma memberi tau Amanda dan Amanda hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O.
Tidak mau kalau Villanya dihuni orang asing? Aku ini kan orang asing. Baru kenal beberapa hari saja tapi kenapa Tuan Alex membawaku kesini dan memintaku untuk tinggal disini?
Ucap Amanda dalam hati yang masih belum menyadari perasaan Alex terhadapnya.
Sedangkan Alex juga masih bingung dengan perasaan yang ia rasakan terhadap Amanda. Awalnya, ia hanya merasa kasihan dengan Amanda. Tapi kini, ia merasa ingin selalu dekat dengan Amanda.
"Non!"
"Nona Amanda!"
Seketika Amanda tersadar dari lamunannya saat Bi Salma memanggilnya sambil menepuk lengannya.
"Euh..ya Bi?" Jawab Amanda sedikit terkejut.
"Tuan Muda sudah turun!" Ucap Bi Salma dan Amanda langsung menoleh kearah Alex.
Alex sedang berjalan turun dari tangga terlihat begitu mempesona dengan setelan jas warna hitamnya. Tubuh tinggi tegap dan sangat atletis ini terlihat semakin gagah dan sempurna.
Tanpa sadar Amanda terus menatap Alex tak berkedip, bahkan sulit menelan ludahnya saat melihat Alex berjalan semakin mendekat kearahnya.
"Selamat pagi Tuan Muda!" Sapa Bi Salma dengan lembut.
"Pagi Bi!" Balas Alex kemudian duduk dan menyunggingkan senyum tipis disudut bibirnya saat melihat Amanda yang terus menatapnya.
"Non, ayo duduk dan sarapan!" Ucap Bi Salma seketika membuat Amanda tersadar dari lamunannya.
"Ah, i-iya Bi!" Jawab Amanda kemudian ia duduk disebelah Bi Salma dan Alex duduk di kursi seberang dihadapannya.
Mereka sarapan bersama dengan khidmat tanpa ada perbincangan karena memang Alex sejak kecil membiasakan dirinya untuk tidak bicara atau mengobrol saat makan. Amanda yang melirik Alex, ia pun juga hanya diam tidak berani bersuara melihat Alex yang hanya fokus dengan sarapannya.
Kenapa dia pelit banget sih untuk senyum sedikit saja? Ucap Amanda bertanya dalam hati sambil melirik kearah Alex dan saat itu juga Alex menatapnya.
"Uhuk uhuk!" Amanda tersentak dan langsung tersedak saat melihat tatapan Alex.
"Ya ampun Non, pelan-pelan! Ini minum dulu!" Bi Salma langsung menyodorkan segelas air putih kepada Amanda dan Amanda langsung meminumnya hingga setengah gelas air.
Alex kembali tersenyum sekilas merasa lucu dan gemas melihat Amanda yang terkejut hingga tersedak karena tertangkap basah memandanginya.
"Aku sudah selesai, aku berangkat ya Bi!" Ucap Alex berpamitan kepada Bi Salma.
"Iya Tuan Muda, hati-hati dijalan!" Jawab Bi Salma dengan tersenyum.
Alex melirik kearah Amanda sambil bangkit berdiri dan melangkah pergi.
"Tu-Tuan Alex tunggu!" Amanda segera beranjak dan menghampiri Alex.
Alex berbalik dan menatapnya. "Ada apa?" Tanya Alex dengan menatapnya.
"Emm..aku..aku mau minta ijin untuk pergi ke kampus." Ucap Amanda dengan gugup meminta ijin sambil menunduk tidak berani menatap Alex.
"Pergilah dan belajarlah dengan sungguh-sungguh!" Jawab Alex dengan memberi tatapan hangat pada Amanda.
"Terimakasih banyak Tuan!" Ucap Amanda dengan tersenyum manis.
"Hmm!" Singkat Alex kemudian ia berbalik dan segera pergi.
***
"MANDA!!" Teriak Meli, Nina dan Riana bersamaan saat melihat Amanda datang.
"Aku kangen banget sama kalian!" Seru Amanda dan langsung memeluk ketiga sahabat baiknya.
"Kamu kemana sih? Kemarin sore, kita kerumah kamu, tapi kata pemilik rumah, kamu udah pindah!" Tanya Nina dengan kesal karena Amanda tidak mengabari mereka.
"Iya Manda, kamu pindah kemana?" Tanya Riana.
"Dan kenapa nggak ngabarin kita??" Sambung Meli dengan menatap Amanda.
"Satu satu dong tanyanya. Aku pasti akan jawab kok!" Ucap Amanda dengan menatap ketiga sahabatnya dengan resah karena ia tau kalau mereka pasti akan sangat terkejut setelah ia menceritakan apa yang telah ia alami kemarin-kemarin ini.
Riana, Meli dan Nina menggiring Amanda ke taman yang ada disamping kampus tempat mereka berkumpul sejenak untuk mengobrol, canda tawa dan saling bercerita saat jam kuliah belum dimulai atau sudah selesai.
"Rasanya lama banget aku nggak masuk kuliah. Aku harus mengejar mata kuliahku yang tertinggal!" Ucap Amanda dengan menghela nafasnya berat.
"Udah cepetan kamu cerita sebelum dosen kita dateng!" Pinta Meli dengan tidak sadar yang diangguki oleh Riana dan Nina.
Amanda menghela nafasnya panjang sebelum memulai bercerita. Amanda menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya akhir-akhir ini. Ia juga menceritakan saat ia dipecat dengan cara tidak hormat membuat ketiga sahabatnya terkejut dan emosi.
"APA??" Pekik Riana, Meli dan Nina saat Amanda menceritakan dirinya ditampar oleh Vina dengan tuduhan sebagi pelakor lalu dipecat.
"Terus, kamu diem aja gitu?" Tanya Meli yang sudah menahan emosinya merasa tidak terima dengan apa yang dialami oleh Amanda.
"Iya Manda! Kamu nggak bales tuh Nyi Blorong?" Celetuk Nina juga dengan marah.
"Kenapa kamu nggak langsung ngabarin kita sih?" Sambung Riana yang ikut kesal juga tidak terima.
"Iya maaf kalau aku nggak ngabarin kalian. Aku waktu itu juga mau bales tuh Nyi Blorong, tapi aku nggak mau masalahnya tambah panjang jadi ya udah aku langsung pergi aja. Lagian, aku juga udah dipecat dan sekarang ini aku juga udah dapet kerjaan baru sekaligus tempat tinggal." Jawab Amanda panjang lebar memberi tau ketiga sahabatnya.
"Kamu kerja dimana emang?" Tanya Riana yang dangguki Meli dan Nina sambil menatap Amanda.
Saat Amanda ingin menjawab, mereka sudah harus masuk kelas karena dosennya sudah datang. "Nanti aku kasih tau kalian. Sekarang kita masuk kelas dulu!" Ucap Amanda sambil bangkit berdiri disusul oleh ketiga sahabatnya.
"Awas kalau lupa ya?!" Tunjuk Nina dengan tajam.
"Iya iya!" Jawab Amanda dan mereka pun segera masuk kedalam kelas.
...*****...