NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - DINGINNYA KASTEL DI ATAS TEBING

Roda pendarat Gulfstream G650ER menyentuh landasan pacu Bandara Nice Côte d'Azur saat kabut Mediterania masih bergulung tipis di atas permukaan laut.

Pukul enam lewat lima belas menit pagi waktu Prancis.

Di luar jendela kabin, udara subuh mencium kaca pesawat dengan embun beku. Tiga mobil van lapis baja berwarna hitam tanpa pelat nomor resmi telah menunggu di area hanggar privat, dikawal oleh delapan pria berseragam taktis kelabu dengan lambang bunga lili perak di dada kiri mereka—pasukan pengawal elit Valois Maritime Defense.

Aku duduk di depan meja rias kabin pesawat. Gaun tidur merah marun semalam telah berganti menjadi setelan mantel wol kasmir berwarna abu-abu arang dengan kerah bulu musang yang tegak membingkai leherku. Di baliknya, gaun rajut pas badan berwarna hitam pekat memeluk siluet tubuhku tanpa cela. Rambut hitamku ditarik rapi ke atas dalam sanggul gaya Prancis kuno, menonjolkan sepasang anting berlian hitam yang kini berkilat dingin menantang terbitnya matahari Eropa.

Di belakangku, Adrian Varell baru saja mengancingkan rompi jas tiga lapisnya yang berwarna biru midnight. Jas panjangnya tersampir di lengan, sementara kancing manset perak berukir trisula berkilau saat ia membetulkan letak dasi sutranya.

Aroma tembakau dingin, kayu cedar, dan sisa kehangatan dari ranjang kabin semalam masih melekat di antara kami. Tatapan matanya yang kelam menyapu leher jenjangku, menatap tanda kemerahan samar di bawah kerah mantelku dengan ketegasan yang tak terselubung sebelum ia melangkah mendekat.

Tangannya yang kokoh mendarat di bahuku, memijat otot leherku yang tegang dengan ritme yang menenangkan.

"Lord Julian Valois telah tiba di Kastel Nice setengah jam yang lalu," bisik Adrian rendah, suaranya parau dan berwibawa di dekat telingaku. "Dia membawa lima pimpinan konsorsium maritim Mediterania dan seorang notaris negara dari Jenewa. Mereka berniat membacakan deklarasi pengalihan hak perwalian Arthur Valois sebelum jam sepuluh pagi."

Aku menatap pantulan mataku di cermin kaca. Dingin. Setajam mata pisau bedah.

"Julian mengira penangkapan Marcus di Marseille adalah kesempatan emas untuk merebut kendali atas seluruh armada tanker sebelum putusan pengadilan turun," sahutku pelan, jemariku merapikan sarung tangan kulit hitam yang membalut tanganku hingga pergelangan. "Dia tidak tahu bahwa ranjang kematian adiknya bukanlah panggung perebutan warisan... melainkan jebakan untuk menyeret seluruh pengkhianat klan ke satu ruangan."

Adrian terkekeh rendah—getaran di dadanya menyandarkan kenyamanan di punggungku, meredakan gigitan hawa dingin Nice. Tangannya terulur meraih daguku, memiringkan wajahku sedikit ke atas sebelum bibirnya mendarat di bibirku dalam sebuah ciuman pembuka pagi yang dalam, menuntut, dan penuh kepastian.

"Mari kita temui paman tertuamu, Nadia Valois," bisik Adrian serak saat melepaskan pagutannya, menyisakan jejak hangat di kulitku.

Perjalanan menuju Kastel Valois memakan waktu tiga puluh menit mendaki jalanan tebing berliku yang menghadap langsung ke Laut Liguria.

Kastel batu bergaya Gothic itu bertengger di atas perbukitan cemara. Menara-menara runcingnya menjulang menusuk langit pucat, dipagari dinding batu setinggi delapan meter yang telah berdiri sejak era Napoleon. Di gerbang besi tempa utama, penjaga gerbang bersenjata otomatis langsung memberi hormat kaku saat iring-iringan konvoi kami menerobos masuk tanpa mengurangi kecepatan.

Halaman dalam kastel sunyi senyap, hanya diisi oleh suara deru angin laut yang menghantam tebing curam di bawah sana.

Begitu kakiku melangkah turun di atas undakan batu pualam teras utama, Komandan Arnaud—mantan perwira komando angkatan laut berwajah tegas dengan bekas luka di pelipis—langsung melangkah maju dan membungkuk hormat di hadapanku.

"Nona Besar Nadia Valois-Arlena," suara Arnaud berdentum mantap dalam bahasa Prancis yang kental. "Seluruh garnisun Valois Maritime Defense telah mengunci setiap pintu keluar kastel. Delapan belas pengawal pribadi Lord Julian telah kami amankan di barak sayap timur."

"Bagus," sahutku datar seraya melangkah melewatinya. "Bagaimana kondisi ayah saya?"

"Tuan Arthur masih stabil di bawah pengawasan alat pendukung kehidupan di ruang medis lantai tiga. Tim dokter forensik dari Swiss telah menghentikan suplai cairan yang terkontaminasi zat berbahaya sejak subuh tadi."

"Bawa saya ke ruang pertemuan dewan terlebih dahulu," perintahku dingin.

Kami melintasi lorong-lorong batu beratap lengkung yang dipenuhi lukisan-lukisan minyak para penguasa klan Valois dari abad ke-18. Karpet merah tebal meredam suara langkah kaki kami saat kami mendekati pintu ganda kayu ek berukir lambang naga dan jangkar emas di ujung sayap barat.

Di dalam ruangan itu, suara perdebatan sengit terdengar jelas menembus celah pintu.

"Arthur sudah tidak memiliki fungsi otak yang sadar!" seru sebuah suara pria tua yang serak dan angkuh. "Kita tidak bisa membiarkan armada tanker di Asia terlunta-lunta tanpa tanda tangan sah direksi! Sebagai saudara tertua dari garis darah Valois yang sah, hak perwalian konsorsium jatuh ke tangan saya sesuai statuta Jenewa 1888!"

"Tapi Tuan Julian," sahut suara pria lain yang terdengar ragu, "kabar tentang putri Helena Arlena di Singapura—"

"Gadis itu tidak ada!" bentak Julian memotong dengan kasar. "Marcus sudah memastikan bahwa garis darah itu tidak lagi menjadi ancaman! Dokumen dari Bank Pictet itu pasti rekayasa dari Varell Group untuk mengambil alih saham kita!"

BRAK!

Pintu kayu ek setinggi empat meter itu terbuka lebar.

Seluruh suara di dalam ruangan seketika mati kutu.

Tujuh pria berjas wol hitam mahal yang duduk mengitari meja kayu mahoni panjang serentak menoleh dengan mata membelalak kaget. Ruangan perpustakaan kuno berdinding buku-buku bersampul kulit itu mendadak kehilangan seluruh kehangatannya saat hawa dingin dari lorong menerobos masuk.

Di ujung meja, berdiri Lord Julian Valois. Pria berusia enam puluh delapan tahun dengan rambut perak yang disisir licin, mengenakan jas berkancing ganda bergaya aristokrat lama dengan tongkat berkepala elang emas di tangannya.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan.

Ketukan ujung sepatu hak tinggiku di atas lantai marmer hitam berpadu dengan desau mantel kasmir abu-abuku. Di belakangku, Adrian Varell melangkah menjulang dengan wibawa mengintimidasi yang membayangi setiap jengkal ruang udara, tatapannya yang kelam menyapu seluruh pimpinan konsorsium dengan tekanan yang membuat mereka menahan napas.

Pandangan Julian Valois terpaku padaku. Matanya yang cekung menatap wajahku, menyapu alis tegas, garis hidung, hingga tatapan mata dinginku yang persis dengan potret mendiang Helena Arlena yang tergantung di dinding utama kastel.

Tongkat elang emas di tangannya bergetar tipis.

"Kamu..." bisik Julian serak, bibirnya yang pucat berkedut ngeri. "Tidak mungkin..."

"Wajah yang tidak asing bagi Anda, bukan, Paman Julian?" suaraku mengalun jernih, membelah keheningan ruangan bagai sayatan silet di atas kaca. "Atau Anda membutuhkan bukti racun yang Anda instruksikan kepada Marcus di Monaco dua tahun lalu untuk mengingat siapa saya?"

Seluruh direksi konsorsium seketika menatap Julian dengan keterkejutan yang luar biasa. Bisik-bisik panik meledak di antara mereka.

"Zat radioaktif...?" bisik salah seorang direktur perkapalan asal Genoa. "Lord Julian... racun itu... Anda yang menyediakannya?!"

"DIAM!" raung Julian seraya menghantamkan tongkatnya ke lantai karpet. Wajah tuanya merah padam menahan murka dan kepanikan liar. Ia menunjuk wajahku dengan ujung tongkatnya yang bergetar. "Pengawal! Usir penyusup ini keluar dari kastel saya!"

Namun tidak ada satu pun pengawal yang masuk.

Hanya Komandan Arnaud dan empat operator tempur bertopeng hitam yang melangkah masuk, menutup pintu ganda di belakang kami dan berdiri dalam posisi siaga.

Julian terhuyung mundur, matanya melirik liar mencari jalan keluar yang telah terkunci rapat.

Bastian melangkah maju, meletakkan sebuah koper titanium di atas meja mahoni, membukanya dengan bunyi klik digital yang tegas. Dari dalamnya, ia mengeluarkan tumpukan dokumen asli dari Mahkamah Agung Konfederasi Swiss dan rekaman percakapan satelit antara Julian dan para perantara di Jenewa.

"Lord Julian Valois," suara bariton Adrian Varell akhirnya memecah keheningan dengan otoritas mutlak yang menenggelamkan ruangan. Pria itu melangkah maju dua tapak, menatap Julian bagai seorang kaisar yang menatap perintangan di bawah sol sepatunya. "Atas permintaan resmi pemerintah Prancis dan Otoritas Pengawas Pasar Keuangan Swiss (FINMA), seluruh aset pribadi Anda di empat belas bank privat Eropa telah disita pagi ini."

Adrian melemparkan sebuah surat penetapan pengadilan tepat ke dada Julian. Kertas tebal berstempel segel timah merah itu jatuh berserakan di atas meja di depan cangkir tehnya.

"Gelar kebangsawanan Anda dicabut, hak suara Anda di konsorsium maritim dihapuskan secara permanen, dan surat perintah penangkapan atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi serta percobaan pembunuhan terhadap kepala klan telah ditandatangani oleh kejaksaan Paris," lanjut Adrian dingin.

Julian menatap dokumen itu dengan napas tersengal-sengal. Seluruh arogansi yang ia banggakan selama puluhan tahun runtuh seketika menjadi abu tak berharga. Kakinya lemas, memaksanya jatuh terduduk di atas kursi mahoninya dengan tatapan hampa yang dipenuhi kehancuran mutlak.

Aku melangkah maju, berhenti tepat di samping kursinya.

Tanganku meraih tongkat berkepala elang emas miliknya, menariknya perlahan dari cengkeraman tangannya yang telah kehilangan seluruh tenaganya.

"Dua puluh tahun yang lalu, Anda dan sindikat Sembilan Teratai mencabut nyawa ibu saya di Jakarta demi merebut kendali atas samudra ini, Julian," bisikku pelan tepat di telinganya, suaraku sedingin es gletser Alpen. "Hari ini, darah Helena telah kembali ke kastel ini untuk mengambil seluruh warisannya... dan menyerahkan Anda pada keadilan yang seharusnya."

Aku memisahkan kepala elang emas itu dari gagang kayunya dengan satu hentakan tangan yang dilapisi sarung tangan kulit, lalu melemparkannya ke atas tumpukan dokumen sitaan di hadapannya.

"Bawa dia ke fasilitas penahanan militer Marseille bersama keponakannya," titahku pada Komandan Arnaud tanpa menoleh lagi.

Dua prajurit komando langsung memegang lengan Julian, membimbing pria tua yang tertunduk tanpa suara itu keluar dari ruang perpustakaan, meninggalkan para direktur konsorsium yang tersisa menunduk penuh hormat di atas karpet merah di hadapanku.

Pembersihan di Eropa telah tuntas dalam satu langkah yang bersih.

Pukul sebelas siang.

Di ruang perawatan medis pribadi lantai tiga kastel, keheningan ruangan hanya dipecah oleh bunyi teratur dari monitor detak jantung: tit... tit... tit...

Cahaya matahari Mediterania menerobos tirai tipis, menyinari sosok seorang pria berusia lima puluhan tahun yang terbaring tenang di atas ranjang medis elektrik. Rambutnya telah memutih sebagian, namun garis wajahnya yang tegas, hidung mancungnya, dan struktur tulangnya yang kokoh mencerminkan sosok sang penguasa samudra masa lalu.

Arthur Valois. Ayah kandungku.

Selang-selang pemantau medis masih terpasang di tubuhnya, namun warna kulitnya yang semula pucat kini mulai memancarkan rona alami setelah tim medis bekerja membersihkan racun dari sistem tubuhnya.

Aku duduk di kursi di samping ranjangnya, menanggalkan sarung tangan kulitku, lalu menggenggam jemarinya yang dingin dan kasar.

Ada kehangatan darah yang sama mengalir di antara kulit kami—sebuah ikatan yang tak mampu diputus oleh jarak ribuan mil ataupun konspirasi pembunuhan puluhan tahun.

Tiba-tiba, jemari di dalam genggamanku bergerak lemah.

Kelopak mata Arthur Valois bergetar perlahan sebelum akhirnya terbuka sayu. Sepasang mata birunya yang dalam menatap langit-langit sejenak, sebelum pandangannya perlahan bergulir ke samping, mengunci wajahku yang duduk di sampingnya.

Napas pria itu tercekat pelan di balik masker oksigennya.

Air mata mengalir dari sudut matanya yang berkerut, bibirnya yang kering bergerak tanpa suara membentuk satu nama yang telah ia simpan di lubuk jiwanya selama sembilan belas tahun:

"Helena...?"

Aku tersenyum tipis—sebuah senyuman lembut yang penuh penghormatan bagi darah yang melahirkanku ke dunia ini. Tanganku meremas jemarinya lebih erat, menatap mata birunya dengan keteguhan seorang pewaris sejati.

"Bukan Helena, Ayah," bisikku lembut dalam bahasa Prancis yang sempurna. "Saya Nadia. Putri Anda... telah kembali untuk mengambil kembali seluruh hak kita."

Arthur Valois tersenyum lemah di balik maskernya, meremas balik jemariku dengan sisa tenaga terakhirnya, mengalirkan pengakuan mutlak dari sang penguasa samudra lama kepada sang ratu baru yang telah bangkit.

Di ambang pintu kamar medis, Adrian Varell berdiri bersandar pada kusen kayu, memperhatikanku dengan tatapan seorang kaisar yang tahu bahwa dunia di bawah kaki kami telah berubah selamanya.

Babak Kedua: Perang Korporasi & Sindikat Bayangan telah mencapai puncak kemenangannya.

Dinasti Valois telah bersatu kembali di bawah genggaman jemariku, armada tanker dunia berada di bawah komandoku, dan seluruh musuh masa laluku telah menerima ganjaran atas perbuatan mereka.

Kini, cakrawala Babak Ketiga: Tabir Masa Lalu & Rahasia Darah telah terbentang luas di depan mata.

Dan seluruh jalur maritim utama... resmi menjadi wilayah kekuasaan mutlak dinasti Nadia Valois-Arlena.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!