Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Hak Akses Root
Kristal raksasa berwarna merah darah itu berdenyut di atas altar, seolah memiliki detak jantungnya sendiri. Setiap denyutannya melepaskan gelombang riak energi yang mendistorsi ruang di sekeliling kami. Warnanya begitu pekat, mengingatkanku pada kabel fiber optic raksasa yang mengalirkan data mentah kehidupan.
Aku melangkah menaiki undakan altar.
"Hati-hati, Arthur," suara Nox kehilangan nada bercandanya. Gadis itu melayang di belakangku, menjaga jarak aman dari altar. "Itu bukan sekadar artefak sihir. Itu adalah Jantung Kausalitas. Titik persimpangan takdir yang sengaja diciptakan dunia ini untuk sang Pahlawan. Jika kau menyentuhnya dan entitas dunia ini menolakmu, keberadaanmu bisa terhapus dari garis waktu."
Aku berhenti tepat di depan kristal tersebut. Pantulan wajahku dengan rambut putih dan mata biru sedingin es terlihat di permukaannya.
Di dalam novel 'Crown of Ash', Leon tidak pernah diceritakan masuk ke Tartarus dan membunuh Malakor di ujian tahun pertama. Bos ini seharusnya baru muncul di volume kelima. Jika dugaanku benar, 'Sistem' penulis sengaja menurunkan item langka tingkat akhir ini lebih awal karena panik melihat sang protagonis hancur di babak penyisihan. Sistem itu mencoba menyuapi Leon dengan kekuatan absolut secara instan.
Sayangnya, alamat pengirimannya diretas olehku.
"Menghapusku dari garis waktu?" Aku menyeringai tipis, mengangkat lengan kiriku perlahan. "Nox, di kehidupanku yang dulu, jika sebuah firewall mencoba memblokir aksesku, aku tidak mundur. Aku meretas kode intinya dan menjadikan diriku sebagai Administrator."
Tanpa ragu, aku menempelkan telapak tanganku yang terbalut Tulang Obsidian ke permukaan kristal itu.
ZRAAAASH!
Seketika, seluruh ruangan katedral bawah tanah itu meledak dalam cahaya merah yang membutakan. Rasa sakit yang tajam, berbeda dengan sakit fisik dari Mandragora, kini menyerang pikiranku. Rasanya seolah ada puluhan terabyte data mentah yang dipaksakan masuk ke dalam otakku secara bersamaan.
Gambaran-gambaran abstrak berkelebat di depan mataku. Masa lalu, masa depan, jalinan takdir Leon, kematian Arthur, peperangan benua, hingga rahasia-rahasia tersembunyi para dewa kuno.
Ini adalah naskah dunia. Dan dunia ini menjerit marah karena sepasang tangan kotor milik karakter antagonis mencoba menyentuh naskah sucinya.
Satu suara yang bukan milik Nox maupun Malakor menggema di kepalaku, mekanis dan absolut.
[PERINGATAN: ENTITAS TAK DIKENAL MENGAKSES JANTUNG KAUSALITAS. PENOLAKAN DIAKTIFKAN. MEMULAI PROSES PENGHAPUSAN EKSISTENSI...]
"Kau pikir bisa menyingkirkanku semudah itu?" raungku dalam hati.
Aku memusatkan seluruh sisa energi Mana Core gelapku yang baru saja berevolusi setelah memakan inti Malakor. Kualirkan kekuatan penelan Vespera ke dalam telapak tanganku, mengaktifkan mode parasit. Aku tidak mencoba menghancurkan sistem penolakannya, aku 'menginfeksinya'.
Sihir kegelapanku merayap seperti virus komputer, menelan sirkuit pertahanan kristal itu dari dalam.
[GAGAL. OTORITAS DIAMBIL ALIH. MENGKALIBRASI ULANG...]
[AKSES ROOT DIBERIKAN. MEMUAT: MATA KAUSALITAS.]
PRANG!
Kristal raksasa itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi ribuan partikel cahaya emas yang langsung melesat masuk ke dalam kedua bola mataku. Aku terhuyung mundur, menutup mataku rapat-rapat sambil mengerang pelan. Panas yang luar biasa membakar retinaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya sensasi itu memudar, digantikan oleh kesejukan yang aneh.
"Arthur! Kau masih hidup?!" Nox terbang mendekat, raut wajahnya terlihat panik—pemandangan yang sangat langka untuk entitas berumur ratusan tahun itu.
Aku perlahan membuka mataku.
Dunia di sekelilingku telah berubah total.
Aku tidak hanya melihat batu, debu, atau kegelapan. Aku melihat garis-garis. Garis aliran mana, benang probabilitas, titik lemah struktur bangunan, dan bahkan aura kehidupan Nox yang berbentuk seperti konstelasi bintang perak di udara. Segala sesuatu di dunia ini kini memiliki semacam interface atau jendela status tak kasat mata yang bisa kubaca jika aku memusatkan pikiranku.
Aku menatap tanganku sendiri.
[Nama: Arthur Pendelton]
[Peran: Anomali (Mantan Antagonis Minor)]
[Kondisi Fisik: Tulang Obsidian (Tingkat Ketahanan: SS)]
[Kapasitas Mana: Kelas S (Elemen Kegelapan Absolut)]
Aku terkekeh pelan. Tawaku perlahan membesar, menggema di ruang bawah tanah yang hancur itu. Ini luar biasa. Aku baru saja mendapatkan debug mode dari dunia ini. Dengan mata ini, tidak ada satu pun jebakan, serangan sembunyi-sembunyi, atau kebohongan yang bisa lolos dari pandanganku.
"Matamu..." Nox bergumam takjub. Pendaran biru es di mataku kini memiliki cincin roda gigi emas yang berputar pelan di sekitar pupil unguku. "Kau benar-benar merebut otorisasi dari hukum kausalitas dunia ini."
"Sebut aku Administrator baru, Nox," balasku santai. Tiba-tiba, mataku menangkap retakan ruang di sudut ruangan yang mulai berkedip merah.
[Peringatan Lingkungan: Ruang Anomali akan runtuh dalam 45 detik]
Sebuah teks transparan muncul di sudut pandanganku. Sangat praktis.
"Tempat ini akan runtuh. Bosnya sudah mati, dan loot utamanya sudah kuambil. Waktunya kembali ke permukaan," kataku sambil menyarungkan Taring Abyss.
Aku menggunakan Mata Kausalitas-ku untuk memindai struktur dimensi ruangan tersebut. Aku melihat satu garis biru terang yang menghubungkan dimensi ini kembali ke Lantai Satu Tartarus. Dengan tenang, aku melesat ke arah garis itu, membelah udaranya dengan pedang, dan melompat masuk tepat saat katedral bawah tanah itu runtuh menelan dirinya sendiri.
Tujuh puluh dua jam Ujian Kelangsungan Hidup akhirnya usai.
Di Dataran Tinggi Obsidian, gerbang raksasa Tartarus terbuka kembali. Murid-murid yang selamat keluar dengan langkah diseret. Sebagian besar dari mereka terluka parah, zirah hancur, dan wajah dipenuhi trauma. Tim medis akademi langsung sibuk berlarian menandu mereka.
Di atas panggung evaluasi, Profesor Aegis berdiri bersama beberapa panitia dan Pangeran Julian, yang hadir sebagai pengawas kehormatan.
"Hasil ujian tahun ini sangat menyedihkan," dengus Aegis melihat kondisi para murid.
Pangeran Julian tidak mempedulikan keluhan Aegis. Mata birunya menyapu kerumunan murid yang keluar, mencari satu sosok dengan rambut putih mencolok. Di mana si brengsek Pendelton itu? Apakah dia mati di dalam? batin Julian dengan secercah harapan.
Namun, harapan itu pupus ketika sesosok pemuda berjalan keluar dari gerbang dengan langkah paling santai yang pernah ada.
Aku muncul dari balik bayangan gerbang. Jas akademiku memang kotor dan robek di beberapa bagian, tapi posturku tetap tegak sempurna. Tidak ada luka. Tidak ada kelelahan. Aku berjalan layaknya bangsawan yang baru saja selesai piknik di taman kerajaan.
Suasana dataran tinggi itu langsung hening. Para murid yang sedang diobati tanpa sadar menelan ludah dan menyingkir saat aku lewat. Rumor tentang Tuan Muda Sampah yang berubah menjadi iblis petarung tampaknya sudah diaminkan oleh semua orang.
"Tuan Pendelton," sapa Profesor Aegis saat aku mendekati meja evaluasi. "Tampaknya Anda berhasil bertahan hidup. Keluarkan Token Bintang yang Anda kumpulkan."
Murid lain biasanya hanya bisa membawa tiga sampai sepuluh token. Aku merogoh saku jubahku. Tapi, alih-alih mengeluarkan token, aku melempar sebuah kristal ungu gelap sebesar kepalan tangan ke atas meja.
Tuk.
Kristal itu memancarkan hawa beracun dan aura mana yang membuat Aegis dan para pengawas refleks melangkah mundur.
"I-Ini... Inti Sihir Chimera of Despair! Kelas A+!" teriak salah satu panitia dengan wajah sepucat kertas. "Mustahil! Monster ini hanya ada di lantai empat! Bagaimana kau bisa..."
"Aku tersesat," jawabku asal. "Apakah itu cukup untuk memberiku nilai kelulusan? Jujur saja, mencari token koin di dalam labirin gelap itu terlalu merepotkan, jadi aku mengambil apa pun yang kebetulan menghalangi jalanku."
Pangeran Julian menatapku dengan kebencian dan ketakutan yang bercampur aduk. Ia tahu aku kuat, tapi mengalahkan monster A+ sendirian di dalam labirin? Itu bukan lagi mutasi fisik. Itu adalah ancaman nasional.
"Tunggu dulu," sela Julian, memaksakan otoritas suaranya. "Inti sihir ini terlalu kuat untuk didapatkan oleh satu orang murid. Ini pasti hasil curian! Pendelton pasti mencurinya dari rombongan senior elit atau menggunakan benda sihir ilegal!"
Tuduhan yang sangat klasik. Julian mencoba mencari celah untuk mendiskualifikasiku.
Namun, sebelum aku sempat membalas dengan mulut beracunku, sebuah suara dingin memotong dari arah tenda medis.
"Dia tidak mencurinya. Dia membunuh monster itu di depan mataku."
Semua orang menoleh. Cecilia von Arnault, dengan lengan kiri yang masih dibalut perban namun postur yang angkuh, melangkah maju. Ia diiringi oleh empat anggota Komite Kedisiplinan lainnya yang juga babak belur.
Mata Julian melebar. "Ketua Arnault? Kau... membela Pendelton?"
"Aku mengatakan fakta, Yang Mulia," ucap Cecilia tegas, menatap lurus ke arah Julian tanpa gentar. "Rombonganku disergap oleh Chimera itu di Lantai Dua akibat anomali labirin. Kami hampir musnah. Arthur Pendelton datang sendirian, menangkis serangan monster itu, dan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Jika dia tidak ada di sana, Kekaisaran baru saja kehilangan lima pewaris bangsawan terbaiknya hari ini."
Keheningan absolut menyelimuti dataran tinggi.
Cecilia von Arnault, sang Ketua Komite Kedisiplinan yang terkenal paling benci pada keluarga Pendelton, baru saja mempertaruhkan harga diri dan reputasinya untuk bersaksi membelaku di depan umum.
Pangeran Julian tampak seperti baru saja ditampar menggunakan ikan busuk. Rahangnya mengeras. Jika Cecilia—aset utama dari faksinya sendiri—sudah bersaksi, maka tidak ada lagi yang bisa ia bantah.
Aku melirik Cecilia dari sudut mataku. Mata Kausalitas berputar pelan.
[Nama: Cecilia von Arnault]
[Status Pikiran: Gengsi tinggi, rasa terima kasih yang disembunyikan, pergeseran loyalitas politik 15%]
[Potensi Ancaman: 0%]
Aku tersenyum tipis. Investasiku membuahkan hasil yang jauh lebih cepat dari dugaan.
"Nah, Yang Mulia," aku mencondongkan tubuh sedikit ke arah meja evaluasi, menatap Julian dengan pendaran mata iblisku. "Jika kesaksian Nona Arnault sudah cukup jelas, bisakah kita selesaikan administrasi ini? Aku sangat merindukan kasur empukku."