Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 Rumah yang Terlalu Dijaga
“Karena ada orang-orang yang takut kehilangan sesuatu kalau kamu kembali nak.”
Deg.
Jantung Alkina mulai tidak nyaman.
“Kembali… ke rumah?” tanya Alkina memastikan.
“Kembali menjadi pemilik hidup kamu sendiri.” Kalimat itu terasa aneh bagi Alkina.
Karena selama ini ia bahkan tidak pernah merasa punya apa pun.
Di tempat lain Seorang laki-laki sedang duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar monitor yang menampilkan keadaan sekitar rumah Mira.
Puluhan kamera tersembunyi aktif, beberapa orang kepercayaannya berjaga diam-diam dan semua itu hanya untuk satu orang.
Alkina.
“Tuan muda,” ujar salah satu anak buahnya yang baru masuk ke dalam ruang kerja laki-laki itu, “gadis itu mulai curiga bos.”
Laki-laki itu terdiam. Tatapannya tertuju pada layar yang memperlihatkan Alkina duduk termenung dekat jendela.
Wajahnya terlihat bingung, rapuh dan kelelahan.
Hati laki-laki itu terasa sesak karena bahkan setelah keluar dari rumah itu Alkina tetap tidak bisa hidup tenang.
“Perketat penjagaan,” ucap laki-laki itu rendah.
“Baik bos.”
“Dan jauhkan semua orang mencurigakan dari area rumah itu.” Anak buahnya langsung mengangguk.
Namun sebelum pergi, laki-laki itu sempat bertanya pelan,
“Sampai kapan Tuan muda akan terus bersembunyi?” Ruangan mendadak sunyi.
Laki-laki itu menatap layar lama sekali.
Sampai kapan? Ia sendiri tidak tahu karena semakin dekat dirinya pada Alkina semakin besar ketakutan di hatinya.
Sementara itu Sisil mulai bergerak diam-diam. Ia duduk di kamar sambil memperbesar foto blur yang dulu dikirim anonim ke ponselnya.
Matanya menyipit.
“Jalan Melati…” Ia buru-buru mencerari alamat itu memelui online.
Dan perlahan senyum kecil muncul di bibirnya.
“Akhirnya…” Sisil tersenyum licik.
Namun Sisil tidak tahu dirinya juga sedang diawasi.
Di dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah keluarga Wiratmaja, seorang laki-laki berbicara melalui alat komunikasi.
“Nona Sisil mulai melacak lokasi.”
Suara laki-laki terdengar dingin dari seberang.
“Biarkan saja.”
“Bukankah itu berbahaya bos?”
Tatapan Arkan berubah tajam.
“Kadang tikus harus dibiarkan keluar sarang dulu.” laki-laki itu tersenyum licik.
******
Malam itu Alkina kembali sulit tidur, perasaan aneh terus menghantuinya. Ia berjalan pelan menuju dapur untuk minum namun langkahnya terhenti saat melihat Mira berbicara dengan beberapa pria berpakaian hitam di ruang tengah.
“…pastikan area belakang aman.” perintah Mira
“Baik, Bu.” jawabannya sambil menunduk hormat.
“…dan jangan sampai Alkina tahu dulu.”
Deg.
Tubuh Alkina langsung membeku.
Jangan sampai Alkina tahu?
Tahu apa? Mira yang menyadari keberadaan Alkina langsung menoleh cepat.
“Alkina?” Wajah gadis itu pucat.
“Nenek… sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dari aku?”
Tatapan Mira perlahan berubah rumit.
Karena cepat atau lambat semua rahasia itu memang tidak akan bisa disembunyikan lagi.
******
Ruang tengah mendadak sunyi.
Para laki-laki berpakaian hitam langsung mundur perlahan setelah melihat Alkina berdiri dengan wajah pucat di dekat dapur. Tatapan gadis itu penuh kebingungan dan sedikit ketakutan.
“Nenek…” suaranya lirih, “apa yang sebenarnya terjadi?”
Mira memejamkan mata sebentar. Ia tahu momen ini akhirnya datang juga, elama ini ia terus melindungi Alkina dari terlalu banyak kebenaran.
Namun sekarang gadis itu mulai menyadari semuanya sendiri.
“Duduklah Alkina,” ucap Mira pelan.
Alina menurut dengan jantung berdebar keras. Tangannya terasa dingin sementara Mira duduk tepat di depannya dengan tatapan yang jauh lebih serius dari biasanya.
“Apa yang akan nenek katakan mungkin akan mengejutkan kamu.”
Alkina menggigit bibir pelan.
“Aku sudah cukup sering terkejut akhir-akhir ini nek…”
Kalimat itu membuat hati Mira terasa nyeri karena hidup gadis itu memang terlalu penuh luka.
Mira menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
“Nama lengkap nenek sebenarnya Mira Wiratmaja.”
Deg.
Mata Alkina langsung membesar.
“Wiratmaja…?” Mira mengangguk pelan.
“Aku adik dari kakek kamu.” Tubuh Alkina langsung membeku.
“Apa…?” Alkina sangat kaget dengan informasi yang baru saja ia ketahui.
“Aku masih keluarga kandung kamu, Alkina.”
Dunia Alkina terasa berputar. Ia menatap Mira tidak percaya. Semua potongan aneh selama ini mulai terasa masuk akal.
Kenapa Mira begitu melindunginya. Kenapa perempuan itu punya banyak koneksi. Kenapa ia terlihat sangat marah saat tahu penderitaan Alkina.
Karena sejak awal… Mira memang keluarganya. Air mata mulai memenuhi mata Alkina.
“Kenapa…” suaranya bergetar, “kenapa aku tidak pernah tahu?”
Tatapan Mira perlahan meredup.
“Karena nenek memilih pergi dari keluarga itu bertahun-tahun lalu.”
Dulu Mira adalah bagian penting keluarga Wiratmaja. Namun setelah putrinya meninggal karena sakit, ia berubah.
Kehilangan anak membuatnya muak dengan kemewahan dan perebutan kekuasaan dalam keluarga besar mereka.
Ia memilih mengasingkan diri, hidup sederhana dan membesarkan cucunya, Rian.
Namun saat bertemu dengan Alkina Mira diam-diam mengawasi keluarga Wiratmaja dari jauh.
Mira juga mulai mencari tahu seperti apa kehidupan Alkina, saat ia mengetahui ia begitu marah karena menyianyiakan salah satu anggota keluarga Wiratmaja.
“Aku tahu tentang kamu sejak kamu kecil,” ujar Mira lirih, ia tahu abangnya itu memiliki cucu perempuan yang bernama Alkina. Ia pernah berkunjung dan bahkan beberapa kali mengajak Alkina tinggal bersama dirinya namun semenjak berita tentang Arkan yang kecelakaan itu, keluarga Setiawan sangat tertutup, semenjak saat itu ia tidak pernah lagi bertemu dengan Alkina. Padahal ia sangat menyayangi Alkina.
Air mata Alkina jatuh perlahan.
“Aku sering melihatmu diam-diam waktu sekolah.” karena tidak bisa lagi menemui Alkina, ia akhirnya melihat Alkina dari jarak jauh.
Deg.
“Nenek… lihat aku?” Mira tersenyum sedih.
“Kamu selalu sendirian.” Kalimat itu langsung menusuk hati Alkina.
“Aku ingin membawamu pergi sejak dulu,” lanjut Mira, “tapi aku tidak punya hak.”
Tangis Alkina mulai pecah perlahan.
Saat Mira melihat Alkina duduk di halte waktu itu, ia tahu itu adalah seorang gadis yang sangat ia kenali, makanya ia mendekati dan menawarkan Alkina tinggal bersama dirinya dan cucunya.
“Aku pikir… tidak ada keluarga yang sayang sama aku…”
Mira langsung menggenggam tangan gadis itu erat.
“Dengar baik-baik.” Tatapan wanita itu mulai berkaca.
“Sejak pertama kali melihatmu lahir, aku sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri.”
Air mata Alkina jatuh semakin deras karena untuk pertama kalinya ia mendengar seseorang dari keluarganya mengatakan bahwa dirinya dicintai.
Namun Mira belum selesai bicara
“Ada alasan lain kenapa aku menyembunyikan kamu.”
Tubuh Alkina kembali menegang.
“Apa itu?”
Tatapan Mira berubah serius.
“Kamu dalam bahaya sekarang.”
Deg.
“Keluarga kandung Sisil tidak akan tinggal diam kalau kamu kembali.” Alkina menunduk pelan.
Ia sudah mulai memahami sedikit demi sedikit.
“Mereka menginginkan semua harta keluarga Wiratmaja.”
“Tapi aku nggak peduli soal itu…”
“Nenek tahu.” Mira mengusap rambut Alkina lembut.
“Justru karena kamu tidak peduli, kamu semakin mudah disingkirkan.” Kalimat itu membuat tubuh Alkina dingin.
“Aku... Aku takut…” bisiknya pelan.