Sinopsis Season 1 (1-121)
Dimulai saat proses acara lamaran . Tiba-tiba Dilara seorang model terkenal di Indonesia mendadak mendapat tawaran yang menggiurkan menjadi seorang model Go Internasional impiannya sejak SD . dan di haruskan Dilara sekarang juga pergi ke Amerika Serikat untuk proses pemotretan yang di kontrak langsung oleh Produser yang sangat popoler di kota Washington .
Dilara hanya meninggalkan selembar kertas yang terletak di atas kasurnya.
"Mah maafkan aku! Dilara harus pergi. Ini mimpiku mah! Dan katakan Maafku kepada Rasya calon tunangkanku yang hari ini akan resmi melamarku , tolong katakan padanya tunggu aku pulang. Untuk Mikayla tolong sementara gantikan Mba menjadi calon tunangannya Rasya. Karena Mba dan keluarga Rasya sama sekali belum pernah bertemu karena kesibukan Mba di dunia intertaiment. Mba mohom gantikan Mba ya 😊 karena Mba gak mau membuat Tante Rere ibunya Rasya sakit jantungnya kambuh karena anaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Rasya terus mengejar taxi yang di tumpangi oleh Mikayla namun tidak berhasil, tiba-tiba lampu merah menyala dan mobil Rasya terpaksa berhenti. Taxi tersebut sudah sangat jauh melajunya. Rasya mencoba menghubungi Mikayla namun tidak dapat di hubungi karena Mikayla sengaja mematikan ponselnya.
"Aaarrrgh..." Rasya membanting ponselnya lalu memukul stir mobilnya.
"Mau kemana sih dia?" geram Rasya.
Akhirnya Rasya memutuskan untuk putar arah menuju ke kantornya kembali. Rasya menelepon Wisnu untuk menghubungi HRD untuk segera memecat Dilara sekarang juga, karena kehadirannya sangat mengganggu. Wisnu pun menuruti perintah Rasya.
"Cinta yang rumit," desis Wisnu setelah telepon dengan Rasya terputus.
Wisnu segera menemui pihak HRD, meminta Dilara sekarang juga harus di pecat karena Rasya merasa terganggu atas kehadirannya.
Rasya bukannya mau mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan, akan tetapi kalau Dilara terus berada di kantornya pasti akan memancing kesalah-pahaman terus dengan Mikayla.
Dengan berat hati Dilara harus menerima kalau ia di pencat yang belum sama sekali terjun kelapangan.
"Baru saja treaning masa harus di pecat?" dengus Dilara saat berada di dalam mobilnya perjalanan menuju pulang.
"Rasya... kamu pikir aku akan nyerah begitu saja? Tidak Rasya, kamu salah aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan cintamu kembali."
Mikayla sampai di TPU .
Ia menangis bertekuk lutut memeluk batu nisan atas nama Cantika Abimayu, di sebelah makam Cantika adalah malam Ayahnya yang bernama Heri Purnama.
"Mah... andai saja Mamah sama Papah serta Ayah Surya masih ada, mungkin nasib aku tidak akan seperti ini Mah," pekik Mikayla.
Mikayla terus menangis di atas makam Mamahnya seraya memeluk batu nisan.
"Mah... aku sangat mencintai suamiku Mah, entah sejak kapan rasa itu muncul, yang jelas perasaan ini nyata. Mika harus bagaimana Mah? Sepertinya Mas Rasya masih mencintai Mba Dilara, hik..hik..."
Mikayla terus mengadu kesedihannya.
Rasya menghubungi Ratu menanyakan apakah Mikayla sudah pulang atau tidak, kata Ratu kalau Mikayla belum pulang padahal ini sudah hampir sore. Rasya berpesan kepada Ratu kalau Mamah Rere tidak boleh mengetahuinya soal ini karena Rasya masih mengira mamahnya sakit.
"Mikayla... kemana sih kamu? Sudah 3 jam kamu masih belum bisa saya hubungi."
Rasya sangat cemas , ia sama sekali tidak fokus dalam bekerja. Rasya terus merenung memikirkan Mikayla, terlintas ia ingat jalan yang di lalui ketika mengejar taxi yang di tumpangi Mikayla.
"Itu kan... jalan menuju TPU tempat dimana orangtua kandung Mikayla di makamkan. Ya itu benar, Mikayla pasti kesana."
Rasya segera beranjak dari tempat kerjanya , ia menyuruh Wisnu untuk meng-handle pekerjaan Rasya terlebih dahulu.
Rasya secepatnya menuju TPU dengan kecepatan tinggi (ngebut).
Mikayla tertidur di atas makam kedua orangtuanya, ia merasa sangat lelah pusing, lapar, haus , capek nangis terus hingga pada akhirnya Mikayla tertidur bukan pingsan.
Rasya tiba di TPU ia segera berlari menuju dimana makam orangtuanya Mikayla, sesampainya Rasya di sana ia melihat istrinya yang tertidur di atas makam mamahnya seraya memeluk batu nisan. Rasya mendekati Mikayla dan duduk di sebelah Mikayla, Rasya mengelus membelai wajahnya Mikayla hingga membuat Mikayla terbangun.
"Ternyata kamu disini," sahut Rasya seraya tersenyum merekah di bibirnya.
"Mas Rasya..." kata Mikayla dengan suara khas bangun tidur, Mikayla terus mengucek-ngucek kedua matanya karena ia mengira sedang ber-halusinasi.
"Ah gak mungkin si es balok nyusul aku kesini, ah ini pasti mimpi, halusinasi... ah dia kan lagi mesra-mesraan di kantor dengan kekasihnya."
"Ah sudah lah kenapa halusinasi nya gak pergi-pergi sih," kata Mikayla yang terus mengucek-ngucek kedua matanya.
Rasya tersenyum melihat tingkah istrinya, kemudian Rasya memegang kedua tangan istrinya yang menutupi raut wajah Mikayla.
"Buka matamu, ini bukan halusinasi bodoh, ini beneran Rasya suami kamu," kata Rasya yang terus tersenyum.
Mikayla malah bengong ia merasa masih tidak percaya kalau beneran ada Rasya di hadapannya.
Cup...
Rasya mencium bibir istrinya, namun Mikayla masih aja bengong.
Cup...
Ciuman kedua mendarat di bibirnya Mikayla.
"Apakah dengan ini istriku ini masih merasa sedang halusinasi?" tanya Rasya dengan kedua manik mata kembat menatap lekat wajah Mikayla.
Mikayla menyentuh bibirnya yang habis di sun oleh Rasya.
"Iiiiihh... " Mikayla mendorong bidang dada Rasya.
Rasya malah memeluk erat tubuh Mikayla.
"Jangan marah, gak usah cemburu, terkadang apa yang kita lihat itu tidak semuanya benar," ucap Rasya dengan lembutnya.
Mikayla mendorong bidang dada Rasya kembali, "Sudah deh Mas Rasya gak usah drama, hmmm katanya bakalan sibuk dengan pekerjaan ternyata eh ternyata?"
Rasya diam saja mendengar ocehannya Mikayla yang menurutnya lucu.
"Mas Rasya takut kan aku ngadu ke Mamah Rere, udah Mas Rasya akui saja kalau masih mencintai Mba Dilara. Buktinya?"....
"Buktinya apa?" pungkas Rasya.
"Pelukan tadi?"
"Dilara yang memeluk saya dengan paksa, kalau kamu gak datang mungkin saja saya di perkosa sama dia," jelas Rasya.
Mikayla mengkerucutkan bibirnya.
Rasya ketawa karena melihat ekpresi wajah Mikayla yang menurutnya sangat lucu.
Mikayla semakin mengkerucutkan bibirnya.
"Mamah mertua... Papahh mertua jangan ikutan salah paham ya, kalian berdua pasti di atas sana sangat mengetahui yang sebenarnya. Sekarang saya akan bawa pulang istri saya yang seperti anak SMA ini dan saya akan menceritakan secara detail , kalau anak ini masih gak percaya, hmmm saya akan bawa Wisnu sama sekalian tim HRD untuk datang kerumah menjelaskan semuanya."
"Assalamu'alaikum menantu pamit ya, " ucap Rasya kemudian ia menggandeng tangan Mikayla mengajak Mikayla pulang.
Di perjalanan menuju rumah Rasya menjelaskan kejadian semuanya, Rasya juga bilang kalau Dilara sudah di pecat. Mikayla akhirnya percaya namun ia takut kalo Dilara ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi.
"sikap Rasya yang seperti ini, apakah dia sudah mencintai ku? Dia bela-belain meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mencariku? Ahh entahlah... si dingin ini emang susah di tebak. Mas Rasya entah kenapa aku sangat takut sekali kehilanganmu?" batin Mikayla dengan kedua manik mata terus melirik ke samping di mana disitu Rasya yang sedang fokus menyetir mobilnya.
"Apakah sikap Mikayla seperti itu karena ia cemburu? Apakah Mikayla juga punya perasaan yang sama dengan ku? Ahhh entahlah... saya juga sendiri belum yakin dengan perasaan ini. Masa iya dengan mudahnya saya bisa jatuh cinta sama dia?" batin Rasya.
dosa lho Sya..istrinya dianggurin