Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iklan Lowongan Kerja
Iklan lowongan kerja yang dilihatnya kemarin sempat Melisa abaikan, tapi akhirnya ia memilih untuk mencoba peruntungan itu. Sebenarnya menjadi asisten rumah tangga bukan pekerjaan yang bergengsi di daerah tempat tinggalnya. Melisa tetap coba mendaftar sebab gaji yang ditawarkan lumayan besar, ia yakin dirinya bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahan dengan baik. Bukannya semua pekerjaan rumah sama saja?
“Buset, dah. Persyaratannya kenapa harus di atas tiga puluh tahun?”
Awalnya ia seperti tidak punya harapan, lalu muncul ide konyol untuk melakukan pemalsuan tahun kelahirannya. Menurutnya, postur tubuhnya yang tinggi besar cukup mendukung kalau ia mengaku berusia tiga puluh tahun.
Melisa nekat memalsukan tahun lahirnya.
…
Sehari setelah mengirim lamaran kerja, ia diminta interview santai di kafe Sebelas Kenangan jam empat sore. Sejak siang Melisa heboh memilih pakaian mana yang akan ia pakai agar terlihat lebih dewasa dari umur aslinya.
“Mel, kasbon yang bulan lalu dibalikinnya kapan? Lagi butuh juga, nih.” Astaga, kenapa para dermawan yang suka meminjami orang-orang berwajah kasihan seperti dirinya ini hobi sekali menagih-nagih hutang. Apalagi tanggal tua begini, siapa juga yang pegang uang ditangal-tanggal begini.
“Kalo nunggu tanggal satu masih sabar ga?”
“Yah, butuh hari ini banget, Mel. Lu pinjem dulu ke siapa kek gitu.”
Alah, gali lobang tutup lobang, gitu aja terus sampe kiamat. Agar urusannya tidak menjadi semakin panjang, Melisa mentransfer nominal uang yang diminta. Besok dan hari-hari selanjutnya ia mungkin akan bertahan hidup dengan air keran dan makanan gratis yang biasa dibagikan orang-orang dermawan di jalanan sambil menunggu tanggal gajian turun. Seperti sebelum-sebelumnya.
Melisa sengaja berangkat ke tempat interview satu jam sebelum waktu yang ditentukan, ia ingin terlihat disiplin dan layak diperhitungkan untuk pekerjaan ini.
Jalanan sedikit macet, untungnya ia memilih berangkat lebih awal tadi.
“Ada jalan lain ga, Pak? Nanti tip-nya ditambahin deh,” bujuknya pada pengendara ojek online yang ditumpanginya.
“Ga ada, Mbak. Katanya ini hari terakhir perbaikan jalannya, jadi besok udah normal kayak hari biasa. Ga macet-macet gini.” Bapak ojek online itu coba memberi jawaban setahunya.
“Yah, kan saya butuh ga macetnya hari ini, Pak.” Menurut Melisa, jawaban bapak pengendara itu tidak membantu sama sekali.
Setelah melewati beberapa menit dalam kemacetan dan menghirup debu-debu polusi di jalanan, akhirnya ia sampai juga di tempat tujuan. Melisa sedikit membenahi penampilannya.
Sambil menunggu balasan dari nomor admin yang semalam ia kirim data diri palsu, Melisa coba berjalan-jalan di sekitar kafe dan berfoto di spot-spot yang disediakan. Niatnya ia akan mengunggah foto yang bagus di sosial medianya, tapi ia batalkan.
“Utang masih banyak malah posting beginian, nanti dikira foya-foya lagi.”
Melisa mengembuskan napas jengkel. Aroma gurih makanan yang dibawa oleh para pramusaji membuat perutnya ikut meronta minta diisi makanan yang sama. Apalagi harum kopi dan matcha yang begitu khas, tenggorokannya langsung reflek membaca doa makan dan minum lalu menelan ludah.
“Ya Tuhan, pengen kaya. Udah siap banget nih jadi orang kaya. Janji deh bakalan amanah dan ga aneh-aneh,” gumamnya.
Ga ada manusia yang ga kepengen hidupnya berkecukupan, ga usah kaya-kaya banget deh, yang penting ga punya utang aja udah berasa damai banget bernapas di dunia. Orang bilang, kita punya Tuhan, jadi doa aja yang banyak, bahkan yang kedengarannya mustahil pun.
Melisa berdoa minta kaya hampir setiap hari, tapi sampai saat ini belum dikabulkan juga. Kadang ia bingung apa yang membuatnya tidak kunjung bertemu dengan wujud nyata doa-doanya.
Meja nomor tujuh.
Baru saja ia baca pesan yang masuk dari admin yang semalam ia hubungi untuk mengirimkan data diri palsu itu. Melisa langsung menuju meja yang disebutkan.
Akhirnya, ia punya tempat duduk. Sejak tadi ia tidak berani duduk di meja manapun karena khawatir ditanyai akan memesan apa, kalau mejanya sudah direservasi atas nama bos yang akan mewawancarainya dalam interview nanti kan ia jadi punya jawaban kalau hanya duduk menunggu pertemuan dengan seseorang, tanpa memesan apapun.
“Selamat sore. Mbak Melisa, ya?”
“Iya.” Melisa menjawabnya sambil berdiri, lalu menyalami uluran tangan dua orang itu.
Setelah mereka berdua duduk, ia ikut duduk. Wah, kalau dari penampilannya sih ini sepertinya beneran dari kalangan sultan.
“Saya Maya, admin lowongan kerja yang kamu hubungi. Ini Bu Inggit, bos saya dan calon bos kamu juga.”
Woah, apa ini artinya Melisa berkesempatan besar untuk diterima?
“Baik. Salam kenal Bu Inggit. Salam kenal Mbak Maya.” Melisa coba berbasa-basi santun.
“Kamu yakin mau menerima pekerjaan ini, Melisa?” Kali ini Bu Inggit yang menanyainya.
“Saya yakin sekali, Bu. Saya berjanji akan melakukan pekerjaan dengan baik dan menjaga nama baik keluarga besar Bu Inggit.” Melisa memberikan jawaban sesuai dengan contoh kalimat interview keren yang ia cari di internet sejak siang tadi.
“Bagus sekali. Saya butuh orang yang berkomitmen dan kompeten, makanya saya menetapkan batas usia karena biasanya anak muda jaman sekarang kalau belum cukup dewasa, emosinya kadang masih sering labil.”
Mendengar jawaban Bu Inggit Melisa jadi tahu mengapa lowongan pekerjaan itu menetapkan batas minimal usia, selain itu ia juga khawatir dan ragu, apa ia bisa mengikuti arahan pekerjaan dari Bu Inggit? Apa mengaku saja kalau sebenarnya ia belum tiga puluh tahun? Tapi nominal gaji yang ditawarkan lumayan tinggi dan bikin ngiler.
Tiba-tiba pramusaji datang membawa beberapa makanan dan minuman di meja mereka. Melisa jadi canggung sendiri, sejak tadi ia tidak memesan apapun.
“Silakan dinikmati makanannya, Mel. Sambil ngobrol biar ga tegang-tegang banget.” Maya mempersilakannya menikmati hidangan di meja.
Melisa bersyukur ada beberapa makanan dan minuman yang dipesankan untuknya. “Lumayan, perbaikan gizi gratis,” ucapnya dalam hati.
Bu Inggit terlihat membaca-baca dokumen.
Sebenarnya Melisa takut data palsunya ketahuan, tapi ia tetap menampakkan sikap seolah benar-benar tenang. Sampai Ketika Bu Inggit tiba-tiba memanggil namanya dengan wajah penuh keterkejutan yang serius.
“Loh, Mel.” Bu Inggit membaca dokumen dan menatap wajah Melisa bergantian.
Waduh, apa langsung ketahuan?