Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 — Aku Sudah Sah Jadi Suami Anindya
Empat hari setelah pertengkaran dua keluarga, Arya mengajak Anindya makan malam di sebuah restoran di pusat Surabaya.
"Ini perayaan apa?" tanya Anindya ketika melihat meja dekat jendela yang sudah dipesan.
"Portofolioku selesai."
"Kalau begitu, aku yang bayar."
"Aku yang mengajak."
"Tapi aku istri kaya."
"Dan aku suami yang baru mendapat satu miliar. Duduklah."
Anindya menarik kursi sambil tersenyum. Ia menyukai cara Arya mengucapkan kata suami tanpa keraguan.
Mereka baru selesai memesan ketika sebuah suara tajam terdengar dari belakang.
"Jadi ini alasan Mas nggak datang saat Bapak sakit?"
Karina berdiri di dekat meja bersama Sherly. Pergelangan kaki kanannya dibalut penyangga, tetapi ia masih mengenakan sepatu mahal. Beberapa pengunjung menoleh karena suaranya.
Arya tidak berdiri. "Aku tidak tahu kamu makan di sini."
"Jangan pura-pura. Mas tahu aku sering datang ke restoran ini."
"Surabaya punya jutaan orang. Tidak semuanya mengatur jadwal untuk bertemu kamu."
Sherly menyilangkan tangan. "Santai banget setelah bikin perempuan hamil jatuh di tengah hujan."
Anindya meletakkan serbet di pangkuan. "Karina jatuh karena saya?"
"Karena lo mengambil suaminya! Kalau Arya masih di rumah, dia pasti menjemput."
"Kalau Karina tidak meminta cerai demi uang, mungkin pembahasan itu masih relevan."
Suara Anindya tenang, tetapi cukup jelas untuk didengar meja di sebelah.
Karina melihat beberapa orang mulai berbisik. "Ini urusan keluarga. Jangan bikin keributan."
Arya menatapnya datar. "Kamu yang datang ke meja kami dan berteriak."
Seorang pelayan mendekat. "Maaf, apakah ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Arya. "Mereka akan kembali ke meja sendiri."
Karina menarik kursi kosong dan duduk tanpa diundang. "Aku nggak akan pergi sebelum Mas setuju bicara baik-baik."
"Kita sudah bicara di kafe, melalui telepon, dan lewat orang tua. Jawabanku tidak berubah."
"Mas belum melihat kondisiku." Karina menunjuk penyangga kakinya. "Dokter bilang aku harus banyak istirahat demi bayi. Bapak juga masuk rumah sakit besok. Aku nggak sanggup mengurus semuanya sendiri."
"Kamu punya keluarga dan uang."
"Aku butuh suamiku."
Anindya mengambil gelas air, lalu berkata, "Suami kamu yang mana?"
Karina menatapnya penuh benci. "Jangan ikut campur."
"Kamu sedang meminta suami saya di meja makan saya. Tentu saya ikut campur."
Sherly tertawa sinis. "Suami kontrak dua bulan kok dibanggakan. Semua orang di sini bakal jijik kalau tahu cara lo mendapatkannya."
Anindya mengangguk kecil. "Silakan jelaskan. Jangan lupa bagian ketika Karina menetapkan harga dan mendesak proses perceraian."
Sherly membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Karina menggeser perhatian kepada Arya. "Mas, lihat aku. Aku minta maaf. Pulanglah sebelum semuanya terlalu jauh."
Arya menatap perempuan yang pernah menjadi pusat hidupnya. Dulu, satu air mata Karina cukup membuatnya meminta maaf meski tidak bersalah. Sekarang ia hanya melihat seseorang yang menyesali hilangnya pelayanan, bukan rasa sakit yang ditimbulkan.
"Semuanya sudah terlalu jauh saat kamu menukar pernikahan kita dengan uang," katanya.
"Aku khilaf. Kita bisa rujuk."
"Tidak bisa."
"Kenapa? Karena dia lebih kaya?"
Arya meraih dompet dokumen kecil yang dibawa Anindya. Sebelum berangkat, mereka hendak menyerahkan salinan buku nikah kepada notaris keluarga untuk pembaruan administrasi wasiat. Dua buku berwarna hijau tua masih berada di dalamnya.
Ia mengeluarkan salah satu buku dan meletakkannya di meja.
"Karena aku sudah sah menjadi suami Anindya."
Restoran yang semula penuh bunyi peralatan makan mendadak terasa sunyi di sekitar mereka.
Karina menatap lambang di sampul buku itu. "Palsu."
Anindya mengeluarkan buku pasangannya. "Nomor pencatatan, tanggal akad, dan kantor KUA ada di dalam. Kalau ingin menuduh dokumen negara palsu, pilih kata dengan hati-hati."
Karina meraih buku Arya, tetapi tangan pria itu lebih cepat menutup sampul dan menariknya kembali.
"Jangan sentuh dokumen pernikahan kami."
Kata kami membuat wajah Karina kehilangan warna.
Sherly berkata, "Kalau sah pun, semua orang tahu Anindya merebut bekas suami sahabatnya."
Arya berdiri.
Ia tidak mengangkat tangan atau meninggikan suara. Namun, tubuhnya yang kini lebih tegap membuat Sherly mundur setengah langkah.
"Dengar baik-baik," katanya. "Anindya tidak merebutku. Karina meminta cerai. Anindya menawarkan jalan, tetapi aku yang datang ke KUA, mengucapkan akad, dan menandatangani pernikahan ini dengan sadar. Kalau kalian ingin menghina seseorang, hina aku. Jangan serang istriku untuk menutupi keputusan Karina."
Anindya menatap punggungnya. Selama tujuh belas tahun, ia membayangkan berdiri di sisi Arya. Ia tidak pernah membayangkan pria itu akan berdiri di depannya dan melindungi namanya di depan umum.
Karina ikut berdiri. "Mas membelanya di depanku?"
"Dia istriku."
"Aku mengandung anak Mas!"
"Dan anak itu akan mendapat haknya kalau DNA membuktikannya. Jangan pakai anak yang belum lahir sebagai izin merusak pernikahanku."
Beberapa pengunjung mengangguk. Seorang perempuan di meja sebelah berbisik, "Mantan istrinya sendiri yang minta cerai, ternyata."
Karina mendengarnya. "Kalian nggak tahu apa-apa!"
Manajer restoran datang bersama dua petugas keamanan. "Ibu, mohon kembali ke meja atau meninggalkan restoran. Keluhan dari pengunjung lain sudah masuk."
Karina menunjuk Anindya. "Kenapa saya yang disuruh pergi? Dia yang merusak rumah tangga saya!"
Anindya berdiri di samping Arya. "Rumah tangga itu sudah diputus pengadilan sebelum pernikahan kami dicatat. Saya punya dokumennya. Kalau kamu terus memfitnah saya di tempat umum, tim hukum saya juga punya caranya."
Sherly menarik lengan Karina. "Sudah. Banyak yang merekam."
Karina melihat sekeliling. Sedikitnya tiga ponsel mengarah kepada mereka.
Ia meraih tas dan berjalan terpincang menuju pintu. Sherly menyusul, tetapi seorang pelayan menghentikannya.
"Maaf, Bu. Tagihan meja Ibu belum dibayar."
Sherly menunjuk meja di sisi lain ruangan. "Makanan kami belum datang. Batalkan."
"Pesanannya sudah dibuat. Selain itu, tadi Ibu meminta sebotol minuman impor dibuka. Pesanan tersebut tidak dapat dibatalkan."
Wajah Sherly menegang. "Tagih ke meja mereka. Kami kenal."
Arya mengangkat alis. "Kami tidak makan satu meja."
Manajer mengangguk kepada pelayan. "Tagihan tetap pada pemesan."
Karina membuka dompet, tetapi kartu pertamanya ditolak. Ia mencoba kartu kedua. Mesin kembali berbunyi gagal.
Bisik-bisik di restoran semakin ramai.
"Pakai uang satu miliar itu," ujar seseorang tanpa diketahui asalnya.
Tawa kecil terdengar dari dua meja.
Karina menatap Arya seolah menunggu pria itu melakukan kebiasaan lama: bangkit, membayar, lalu meminta semua orang berhenti mempermalukannya.
Arya justru kembali duduk dan menuangkan air untuk Anindya.
Sherly akhirnya membayar dengan kartu miliknya. Setelah transaksi berhasil, ia menyeret Karina keluar tanpa berani menoleh.
Manajer meminta maaf kepada Arya dan Anindya. "Sebagai kompensasi, hidangan penutup malam ini dari restoran."
"Terima kasih," kata Anindya.
Setelah suasana kembali normal, ia memandang buku nikah di meja. "Mas Arya membawanya tepat waktu."
"Kebetulan saja."
"Dan pidato tadi? Kebetulan juga?"
Arya menyimpan dokumen itu dengan hati-hati. "Aku mengatakan fakta."
"Fakta bahwa aku istrimu?"
"Iya."
"Fakta bahwa Mas akan melindungiku?"
Arya menatap matanya. Kali ini ia tidak mencari jawaban aman.
"Iya."
Anindya tersenyum sampai matanya melengkung. Di luar jendela, Karina berdiri di tepi jalan dengan wajah penuh air mata, sedangkan Sherly sibuk memesan kendaraan.
Di dalam restoran, pelayan datang membawa dua hidangan utama dan satu janji makanan penutup gratis.
Karina datang untuk merebut kembali mantan suaminya.
Ia pergi setelah membayar tagihan sendiri dan menyaksikan Arya mengakui wanita lain sebagai istrinya di depan semua orang.