NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENIH BADAI DI BALIK DINDING STADION

​Gemuruh sorak-sorai penonton di Stadion Kuarsa Putih masih terasa bergetar di bawah telapak kakinya, namun atmosfer di lorong bawah tanah mendadak berubah mencekam. Begitu Zei melangkah turun dari panggung kemenangan, Tetua Gu langsung menyergap bahunya dengan kasar. Wajah pria tua pemabuk itu tidak lagi menonjolkan senyum jenaka yang biasa.

​"Jangan kembali ke ruang tunggu. Ikut aku sekarang," desis Tetua Gu, suaranya rendah dan penuh penekanan.

​A-Lang yang berjalan di belakang mereka tampak kebingungan, namun ia bisa merasakan ketegangan yang mendadak menebal. Mereka bertiga bergerak cepat memotong jalur logistik stadion, keluar melalui pintu belakang yang sepi, dan langsung menembus gang-gang sempit Kota Kecamatan. Tetua Gu tidak membawa mereka kembali ke Kedai Bambu Retak. Pria tua itu tahu betul bahwa Master Sekte Taring Besi tidak akan menunggu hingga turnamen selesai untuk melenyapkan ancaman yang telah merusak bisnis taruhan mereka.

​Setelah berjalan memutar hampir setengah jam untuk menghilangkan jejak, Tetua Gu membawa mereka ke sebuah reruntuhan kuil tua yang terbengkalai di puncak perbukitan pinggiran kota. Bangunan batu itu sudah runtuh di beberapa bagian, dipenuhi semak belukar dan lumut, namun posisinya yang tinggi memberikan jarak pandang yang sempurna untuk mengawasi setiap pergerakan di bawah sana.

​Zei perlahan duduk di atas lantai batu yang dingin, menghela napas panjang sembari membersihkan sisa darah yang mengering di lengan kirinya. Luka gores dari elemen logam Gao terasa perih menyengat, meninggalkan sensasi panas yang tidak nyaman di meridian energinya.

​A-Lang dengan tangan gemetar mulai mengeluarkan kain kasa dari tasnya untuk membalut luka Zei. "Zei, tatapan Master Sekte itu tadi... rasanya seolah-olah dia bisa membunuh kita hanya dengan berkedip. Apakah kita benar-benar aman di sini?"

​Bukannya menjawab ketakutan A-Lang, Tetua Gu justru duduk di atas sebuah patung batu yang rusak, lalu tertawa terbahak-bahak hingga janggut putihnya bergoyang. "Aman? Tentu saja tidak! Sekte Taring Besi memiliki ratusan murid di kota ini. Tapi setidaknya, di tempat ini mereka tidak bisa mengepung kita dengan mudah."

​Tetua Gu menatap Zei dengan pandangan tajam, beralih dari ekspresi main-mainnya. "Taktikmu di panggung tadi... mengubah kuarsa menjadi penjara lumpur secara spontan. Itu sangat mengesankan, Bocah. Kau memiliki intuisi elemen tanah yang jarang dimiliki bahkan oleh murid sekte besar."

​"Terima kasih atas bimbingan Anda semalam, Senior," ucap Zei tulus, membungkukkan kepalanya sedikit. "Jika bukan karena teknik Bumi Bergeser, kapak Gao pasti sudah membelah dadaku."

​"Jangan senang dulu," potong Tetua Gu dingin. "Besok adalah babak enam belas besar. Fase penyisihan untuk petarung mandiri sudah selesai. Mulai besok, kasta bawah sepertimu akan digabungkan dalam satu bagan pertandingan dengan murid-murid inti dari tiga Sekte Besar kota, termasuk Sekte Cendrawasih. Tantangannya akan naik sepuluh kali lipat. Mereka bukan petarung bayaran kasar seperti Gao; mereka adalah jenius yang diberi makan pil obat sejak bayi."

​Mendengar nama Sekte Cendrawasih disebut, bayangan keanggunan Qian Yue’er kembali melintas di benak Zei. Tekad di dadanya menghangat, mengabaikan rasa lelah yang mendera tubuhnya.

​Malam semakin larut. A-Lang sudah tertidur lelap di sudut kuil akibat kelelahan emosional yang menguras tenaganya sepanjang hari. Sementara itu, Zei memilih untuk duduk bersila di dekat pelataran kuil yang terbuka, mencoba memulihkan aliran Qi tanahnya di bawah siraman cahaya bulan.

​Tiba-tiba, suasana di sekitar kuil menjadi sangat sunyi. Suara jangkrik yang tadinya bersahut-sahutan mendadak senyap seketika. Detik berikutnya, embusan angin malam yang membawa aroma harum bunga melati yang sangat segar menyapu pelataran kuil. Aroma itu begitu kontras dengan bau debu dan karat Kota Kecamatan.

​Zei membuka matanya dengan waspada. Sepasang kakinya langsung mencengkeram lantai batu, bersiap mengaktifkan Sisik Naga.

​Wush!

​Sesosok bayangan putih mendarat dengan keanggunan yang luar biasa di atas tembok kuil yang runtuh. Namun, itu bukan Qian Yue’er. Sosok itu adalah seorang gadis remaja berpakaian pelayan jubah sutra hijau muda—tangan kanan sekaligus pelayan pribadi sang dewi Sekte Cendrawasih.

​Gadis pelayan itu menatap Zei dari atas tembok dengan pandangan menilai yang sedikit angkuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menggerakkan lengannya, melemparkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari giok hijau murni ke arah pangkuan Zei.

​Zei menangkap kotak giok itu dengan bingung. "Apa ini?"

​"Nona Muda kami, Qian Yue’er, yang mengutusku secara rahasia," ucap gadis pelayan itu, suaranya terdengar dingin namun jernih di keheningan malam. "Di dalam kotak itu ada Pil Pemurni Sumsum Bumi, obat penyembuh tingkat tinggi yang sangat langka. Nona Muda menyampaikan pesan untukmu: 'Jangan mati konyol di tangan pembunuh Sekte Taring Besi malam ini. Aku menunggumu untuk membuktikan ucapanmu di atas panggung utama besok.'"

​Zei terpaku di tempatnya. Ia menatap kotak giok di tangannya, lalu mendongak kembali ke arah tembok. Namun, gadis pelayan berbaju hijau itu sudah menghilang secepat embusan angin malam, meninggalkan keharuman melati yang perlahan memudar di udara.

​Tetua Gu, yang sejak tadi ternyata hanya berpura-pura tidur di atas patung batu, perlahan membuka satu matanya dan menyeringai lebar. "Bocah... kau benar-benar tahu cara menarik perhatian burung cendrawasih yang paling tinggi di langit."

​Zei tidak memedulikan gurauan Tetua Gu. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa tidak percaya yang bercampur haru, ia membuka kotak giok tersebut. Sebuah pil bulat berwarna cokelat keemasan memancarkan aroma herbal yang sangat pekat, langsung menenangkan meridian energinya yang tegang hanya dari aromanya saja.

​Tanpa ragu, Zei mengambil pil tersebut dan langsung menelannya.

​Begitu pil itu masuk ke dalam tenggorokannya, letupan energi bumi yang sangat murni dan masif langsung meledak di dalam tubuhnya. Aliran energi hangat itu mengalir seperti air terjun yang membersihkan seluruh pembuluh darahnya, menutup luka gores di lengan kirinya dalam hitungan menit, dan memperkuat kepadatan Qi tanah di dalam dantiannya ke tingkat yang jauh lebih solid dari sebelumnya. Seluruh rasa lelahnya lenyap, digantikan oleh kekuatan baru yang membatu di dalam otot-ototnya.

​Fajar perlahan menyingsing di ufuk timur, memancarkan semburat merah di atas atap Stadion Kuarsa Putih yang terlihat di kejauhan. Zei bangkit berdiri, berjalan menuju tepi tebing kuil tua. Jubah rami cokelatnya yang robek tertiup angin pagi, menampilkan tatapan matanya yang kini memancarkan keteguhan sekeras batu gunung.

​Rasa minder itu telah terbakar habis oleh perhatian rahasia dari langit malam ini. Badai konspirasi kota telah menantinya di bawah sana, dan sang petani dari Desa Danau Keruh siap untuk menghantamnya hingga hancur berkeping-keping.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!