Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat seorang ibu
Bugh! Bugh!
Brakh!
Lyn terjungkal ke tanah yang lembab, akibat tendangan dari Clarisa.
Prok! Prok!
"Bagus, baby," ucap Arya penuh semangat.
"Clarisa, hajar dia," seru Selena dan Bianca bersorak.
Clarisa berjongkok di hadapan Lyn, lalu mencengkeram dagunya.
"Lo pikir hidup lo akan aman setelah merusak wajah gue, hah?" desis Clarisa, mencengkeram dagu Lyn semakin erat.
Lyn menatapnya dengan mata setengah terpejam menahan sakit. "Lo yang mulai duluan..."
Plak! Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Lyn, membuat kepalanya terhuyung ke samping.
"Gue nggak peduli, jalang sialan!"
Bugh!
"Ini balasan buat wajah gue!" teriak Clarisa, lalu kembali melayangkan tinjunya, kali ini mengenai perut Lyn.
"Uhuk!" Lyn tersungkur, terbatuk hebat, darah menetes dari sudut bibirnya.
Clarisa tak berhenti. Ia mencengkeram kerah baju Lyn, menariknya hingga wajah mereka nyaris berhadapan.
"Gue akan pastikan lo nyesal seumur hidup," desisnya, sebelum kembali melayangkan pukulan.
Bugh! Bugh!
Selena tertawa dari kejauhan. "Bi, foto cepat. Buat kenang-kenangan."
"Siap, Sel."
Bianca mulai memotret keganasan Clarisa, tak hanya foto ia juga merekam aksi tersebut.
"Cewek lo ganas juga, Ar," ucap salah satu rekan Arya.
Arya hanya membalas dengan tersenyum miring.
Wajah Lyn sudah babak belur, darah bercampur luka memenuhi pipi dan sudut bibirnya.
"Lo tahu apa bedanya lo sama Ibu lo?" ucap Clarisa dingin, menyeringai. "Nggak ada. Sama-sama nggak level buat dekat sama orang kayak gue."
Deg.
"Manusia kampungan kayak kalian, nggak pantas hidup di dunia ini."
Mendengar ibunya diseret dalam hinaan itu, Lyn mengepalkan tangan, menahan amarah yang siap meledak.
Bugh! Bugh!
"JALAN SIALAN!"
Lyn menerjang Clarisa membabi buta, tinjunya mendarat bertubi-tubi di wajah Clarisa, tak peduli apa pun lagi.
"Lepasin, sialan!" jerit Clarisa, berusaha menghindar dari serangan Lyn, tetapi Lyn tak memberinya ampun sedikit pun.
Selena dan Bianca panik, buru-buru berlari mendekat.
"Clara!"
Bianca berusaha menarik lengan Lyn menjauh, melarai.
Namun Selena tak sabar, ia justru menerjang Lyn dari samping. Menjambak rambutnya dengan kasar.
"Masih berani lo, ya?!" bentak Selena, semakin mempererat cengkeramannya di rambut Lyn.
Bugh!
Selena meninju wajah Lyn, membuatnya sempoyongan.
Dari kejauhan, teman-teman Arya justru bersorak, seolah menyaksikan sebuah tontonan.
"Wih, gila. Berantem beneran ini!" seru salah satu dari mereka, sambil menyeringai puas.
"Gaskan, terus."
"Seru banget kalau cewek yang berkelahi."
"Wih, jarang-jarang liat cewek berkelahi seseru ini!" timpal yang lain, tertawa kecil sambil merekam dengan ponselnya.
Arya hanya berdiri diam, menyaksikan kekacauan itu dengan ekspresi puas, seolah hanyalah hiburan semata baginya.
"Cla, lo nggak apa-apa, kan?" ucap Bianca pada Clarisa.
Clarisa menggeleng pelan, tatapannya begitu tajam pada Lyn. Ia perlahan bangkit, lalu meraih batu yang cukup besar dari tanah.
"Arghhh...!"
Ia berlari mendekati Lyn dengan batu itu di tangan.
Bugh!
Batu itu menghantam kepala Lyn dengan keras.
Hening seketika.
Darah mengalir deras dari kepala Lyn, membasahi rambut dan wajahnya yang sudah babak belur.
Tawa yang tadi memenuhi udara langsung terhenti. Semua mata membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Brugh!
Lyn ambruk ke tanah.
"Ibu..." lirihnya sebelum matanya tertutup perlahan.
"C-Clarisa..." ucap Bianca tak percaya.
Selena perlahan mundur, dengan gemetar. "Cla, ini kelewatan..."
Clarisa berdiri mematung, batu itu masih tergenggam di tangannya.
"Gue... gue cuma..." suaranya tercekat.
Teman Arya yang tadinya tertawa kini terdiam, wajahnya berubah tegang.
"Anjir..."
Arya melangkah maju, ia berjongkok memeriksa Lyn yang tergeletak.
"Dia... masih bernapas?" ucapnya pelan.
Tak ada yang menjawab. Hanya keheningan mencengkam yang menyelimuti mereka semua, sementara genangan darah terus melebar di bawah kepala Lyn.
"Ar... bagaimana ini?" ucap Clarisa dengan getar.
"Tenang, baby."
"Ar, aku nggak bisa tenang!"
Arya menghampiri Clarisa lalu menarik dalam pelukannya. "Sudah, ini kan kemauan lo?"
"Tapi, Ar..."
"Sudah, aku aku akan menghubungi rekanku. Dia biasa mengurus hal seperti ini," ucap Arya lalu menatap teman-temannya. "Matikan ponsel kalian!"
Teman-temannya mengangguk patuh.
Arya menghubungi seseorang.
"Om gue ada job untuk, lo," ucapnya pada seseorang saat terhubung.
"Kerjaan apa emang?"
Arya terdiam sejenak, lalu menatap sekilas Lyn.
"Buang mayat!"
"Apa? Buang mayat?"
"Iya, Om. Ini kan termasuk kerjaan lo, kan?"
"Nggak, kali ini gue berhenti dulu!"
Clarisa yang mendengar itu, langsung merebut ponsel Arya.
"Gue anak dari Cakra Narendra! Gue akan kasih apa pun kepada lo, kalau lo bisa mengurus mayat," ucap Clarisa.
Di seberang sana, seseorang yang dipanggil Om itu tetap bersikeras.
"Nggak! Mau lo anak dari Cakra Narendra, gue nggak peduli, bocah," balasnya dengan kesal.
Seseorang yang ada di dekatnya, mendengar nama Cakra Narendra terdiam sesaat, lalu memberi kode temannya. "Ambil saja kerjaan itu."
"Om, bantuin gue kali ini," mohon Arya.
"Satu miliar, bagaimana?" timpal Clara.
Seseorang yang di panggil om itu terdiam sejenak, tawaran yang begitu menggiurkan.
"Emang lo sanggup bayar gue segitu, hah?"
"Sanggup. Uang bukan masalah," ucap Clarisa.
"Hm, baiklah. Kirim alamat lo sekarang!"
Tut! Panggilan berakhir.
Arya menatap Clarisa. "Semua sudah aman, om itu biasa melakukan hal seperti ini," ucapnya menenangkan.
"Kamu serius, kan?"
Arya mengangguk. "Iya, baby. Kalau perlu, kita besok kesini lagi, aku yakin semua sudah beres."
Clarisa mengangguk-angguk saja, ia menatap Lyn sesaat sebelum Arya merangkulnya pergi.
"Sekarang semua bubar!"
—•—
Prang!
Gelas kaca tiba-tiba jatuh begitu saja, membuat Elea terkejut. Angin kencang disertai hujan bergemuruh di luar sana.
"Astaga, ada apa ini?" gumamnya, tiba-tiba perasaanya nggak enak.
Ia melangkah ke jendela, lalu mengintip dari luar.
Hujan terus semakin deras, disertai kilat yang sesekali menyambar, menerangi langit malam.
Tatapan Elea menyapu jalanan yang sepi, tak ada tanda-tanda kepulangan Lyn.
"Apa dia masih marah padaku?" gumanya.
Elea menatap ponselnya, ingin menghubungi putrinya tetapi kalimat putrinya masih terngiang di kepalanya.
"Apa benar dia menginap di rumah temannya? Tapi siapa? Lyn nggak pernah cerita padaku, siapa temannya."
Ia menatap jam dinding. Sisa dua menit lagi ulang tahun Lyn, lalu mengalihkan tatapannya pada kue ulang tahun yang dia buat.
Firasat buruk kembali menghantuinya Elea, insting seorang ibu mengatakan ada yang tidak beres.
Elea meraih jaketnya, tanpa pikir panjang.
"Ibu nggak akan diam. Ibu harus cari kamu, tak peduli kamu marah atau tidak," gumam Elea, ia bergegas keluar rumah menembus derasnya hujan.