Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Dylan telah selesai menjalani pemeriksaan lanjutan terhadap ginjal yang baru ia terima.
“Tuan Jiang, kondisi Anda sangat baik,” ucap Dokter Xu sambil menatap layar hasil pemeriksaan lalu mencatat sesuatu di lembar laporan. “Proses adaptasi ginjal berjalan cepat. Tidak ada tanda penolakan, dan sejauh ini tidak ditemukan efek samping berarti.”
Namun Dylan tidak terlihat lega.
Tatapannya justru semakin tajam.
“Beritahu siapa pendonornya,” ucapnya tegas, tanpa basa-basi.
Dokter Xu langsung berhenti menulis. “Maaf, Tuan… mengenai identitas pasien itu, pihak rumah sakit tidak bisa memberitahukan.”
“Aku adalah penerima ginjal ini,” suara Dylan mulai dingin, dan aku rasa aku berhak mengetahui siapa pemiliknya.”
Dokter Xu menghela napas pelan, mencoba tetap tenang.
“Tuan Jiang, sesuai prosedur dan permintaan keluarga pendonor, identitas tidak boleh dibuka dalam kondisi apa pun. Kami hanya menjalankan aturan—”
“Berapa lama lagi kalian mau bersembunyi di balik kata aturan?” potong Dylan tajam.
“Aku tidak peduli prosedur,” ucapnya rendah namun tegas. “Aku hanya ingin jawaban. Wanita atau pria? Tinggal di mana? Dan apakah dia masih hidup?”
Dokter Xu terdiam.
“Tuan Jiang…” suara dokter itu melemah, “kami benar-benar tidak memiliki akses ke identitas lengkapnya. Yang kami tahu hanya kode pasien anonim dan status kritis saat operasi dilakukan.”
Dylan mengepalkan tangannya perlahan.
“Jadi kalian ingin aku percaya aku menerima organ dari seseorang yang bahkan kalian sendiri tidak bisa jelaskan keberadaannya?”
Dokter Xu tidak menjawab.
Dylan menarik napas pelan, lalu tersenyum tipis—bukan senyum hangat, tapi dingin dan penuh keputusan.
“Kalau kalian tidak bisa memberitahuku lewat cara baik,” ucapnya pelan, “maka aku akan mencari cara lain.”
“Apa maksud Anda, Tuan?” tanya Dokter Xu, suaranya mulai bergetar.
“Memindahkanmu ke tempat terpencil dan menjadikanmu dokter di sana selamanya,” jawab Dylan dingin, penuh tekanan.
“Tuan Jiang, ini… kami benar-benar tidak tahu siapa dia,” ucap Dokter Xu dengan wajah cemas.
“Tidak tahu?” Dylan menyipitkan mata. “Aku bukan anak kecil. Pikirkan baik-baik sebelum kau terus berbohong padaku.”
“Tuan Jiang,” Dokter Xu mencoba menjelaskan, “pihak rumah sakit memang tidak diberi identitas lengkap gadis itu. Saat itu… keluarga Anda sendiri yang membawanya ke sini.”
“Dokter Xu,” Jay langsung menyela, “maksud Anda Tuan Besar Jiang dan Nyonya?”
“Iya,” jawab Dokter Xu cepat. “Gadis itu dibawa dalam kondisi… tidak sepenuhnya sukarela. Dia menolak. Bahkan memohon agar tidak diambil apa pun dari tubuhnya. Tapi Tuan Besar Jiang dan Nyonya tetap memaksa. Kami hanya bisa menjalankan prosedur yang sudah mereka tanda tangani.”
Jay menatap Dylan dengan tegang.
“Siapa gadis itu sebenarnya?” tanya Dylan akhirnya, suaranya rendah.
Sebelum Dokter Xu sempat menjawab, ia melanjutkan dengan cepat, seolah ingat sesuatu.
“Suster pernah mendengar percakapan waktu itu. Gadis itu… seperti ‘dibeli’ oleh keluarga Jiang. Jadi dia diwajibkan memenuhi apa pun yang diminta keluarga Jiang.”
Jay mengerutkan kening.
“Apakah keluarga Jiang pernah membeli seseorang gadis sebelumnya?” gumamnya pelan.
Dylan menjawab tanpa menoleh, suaranya datar.
“Aku tidak pernah pulang sejak keluar negeri sampai sekarang. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini.”
“Dokter Xu,” tanya Jay, “siapa nama gadis itu?”
Dokter itu tampak ragu, mengingat-ingat dengan serius.
“Kalau tidak salah dengar… namanya Vi… Viona.”
Nama itu jatuh seperti beban di tengah ruangan.
“Viona?” Dylan mengulang pelan.
Matanya sedikit menyipit, seperti mencoba menggali ingatan yang tersembunyi.
“Nama ini… tidak asing.”
Jay mengangguk pelan, berpikir keras.
“Viona… aku juga merasa pernah mendengarnya,” gumamnya. “Tapi di mana…”
“Selain itu, apa lagi yang mereka bicarakan?” tanya Dylan, suaranya makin rendah.
Dokter Xu menelan ludah sebelum menjawab.
“Gadis itu… menerima ancaman dari Tuan Besar Jiang. Jika dia menolak, maka biaya pengobatan adiknya akan dihentikan.”
Jay menoleh cepat ke Dylan, sementara tangan Dylan yang tadi di sisi tubuhnya perlahan mengepal.
“Adik?” ulang Dylan pelan.
“Iya,” lanjut Dokter Xu. “Itu satu-satunya kelemahan yang digunakan. Kami mendengar dia sangat bergantung pada biaya pengobatan adiknya.”
Dylan mengalihkan pandangannya, tajam.
“Bagaimana kondisi tubuhnya saat itu?” tanyanya.
Dokter Xu ragu sejenak, lalu menjawab jujur.
“Buruk. Tidak bergizi, sangat kurus. Dia seperti mengalami kekerasan fisik dan mental dalam waktu lama. Tapi kami… hanya dokter. Kami tidak punya kuasa untuk menghentikan keluarga Jiang.”
“Lanjutkan,” kata Dylan dingin.
“Setelah operasi,” lanjut Dokter Xu, “dia tidak pernah kembali untuk kontrol lanjutan. Hanya mengandalkan obat yang kami sarankan sebelumnya. Padahal dalam kondisi seperti itu, dia seharusnya dirawat lagi. Luka operasi masih belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih sangat lemah. Jika tidak dijaga dengan benar, kondisinya bisa sangat berbahaya.”
Dylan terdiam lama.
“Jadi dia pergi dalam kondisi seperti itu,” ucapnya pelan
“Benar, Tuan Jiang.”
Dylan kemudian beranjak dari ruangan tanpa basa-basi.
Langkahnya cepat, tegas, dan tidak menyisakan ruang untuk siapa pun menghentikannya.
Jay segera mengikuti dari belakang.
“Tuan, kita mau ke mana?” tanya Jay.
“Pulang ke rumah,” jawab Dylan singkat.
“Ke rumah Tuan Besar?” Jay memastikan.
Dylan tidak langsung menjawab sampai mereka masuk ke lorong rumah sakit yang dingin.
“Aku penasaran,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan tajam, “Viona itu siapa… dan sejak kapan papaku yang ‘baik’ itu membeli seorang gadis untuk dikorbankan.”