"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 24] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
"Ayo bangun, Tuan sudah tiba."
Bau tajam cairan antiseptik, ozon, dan zat kimia menusuk hidung di dalam laboratorium dengan berpendingin udara ekstrem. Di balik kaca tembus pandang setebal sepuluh sentimeter, seorang pria berbadan tegap—seorang tahanan hukuman mati yang dijadikan subjek percobaan—terikat erat pada kursi besi khusus.
Di sana Edward berdiri mematung di sisi atas laboratorium. Pandangannya dingin, menusuk lurus ke arah subjek di balik kaca. Di sebelahnya, Hans yang mengenakan jas laboratorium putih sibuk mengamati lusinan grafik di monitor pemantau.
"Injeksi Serum... dosis ketiga," gumam Hans pelan, menekan tombol interkom.
Seketika, jarum otomatis di lengan kursi menancapkan cairan berwarna biru berkilau ke pembuluh darah pria itu. Hanya dalam hitungan detik, efeknya bergolak dahsyat.
BZZZZT!
Mata subjek percobaan itu membelalak lebar. Suara raungan histeris terdengar dari pengeras suara saat otot-otot tubuhnya mendadak membesar ekstrem. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol hitam ke permukaan kulit. Pria itu mengamuk, menghantamkan tangannya ke belenggu besi—dan dengan sekali sentakan, besi tebal itu membengkok hancur!
Pria itu bangkit, menghantam dinding beton berlapis kayu oak setebal 15 sentimeter di depannya.
BRAKKK!
Beton itu hancur berkeping-keping dalam satu pukulan. Bahkan ketika bilah pisau otomatis dari mekanisme uji coba menyabet bahunya, kulitnya yang mengeras bak baja hanya meninggalkan garis goresan tipis yang dalam hitungan detik menutup kembali—sebuah efek regeneratif yang sangat gila.
Namun, kejayaan itu hanya bertahan beberapa detik.
"Detak jantung meningkat ke 240 bpm! Tekanan sistolik melampaui batas aman!" seru salah satu penguji cepat, jemarinya menari di atas keyboard.
Pria di dalam ruangan itu mendadak mencengkeram dadanya sendiri. Raungan perkasa berubah menjadi jeritan kesakitan yang memilukan. Matanya memerah pekat, urat-urat hitam bermunculan di sekitar pelipis dan dadanya seperti akar pohon beracun.
"AGGHRH!"
Ia kejang-kejang hebat sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri di atas puing-puing beton.
Hening kembali menguasai laboratorium.
Hans menghela napas panjang, merapikan kacamata dan sarung tangan latex-nya seraya berjalan mendekati Edward.
"Gagal lagi. Secara kekuatan dan daya tahan fisik, efeknya sempurna. Tapi zat penstabilnya belum mampu beradaptasi dengan perbedaan golongan darah dan daya tahan tubuh yang bervariasi. Jika dipaksakan, resiko henti jantung instan mencapai sembilan puluh persen."
Hans menoleh pada kakaknya dengan senyum tipis yang manipulatif. "Eksperimen ini harus ditunda sampai kita menemukan katalis murni yang tepat, Kak."
Namun, Edward bahkan tidak mengedipkan mata. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, memancarkan aura diktator yang mutlak.
"Ditunda? Tidak ada kata tunda. Tidak ada kata istirahat. Eksperimen tetap berjalan sampai serum ini sempurna."
Hans mengusap tengkuknya, sedikit kesal dengan sifat memaksanya Edward. Meski begitu, Hans harus mengakui potensi raksasa di balik serum ini. Jika berhasil disempurnakan, serum ini tak hanya menciptakan prajurit tak terkalahkan... tapi juga mampu menyembuhkan penyakit parah, meregenerasi sel mati, bahkan membuat seseorang yang lumpuh bisa berjalan kembali.
"Memangnya jika serum ini akhirnya berhasil..." Hans memecah keheningan, menatap tabung reaksi di tangannya. "Nama apa yang akan Kakak berikan padanya?"
Edward melangkah melewati Hans begitu saja menuju pintu keluar. Tanpa menoleh, satu kata dingin keluar dari bibirnya:
"ALTERA."
Di saat bersamaan, di lorong steril luar laboratorium...
Lantai berubin gelap baru saja dibersihkan. Maron melangkah pelan dengan lap di tangannya, ia baru saja selesai bebeberesih di sana. Saat mendengar langkah kaki terburu-buru Rendy yang membawa nampan kotak komponen campuran kimia dari gudang, Maron dengan gerakan sangat cepat dan halus meneteskan sedikit sabun licin di lantai.
"Aduh—WOAH!"
PRANG!
Rendy tergelincir hebat hingga terlempar ke lantai. Tungkai kakinya memar dan terkilir parah.
"Astaga! Rendy!" Maron berakting panik, buru-buru berlari menghampiri Rendy yang meringis sakit. "Ti...tidak apa-apa kah? Ya ampun..."
"Aduuh... kakiku terkilir, Maron," ringis Rendy memegangi kakinya. "Padahal Tuan Hans sudah menunggu kotak bahan kimia ini!"
"Biar kubantu bawakan masuk ke dalam," tawar Maron dengan cemas.
"Tolong ya, Maron... Antarkan saja sampai meja sterilisasi yang meja abu-abu," jawab Rendy.
Maron mengangguk sopan, mengambil kotak itu dan melangkah menuju lab. Di sana ia melihat Edward dan Hans yang sedang berbincang di dekat meja kerja tidak terlalu memedulikan kehadiran Maron yang membantu Rendy.
"Wah, Kakak Maron kenapa ada di sini?" ucap salah seorang wanita mendekatinya. Di laboratorium tersebut, dia dikenal dengan nama Nadia, salah satu penguji di laboratorium tersebut.
"Kebetulan Kakak hanya membantu mengantarkan barang saja. Tadi Rendy jatuh dan terkilir kakinya, jadi niatku hanya membantu... Nah, jadinya cairan-cairan ini disimpan di meja abu kan?"
"Iya Kak, mari saya tunjukkan."
Maron akui wanita tersebut memang cantik, terutama dari balik kibasan rambutnya yang terurai rapi itu.Maron bisa saja jujur jika ia memiliki dorongan suka terhadap wanita muda di hadapannya ini.
Nadia membimbingnya ke meja abu-abu, dan Maron membantu merapikan sisa-sisa komponen yang berantakan di sana.
Hingga jarak wajah mereka berdua menjadi begitu dekat tanpa batas. Maron bermanja pelan, menatap Nadia dengan tatapan hangat yang amat manis.
"Kamu..." Maron tersenyum lembut, jemarinya mengusap pelan helai rambut Nadia hingga melewati daun telinganya.
"...cantik."
Nadia tersipu malu-malu, jemarinya mengusap liontin kalung indah yang melingkar di lehernya—hadiah manis yang pernah diberikan Maron kepadanya. Nadia tersenyum manis lalu pamit pergi, dengan perasaan menggebu-gebu di dadanya karena meyakini Maron benar-benar menaruh hati padanya.
Malam harinya, setelah jam kerjanya di mansion usai...
Maron berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang sepi menuju tempat kerja sampingannya. Di tengah jalan, tiga pria berbadan tegap—bekas teman lamanya—berniat kembali memalaknya. Maron yang tampak tidak berdaya mundur ke dinding, membiarkan para pemalak itu menyudutkannya.
"Chk!,kalian benar benar tidak mendapatkan efek jera."
Namun sebelum mereka bertindak—
CIIIIITH!
BRRAHK!
Sebuah sedan mewah berwarna hitam menerobos naik ke atas trotoar, menghantam tiang listrik tepat di sebelah ketiga pemalak itu hingga mereka terlempar lemas! Maron terkejut dan sedikit syok melihat kejadian di depan matanya yang terjadi sepersekian senti hampir menjadi kan nya korban juga.
Pintu mobil terbuka, memperlihatkan Pria yang ternyata adalah An Liu Li.An melangkah keluar dengan tubuh gemetar hebat dan setelan jas mahal yang agak kusut.
"Ohh astaga ya Tuhan! Apakah mereka baik-baik saja?!" seru An Liu Li panik, lalu menoleh pada Maron. "Ka...kamu tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa, Tuan... Te...terima kasih," sahut Maron ikut gemetaran.
...----------------...
An Liu Li yang malam itu tampak amat frustrasi menyetujui ajakan Maron mampir ke bar. Di dalam lounge bar yang remang, An Liu Li menenggak gelas demi gelas racikan alkohol keras buatan Maron hingga pertahanan dirinya runtuh.
An Liu Li menatap kosong ke dasar gelasnya, memukul meja bar dengan pelan namun penuh keputusasaan.
"Hey, tahu tidak!..." bisik An Liu Li dengan tawa miris yang hancur. "Aku ini gila... Aku terobsesi setengah mati pada wanita itu..."
Maron menyapu meja bar dengan kain seraya menjadi pendengar yang sangat baik. "Wanita yang Tuan maksud..."
"Anisa?"
An Liu Li tertawa sumbang, matanya menyalang penuh dendam dan cinta yang terdistorsi. "Dia satu-satunya wanita yang pernah melihatku bukan sebagai pewaris harta atau pria berkuasa... Dulu, saat semua orang menuntutku menjadi sempurna, hanya Anisa yang menatapku dengan tulus tanpa mengharapkan apa pun... Dia adalah tempatku merasa menjadi manusia utuh."
An Liu Li mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, mengingat bagaimana Anisa kini ada di pelukan Oscario Carlous. "Dia milikku... Dia seharusnya menjadi milikku! Tidakkah kau paham? Aku tidak bisa bernapas melihatnya tersenyum pada pria lain!"
Maron menatap An Liu Li penuh simpati. "Dari sekian banyaknya wanita di luar sana, mengapa tetap Anisa yang Anda inginkan?" tanya Maron pelan.
An Liu Li tidak menjawab. Ia pingsan di atas meja bartender karena mabuk berat. Maron lalu memapah An Liu Li ke kamar ganti khusus staf atas perintah seniornya.
Di jam istirahatnya, Maron menyulut sebatang rokok pelan di sudut ruangan gelap, menatap An Liu Li yang terkapar seraya bergumam racau dalam tidurnya, "Dia... cantik... Dia cantik..."
Di saat itulah, ponsel di saku Maron berdering pelan.
Seketika itu juga, raut wajah Maron yang tadinya manis, polos, dan penuh empati mendadak berubah menjadi sangat dingin. Senyum ramahnya berganti menjadi cengiran miring yang mendinginkan.
Ia mengangkat telepon itu tanpa rasa ragu.
"Berani sekali yah?! Dengan kekayaan sebanyak itu... tentu saja aku menginginkannya juga!" seru suara pria misterius di balik telepon.
"Maron...Maron..., awalnya tentang proyek itu... aku rasa tidak penting, tapi mungkin kamu punya alasan untuk memberiku kesenangan lainnya, bukan?"
"Tentu, ada beberapa hal dan... tentang wanita itu... sepertinya kita bisa langsung membicarakannya," sahut Maron tenang.
"Kau bercanda?! Buang-buang waktu untuk wanita lainnya yang tidak akan menguntungkan itu!" bentak pria itu tegas. "Dengarkan aku Maron, aku berharap kau benar-benar punya informasi yang lebih baik daripada yang satu itu!"
Maron terkekeh sinis, menyibak rambut depannya. "Yah... sepertinya yang satu ini akan benar-benar membuatmu tergiur~"
Maron tersenyum licik mengingat kejadian di laboratorium tadi...
Betapa mudahnya ia memperdaya Nadia.
Yang benar saja?... mencintai wanita lugu dan polos seperti itu!, tentu saja tidak Maron mendekatinya bukalah karena untuk memuaskan dirinya sendiri tetapi
Pura-pura bermanja, bersikap manis, dan membelai rambutnya hanya agar wanita kasmaran itu semakin terpikat padanya. Nadia yang polos bahkan terus mengenakan kalung liontin hadiah ulang tahun dari Maron dengan bangga di lehernya.
Maron sama sekali tidak punya perasaan Maron hanya menjadikan nya teman ranjang saja...
Dan Kalung itu sengaja ia rancang khusus dengan mikro-kamera dan alat penyadap berteknologi tinggi. Tanpa Nadia sadari, setiap kali ia melangkah di dalam laboratorium rahasia, liontin kalung itu secara otomatis merekam seluruh denah, tata letak, dan tampilan eksperimen Serum Altera—lalu terkirim rapi secara real-time langsung ke ponsel Maron!
"Ahahaha!" tawa meriah pria di telepon meledak mendengarnya. "Kau sungguh maniak yang cerdik! Aku suka... mungkin kamu akan segera mendapatkan promosi setelah ini! Kau memang pandai bermain, ular bermuka dua!"
"Jadi...? Tertarik?" tanya Maron dingin.
"Tertarik?! AHAHAHAH!.Bedebah sialan!, tentu saja aku tertarik!"
"Kekayaan, kekuasaan, kekuatan... dan proyek menggiurkan yang akan bernilai fantastis itu! Aku mau semuanya! Dan aku akan dengan senang hati menunggu... sama seperti bagaimana aku membunuh wanita itu!"
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...