NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT PERLINDUNGAN BARU

Hujan deras yang mengguyur kota malam itu terasa seperti pisau es yang menusuk kulit. Namun bagi Leo dan Elena, guyuran air dari langit adalah satu-satunya hal yang membersihkan bau amis darah dan kotoran selokan dari tubuh mereka. Berjalan menembus gang-gang sempit di bawah bayangan gedung, mereka berdua lebih mirip hantu basah kuyup daripada ancaman terbesar bagi penguasa dunia bawah tanah kota.

"Tahan suaramu," bisik Elena menarik kerah jaket Leo dan mendorongnya masuk ke ceruk gelap di antara dua mesin pendingin ruangan raksasa.

Sebuah mobil patroli polisi melintas lambat di jalan utama, sekitar dua puluh meter dari gang tempat mereka bersembunyi. Lampu rotator birunya berputar, memantulkan cahaya menembus genangan air di aspal. Leo menahan napas, menekan bahu kanannya yang terluka ke dinding bata dingin. Ototnya berkedut menahan ngilu. Obat penghilang rasa sakit yang ia telan mulai kehilangan efeknya, digantikan oleh denyutan konstan yang menjalar hingga ke rahang.

"Mereka mencari kita," desis Leo dengan gigi terkatup setelah mobil polisi itu menghilang di belokan.

"Marco pasti sudah menyogok kepala kepolisian distrik ini untuk melakukan patroli buta," jawab Elena mengintip dari balik mesin pendingin, memastikan jalanan benar-benar kosong. "Berapa jauh lagi gedung yang kau maksud? Kalau kita terus berada di jalanan terbuka, cepat atau lambat kita bakal terekam kamera jalan."

"Lewati dua blok ke arah timur, lalu belok kiri di perempatan lampu merah yang mati," balas Leo sambil memaksakan diri melangkah keluar dari ceruk gelap. Kaki kirinya terasa berat seperti dipasangi beban puluhan kilo. "Kita sudah masuk batas distrik timur. Polisi bayaran Marco tidak akan berani masuk terlalu dalam ke wilayah ini."

Elena mengernyitkan dahi. "Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena ini zona netral yang dikuasai sindikat Golden Triad," jelas Leo terengah-engah, terus berjalan dengan pandangan waspada. "Ayahku membuat perjanjian damai dengan mereka sepuluh tahun lalu. Siapa pun yang berani membawa pasukan bersenjata atau memicu konflik terbuka di wilayah ini, akan memancing perang langsung dengan Triad. Marco mungkin bajingan yang licik, tapi dia tidak sebodoh itu untuk membuka dua front peperangan di minggu pertamanya berkuasa."

"Cerdas," puji Elena singkat, nada suaranya terdengar sedikit terkesan. "Memanfaatkan musuh dari musuhmu. Setidaknya insting mafiamu masih berfungsi."

Mereka kembali berjalan menembus hujan. Setengah jam kemudian, siluet sebuah bangunan beton raksasa yang belum selesai dibangun menjulang di hadapan mereka. Proyek apartemen mangkrak setinggi lima belas lantai itu tampak seperti kerangka monster raksasa di tengah malam. Tidak ada kaca di jendela, tidak ada pintu, hanya pilar-pilar beton dan lantai kasar yang dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun karena sengketa lahan. Tumpukan material bangunan yang sudah berkarat dan ditumbuhi ilalang berserakan di halaman depannya.

"Ini tempatnya," ucap Leo menunjuk ke arah bangunan gelap itu. "Dulu klan Valenti sering menggunakan lantai atas gedung ini sebagai titik pantau kalau ada pertemuan rahasia di wilayah perbatasan. Tidak ada yang datang ke sini selain gelandangan atau tikus."

"Bagus. Semakin sepi semakin baik," kata Elena berjalan mendahului Leo, senter kecil di tangannya menyapu area lantai dasar yang dipenuhi puing dan botol bir kosong. "Kita naik ke lantai paling atas. Berada di tempat tinggi memberi kita keuntungan taktis kalau-kalau ada yang nekat mengikuti kita."

Leo mendongak menatap anak tangga beton yang gelap dan melingkar ke atas tanpa pegangan. Ia menghela napas panjang, menahan rasa putus asa.

"Kau sadar aku baru saja kehilangan darah setidaknya setengah liter dan bahuku dijahit secara paksa, kan?" sindir Leo menatap Elena dengan tatapan kelelahan. "Lantai lima belas? Kau bercanda."

"Aku tidak menerima keluhan dari pria yang kepalanya dihargai sepuluh juta dolar," sahut Elena membalikkan badan dan menatap Leo tajam. "Naik, Pangeran. Atau kau mau tidur di bawah sini dan digigit anjing liar?"

Leo mengumpat pelan dalam hati. Ia tahu Elena benar. Bertahan di lantai dasar sama saja dengan bunuh diri. Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari kemarahannya, Leo mulai menaiki anak tangga pertama.

Pendakian itu terasa seperti penyiksaan tanpa akhir. Di lantai empat, napas Leo sudah berbunyi seperti peluit rusak. Di lantai delapan, ia terpaksa duduk di anak tangga selama lima menit karena pandangannya mulai menggelap. Setiap kali ia merasa ingin menyerah, Elena akan berdiri dua anak tangga di atasnya, menatapnya dengan tatapan meremehkan yang entah bagaimana berhasil menyulut kembali harga diri pangeran mafia itu.

"Kau payah sekali," ejek Elena saat Leo terbatuk keras di lantai dua belas.

"Tutup mulutmu, peretas," balas Leo serak, memegang dinding beton yang kasar untuk menarik tubuhnya berdiri. "Kalau posisinya dibalik, kau pasti sudah pingsan di lantai tiga."

"Faktanya posisinya tidak dibalik. Jadi berhenti bicara dan terus jalan," jawab Elena tanpa belas kasihan.

Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti seabad, mereka tiba di lantai lima belas. Lantai teratas itu tidak memiliki dinding pembatas di beberapa sisinya, membiarkan angin malam dan tampias hujan masuk dengan leluasa. Namun, di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah area yang dulu direncanakan sebagai ruang lift utama, tertutup oleh dinding beton tebal di ketiga sisinya, membentuk sebuah ruangan perlindungan alami yang kering dan terlindung dari pandangan luar.

Seseorang di masa lalu telah menyulap tempat itu menjadi pos pantau darurat. Ada sebuah kasur busa tipis yang sudah berdebu, beberapa kursi plastik usang, meja kayu reyot, dan tumpukan kardus kosong.

Leo berjalan gontai menuju kasur busa itu dan langsung menjatuhkan dirinya di sana. Ia bahkan tidak peduli dengan debu tebal yang beterbangan. Tubuhnya seolah mati rasa. Pistol Sig Sauer miliknya terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai dengan bunyi klotak pelan.

"Sial... aku benar-benar hampir mati di tangga," gumam Leo memejamkan mata rapat-rapat.

Elena tidak memedulikan keluhan Leo. Gadis itu langsung bergerak cepat mengamankan perimeter. Ia menarik seutas kawat tipis dari ranselnya dan memasangnya melintang di anak tangga terakhir yang menuju ke lantai mereka, menyambungkannya dengan dua kaleng kosong berisi kerikil. Jebakan peringatan sederhana, tapi sangat efektif di tempat sunyi seperti ini.

Setelah memastikan akses masuk aman, Elena berjalan mendekati meja kayu, membersihkan debunya dengan sapuan tangan, dan mulai mengeluarkan peralatannya. Ia meletakkan tablet hitam terenkripsinya, sebuah *powerbank* berkapasitas besar, dan kotak P3K darurat.

"Buka jaketmu," perintah Elena berbalik menatap Leo.

Leo membuka sebelah matanya, menatap gadis itu dengan curiga. "Malam ini sudah terlalu panjang untuk adegan seperti ini."

"Jangan bermimpi. Buka jaketmu, aku harus memeriksa jahitanmu," desak Elena memutar bola matanya malas. "Kau jatuh tertimpa rak server, baku tembak di gorong-gorong, lalu memanjat lima belas lantai. Kalau jahitan kasarku terbuka, kau bisa mati kehabisan darah di atas kasur jelek itu dan aku tidak sudi menggotong mayatmu turun."

Sambil meringis pelan, Leo menggunakan tangan kirinya untuk membuka ritsleting jaket dan melepas kemejanya yang sudah lengket oleh darah dan keringat. Bahu kanannya terlihat mengerikan. Perban putih yang dibalutkan Elena sebelumnya kini sudah berubah warna menjadi merah gelap dan cokelat kotor.

Elena berlutut di samping kasur, menyorotkan senter kecilnya ke arah bahu Leo. Ia memotong perban lama menggunakan gunting medis, memperlihatkan luka jahitan yang memerah dan membengkak.

"Kabar buruknya, dua jahitanmu di bagian ujung lepas," kata Elena datar seraya menuangkan cairan antiseptik ke atas kain kasa. "Kabar baiknya, kau belum mati."

Elena menekan kain kasa basah itu langsung ke atas luka Leo.

"Argh! Brengsek!" Leo mengumpat keras, tubuhnya menegang menahan perih yang menyengat hingga ke ubun-ubun.

"Diamlah, ini biar tidak infeksi," tegur Elena tanpa menghentikan tekanannya. Tangan gadis itu sangat stabil, sama sekali tidak gemetar meskipun ia baru saja membunuh nyawa orang kurang dari satu jam yang lalu. "Setidaknya di sini kita punya waktu untuk istirahat beberapa jam sebelum memikirkan langkah selanjutnya."

Elena dengan cekatan membalut bahu Leo dengan perban baru yang lebih bersih dan kencang. Setelah selesai, ia bangkit dan berjalan menuju tepi bangunan yang tidak berdinding. Ia berdiri di sana, membiarkan angin malam meniup rambut sebahu miliknya.

Leo perlahan duduk, menyandarkan punggungnya ke dinding beton. Ia menatap punggung gadis itu dari jauh. Dari lantai lima belas ini, pemandangan kota di bawah mereka terlihat sangat jelas. Gemerlap lampu kota berpendar menembus rintik hujan. Di kejauhan, Leo bisa melihat gedung pencakar langit milik Valenti Group berdiri angkuh, menara kebanggaan keluarganya yang kini dikuasai oleh pengkhianat.

"Apa rencanamu besok?" tanya Leo memecah keheningan.

Elena tidak langsung menjawab. Ia terus menatap pemandangan kota yang basah.

"Besok, kita membuat Marco sadar bahwa Phantom bukan sekadar peretas yang bersembunyi di balik layar, dan pangeran yang dia usir belum sepenuhnya mati," jawab Elena tanpa menoleh, suaranya terdengar dingin dan tajam menyayat angin malam.

Gadis itu menoleh sedikit ke arah Leo, senyum asimetrisnya kembali terukir di wajah.

"Tidurlah, Leo. Karena mulai besok malam, Marco dan seluruh anjing-anjingnya yang tidak akan bisa tidur lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!