Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊
Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.
Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?
Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Takdir Menyatukan Kita Lagi
"Kamu serius, tanya tentang keluargaku?" tanya Hakim, dia sedikit tersenyum tapi seperti meremehkan aku.
"Iya ...aku gak mau kita menjalin hubungan lebih jauh lagi, tanpa restu dari keluarga kamu."
"Sera, kamu beneran gak ingat apapun tentang aku? Coba kamu lihat wajahku, hmmm!"
Hakim sedikit membungkukkan badan, bahkan kening kami hampir bersentuhan, tapi sejurus kemudian aku menolaknya, posisi Hakim kembali seperti semula, dia tergelak sampai menampakan deretan giginya yang putih, tertawa seperti ada hal lucu yang sudah terjadi. Sementara aku mengernyit heran melihatnya, kucoba untuk mengingatnya, tapi aku tetap tidak bisa menemukan memori apapun tentangnya.
"Hakim, ini gak lucu! Kenapa ketawa, sih?"
Aku kesal dan bersedekap dada.
"...hahahah Sera, Sera. Berapa sih usiamu, daya ingatmu tidak lebih baik dariku!"
Hakim sombong, dia membanggakan diri dengan menunjuk dadanya. Lalu Hakim berdiri dan menarik tanganku sampai aku berdiri di dekatnya.
"Ayo, ikut aku!"
"Mau ke mana?"
"Sudah, nanti juga kamu tahu!"
"Hakim jangan macam-macam, ini sudah malam!"
"Justru itu aku gak mau lagi ngulur waktu, Sera. Sudah ikut aja." titah Hakim tidak bisa dibantah, aku pasrah dan mengikutinya menuju lift.
Aku tidak habis pikir dengannya, Hakim sudah menyiapkan semua ini hanya untuk mengutarakan isi hatinya kepadaku, dia terus saja menggandeng tanganku sampai lift berhenti dan kami keluar menuju mobil miliknya.
"Silahkan masuk, Nyonya Hakim."
Hakim membuka pintu mobil setelah aku duduk, Hakim merapikan gaunku sebelum menutup pintu mobil dan mengitarinya, dia duduk dibangku kemudi, ntah kenapa aku merasa diperlakukan seperti wanita yang berharga untuknya, kuharap saat ini aku tidak sedang bermimpi.
Hakim sudah melajukan mobilnya, membelah malam di tengah kesunyian, sementara udara sudah semakin dingin, rasanya hampir menembus kulit, apa lagi saat ini sudah hampir jam sepuluh malam. Aku menyempatkan diri menelpon Rosa, aku lega karena Bima tidak rewel dan sudah tidur dengan nyenyak.
"Hakim, kita mau ke mana?"
"Ke rumahku, aku sudah bilang sama mama kalau kamu mau datang ke rumah."
"Kamu gampang banget, sih bilangnya. Kamu gak lihat ini udah larut malam. Mama kamu bisa mikir kalau aku ini bukan wanita baik-baik."
"Mamaku orang yang baik Sera, sudah kamu tenang saja. Ok!"
Hakim mengelus rambutku dengan satu tangannya, kemudian dia kembali lagi fokus mengukur jalan. Aku memilih diam sembari berusaha menenangkan pikiranku, disaat aku memalingkan wajah ke luar jendela, aku tidak sengaja melihat sosok Lia yang baru saja keluar dari salah satu hotel ternama. Apa yang dilakukan Lia di sana?
"Hakim berhenti! Minggir sebentar!"
Aku tidak sengaja mengeraskan suaraku.
"Kenapa?" tanya Hakim heran melihatku.
"Sebentar saja!" pintaku lagi.
Hakim menepikan mobilnya, dari pantulan kaca spion, aku melihat Lia bergelayut manja di lengan laki-laki yang aku yakini itu bukan mas Haris, dadaku menjadi bergemuruh saat pikiran negatif melintas di kepala, apa Lia buat ulah lagi? Apa Lia mencari korban lagi? Siapa dan apa yang dilakukan Lia di dalam hotel bersama laki-laki itu? Apa yang terjadi dengan rumah tangga mas Haris? Kasihan sekali jika ada istri dari laki-laki lain yang menjadi korban Lia lagi.
"Kamu lihat apa Sera? Kamu kenal sama mereka?"
Hakim menunjuk mobil yang baru saja melintasi kami, di mana ada Lia dan laki-laki itu di dalamnya.
"Oh, sepertinya aku salah orang!"
Aku sengaja mengelak, aku tidak mau membahas masa lalu lagi. Sepertinya Hakim tidak percaya.
"Kalau tidak salah ... wanita itu istri dari mantan suamimu, benar 'kan?"
Benar saja, Hakim masih mengenali Lia yang beberapa bulan yang lalu hadir di sidang perceraianku dengan Mas Haris.
"Hakim, kita lupakan saja. Aku gak mau ingat apapun tentang mereka."
Hakim tampak mengerti, dia kembali menghidupkan mesin mobilnya.
****
Ternyata Hakim membawaku ke salah satu rumah dengan dua lantai namun terlihat mini malis. Ini pertama kalinya aku datang ke sini. Hakim masih saja menggandeng tanganku, dengan perasaan gugup, aku mengikuti jalannya.
"Ma..."
Hakim membaur ke dalam pelukan wanita paruh baya, yang aku yakini mama Hakim, mereka terlihat membahas sesuatu di ruang keluarga, sementara aku duduk tidak jauh dari mereka, aku gugup saat Hakim dan mamanya berjalan kearahku.
"Sera..."
Mama Hakim menyapaku dengan wajah yang ceria, apakah aku sudah aman? Aku berdiri dan mencium punggung tangan mama Hakim.
"Maaf, saya sudah ganggu waktu istrahat, Tante."
"Tidak sama sekali, justru Tante sudah lama nunggu saat seperti ini, Hakim sudah cerita banyak tentang kamu."
Kami sudah duduk berdampingan, sementara Hakim duduk di sofa lain yang ada di depanku.
"Tante, bersyukur sekali. Akhirnya Hakim sudah kembali bertemu dengan cinta lamanya yang pernah hilang."
Siapa cinta lama Hakim?aku menatap Hakim yang sedang menggaruk rambutnya. Seperti menghindar.
"Ma, jangan di bahas, dia gak ingat apa-apa."
"Karena kamu gak pernah terbuka. Kalau mama cerita, Sera pasti ingat." mama Hakim meraih tanganku.
"Hakim sudah jatuh cinta sama kamu sejak dulu, katanya dia pernah KKN di kampungmu. Sejak saat itu Hakim tertarik sama kamu."
Itu pasti sudah lama sekali, wajar kalau aku tidak ingat atau mengenal Hakim. Tapi kalau aku tidak keliru, memang pernah ada beberapa mahasiswa datang ke kampung, bahkan aku pernah mengagumi salah satu dari mereka.
"Kamu masih terlalu lugu dan polos, Sera. Hampir setiap sore, kamu dan teman-temanmu datang ke lapangan basket melihat kami latihan di sana, sejak saat itu ... diam-diam aku mengagumi kamu."
"Mungkin kamu salah orang!"
Aku menyangkal pernyataan Hakim, sementara mama Hakim tertawa melihat kami berdebat, ternyata mama Hakim memang baik. Apa ini pertanda kalau mama Hakim menerima statusku yang sekarang?
"Sampai sekarang aku yakin wanita itu kamu, Sera. Dulu kamu terlalu sulit untuk di dekati, kamu tidak seperti teman-temanmu yang mudah berbaur dengan yang lain, kamu tidak mudah di rayu. Sampai akhirnya aku kembali ke kota. Aku mengubur cintaku dalam diam, tapi pikiranku kacau karena aku masih saja memikirkan kamu."
Hakim menjeda kalimatnya, dia mengambil foto kecil dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja, mataku memicing saat memegang dan melihatnya, foto wanita yang rambutnya diikat menyerupai ekor kuda dan memakai kaca mata, kenapa foto ini ada di sini? Sejak kapan Hakim menyimpan fotoku?
"Ini fotoku?"
"Iya, aku memutuskan untuk kembali lagi ke kampungmu. Aku mau jujur kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu. Tapi aku terlambat, karena hari itu yang aku tahu kamu sudah menikah dan ikut pergi dengan suamimu, aku kecewa Sera, aku menyalahkan takdir ini, tapi sekarang aku bersyukur karena akhirnya takdir menyatukan kita lagi!"
Bolehkah aku juga berharap takdir tidak lagi memisahkan kami.
****
TERIMA KASIH
JANGAN LUPA LIKE, DAN KOMEN. KALAU BINGUNG HARUS KOMEN APA, TULIS AJA NAMA LIA ATAU HARIS😅🙏 (BERCANDA)
UNTUK BAGIAN LIA DAN HARIS, BERSABAR YA. MASIH ADA BAB BERIKUTNYA, SEBELUM CERITANYA TAMAT.
sukses
semangat
mksh