"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersalah
"Bagaimana keadaan Aluna, Bi?" tanya Mama Mila pada Bibi Tari yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Kondisinya sudah stabil setelah operasi, Bu Mila. Lukanya harus dijahit," ucap Bibi Tari sambil tersenyum walaupun matanya masih berkaca-kaca.
"Operasi?" tanya Mama Mila dengan mata membulat.
"Iya. Lukanya lebar dan dalam, harus dijahit kemudian rawat inap. Tapi kondisinya sudah stabil," jawabnya lagi.
"Ini saya diminta sama Pak Bian untuk ambil pakaian Nak Aluna sama Nak Reyhan," lanjutnya.
Papa Kio dan Bibi Sita masih di kantor polisi untuk memberikan bukti serta kesaksian. Tinggal lah di rumah hanya ada Mama Mila, Elova, dan Mbak Ambar. Elova tertidur di pangkuan Mama Mila karena kelelahan menangis. Elova ingin diantar pergi ke rumah sakit tapi dilarang oleh Mama Mila. Pasalnya rumah sakit tidak baik untuk anak kecil seperti Elova. Sebisa mungkin Elova tidak berada di sana.
"Mbak Ambar, tolong ban..."
"Tante Aluna..." seru Elova tiba-tiba yang langsung menegakkan badannya. Namun matanya masih terpejam.
"Dia pasti kangen sama Aluna," Mama Mila menepuk punggung Elova agar kembali tertidur. Namun bukannya tidur, Elova malah membuka matanya dan menatap ke arah sekitarnya.
"Bi Tali lafia..." seru Elova saat melihat keberadaan Bibi Tari. Bahkan Bibi Tari sampai meringis pelan saat mendengar namanya diubah oleh Elova.
"Mau kemana?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Mau ambil pakaian di kamar Bu Aluna, Nak Lova." jawab Bibi Tari sambil menahan gemas pada Elova. Apalagi rambutnya yang berantakan dan mata mengantuknya itu.
Ya sudah sana. Nanti ajak Lopa kalau mau ke lumah sakit,
Eh...
Mama Mila langsung saja menegakkan badannya saat mendengar ucapan Elova. Namun Elova sudah memberinya peringatan untuk tidak melarangnya. Dia harus mengetahui langsung keadaan Aluna. Sedangkan Bibi Tari dan Mbak Ambar hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mbak Ambar sebentar lagi akan pulang, tidak mungkin ikut ke rumah sakit. Sedangkan Bibi Tari memang ART khusus mendampingi Aluna. Kemungkinan Elova akan dibawa Mama Mila dan Papa Kio ke rumah mereka.
"Oma, ndak mau Lopa ke lumah kalian ya. Di sana, sepi sekali. Lopa mau ke lumah sakit yang bau obat-obatan itu. Lopa mau ketemu sama Tante Aluna. Lopa akan menyembuhkan Tante Aluna. Lopa yakin Tante Aluna sakit kalena ndak ketemu sama Lopa," celoteh Elova memberikan peringatan.
"Di sana nggak baik untuk anak kecil. Kita susul Tante Aluna besok aja ya?" tawar Mama Mila pada Elova.
"Ndak usah tawal-tawal yang Elova mau ya, Oma. Ini bukan pasal, Lopa ndak lagi jualan. Ndak boleh ditawal," ucap Elova sambil melengoskan wajahnya.
"Pinter banget sih cucu Oma ini ngomongnya. Jadi pengen cubit bibirnya," Mama Mila sampai geregetan sendiri mendengar celotehan cucunya.
"Baik lah, nanti kita susul Tante Aluna dan Papa. Tapi kamu harus mandi dulu," putus Mama Mila karena tak tega juga pada Elova.
Bocah cilik itu selalu tak betah jika disuruh menginap di rumah Oma dan Opanya. Padahal rumahnya jauh lebih besar daripada tempat tinggal Bian. Bibi Tari dan Mbak Ambar segera menyiapkan keperluan untuk orang-orang di rumah sakit. Sedangkan Mama Mila mengurus cucunya dari mandi hingga menyiapkan perlengkapannya. Mungkin nanti Elova akan tetap menginap di rumahnya. Mereka hanya akan menjenguk Aluna saja, tidak menginap.
"Nanti cuma lihat keadaan Tante Aluna saja ya. Bukan menginap," peringat Mama Mila sekali lagi.
"Oma ndak asyik. Nanti Tante Aluna sedih dan lindu belat sama Lopa kalu aku ndak menginap," ucap Elova dengan raut wajah sedihnya.
Kayanya bukan Tante Aluna yang sedih dan rindu, tapi kamu ya?
Hahaha...
Selatus juta untuk Oma. Pakai uang monopoli,
Astaga...
***
Bian terkejut melihat kehadiran Elova dan Mama Mila yang datang bersama Bibi Tari juga Mang Jono. Bian mendelikkan matanya ke arah sang Mama. Namun Mama Mila tak peduli dengan itu. Dia memilih meletakkan Elova untuk duduk di pangkuan Bian. Kemudian dia mendekati ranjang Aluna dengan Reyhan yang duduk di kursi sampingnya. Tampak sekali jika Reyhan sangat menantikan moment Aluna membuka matanya kembali.
"Mama, kok bawa Lova ke rumah sakit sih? Imun anak kecil tuh masih belum kuat lho. Khawatirnya malah ter..."
"Salahkan anakmu itu yang ngotot pengen ke sini. Mama udah bilang sama dia, tapi tantrum dan banyak alasannya." sela Mama Mila yang tak mau disalahkan oleh Bian.
"Abang leyhan juga masih kecil, Papa. Dia bisa jaga Tante Aluna di sini. Lopa ndak mau di lumah sendili galau melana. Apalagi Lopa di lumah tuh ingat telus kalau aku hanya nanak pungut," ceplos Elova membuat badan Bian langsung membeku.
"Nanak pungut tuh apa, Lova? Kamu kan anaknya Papa dan Tante Aluna," ucap Bian sambil terkekeh pelan untuk menutupi emosinya.
"Nanak pungut tuh yang dibuang telus diambil itu lho," jawab Elova dengan polosnya.
Mama Mila langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya sudah berkaca-kaca. Gara-gara Mbak Lani, Elova jadi mengetahui hal yang seharusnya belum diketahuinya. Reyhan pun hanya menundukkan kepalanya sambil memegang tangan Aluna. Sedari tadi Reyhan tak mau beranjak pergi dari samping ranjang Aluna. Rasa bersalah terus menghantuinya karena Aluna terluka akibat menyelamatkannya.
"Kamu tahu itu darimana? Salah itu," tanya Bian dengan sambil mengelus rambut Elova.
"Dali sinetlon, Papa." jawab Elova sambil menduselkan kepalanya pada dada bidang Bian.
"Semua itu nggak benar lho. Papa nggak memungut Lova. Orang Lova ini memang anaknya Papa dan Tante Aluna kok," ucap Bian lagi.
"Coba tanya sama Oma, Bi Tari, Mang Jono, dan Abang Reyhan." lanjutnya meminta semua orang ikut meyakinkan Elova.
"Benar kata Papamu, Nak Lova. Papa Bian dan Tante Aluna itu orangtuamu. Selamanya akan tetap begitu. Entah kamu berasal darimana, mereka akan tetap sayang sama kamu. Jadi jangan merasa menjadi anak pungut," ucap Bibi Tari dengan mata berkaca-kaca.
"Mending Nak Lova makan yang banyak. Nanti kalau Tante Aluna bangun dan lihat Nak Lova kurusan, dia sedih lho." lanjutnya sambil menyiapkan malam malam yang tadi dibawanya dari rumah.
Wah... Makanan...
Seketika Elova lupa tentang pembahasan tadi setelah ditawari makanan. Elova turun dari pangkuan Bian kemudian mendekati Bibi Tari yang duduk lesehan. Bibi Tari pun menyuapi anak majikannya itu dengan telaten. Sedangkan yang lainnya bisa menghela nafasnya lega. Akhirnya pembicaraan yang menguras pikiran dan perasaan itu berakhir juga.
"Suatu saat nanti, Papa akan menjelaskan semuanya. Papa belum siap jika harus menjelaskan sekarang," gumam Bian sambil menghela nafasnya pelan. Pasalnya Elova ini masih belum paham sepenuhnya sehingga membuat Bian khawatir akan berpengaruh pada kondisi psikisnya.
Eungh...
Stttt...