Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kedua kakak beradik itu akhirnya tiba di rumah. Namun, mereka terkejut melihat mobil ayahnya sudah terparkir lebih dulu.
“Sial, Papa sudah pulang. Celakalah kau, Rico,” bisik Angga pelan.
“Sudahlah, diam saja! Berisik sekali kau,” sahut Rico kesal.
Keduanya pun melangkah masuk dengan hati berdebar-debar, tanpa menyadari bahwa sesuatu sudah menanti mereka.
“Baru pulang? Dari mana saja kalian?” Suara yang sangat mereka kenali itu membuat Rico seketika merasa ketakutan.
“Anu… Rico baru saja aku antar pulang, Pa. Mobilnya tadi mogok,” jawab Angga berusaha berkilah.
“Mogok?” tanya Anton pelan namun tajam.
“Benar, Pa. Mungkin kehabisan bensin,” timpal Rico cepat.
Anton melangkah mendekati kedua putranya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk meremang.
“Jangan coba-coba membohongi Papa, Rico. Papa tahu persis kalian baru saja dari mana. Dan kau, Angga, jangan berusaha menutupi kelakuan buruk adikmu itu.”
Keduanya tak mampu membantah. Mereka hanya menunduk dan diam seribu bahasa.
“Pergilah ke kamar dan bersihkan diri kalian,” perintah Anton. Angga dan Rico pun segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
“Anton!” panggil ibunya. Anton menghela napas panjang lalu menoleh dengan nada ketus.
“Ada apa, Bu?”
“Ajari anak-anakmu sopan santun dan tata krama. Jangan biarkan mereka tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak tahu aturan,” ucap Bu Amira tegas.
“Itu urusanku, Bu. Ibu tidak perlu ikut campur apalagi mengatur hidupku,” balas Anton dingin.
“Ibu berkata begitu agar mereka tidak meniru kelakuanmu, Anton. Apakah kau sudah lupa apa yang telah kau perbuat terhadap Yuda, kakakmu sendiri? Hah?” tanya Bu Amira mengingatkan tentang peristiwa tragis bertahun-tahun silam.
“Bisakah Ibu tidak membahas hal itu lagi? Apakah Ibu sudah lupa dengan ancamanku dulu? Ingat, Bu. Jangan berbuat macam-macam di rumah ini jika Ibu masih ingin tinggal di sini,” bisik Anton dengan nada mengancam, lalu berbalik pergi meninggalkan ibunya sendirian di ruang tengah.
Bu Amira pun menangis pilu menyaksikan putranya yang telah berubah menjadi sosok yang begitu kejam.
“Ya Allah… Apakah ini salahku? Dulu aku selalu berusaha bersikap adil, berharap agar Anton dan Yuda tak pernah berselisih paham. Namun ternyata…” gumamnya lirih, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
.
.
.
Keesokan paginya, suasana rumah mendadak menjadi heboh karena Bu Risma yang terus mengeluh kesakitan dan gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Hal itu terjadi setelah ia memakan olahan udang yang dimasak Kiara.
Dengan penuh amarah, Bu Risma menyuruh Mbak Asih untuk memanggil Kiara. Karena takut Kiara akan dimarahi bahkan dipukul, Mbak Asih pun berusaha membela gadis itu dengan cara berbohong.
“Maaf, Nyonya… Sebenarnya yang memasak udang itu adalah saya,” ucap Mbak Asih.
“Halah, jangan berbohong kau, Mbak Asih! Katakan saja kalau itu perbuatan gadis tak tahu diri itu! Ingat, jangan pernah sekali-kali kau membela dia!” ancam Bu Risma. Setelah itu, ia berjalan menuju kamar untuk mencari obat pereda alerginya.
“Ada apa, sih, Mbak? Pagi-pagi sudah terdengar ribut sekali?” tanya Rico yang baru saja keluar dari kamar.
“Itu, Den. Tadi Non Kiara memasak udang, tapi Mbak tak tega melihatnya jika harus dimarahi apalagi sampai dipukul. Kasihan Non Kiara, sudah besar tapi seolah hidup dalam siksaan terus-menerus,” jawab Mbak Asih.
Rico hanya bisa menggeleng-geleng kepala mendengar penuturan itu. Memang sudah sering ia mendengar keluhan dari Mbak Asih maupun melihat sendiri perlakuan ibunya terhadap Kiara. Namun, Rico tak pernah berani berbuat apa-apa untuk membela adiknya itu. Ia selalu diancam bahwa jika berani memihak Kiara, seluruh fasilitas yang selama ini ia nikmati akan dicabut. Oleh karena itu, ia hanya bisa memilih diam.
“Sudahlah, Mbak. Bereskan saja semuanya. Nanti biar Rico yang bicara dengan Mama,” kata Rico, lalu berjalan menuju kamar ibunya.
Sesampainya di depan kamar, Rico mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin.
“Kenapa sih, Ma?” tanya Rico dengan nada lelah melihat kenyataan bahwa keluarganya seolah selalu menyudutkan Kiara.
“Kenapa, kenapa? Tidakkah kau lihat tubuh Mama penuh bentol dan kemerahan begini?” ketus Bu Risma.
“Ya, kalau memang Mama alergi udang, tinggal minum obat saja, kan selesai. Tidak perlu membuat keributan setiap pagi,” sahut Rico.
Ucapan itu membuat Bu Risma menoleh tajam dengan wajah memerah menahan amarah.
“Kau mulai membela gadis kampungan itu, ya?” bentaknya.
“Eh, tidak, Ma. Bukan begitu. Rico hanya malas saja mendengar rumah selalu ribut terus,” kilah Rico cepat.
“Kalau kau tak suka mendengar keributan, lebih baik kau pergi saja dari rumah ini! Tapi ingat, tak boleh membawa satu pun fasilitas yang Mama dan Papa berikan padamu!”
“Eh, jangan begitu dong, Ma. Baiklah, baiklah. Rico tidak akan ikut campur lagi. Tapi tolong jangan cabut apa yang sudah Rico dapatkan,” ucap Rico pasrah.
“Sudah kalau begitu, lebih baik kau keluar dari kamar Mama. Mama ingin beristirahat agar alergi ini cepat sembuh.”
Rico pun menurut dan segera keluar dari kamar ibunya.
.
.
.
Di dapur, Kiara masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama kemudian, neneknya datang dan menegur Kiara karena tak tega melihat cucunya itu terus bekerja keras.
“Kiara, sudah, Nak. Biar Mbak Asih saja yang menyelesaikan pekerjaan itu,” ucap Bu Amira.
“Tapi, Nek, pekerjaan Kiara sebentar lagi selesai kok,” jawab Kiara. Namun, Bu Amira tetap bersikeras agar cucunya itu berhenti bekerja.
“Tapi, Nak, kau sudah bangun dan bekerja sejak subuh tadi. Sudah, serahkan sisanya pada Mbak Asih,” pinta Bu Amira lembut.
“Benar kata Nenek Amira, Nona. Sebaiknya Nona berhenti dulu. Lagi pula, Nyonya Risma sedang berada di kamar, tidak mungkin ia akan turun ke dapur sekarang,” sahut Mbak Asih menambahkan.
Akhirnya Kiara menghentikan pekerjaannya. Ia lalu ditarik oleh neneknya untuk duduk di kursi makan.
“Kau belum sarapan, kan? Sini, sarapanlah bersama Nenek. Nenek juga belum makan,” ajak Bu Amira.
“Tapi, Nek…” Kiara hendak menolak, namun Bu Amira langsung menyuapkan sesendok makanan ke mulut cucunya itu.
“Jangan pernah menolak jika Nenek menyuapimu. Ingat itu, Nenek tidak suka ditolak,” ucapnya tegas namun penuh kasih sayang.
Kiara hanya bisa mengangguk sambil mengunyah makanan itu perlahan.
“Makanlah yang banyak, ya. Nenek tidak suka melihatmu kurus kering seperti ini,” ucap Bu Amira sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir.
Kiara menatap wajah neneknya dengan bingung. “Nenek menangis? Kenapa? Apakah Kiara berbuat salah? Jika iya, Kiara minta maaf ya, Nek.”
Bu Amira menggeleng cepat, lalu menggenggam tangan cucunya dan mengusapnya lembut.
“Nenek tidak apa-apa, dan Kiara juga tidak berbuat salah apa-apa. Sudah, habiskan makananmu, nanti setelah itu kau boleh berangkat bekerja.”
“Tapi… Kiara tidak diizinkan bekerja lagi di kantor milik keluarga Kencana, Nek,” ucap Kiara lirih.
“Kenapa Papa melarangmu bekerja di sana?” tanya Bu Amira penasaran.
“papa bilang Kiara akan membuat mereka malu , jika kita masih bekerja di perusahaan kencana.”
Bu Amira hanya bisa menghela napas panjang dan berat. Ia tak habis pikir dengan sikap putranya sendiri yang begitu kejam terhadap anak tak berdosa ini.
“Bersabarlah ya, Nak,” ucapnya pelan.
Kiara mengangguk lemah, lalu kembali melanjutkan makanannya.
Bersambung