Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Laju roda sedan lapis baja itu membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan fajar. Di dalam kabin, tidak ada suara selain deru mesin yang dipacu pada batas maksimal dan hembusan napas Gabriel yang berat serta tidak teratur. Pria yang baru saja membantai puluhan nyawa di dermaga sektor empat itu kini mencengkeram erat kemudi, jemarinya yang masih bernoda darah kering berguncang pelan.
Setiap detik terasa bagai siksaan yang memanjangkan umur penyesalannya. Kata-kata terakhir Julian sebelum mati bahwa dirinya tak lebih dari sekadar monster yang menghancurkan hal yang paling dicintainya terus bergema, menghantam dinding dadanya tanpa ampun.
Begitu mobil berhenti di pelataran rumah sakit, Gabriel langsung melompat keluar. Ia mengabaikan Marco yang mencoba menyodorkan handuk bersih untuk menyapu bercak darah di wajah dan mantel hitamnya. Langkah kakinya yang lebar dan tergesa-gesa memecah kesunyian koridor lantai ICU yang steril.
Brak!
Pintu ruang perawatan bergeser cepat. Gabriel melangkah masuk, menghentikan napasnya seketika saat matanya kembali menangkap sosok Aurora.
Wanita itu masih terbaring kaku di atas ranjang medis. Pucatnya kulit Aurora kini nyaris menyatu dengan warna sprai putih yang membungkus tubuhnya. Wajah anggun yang dulu selalu memancarkan pendar perlawanan itu kini teramat rapuh, dihiasi selang oksigen dan pipa-pipa medis yang menempel di leher serta tangannya. Monitor jantung di samping tempat tidur memancarkan garis gelombang hijau yang naik-turun sangat pelan lambat, tipis, dan ringkih.
Gabriel mendekati ranjang itu dengan langkah tertahan, seolah takut jika pijakan boot tebalnya akan meretakkan sisa-sisa kesadaran Aurora yang menggantung di udara.
Ia melepaskan mantel hitamnya yang ternoda darah, melemparkannya ke lantai begitu saja. Dengan tangan yang bergetar hebat, pria yang ditakuti seluruh syndicate kejahatan itu perlahan berlutut di samping tempat tidur. Ia meraih tangan kanan Aurora yang terpasang jarum infus, menangkup jemari kecil yang dingin itu dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Aurora..." bisiknya, suaranya pecah dan amat serak.
Gabriel menempelkan jemari Aurora ke pipinya, meresapi dinginnya kulit sang selir. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan keheningan ruangan yang diisi bunyi konstan monitor jantung menyiksa batinnya.
"Aku sudah menyelesaikan pertempuran itu, Cara mia," gumam Gabriel pelan, bicaranya terengah bagai anak kecil yang ketakutan di tengah kegelapan. "Julian sudah mati. Tidak ada lagi yang akan menyebut namamu di tempat pelelangan itu. Tidak ada lagi yang akan mengancam keselamatanmu di luar sana..."
Ia mengecup punggung tangan Aurora berulang kali, menyalurkan napas hangatnya yang beraroma tembakau dan sisa alkohol pada jemari yang tak bergerak tersebut.
"Buka matamu, aku mohon..." lanjutnya dengan suara yang makin bergetar. "Caci maki aku seperti yang kau lakukan kemarin. Pukul dadaku, sebut aku monster, sebut aku iblis... lakukan apa saja, Aurora. Tapi jangan diam seperti ini. Jangan menghukumku dengan kesunyian ini."
Sepanjang pagi hingga matahari merayap naik ke puncak langit, Gabriel tidak pernah beranjak dari posisi berlututnya. Pria itu terus mengajak Aurora bicara. Ia menceritakan hal-hal yang tak pernah diucapkannya kepada siapa pun tentang bagaimana puri dingin itu terasa hidup sejak kehadiran Aurora, tentang betapa ia membenci dirinya sendiri setiap kali melihat rasa takut memancar dari mata indah wanita itu, dan tentang rasa panik luar biasa yang mencengkeram jantungnya saat melihat tubuh kecil itu kejang-kejang di peraduan mereka.
"Kau bilang aku mengurungmu dalam sangkar emas, bukan?" bisik Gabriel, menatap wajah polos yang terpejam lelap itu. "Terbangunlah, Aurora... dan aku akan membukakan seluruh pintu puri itu untukmu. Kau boleh pergi ke mana pun kau mau, asal kau tetap bernapas... asal kau tetap hidup di duniaku."
Namun, meski seharian Gabriel membisikkan janji-janji dan penyesalannya, kondisi tubuh Aurora tak kunjung membaik. Suhu tubuhnya memang sudah tidak lagi membakar akibat penurun panas dosis tinggi, tetapi ketahanan fisiknya berada di titik terendah. Pendarahan internal yang berhasil dihentikan oleh tim medis menyisakan trauma berat pada organ intinya, membuat sistem kekebalan tubuhnya menolak untuk kembali stabil. Monitor jantung tetap berdetak lambat, menandakan bahwa jiwa wanita itu masih enggan untuk kembali dari alam bawah sadarnya.
---
Sore harinya, ketika semburat warna jingga menembus jendela kaca ICU, ketenangan di dalam ruangan itu mendadak terganggu.
Pintu kamar bergeser pelan. Marco melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat tegang. Tangan kanannya membawa sebuah ponsel satelit yang terus bergetar tanpa henti.
"Tuan," bisik Marco amat hati-hati, tidak ingin mengganggu sang Don yang masih menggenggam tangan Aurora.
Gabriel tidak menoleh. "Aku sudah bilang jangan ganggu aku, Marco."
"Ini darurat, Tuan," sahut Marco dengan suara menahan desakan. "Kematian Julian Romanov dan pembantaian di dermaga tadi malam telah memicu kekacauan besar. Faksi sekutu Romanov di perbatasan barat mulai memobilisasi pasukan. Mereka menganggap Anda telah melanggar perjanjian damai lima tahunan."
Gabriel diam membisu. Matanya masih terkunci pada wajah pucat Aurora.
"Selain itu," lanjut Marco lagi, "para tetua Dewan Moretti berkumpul di markas utama. Mereka menuntut kehadiran Anda malam ini juga. Jika Anda tidak datang untuk menegaskan kepemimpinan dan memberikan instruksi atas kekosongan wilayah utara, kekuasaan Anda akan dipertanyakan. Perang saudara bisa pecah di dalam organisasi kita sendiri."
Mendengar hal itu, rahang Gabriel mengeras keras. Kenyataan pahit dari dunianya kembali menariknya turun dari ruang penyesalan ini.
Ia adalah seorang Don. Ia adalah raja dari kerajaan darah yang ia bangun sendiri di atas ribuan mayat. Dunia kejahatan tempatnya berdiri tidak pernah mengenal kata jeda atau belas kasihan. Jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahan termasuk berdiam diri di samping ranjang seorang wanita yang sedang koma musuh-musuhnya dan bahkan para pengikutnya sendiri akan langsung melompat untuk merobek lehernya.
Gabriel perlahan menegakkan tubuhnya. Pria itu berdiri kaku, merasakan sendi-sendi tubuhnya yang pegal setelah seharian berlutut tanpa makan dan minum.
Ia menunduk, mengusap helai rambut halus Aurora yang tersebar di atas bantal, lalu mengecup kening wanita itu dengan ciuman yang sangat lama dan dalam.
"Aku harus pergi sebentar, Cara mia," bisik Gabriel tepat di telinga Aurora, suaranya kembali berubah menjadi dingin dan berat, membungkus kembali rasa sakitnya di balik topeng iblis sang penguasa mafia. "Duniaku menuntut darah lagi malam ini. Dan aku harus memastikan tempat ini tetap aman sampai kau terbangun."
Ia melepaskan genggaman tangannya secara perlahan sebuah pelepasan yang terasa sangat berat dan menyiksa. Gabriel berbalik, menyambar mantel hitamnya yang ternoda darah di lantai, lalu melangkah menuju pintu.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Gabriel menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh pada Marco yang berdiri patuh.
"Siagakan lima puluh pengawal terbaik di seluruh lantai rumah sakit ini," perintah Gabriel dengan aura intimidasi yang kembali meluap penuh dari tubuhnya. "Jika ada satu orang asing yang mencoba mendekati kamar ini... atau jika ada bahaya sekecil apa pun yang mengancam Aurora... pastikan tempat ini menjadi kuburan bagi mereka semua."
"Baik, Tuan!" Marco membungkuk dalam.
Gabriel melangkah keluar dari ruangan steril itu, menutup pintu kaca rapat-rapat. Saat kakinya kembali menapak koridor luar, raut penyesalan dan keputusasaan di wajahnya menguap tanpa sisa, berganti dengan ekspresi pembunuh yang sangat dingin dan tanpa belas kasih. Sang raja mafia telah kembali ke ranahnya siap untuk membantai siapa saja yang berani mengusik takhta dan selir kesayangannya.