NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Deru mesin sedan hitam milik Elvano meraung pelan saat kendaraan itu meninggalkan area gudang tua di ujung utara kota.

Di dalam kabin yang terasa pengap oleh amarah yang tertahan di dada Jace, suasana terasa begitu dingin hingga membuat udara di sekitar mereka seolah membeku.

​Jace yang duduk di kursi pengemudi sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, mengamati ekspresi sang bos besar.

​Alih-alih meluapkan amarah karena telah dipercundangi oleh seorang wanita, Elvano justru duduk bersandar tenang dengan mata elangnya yang menatap lurus ke luar jendela.

​Jemarinya memainkan sebuah benda kecil—kartu SIM dari ponsel umpan yang ia temukan di gudang tadi.

​"Tuan Muda," Jace akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar geram.

​"Wanita itu benar-benar menguji batas kesabaran kita. Dia meremehkan kekuatan klan Adhitama. Izinkan saya melacak nomor IMEI ponsel tersebut lebih dalam. Kita bisa mengerahkan unit siber untuk membongkar jaringan server mana pun yang dia gunakan."

​Elvano menoleh pelan. Ia meletakkan kartu SIM itu di atas konsol tengah, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.

​"Jangan lakukan itu, Jace," perintah Elvano dengan nada rendah yang mutlak.

​Jace mengerutkan kening, menatap tuannya dengan sebelah alis terangkat.

​"Tapi, Tuan... dia jelas-jelas sedang mempermainkan kita."

​"Justru itu poin menariknya," sahut Elvano, sudut bibirnya kembali terangkat membentuk garis sinis yang misterius.

​"Selama setahun ini, tidak ada satu pun musuh atau tikus got yang berani bermain-main dengan sistem kita seperti ini. Mereka biasanya ketakutan, bersembunyi, atau memohon ampun. Tapi wanita itu... dia menggunakan otak cerdasnya."

Seketika ingatan Elvano berputar pada pertemuannya dengan Alana, bagaimana tatapan mata gadis itu yang terlihat tenang, waspada, dan sama sekali tidak mencerminkan rasa takut. Wanita itu memiliki nyali sebesar baja yang terbungkus di balik topeng gadis pinggiran yang cerewet.

​"Biarkan dia merasa menang untuk sementara waktu," lanjut Elvano, matanya menggelap penuh perhitungan.

​"Secerdas apapun dia pasti akan membuat kesalahan cepat atau lambat ketika terdesak. Terus awasi seluruh titik perbatasan kota, stasiun, dan terminal antarkota. Dia tidak mungkin bisa keluar dari wilayah kekuasaan kita selamanya."

​"Baik, Tuan Muda."

________________

​Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk kota maupun jangkauan klan Adhitama, kegelapan pekat menyelimuti sebuah ruangan bawah tanah yang pengap. Suara pecahan benda keras tiba-tiba memecah keheningan yang mencekam.

​Prang!

​Asbak marmer tebal hancur berkeping-keping menghantam dinding, tepat di sebelah kepala seorang pria berjas hitam yang kini berlutut gemetar di lantai marmer yang dingin.

​"Satu tahun!" Suara serak dan berat itu menggelegar dari balik meja kayu jati berukuran besar.

​Sosok pria tinggi besar berdiri dari kursi kebesarannya. Wajahnya tersembunyi di balik topeng porselen putih yang memancarkan aura kematian, hanya menyisakan celah sempit untuk sepasang mata yang menyala penuh murka.

​"Satu tahun penuh, dan kalian masih memberiku laporan sampah ini?!" bentaknya, suaranya bergema memantul di dinding ruangan.

​Pria yang berlutut yang tak lain adalah anak buahnya, menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"M-maafkan kami, Tuan. Wanita itu... dia bukan wanita biasa. Jejak digitalnya selalu terputus, dan setiap kali kami mengirim tim ke lokasi, tempat itu sudah kosong—"

​"Alasan!" potong Sang Bos Bertopeng, melangkah mendekat dengan aura membunuh yang kental. Ujung sepatu kulitnya mengangkat dagu pria yang gemetar itu dengan kasar, memaksanya menatap ke atas.

​"Target kalian hanyalah seorang wanita dan dua anak kecil! Dua bocah tengik berusia enam tahun! Dan kalian, pasukan elit yang kubayar jutaan dolar, tidak bisa menemukan mereka?! Apa kalian semua buta?!"

​Kemarahan sang bos sangat beralasan. Setahun yang lalu, dalam pembantaian berdarah yang ia rancang dengan rapi untuk menyingkirkan tangan kanan kepercayaan Elvano, tujuannya hanya satu: mencabut garis keturunan itu sampai ke akar-akarnya agar tidak ada ancaman di masa depan, sekaligus memukul telak mental klan Adhitama.

​Namun, sepasang anak kembar itu lolos bak ditelan bumi bersama sosok wanita misterius pelindung mereka.

​"Kami mendapat informasi baru, Tuan," seorang pria lain di sudut ruangan yang memegang tablet memberanikan diri angkat bicara, menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan murka atasannya.

"Elvano Adhitama... klan mereka mulai bergerak masif. Pasukannya baru saja menggerebek sebuah gudang tua di utara kota. Kami menduga kuat, Elvano telah mencium jejak target kita."

​Mendengar nama Elvano, napas Sang Bos Bertopeng tertahan sejenak. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan bunyi kertakan tulang yang mengerikan.

​Jika Elvano sampai menemukan mereka lebih dulu, maka usahanya menutupi jejak pembantaian setahun lalu akan sia-sia. Wanita itu pasti memegang informasi krusial, dan Elvano akan menjadikannya senjata untuk menghancurkan sindikatnya.

​"Kirim seluruh unit bayangan yang kita miliki ke lapangan," desis Sang Bos Bertopeng, suaranya kini merendah namun jauh lebih mematikan dari teriakan sebelumnya.

​"Sisir seluruh perbatasan kota, periksa setiap stasiun, terminal, dan pelabuhan tikus. Jangan pedulikan pergerakan Elvano! Temukan wanita itu dan kedua bocah kembar tersebut. Bawa kepala mereka ke hadapanku, atau kalian semua yang akan menggantikan posisi mereka di dasar lautan!"

​"B-baik, Tuan!"

​Sang Bos Bertopeng berbalik, menatap tajam ke arah layar monitor raksasa di dinding yang menampilkan peta kota dengan titik-titik pantauan merah yang berkedip. Di balik topengnya, sudut bibirnya berkedut menahan amarah yang mendidih.

"​Kau boleh lari sejauh apa pun, Nona. Tapi saat aku menemukanmu, aku akan pastikan kematian adalah hal termewah yang akan kau mohonkan kepadaku!" desisnya dalam hati.

_____________

​Sementara itu, puluhan mil dari pusaran konflik tersebut, di dalam gerbong bus antarkota tua dan berderak bising, Alana mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya.

​Ia baru saja melompat turun dari bus di sebuah terminal transit kecil di perbatasan selatan kota. Sinar matahari siang yang terik menyengat kulit, berpadu dengan bau debu jalanan dan asap knalpot yang pekat.

​Di sisi kirinya, Kai menggandeng erat tangan Kael, berjalan patuh tanpa banyak mengeluh meski wajah kedua bocah itu tampak lelah.

​Alana menunduk, menatap sekilas ke arah tas ransel miliknya. Ia tahu permainannya dengan Elvano barusan hanyalah sebuah penundaan waktu. Bos mafia itu cerdas; pria bermata elang tersebut pasti segera menyadari bahwa ponsel di gudang itu hanyalah umpan murahan.

​Namun, untuk saat ini, setiap detik yang berhasil mereka lewati adalah nyawa.

​"Ayo, Sayang. Kita cari tempat makan sebentar, lalu kita lanjut naik kereta lokal," bisik Alana lembut, mengusap puncak kepala Kael dan Kai dengan sayang.

​Mereka mampir ke sebuah warung nasi sederhana di dekat terminal. Alana memesan tiga porsi makanan hangat, memastikan kedua keponakannya bisa mengisi perutnya dengan cukup. Sambil menyuapi Kai sesekali, mata Alana terus menyapu sekeliling, mengawasi setiap gerak-gerik orang asing yang berlalu-lalang di area terminal. Instingnya sebagai penembak jitu sekaligus pelindung tidak boleh lengah sedikit pun.

​Ia tahu, bukan hanya Elvano yang mencarinya. Ada monster lain di luar sana—monster bertopeng yang setahun lalu telah menghancurkan keluarganya—yang juga sedang mengintai dari balik bayang-bayang.

​Di tengah kesibukan mereka merencanakan pelarian selanjutnya, sebuah kenyataan pahit menghantam batin Alana. Uang tunai tebal yang diberikan oleh Jace semalam memang jumlahnya sangat besar, tetapi membawa gepokan uang tunai dalam jumlah mencolok di tempat umum seperti terminal adalah bumerang.

​Mereka tidak memiliki kartu identitas baru yang sah untuk menyewa tempat tinggal permanen di kota tujuan berikutnya.

​Ia butuh identitas baru. Ia butuh jaringan perlindungan yang jauh lebih aman daripada sekadar berpindah-pindah kota.

​Alana menatap lurus ke depan, sementara sumbu rencana besar mulai terbentuk di dalam kepalanya yang jenius. Jika Elvano Adhitama maupun musuh bertopeng itu ingin mencarinya, maka ia akan memastikan mereka semua berputar-putar di labirin buatannya sendiri, hingga tiba saatnya ia sendirilah yang akan menarik pelatuknya.

​Bersambung...

1
V3
Al mmg cerdas bgt
neny
Marco bersikap begitu Krn gk tau siapa Alana,,dan setelah tau,dia pun di buat kicep sm ratu Aditama tersebut
Lucyana H
di tggu kelanjutannya thor....semakin hari semakin menarik ceritamu thor,👍💪😘
riniasyifa: Jadi makin semangat author, siap kak👍
total 1 replies
Lucyana H
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼,seneng bgt akhirnya Alana JD milik si elvano sang ketua klan Adhitama....😘😍💪👍
riniasyifa: 🤭 Terima kasih kakakku dah ngikutin kisah Alana dan Elvano😍
total 1 replies
Erna Wati
aku suka...aku suka...🤭
Lucyana H
thor...bisa tambah punya ga sih...plisss,klo udah baca cerita ini selalu kurang thor..pengen lagi terus
riniasyifa: Hehe sabar kakaku🤭😍 lanjut baca besok 👍
total 1 replies
Lucyana H
keren thor ceritamu..baca marathon...berasa kurang ....di tggu kelanjutannya
riniasyifa: Siap😄😍
total 1 replies
Lucyana H
thor hebat bgt kmu bikin cerita mafia yg sangat menarik dan keren....aku suka sm karakter si Alana yg pintar,tegas ,Badas jg ...top markotop thor😍
Dessy Rinda: semangat kak thor up nya
total 3 replies
Lucyana H
se7 ...bas
Lucyana H
alur ceritanya bener bener keren thor ,seru bikin deg degan ,ky nonton film action di tv,suka cerita mafia ky gini ga ngebosenin,bikin penasaran terus thor,soalnya ceritanya emang seru,👍😘😁💪
wo te
dri sehari 3x,ke 2x lama2 1x up sehari 🤔🤔🤔
riniasyifa: karena makin panjang ceria makin buntu jalan pikiran author 🤭🤣
total 5 replies
Lisa
Semangat y Al, El ada 1 org lg yg perlu kalian selamatkan
Lisa
👍👍 Hebat banget nih Alana & Elvano..wah mrk emg pasangan yg kompak 😊
riniasyifa: Terima kasih kakaku dah dah mampir😍👍
total 1 replies
Lisa
Seru banget nih..
Lisa
Seru banget nih
Inang
bagusss, jgn lupa dilanjutkan thor ditunggu
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Wkwkwk Bener bgt, Bas 🤣🤭👍
Lucyana H: se7 bas👍
total 1 replies
Dewi kunti
wis sak karepmu Ellllll🤣🤣🤣🤣🤣
Dewi kunti
mencekam tp romantis ,posesif 😘😘😘😘😘
neny
bagus cerita nya,,alur nya tertata rapi,,menarik untuk dibaca,, semangat terus akak💪💞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!