NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 luka yang belum selesai

Ruang rapat yang sejak pagi dipenuhi ketegangan akhirnya terasa jauh lebih ringan setelah seluruh dokumen penyelesaian ditandatangani. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Revano bisa bernapas lega tanpa dibayangi tuduhan dan pemberitaan yang terus menyerangnya.

Beberapa anggota tim Nadia bahkan terlihat tersenyum puas setelah bekerja siang dan malam mengumpulkan bukti hingga berhasil membongkar seluruh kebohongan tersebut.

Sementara itu Nadia hanya duduk sambil merapikan berkas-berkas terakhir yang sudah tidak diperlukan lagi.

Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya.

Namun karena selama ini Nadia memang dikenal sebagai pribadi yang selalu tenang, tidak ada yang terlalu memperhatikan perubahan tersebut.

Revano berjalan mendekatinya.

Tatapannya dipenuhi rasa hormat yang tulus.

"Terima kasih."

ucapnya.

"Kalau bukan karena Anda, kasus ini mungkin tidak akan selesai secepat ini."

Nadia mengangkat wajah dan memberikan senyum tipis.

"Itu memang pekerjaan saya."

jawabnya sederhana.

Revano menggeleng pelan.

"Tidak."

katanya.

"Saya sudah bertemu banyak pengacara."

"Tapi saya belum pernah melihat seseorang menyelesaikan masalah seperti ini dalam waktu sesingkat itu."

Tatapannya beralih pada anggota tim Nadia yang masih berada di ruangan.

"Saya akan menyiapkan bonus khusus."

"Dan hadiah untuk Anda."

Nadia langsung menggeleng.

"Saya tidak membutuhkannya."

jawabnya tanpa ragu.

Revano sedikit terkejut.

Sebagian besar orang mungkin akan menerima tawaran tersebut tanpa berpikir dua kali.

Namun Nadia justru terlihat sama sekali tidak tertarik.

"Kalau begitu anggap saja sebagai tanda terima kasih."

ucap Revano.

Nadia tersenyum tipis.

Lalu menunjuk anggota timnya yang masih sibuk membereskan dokumen.

"Kalau Tuan benar-benar ingin berterima kasih."

katanya pelan.

"Traktir mereka saja."

"Mereka yang bekerja paling keras selama beberapa minggu terakhir."

Beberapa anggota tim langsung saling berpandangan.

Sebagian bahkan tampak tersentuh.

Karena bahkan di akhir pekerjaannya, Nadia masih memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.

Revano tertawa kecil.

"Baik."

jawabnya.

"Itu jauh lebih mudah."

Suasana ruangan akhirnya terasa santai.

Namun hanya beberapa detik.

Karena tiba-tiba Nadia yang sedang berdiri untuk mengambil map terakhir merasakan pandangannya berputar.

Tubuhnya mendadak kehilangan keseimbangan.

Suara-suara di sekitarnya perlahan menjauh.

"Nadia?"

Salah satu anggota tim langsung berdiri.

Namun semuanya terlambat.

Tubuh Nadia sudah limbung ke depan.

Beruntung Revano yang berdiri paling dekat segera bergerak dan menahannya sebelum jatuh ke lantai.

"Nadia!"

Suara panik mulai terdengar dari berbagai arah.

Wajah Nadia terlihat sangat pucat.

Matanya terpejam.

Tidak memberikan respons apa pun.

Beberapa menit kemudian ambulans membawa Nadia menuju rumah sakit terdekat.

Sepanjang perjalanan Revano duduk di sampingnya dengan wajah tegang.

Meskipun baru mengenal wanita itu selama beberapa minggu, entah mengapa melihat Nadia terbaring tidak sadarkan diri membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Beberapa jam kemudian.

Nadia perlahan membuka mata.

Cahaya lampu rumah sakit langsung menyambut pandangannya.

Kepalanya terasa berat.

Tubuhnya lemas.

Saat mencoba mengingat apa yang terjadi, pintu ruang perawatan terbuka.

Seorang dokter masuk bersama Revano yang sejak tadi menunggu di luar.

"Syukurlah Anda sudah sadar."

ucap dokter.

Nadia berusaha duduk perlahan.

"Apa saya pingsan?"

tanyanya.

Dokter mengangguk.

"Anda terlalu lelah."

"Kurang istirahat."

"Lalu memaksakan diri bekerja."

Nadia menghela napas pelan.

Jawaban yang sebenarnya sudah bisa ia tebak.

Namun dokter kemudian melanjutkan kalimat berikutnya.

"Dan kondisi kehamilan Anda juga membuat tubuh lebih rentan kelelahan."

Ruangan mendadak sunyi.

Nadia membeku.

Baru saat itulah ia teringat bahwa dirinya tidak sendirian.

Revano masih berdiri beberapa langkah di belakang dokter.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi tenang di wajah Revano benar-benar menghilang.

Tatapannya menunjukkan keterkejutan yang tidak mampu disembunyikan.

Hamil.

Selama ini ia sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.

Tidak pernah mendengar Nadia membicarakannya.

Tidak pernah melihat tanda-tanda apa pun.

Karena wanita itu bekerja seolah tidak ada masalah dalam hidupnya.

Sementara Nadia hanya memejamkan mata perlahan.

Ia memang belum berniat memberitahukan siapa pun.

Apalagi kepada kliennya sendiri.

Dokter yang tidak menyadari suasana aneh di antara mereka tetap melanjutkan penjelasannya.

"Untung tidak terjadi apa-apa pada bayi."

"Tapi mulai sekarang Anda harus lebih menjaga kondisi."

"Kurangi stres dan jangan terlalu memaksakan diri."

Revano terdiam cukup lama.

Pandangannya tanpa sadar jatuh ke arah Nadia.

Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa di balik ketegasan, kecerdasan, dan ketangguhan wanita itu, ternyata Nadia sedang memikul beban yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.

Dan entah mengapa, saat melihat Nadia yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya sendiri, muncul perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Perasaan ingin melindungi seseorang yang selama ini selalu terlihat kuat di depan semua orang.

Nadia masih berusaha mencerna semua yang terjadi ketika pintu ruang perawatan kembali terbuka. Ia mengira yang masuk adalah perawat atau dokter yang hendak memeriksa kondisinya, namun yang muncul justru sosok yang sangat dikenalnya.

Anna.

Adik Adrian.

Begitu melihat Nadia sudah sadar, mata Anna yang sejak tadi memerah langsung dipenuhi air mata. Tanpa memedulikan siapa pun yang berada di ruangan itu, ia berlari menghampiri ranjang dan memeluk Nadia erat.

Pelukan itu begitu tiba-tiba hingga Nadia sempat terkejut.

Namun beberapa detik kemudian ia membalas pelukan tersebut.

Selama bertahun-tahun pernikahannya dengan Adrian, Anna memang lebih dari sekadar adik ipar.

Mereka tumbuh menjadi keluarga yang sesungguhnya.

Anna sering datang ke rumah mereka, menghabiskan waktu bersama Nadia, meminta nasihat, bahkan membela Nadia saat hubungan wanita itu dengan ibu mertuanya tidak berjalan baik.

Bagi Anna, Nadia bukan hanya kakak ipar.

Nadia adalah kakak yang selalu diinginkannya.

"Kak Nadia..."

Suara Anna bergetar.

"Aku kangen."

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Nadia terasa sesak.

Karena untuk pertama kalinya setelah perceraian mereka bertemu kembali dalam keadaan seperti ini.

Nadia mengusap pelan rambut Anna.

Meski bibirnya berusaha tersenyum, matanya mulai memanas.

"Aku juga kangen kamu."

ucapnya lirih.

Anna perlahan melepaskan pelukannya lalu menatap Nadia yang masih berada di atas ranjang rumah sakit.

Tatapannya kemudian bergerak ke arah perut Nadia.

Dan saat itulah air mata yang sejak tadi ditahannya benar-benar jatuh.

"Kak..."

Suara Anna semakin pelan.

"Kakak hamil?"

Nadia menundukkan pandangan.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk perlahan.

Anna langsung menutup mulutnya.

Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Selama ini ia sama sekali tidak tahu.

Tidak ada seorang pun di keluarga Adrian yang mengetahui hal tersebut.

Bahkan setelah perceraian terjadi.

Ya Tuhan...

Batinnya terasa semakin sakit.

Karena ia tahu seberapa besar keinginan Nadia untuk memiliki anak selama ini.

Ia tahu bagaimana Nadia menangis setelah keguguran beberapa bulan lalu.

Ia tahu bagaimana Nadia selalu berusaha kuat setiap kali topik itu dibicarakan.

Dan sekarang ketika kehamilan yang diimpikan itu akhirnya datang, justru datang setelah pernikahannya berakhir.

Namun yang membuat Anna semakin sulit menahan air mata adalah kenyataan lain yang baru saja terjadi beberapa hari sebelumnya.

Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia sampaikan kepada Nadia.

Tetapi melihat kondisi Nadia sekarang, menyembunyikannya terasa semakin sulit.

"Kak..."

Anna menggenggam tangan Nadia erat.

Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.

"Aku sebenarnya tidak ingin Kakak tahu dari orang lain."

Nadia mengernyit pelan.

Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dalam dadanya.

"Ada apa?"

tanya Nadia.

Anna menundukkan kepala.

Air matanya kembali jatuh.

"Bianca..."

Nama itu saja sudah cukup membuat wajah Nadia berubah.

"Bianca juga hamil."

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam tepat ke jantung Nadia.

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Bahkan Revano yang berdiri tidak jauh dari sana ikut terdiam.

Nadia tidak langsung berbicara.

Tidak langsung bereaksi.

Ia hanya menatap kosong ke depan.

Seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja didengarnya.

Bianca hamil.

Mengandung anak Adrian.

Kalimat itu terus berulang di kepalanya.

Menyakitkan.

Jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin ia akui.

Perlahan tangannya bergerak menyentuh perutnya sendiri.

Tempat kehidupan kecil yang selama ini berusaha ia lindungi tumbuh dengan tenang.

Air mata mulai mengalir tanpa bisa dicegah.

Dulu.

Saat dirinya masih menjadi istri Adrian.

Saat mereka masih berusaha memperbaiki hubungan.

Saat mereka sama-sama berharap memiliki keluarga kecil yang utuh.

Kehamilan adalah impian yang selalu mereka tunggu.

Namun impian itu tidak pernah datang.

Dan sekarang semuanya terasa seperti ironi yang kejam.

Ketika ia akhirnya hamil, pernikahannya sudah berakhir.

Sementara wanita yang merebut suaminya juga sedang mengandung anak pria yang sama.

Nadia memejamkan mata.

Dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas.

Bukan karena ia masih berharap kembali kepada Adrian.

Melainkan karena luka yang selama ini berusaha ditutup kembali terbuka dengan cara yang paling menyakitkan.

Di sudut ruangan, Revano memperhatikan semuanya tanpa berkata apa-apa.

Awalnya ia mengira masalahnya sendiri sudah cukup rumit.

Fitnah.

Pemerasan.

Ancaman terhadap reputasi dan perusahaan.

Namun setelah mendengar percakapan antara Anna dan Nadia, ia menyadari bahwa kehidupannya tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita yang sedang duduk di hadapannya.

Nadia kehilangan pernikahannya.

Dikhianati suaminya.

Dipermalukan oleh gosip yang menyebar ke mana-mana.

Mengandung anak mantan suaminya setelah perceraian terjadi.

Dan kini harus menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi penyebab semua kehancuran itu juga sedang mengandung.

Untuk pertama kalinya, Revano tidak melihat Nadia sebagai pengacara hebat yang menyelamatkan kasusnya.

Ia melihat seorang wanita yang sedang berusaha bertahan di tengah luka yang mungkin sudah cukup untuk menghancurkan banyak orang.

Dan entah mengapa, rasa hormat yang sebelumnya ia miliki perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang membuatnya ingin tetap berada di sana.

Bukan sebagai klien.

Melainkan sebagai seseorang yang tidak ingin melihat Nadia menghadapi semua kesulitan itu sendirian.

Ruang perawatan kembali dipenuhi keheningan setelah Anna menceritakan semuanya. Meski hatinya terasa seperti diremas, Nadia berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menggenggam tangan Anna yang masih duduk di samping ranjang.

"Aku tahu kamu marah."

ucap Nadia pelan.

"Tapi jangan membenci seseorang seumur hidupmu."

Anna langsung menggeleng keras.

Baginya hal itu mustahil.

Setiap kali mendengar nama Bianca, yang teringat olehnya adalah ayahnya yang jatuh sakit, ibunya yang menangis diam-diam di rumah sakit, dan Nadia yang harus kehilangan rumah tangganya.

"Aku tidak bisa, Kak."

suara Anna mulai bergetar.

"Aku benar-benar tidak bisa."

Nadia tersenyum tipis meski matanya masih sembab.

"Suatu saat nanti kamu akan lelah membenci."

ucapnya lembut.

"Dan ketika hari itu datang, maafkanlah bukan karena mereka pantas dimaafkan, tetapi karena kamu pantas hidup lebih tenang."

Anna kembali menangis dan memeluk Nadia erat.

Dalam hatinya ia tahu Nadia selalu seperti ini.

Bahkan setelah disakiti sedemikian rupa, wanita itu masih memikirkan ketenangan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Tak lama kemudian dokter mengizinkan Nadia pulang setelah memastikan kondisinya stabil. Anna sempat ingin mengantarnya, tetapi Nadia menolak karena tahu gadis itu masih harus kembali menjaga ayahnya di rumah sakit.

Saat keluar dari ruang perawatan, Revano ternyata masih menunggu di koridor.

Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, seolah sejak tadi tidak berniat pergi sebelum memastikan Nadia benar-benar baik-baik saja.

"Nona Nadia."

panggilnya.

"Saya akan mengantar Anda pulang."

Nadia langsung menggeleng.

"Tidak perlu."

jawabnya cepat.

"Saya bisa pulang sendiri."

Revano menatapnya cukup lama.

Wajah Nadia masih pucat.

Langkahnya bahkan terlihat sedikit goyah saat berjalan.

Keadaan wanita itu jelas jauh dari kata baik.

"Anda baru saja pingsan."

ucap Revano tenang.

"Dan dokter mengatakan Anda harus beristirahat."

"Saya baik-baik saja."

balas Nadia.

Namun bahkan dirinya sendiri tahu kalimat itu terdengar tidak meyakinkan.

Karena beberapa detik kemudian tubuhnya kembali kehilangan keseimbangan hingga harus berpegangan pada dinding koridor.

Revano menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Nadia, ia menggunakan nada yang sedikit lebih tegas.

"Setidaknya izinkan saya mengantar sampai rumah."

Nadia ingin menolak lagi.

Namun tenaganya memang hampir habis.

Akhirnya ia hanya menganggukkan kepala pelan.

Sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam keheningan.

Nadia duduk di kursi penumpang sambil memandangi jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.

Kota yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempatnya membangun karier, membangun rumah tangga, sekaligus tempat seluruh mimpinya hancur satu per satu.

"Saya akan kembali ke Surabaya setelah semua urusan selesai."

ucap Nadia tiba-tiba.

Matanya masih tertuju ke luar jendela.

Revano sedikit menoleh.

"Surabaya?"

Nadia mengangguk.

"Di sana keluarga saya."

"Saya rasa sudah waktunya pulang."

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Revano mengerti.

Bukan sekadar pindah kota.

Nadia sedang mencoba meninggalkan seluruh masa lalunya.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Vania.

Rumah dua lantai yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat Nadia tinggal sementara setelah perceraian.

Revano memandang rumah itu sesaat.

Ia sempat mengira Nadia akan kembali ke rumah besar atau apartemen mewah.

Namun ternyata wanita itu memilih menumpang di rumah sahabatnya.

Nadia membuka pintu mobil perlahan.

Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Revano.

"Terima kasih."

ucapnya tulus.

"Untuk tumpangannya."

Revano tersenyum tipis.

"Sama-sama."

Nadia mengangguk lalu berjalan menuju pagar rumah.

Namun sebelum benar-benar masuk, langkahnya berhenti ketika mendengar suara Revano dari belakang.

"Kalau suatu hari Anda membutuhkan bantuan."

ucap pria itu.

"Bukan sebagai klien."

"Bukan karena pekerjaan."

"Tolong hubungi saya."

Nadia terdiam beberapa saat.

Kemudian tersenyum kecil tanpa menoleh.

Senyum yang terlihat lelah namun tulus.

"Semoga saya tidak perlu melakukannya."

jawabnya pelan.

Pintu rumah Vania akhirnya tertutup di belakangnya.

Sementara Revano masih duduk di dalam mobil beberapa saat lebih lama.

Tatapannya tertuju pada rumah tersebut.

Entah mengapa, semakin mengenal Nadia, semakin ia menyadari bahwa wanita itu jauh lebih kuat daripada siapa pun yang pernah ditemuinya.

Namun di saat yang sama, ia juga melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Di balik ketegaran itu ada seseorang yang sebenarnya sangat lelah, sangat terluka, dan sedang berusaha berdiri sendirian ketika seluruh dunianya runtuh.

Dan tanpa ia sadari, keinginannya untuk membantu Nadia perlahan bukan lagi karena rasa kasihan.

Melainkan karena ia mulai peduli.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!