Seorang gadis cantik yang hidup dengan ayah dan ibu tirinya beserta kakak tiri perempuan yang selalu iri pada kecantikannya.
Gadis itu menutupi kecantikan dirinya dengan memakai kacamata super tebal sehingga terlihat seperti gadis kutu buku.
Aku Melati Putri Hadi.
***************
Pria yang mapan,tampan dan juga seorang idola papan atas.
Pria ini di gilai kaum wanita,banyak film yang ia bintangi namun hanya satu wanita yang ingin dinikahinya,wanita yang juga berasal dari industri perfilman yang tak lain adalah pacarnya sejak duduk di bangku kuliah.
Aku Arnon Marvion Gafin.
*************
Hal tak terduga mengganggu kehidupan mereka yang sangat berbeda kasta.
Ibu keduanya bersahabat dan sepakat menikahkan mereka, apakah mereka akan menerima pernikahan itu?
Silahkan follow,klik favorit dan baca novel author ya readers
Happy reading 😘😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arifia Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Clara sudah sampai di bandara.Di sana juga ada 3 pria tampan dengan postur tubuh tinggi sedang menunggunya.
"Hai Clara! bagaimana kabarmu," sapa salah satu pria tampan yang tengah menunggu gadis itu sedari tadi.
"Halo Edward,Hamish,Harry! kabarku baik." Saling berjabat tangan dengan para sahabatnya.
Edward Patinson seorang sarjana kedokteran di Swiss.Pria tampan ini telah memiliki 5 rumah sakit di Indonesia,status masih lajang.
Hamish Anderson seorang pengusaha di bidang kuliner,meskipun usianya masih terbilang muda menjelang kepala 3,namun pria ini tipe pria pekerja keras.Hamish sudah memiliki 10 restoran besar bintang lima di Indonesia,status pria ini sudah memiliki kekasih.
Harry Atmaja seorang pengusaha properti yang sudah sukses membuka cabang di setiap kota yang ada di tanah air,statusnya masih lajang.
Mereka bertiga dari kalangan atas,jadi tidak heran jika bisnis yang mereka geluti langsung terkenal dimana-mana karena keluarga ketiganya merupakan keluarga berpengaruh di tanah air, namun keluarga Gafin masih memimpin di bagian paling atas.
"Arnon tidak datang bersamamu?" tanya Hamish pada Clara.
"Tidak! dia sudah berangkat dulu kesana," jawab Clara dengan raut wajah kesal.
"Hei kenapa wajahmu jadi kusut begitu Clara," ledek Harry pada sahabatnya itu.
"Huh,apa kalian tidak tahu jika Arnon sudah menikah?" tanya Clara dengan wajah sendunya.
"Apa!" mereka bertiga menjawab dengan serempak.
"Apa kau serius? kau tak sedang bercanda bukan?" tanya Edward yang masih tak yakin dengan ucapan sahabatnya itu.
"Aku tak bercanda,untuk apa aku membohongi kalian masalah besar seperti ini,nanti akan aku ceritakan saat kita sudah sampai di Bali! kita harus masuk kedalam pesawat dulu." Mulai melangkah menuju kearah pesawat yang beberapa menit lagi siap lepas landas.
Wajah ketiga pria itu saling tatap satu sama lain, mereka terlihat kebingungan karena saat hari pernikahan Arnon mereka tidak ada di Indonesia,mereka berada di Amerika untuk menghadiri seminar pengusaha muda disana,jadi selama dua minggu mereka tak pulang.Selain untuk urusan pekerjaan,mereka juga sambil berlibur. Ketiganya baru mendarat di tanah air tadi malam.
Arnon dan Melati sudah selesai makan.Mereka berdua menuju ke kamar.saat berada di depan pintu kamar keduanya saling tatap.
"Mau apa kau?" tanya Arnon dingin.
"Ya mau masuklah,ini kan kamarku."
"Siapa bilang ini kamarmu! ini kamarku." Menyandarkan badannya di dinding dan melipat keduanya tangannya dia atas dada.
"Ini kamarku,kamarmu di sana," tunjuk Melati pada kamar paling ujung dimana kamar tersebut adalah ruangan untuk menyimpan pakaian.
"Kau saja tidur disana! kau pikir aku tidak tahu jika ruangan itu untuk menyimpan barang-barang kita," ucap Arnon ketus.
Melati tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya.Ia berjalan menuju kearah kamar yang sedang mereka perdebatkan,saat ia membuka pintu, Melati tercengang sesaat,kemudian gadis itu menutupnya kembali.
Melati membuka pintu kamar di bagian tengah,saat ia melihat ruangan itu,ia menutupnya kembali.
Arnon menatap istrinya dengan tatapan meledek,kali ini pria itu merasa menang.
Gadis itu mendekat kearah Arnon yang masih tetap dengan posisi tadi.
"Kau tidak bisa mengalah terhadap perempuan ya?" tany Melati dengan wajah dinginnya.
"Tidak."
"Astaga! apa kau tak kasihan padaku?"
"Tidak."
Tanpa pikir panjang Melati langsung masuk kedalam kamar dan berbaring di atas ranjang.
"Hei.apa yang kau lakukan gadis aneh! ini kamarku," sungut Arnon sambil mendekat kearah istrinya.
"Siapa yang saat ini berada di atas ranjang?" tanya Melati dengan penuh percaya diri.
"Kau."
"Jadi siapa pemilik kamar ini?"
"Ka ...."
"Tidak-tidak bukan itu maksudku,kamar ini milikku," ucap Arnon membenarkan ucapannya yang tadi sempat salah berkata karena terpancing oleh ucapan Melati.
"Tidak bisa! ini sudah menjadi kamarku,kau yang harus keluar." Mengayunkan jarinya mengisyaratkan agar pria itu keluar.
Kekesalan Arnon sudah berada pada puncaknya,ia langsung naik ke atas ranjang mendorong tubuh Melati sedikit kesamping dan membaringkan badannya di samping istrinya.
"Kau mau apa? cepat keluar." Dorong Melati balik.
"Kau tidak lihat siapa yang sudah berada di atas ranjang ini?" tanya Arnon dengan santainya.
"Kau dan aku," jawab Melati lantang.
"Bagus,kau memang gadis pintar! jadi ranjang ini milik kita berdua dan kau tak perlu banyak bicara cukup diam dan tidurlah."
"Tidak bisa! aku yang berada di ranjang ini terlebih dulu,kau yang harus keluar." Mendorong tubuh Arnon sekuat tenaga.
"Itu sebelum aku ada di atas sini,sekarang aku sudah disini jadi kau harus menerima jika harus berbagi ranjang denganku."
"Tapi ...."
"Tidak ada kata tapi,kau harus mau menerimanya,Nona!" dengan senyum penuh kemenangan.
Emosi Melati sudah sampai ke ubun-ubun.Gadis itu mendorong tubuh suaminya menggunakan tangannya,namun pria itu tak ada pergerakan sama sekali masih tetap diam tak berpindah sedikitpun, akhirnya gadis itu menggunakan punggungnya mendorong Arnon sekuat tenaga.
"Iiiiihhhhhhhh ... turun kau dari ranjang ini." Masih terus mencoba mendorong Arnon.
"Berhenti! nanti aku bisa jatuh," ucap Arnon sambil menahan dorongan dari istrinya yang mulai menambahkan tenaganya.
"Biar saja kau jatuh! kau tidur di bawah saja sana."
"Hentikan Mel! aku bisa jatuh."
Bruuukkk
Arnon terjatuh dari atas ranjang ke lantai,untung saja lantainya sudah terlapisi oleh karpet berbulu tebal,jadi tidak terlalu sakit.
Melati melihat Arnon yang meringis kesakitan memegangi punggungnya.
"Sudah aku peringatkan jika aku bilang jangan tidur di atas ya menurut saja,jadi kena sial kan?" Melati meledek Arnon sambil tertawa kecil.
Arnon menatap istrinya tajam,saat gadis itu tengah asih tertawa,ia langsung menarik tangan Melati sampai gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di samping suaminya.
"Apa yang kau lakukan? sakit tau," sungut Melati sambil menatap Arnon tajam.
"Rasakan itu! begitulah rasa sakitnya saat kau mendorong ku sampai terjatuh tadi." Sambil menjulurkan lidahnya dan bangkit menuju ke atas ranjang kemudian berbaring.
Melati tak tinggal diam,ia juga naik keatas ranjang dan mengambil guling kemudian meletakkannya di tengah-tengah antara dirinya dan Arnon sebagai pembatas wilayah kekuasaan mereka.
Arnon menatap Melati heran,ia tak mengerti kenapa harus meletakkan guling di tengah-tengah begini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arnon dengan wajah kebingungan.
"Ini batas wilayahku dan ini wilayahmu." Sambil menunjuk wilayah masing-masing secara bergantian.
"Kau seperti anak kecil saja,ingat usia! kau itu sudah berumur," sindir pria itu.
"Kau yang seharusnya sadar umur,lebih tua kau daripada aku dan pembatas ini aku buat agar kau tak berani macam-macam padaku saat kita tidur! awas saja kau coba-coba melakukan sesuatu padaku! habis kau," ancam Melati sambil memperlihatkan wajah sangarnya.
"Kau jangan terlalu percaya diri,aku tak ada minat menyentuhmu dan meskipun itu terjadi aku tak berdosa! bukankah kita sudah sah menjadi suami istri," ucap Arnon sekenanya.
"Terserah kau saja,yang jelas jika kau macam-macam? kau pasti habis olehku." Menarik selimut kemudian menutupi semua badannya dari ujung kepala sampai kakinya.
"Jangan galak-galak,bisa-bisa tak ada pria yang mau padamu." Sambil melirik istrinya.
Namun tak ada jawaban dari gadis itu.Arnon hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Melati.Perlahan ia menutup matanya karena badannya sudah terasa lelah.
tapi ya nggak 2 tahun juga