Aisyatus sauqillah gadis cantik dan manis berkulit putih memiliki satu lesung pipi dia seorang santri yang terjebak cinta segitiga antara cinta masa lalunya atau menerima pinangan dari putera Yai tempatnya menyantri...
Siapakah yang akan dia pilih Muhammad Rifki ubaydillah cinta masa lalu yang sempat menghilang dan kembali saat Muhammad Ilzham mubarok putera yai sedang berusaha mendapatkannya dengan meminangnya langsung ke orang tuanya ..?
Akankah Uqi memilih Rifki yang masih membayanginya atau membuka hati dan memilih Ilzham..?
Ikuti terus ceritanya di karyaku Cinta seindah senja di pesantren .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rifda mawardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang bayang Rifki
"Uqi bisakah kamu membuka hatimu untukku ?" tanya Mas Zham memandang lekat ke arahku.
Aku terdiam tertegun mendengar pertanyaannya bingung apa yang harus aku jawab.
"Untuk saat ini aku masih belum bisa menjawab, tapi entah nanti semua tergantung dengan takdir Allah karena hanya Allah yang maha membolak balikkan hati makhluknya"
Mas Zham tersenyum masih terus menatap lekat ke arahku.
"Kamu benar Uqi ... Aku cuma bisa berdo'a dan berusaha supaya kamu benar benar menjadi takdirku." ucapnya penuh harap memandangku.
"Khem ... Serius amat" Kak Arif tiba tiba menyela dan duduk di tengah - tengah antara aku dan Mas Zham kami duduk di kursi yang berbeda dan Kak Arif duduk di sebelahku menghalangi pandangan Mas Zham.
"Hey aku baru inget gak boleh berduaan kalau kalian berduaan yang ketiga itu~"
"Setan" ucapku, penuh penekanan aku mengucapkannya sembari melihat ke arah Kak Arif.
"Uqi apa maksudmu ngomong setan liatnya ke Kakak ?" tanya Kak Arif rada emosi
"Aku kan cuma nerusin ucapan Kakak kenapa kakak jadi marah gitu ?" Aku balik bertanya .
"Huft ... sudahlah berdebat sama kamu percuma gak bakal menang !" Kak Arif memang selalu begitu mengalah jika berdebat denganku mungkin dia malas meladeni ocehanku.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Kak" ucap Mas Zham berdiri .
"Uqi panggilin Ayah dan Ibu aku mau pamitan" sambungnya.
Aku berdiri menuju kamar Ibu.
"Ibu Mas Zham mau pamit pulang" Aku berdiri didepan pintu kamar Ibu memanggilnya untuk keluar.
Ceklek ....
"Sudah mau pulang kok cepet banget pulangnya" ucap Ibu, melangkah keluar kamar bersama Ayah berjalan beriringan menuju ruang tamu
"Nak Zham sudah mau pulang ?" tanya Ibu
"Iya Ibu sudah sore sebentar lagi maghrib saya harus ngajar" jawab Mas Zham.
"Baiklah hati hati di jalan" pesan Ibu
"Nak Zham besok Uqi sudah balik ke pesantren titip titip ya tolong di jagain" Kli ini Ayah yang berpesan sembari mengelus lembut pucuk kepalaku yang tertutup kerudung.
"Tanpa Ayah minta aku pasti jagain calon makmumku Ayah" ucap Mas Zham tegas.
"Ayah, Ibu apaan sih di kira Uqi barang apa di titipin segala" gerutuku
"Kamu itu anak kesayangan kami. Makanya kami titipin kamu takut nakal di pesantren" jelas Ibu
"Uqi anak baik Ibu gak pernah nakal" Aku tak terima di bilang nakal karena selama ini aku selalu menuruti peraturan di pesantren.
Mas Zham dan Kak Arif hanya menjadi penonton melihat interaksiku dengan orang tuaku mereka hanya tersenyum.
"Uqi antar Mas Zham ke depan ya" titah Ibu
Aku tak menjawab langsung menyusulnya sedikit berlari mensejajari langkah Mas zham yang sudah lebih dulu berjalan
"Uqi gak boleh nakal ... Nakalnya nanti aja sama aku kalau kita udah nikah faham !" Mas Zham berbicara sangat pelan tapi masih terdengar meski samar.
"Maksudnya ?" Aku bertanya dengan intomasi sedikit keras karena terkejut sekaligus penasaran dengan ucapannya.
"Sudah jangan di hiraukan ucapanku barusan belum waktunya kamu tahu" Bukannya menjawab dia malah pergi melempar senyum dan membuka pintu mobil melesat pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Matahari perlahan beranjak tergantikan senja yang mulai ikut menghilang dan muncullah rembulan bersinar terang terlihat jelas dari balik cendela yang sengaja belum aku tutup Tirainya. Aku duduk di kursi memandangi rembulan adalah kebiasaanku. Dulu sebelum tidur aku akan melakukan hal itu jika rembulan sedang muncul sempurna berharap mimpi indah dan mendapat semangat esok hari.
Rifki tiba tiba terbesit nama itu dalam benakku memang aku akui dulu dialah yang mengajariku hal ini kami sering bertelfon atau pun video call mengobrol bercanda dan mendengar kata kata mesra juga sayang darinya di temani indahnya sang rembulan.
Srekk ....
Saat nama Rifki terbesit air mataku mengalir spontan Aku berdiri menutup tirai kamarku
"Aku harus bisa melupakannya ... Aku gak boleh memikirkan dia sebelum dia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya" gumamku .
'kaaasihku... sampai di sini kisah kita jangan tangisi keeadaannya bukan karena kita berbeda....'
Dering ponsel mengalihkan pandanganku terlihat nomor asing sedang menelfon ragu ragu aku mengangkatnya.
"Assalamualaikum ini siapa ya?" tanyaku
"Waalaikumsalam Calon makmum" ucapnya
"Mas Zham ?" Aku sedikit berteriak kaget mendengar panggilan dari seberang. Panggilan yang sudah ku hafal karena hanya dia yang memanggilku seperti itu.
"Alhamdulillah kamu bisa langsung mengenaliku" jawab Mas Zham
"Iya jelas aku langsung mengenalinya karena hanya kamu yang memanggilku seperti itu" jelasku
"Berarti memang hanya aku calon imammu ... syukurlah" Mas Zham berucap dengan nada penuh kelegaan.
Hening sesaat aku tak manyauti ucapannya hatiku masih berkecambuk mendengar ucapan Mas Zham
"Uqi kamu masih di sana .?"
"Iya Mas Zham"
"Sudah malam kamu istirahatlah !"
"Iya"
"Semoga Mimpi indah calon makmumku" Kata terakhir yang di ucapkan Mas Zham setelah itu dia memutuskan panggilannya.
Aku merebahkan diri di atas kasur. Menerawang melihat langit langit kamar menghirup udara dengan rakus dan mengeluarkannya kasar menandakan betapa kacaunya perasaanku dua orang yang berbeda status dan karakter juga berbeda pemikiran apalagi wajah mereka sangat berbeda. Tapi keduanya mampu mengobrak abrik hatiku sangat sulit bagiku memilih anatara dia yang aku cintai tapi juga aku benci dia yang memberiku banyak hal manis juga banyak luka. Atau Aku harus memilih dia yang sepertinya lebih baik dan di sukai keluargaku.
flashback on
Rifki dulu keluargaku juga menyukainya tapi sejak dia pergi tanpa kabar meninggalkanku banyak yang berubah dari hidupku meskipun itu tak berlangsung lama tapi cukup menumbuhkan rasa benci di hati mereka melihat keadaanku waktu itu.
Peristiwa paling kelam sepanjang hidupku sungguh tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Awal kepergian Rifki semua masih baik baik saja sampai akhirnya dia menghilang tanpa kabar satu bulan masih bertahan.
Setelah 5 bulan dia menghilang masih tanpa kabar keadaanku mulai berubah aku yang biasanya ceria mulai murung lebih suka mengurung diri di kamar tak banyak bicara juga jarang makan sungguh keadaan yang sangat kacau, sampai Kak Arif geram dan dengan susah payah dia menghiburku mulai dari mengajakku nongkrong mengenalkan ku ke teman temannya sampai dia sering membawa teman ke rumah meramaikan suasana berharap aku melupakan segalanya.
Aku akui perlahan aku mulai bangkit meskipun masih belum bisa melupakannya tapi aku punya semangat untuk melanjutkan hidup berkat motifasi dari teman teman Kak Arif dan itu juga jadi penyebab kenapa ada jendela di dalam rumah .
Sungguh jika ku ingat waktu itu bagaimana aku memberi alasan kenapa tiba tiba aku meminta Ayah memasang jendela kaca di dinding penyekat kamar dan ruang tamu itu sungguh lucu.
flashback off
Tanpa terasa aku terlelap setelah bergelut dengan fikiranku sendiri mengingat masa lalu yang kelam.