NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:889
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setitik Harapan di Abadi Permai

Suasana lobi bank yang tadinya tegang mendadak hening begitu langkah histeris Prilia menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.

​"Mari, Mbak Maya, Pak Baskoro, kita selesaikan proses administratifnya di ruangan VIP," panggil petugas bank yang tadi dilabrak Prilia, kini menatap ku dengan penuh rasa hormat dan lega.

​Aku mengangguk pelan. Di dalam ruangan yang jauh lebih tenang, Pak Baskoro menyerahkan seluruh berkas keaslian ahli waris, akta hibah Kakek Subroto, serta surat penetapan hukum.

Kurang dari satu jam, sistem perbankan mengonfirmasi pemulihan penuh akses rekening operasional CV Abadi Permai di bawah nama ku secara tunggal.

​Begitu verifikasi selesai, hal pertama yang ku lakukan melihat saldo tersisa satu milyar setengah.

"Alhamdulillah." Air mata mengalir menetes kali ini penuh keharuan. Perjuangan kemarin menenangkan banyak nya karyawan berhasil hari ini. Aku bisa membayar semua gaji, bisik ku dalam hati.

​"Tolong proses pencairan gaji seluruh karyawan yang tertunggak tiga bulan hari ini juga. Kirimkan langsung ke rekening masing-masing staf," pintaku pada pegawai yang cantik itu.

​"Baik, Mbak Maya. Sistem otomatis akan memproses transfer massal ini dalam kurun waktu dua jam ke depan," jawab petugas bank sigap.

Setelah semua urusan selesai kami melangkah kembali menuju lobi, ​Keluar dari gedung bank. Udara siang yang terik terasa jauh lebih menyegarkan bagi ku. Beban berat ini sedikit terangkat, meski aku tahu perjuangan baru saja dimulai.

Kami menghampiri area parkir mobil, segera masuk ke dalam selanjutnya menuju area perkantoran CV Abadi Permai.

​"Mbak Maya," panggil Rijal pelan, memecah keheningan saat Avanza hitam kami mulai membelah kemacetan jalan protokol.

 Tangannya menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan pesan singkat kantor.

 "Ini... dari Pak Budi dan beberapa anak buahnya di bagian gudang."

​Aku menerima tablet itu. Layarnya dipenuhi notifikasi pesan suara dan teks dari para pekerja senior.

 Dengan jemari yang sedikit gemetar, ku putar salah satu pesan suara dari Pak Busi, kepala mandor yang ternyata sudah mengabdi sejak aku masih kecil.

​"Mbak Maya... kami dengar dari staf keuangan kalau gaji tiga bulan yang tertunggak sudah masuk ke rekening masing-masing..."

Kegembiraan yang tergambar jelas terdengar di telingaku, suara pria paruh baya itu terdengar parau, seakan menahan tangis haru karena beban rumah tangga nya dapat teratasi.

"Anak saya yang paling kecil akhirnya bisa berobat, Mbak. Teman-teman di pabrik sampai sujud syukur di area parkir. Kami kira... kami kira perusahaan ini benar-benar sudah bangkrut dan dijual Bu Prilia, kami tidak menyangka ternyata kami masi dapat mengais rezeki di sini."

​Air mata yang sejak tadi ku tahan akhirnya menetes membasahi pipi. Bulu kuduk ku sampai merinding karena haru.

Ku usap cairan hangat yang keluar dari mata ku dengan punggung tangan, aku mengembuskan napas panjang.

"​Bagaimana mungkin Prilia dan ibunya tega membiarkan puluhan keluarga kelaparan, demi membiayai gaya hidup mewah serta mendirikan bisnis pribadi di kota sebelah?" Aku menggeleng kepala heran.

​"Kamu sudah melakukan hal yang benar, May," ujar Pak Baskoro lembut dari kursi samping kemudi. Beliau menoleh ke belakang, menatapku dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga seorang pelindung keluarga.

 "Memprioritaskan hak para pekerja adalah langkah pertama untuk merebut kembali kepercayaan mereka. Perusahaan tidak akan bisa berdiri tanpa loyalitas orang-orang di dalamnya."

​"Terima kasih, Pak Baskoro. Tanpa dokumen yang bapak pegang dengan baik selama ini, serta pengarahan dari Bapak, saya mungkin tidak akan berani berdiri setegar ini." Ucapku dengan suara serak di antara keharuan ku.

​Pak Baskoro tersenyum tipis, lalu raut wajahnya kembali serius.

 "Tapi ingat, May. Prilia itu ibarat ular yang terpojok. Dia memang melangkah pergi dari bank dengan kekalahan telak, tapi gertakannya soal jalur hukum tidak boleh membuat kita lengah. Meskipun... saya sangat yakin, dia tidak akan benar-benar berani melangkah ke pengadilan."

​Aku mencondongkan badan ke depan. "Maksud Pak Baskoro?"

​"Gertakan Prilia tadi cuma topeng ketakutan," jelas Pak Baskoro dengan nada tenang namun penuh kalkulasi matang.

" Kalau dia nekat menggugat hak waris atau membawa masalah ini ke meja hijau, seluruh transaksi keuangan yang selama ini dia selewengkan akan terbuka otomatis di depan hakim May. "

"Bapak yakin dia tahu risiko itu. Komplotannya terutama Bu Salma dan Ibu nya Prilia pasti melarangnya bertindak terang-terangan."

​Aku mengangguk perlahan, mulai menangkap arah pemikiran pengacara senior itu. "Jadi, mereka akan bermain dari belakang?" tebak ku.

​"Tepat," jawab Pak Baskoro." tegas.

​Rijal yang mendengarkan dari kursi depan ikut angkat bicara.

"Benar, Mbak Maya. Tadi sebelum kita ke bank, saya sempat mendengar selentingan dari staf operasional. Bu Salma belakangan ini sering mengadakan pertemuan tertutup dengan dua distributor terbesar kita, PT Surya Mandiri dan CV Cahaya Gemilang."

​Dahiku berkerut seketika. Apakah dua distributor itu pemegang omzet terbesar kita?" Aku bertanya pada Rijal.

"Iya mbak." Rijal mengangguk seraya menatap ku dari kaca spion.

"Kalau mereka sampai ditarik ke perusahaan baru milik Bu Salma, operasional pabrik kita tetap akan mati suri meskipun gajinya sudah dibayar." Aku menarik nafas panjang.

​"Itulah target mereka yang sebenarnya,"sahut Pak Baskoro.

"Sebab itu, May, kita simpan dulu opsi melapor ke polisi. Laporan kepolisian itu prosesnya panjang, memakan waktu berbulan-bulan, dan bisa memicu publisitas negatif yang malah membuat para klien makin takut. Jalur hukum dan kepolisian kita pegang saja sebagai kartu As atau senjata cadangan, bagai mana menurutmu?"

​"Lalu, apa rencana kita sekarang, Pak?" Aku balik bertanya.

​"Kita potong jalur napas bisnis gelap mereka sebelum mereka sempat bergerak," jawab Pak Baskoro tajam.

"Kita lakukan pembersihan dari dalam secara total dan ambil alih kendali penuh atas para klien kunci hari ini juga."

"Ok, aku manut saranmu pak."

Satu jam kemudian, mobil kami memasuki kawasan industri tempat kantor pusat dan pabrik CV Abadi Permai berdiri. Gedung berdinding abu-abu dengan plang besi bertuliskan nama perusahaan peninggalan Kakek Subroto itu tampak menyapa kehadiran kami.

​Di pelataran parkir, puluhan pekerja berseragam biru tampak berkumpul. Begitu mobil kami berhenti, Pak Budi bersama beberapa perwakilan pekerja langsung mendekat. Saat aku keluar dari mobil, mata-mata yang tadinya menyiratkan kecemasan kini dipenuhi binar harapan.

​"Mbak Maya!" Pak Budi menyambut ku dengan membungkuk hormat, matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, Mbak... Terima kasih banyak atas hak kami yang sudah ditunaikan."

​"Pak Budi , jangan seperti ini,"

potongku cepat sambil memegang kedua pundak pria tua itu.

"Justru saya yang minta maaf karena baru bisa menyelesaikan masalah ini sekarang. Saya berjanji, selama saya memegang perusahaan ini, tidak akan ada lagi cerita gaji tertunggak."

​Sorak gemuruh kecil dan desah napas lega terdengar dari barisan pekerja. Aku memanfaatkan momen itu untuk mengamati sekeliling.

​Aku menatap Pak Budi dengan pandangan tegas.

"Pak, tolong beri tahu seluruh kepala divisi dan staf administrasi di ruang rapat utama lantai. Ada rapat darurat.

​"Siap, Mbak Maya! Segera saya laksanakan!" jawab Pak Budi bersemangat.

Bersambung

​

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!