NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Pendendam

Erlangga buru-buru keluar dari ruangannya saat jam kerja usai. Niatnya ingin mengantar Ayuna pulang dan meminta maaf secara langsung, tapi saat di depan lift dia bertemu dengan asistennya.

"Tuan, anda mau kemana?"

Sofyan dengan muka kusutnya berniat untuk menemuinya di ruang kerja. Dia juga membawa berkas penting yang hendak diserahkan padanya.

"Ya mau pulang lah! Ini kan sudah waktunya pulang," bantah Erlangga.

Sofyan mengerutkan keningnya dengan menggumam. "Tumben?" Selama bekerja dengan Erlangga belum pernah didapati pria itu pulang tepat waktu, bahkan sering kali lembur hingga menginap di kantor. Entah kenapa baru memasuki perusahaan baru majikannya itu sudah berubah lebih disiplin.

"Tuan yakin mau pulang? Bukankah sebentar lagi kita akan adakan rapat bersama Bapak Elio dan juga beberapa orang yang terkait dengan perusahaan ini?"

Erlangga mematung, ia mengumpat dalam hati.

"Ingat Tuan, di sini Tuan masih baru, jadi Tuan harus membiasakan diri dengan kehidupan baru. Bahkan Tuan belum banyak mengenal klien yang bekerja sama langsung dengan perusahaan ini. Takutnya kalau Tuan pulang pak Elio bakalan marah."

'Shit!'

Niatnya ingin menggali informasi mengenai Ayuna kini gagal sudah. Entah kapan lagi ia bisa menemui wanita itu. Meskipun satu perusahaan tapi sulit untuk bisa bertemu dengan bebas.

"Pak? Anda tidak apa-apa kan?" Melihat bosnya melamun Sofyan melambaikan tangan didepannya. Dia mengulas senyuman tipis, baru sehari berada di perusahaan baru sudah menunjukkan tanda-tanda ketidakwajaran.

"Saya baik-baik saja," tegasnya dengan memperbaiki posisinya agar terlihat lebih berwibawa. "Lain kali atur jadwal meeting, jangan bersamaan dengan jam pulang kerja, saya juga butuh istirahat."

Sofyan mengangguk. "Baik pak,"

Ayuna pulang dengan membawa paperbag berisi makanan yang didapat dari Erlangga. Dia tidak tahu maksud dari pria itu, bahkan Asisten Erlangga tidak menjelaskan apa maksud Bosnya memberikan makanan untuknya.

"Semoga saja dia tidak memiliki maksud buruk padaku." Ayuna menarik napas dengan menatap paperbag yang bergelantungan di tangannya.

Setibanya di rumah si kembar memberikan sambutan hangat untuknya. Suatu kebahagiaan baginya, di saat kehilangan orang tua kandung dan tak diinginkan oleh orang tua angkat hanya dua bocah kembar yang tersisa menjadi penyemangatnya. Tapi ia sangat bersyukur, setidaknya di dunia ini masih ada yang menganggapnya keluarga.

"Mami sudah pulang?"

Kenzie dengan mengulas senyuman tipis berdiri di samping meja televisi.

"Iya sayang, kalian baik-baik saja kan?"

Baru pindah rumah dan meninggalkan putranya yang masih kecil hanya karena tuntutan ekonomi rasanya sangat menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi, orang tua angkatnya tak menyukai anak-anaknya. Untuk menjaga kewarasan mental anaknya ia terpaksa harus menjauhkannya dari orang tua angkatnya.

"Iya mam, kami baik-baik saja," jawab mereka kompak. "Itu apa yang dibawa sama mami?"

"Oh..., iya ini mami tadi dapat bingkisan dari bos. Mami juga tidak tahu apa isinya. Sebaiknya kita buka sama-sama ya?"

"Iya mam, semoga saja isinya makanan. Lumayan..., buat makan malam."

Ayuna tersenyum dengan mengacak rambut Kenzie. Selama ini ia jarang sekali memberikan makanan yang bergizi untuk anaknya. Uang yang didapat dari hasil kerjanya tak mampu untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Ibu dan saudara angkatnya selalu meminta bagian, alih-alih mereka selalu mengatasnamakan hutang budi.

"Kalian tadi udah makan belum?"

"Udah mom, tadi kami makan lauk kerupuk," jawab Kenzie. "Kira-kira kapan ya mam, kita bisa makan enak?"

Terkadang Kenzie suka protes ingin mendapatkan makanan yang enak. Padahal makanan enak yang dimaksud hanyalah lauk ayam goreng. Mungkin menurut orang lain ayam goreng bukanlah menu yang luar biasa, tapi bagi si kembar itu adalah menu yang spesial. Maklum, tinggal bersama keluarga besar dan harus banyak mengalah.

"Nggak usah ngarep! Makan sama kerupuk juga enak kok," sungut Kenzo. "Ingat dek, mami itu bekerja sendirian. Kebutuhan mami juga banyak, jadi kita nggak usah banyak protes."

Tidak tahu siapa yang ditiru, Kenzo memiliki karakter yang tegas dan dingin, sangat berbeda dengan kembarannya yang lebih cenderung cengeng.

"Aku kan cuma nanya bang! Apa salahnya kalau cuma nanya, nggak bayar juga! Kalaupun nggak bisa makan enak juga nggak papa kok!"

Ayuna segera melerai perdebatan mereka agar tidak semakin memanas. "Sudah-sudah! Kok pada ribut sih?!"

"Siapa juga yang ngajak ribut! Aku cuma kasih nasehat agar dia tidak banyak mengeluh mam! Udah tahu mami bekerja sendirian, masih proses ingin makan enak. Makan enak kan butuh uang?!"

Ayuna menarik napas dan meletakkan paperbag itu di atas meja makan. Dia meminta kedua anaknya untuk bergabung duduk di kursi yang tersedia.

"Ayo kalian berdua ke sini. Mami mau ngomong sama kalian."

Dua bocah itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka patuh dan memenuhi permintaan dari ibunya.

"Memangnya mami mau ngomong apa?" tanya Kenzie.

"Ayo duduk dulu yang benar. Dengarkan mami, oke?"

Tak membantah, dua bocah itu duduk anteng di depan Ayuna terhalang oleh meja di depannya.

"Sayang, kita sekarang sudah punya tempat tinggal sendiri. Meskipun ini bukan rumah kita setidaknya kita sudah nggak bareng sama kakek dan juga nenek. Doakan mami sehat dan panjang umur ya, biar bisa buat kalian senang."

Dua bocah itu diam mematung. Sesekali matanya mengerjab berkaca-kaca.

"Mami, mami akan selalu sehat. Mami akan berumur panjang. Di dunia ini tidak ada yang sayang sama kami kecuali mami. Kita cuma punya mami, jadi mami harus sehat-sehat!"

Ayuna terharu dan ikut meneteskan air matanya. Hatinya tidak pernah tenang. Kedua anaknya masih sangat kecil. Sedangkan mereka tidak pernah tahu siapa ayahnya, bahkan ia sendiri tidak berani untuk mengungkap siapa yang seharusnya bertanggungjawab. Ia hanya khawatir, jika sampai ia tumbang, siapa yang akan merawat mereka, siapa yang akan mengasihi mereka.

"Iya sayang, mami akan usahakan untuk selalu sehat supaya bisa buat kalian senang," cicit Ayuna. "Mulai besok kalian sudah bisa sekolah di sekolah baru."

"Hore...! Asyik...!"

Kenzie begitu bersemangat. "Kita akan punya teman-teman baru bang," cicitnya.

"Aku harap ini sekolahan yang terakhir mam! Aku nggak mau pindah-pindah lagi," celetuk Kenzo.

"Maafin mami Kenzo, mami terpaksa mindahin kalian di sekolah baru karena jarak antara rumah kita dengan rumah kakek cukup jauh. Kalau sekolah di sini kan lebih dekat dengan tempat mami bekerja."

Kenzie menggembungkan pipinya. "Hum..., andai saja kita punya papi~~

"Lebih baik nggak punya," sungut Kenzo. Kenzo jiwanya pendendam. Meskipun usianya masih terlalu dini tapi dia sudah cukup paham bagaimana orang-orang memperlakukannya, bahkan ayah yang seharusnya ada untuk melindunginya tidak sekalipun muncul dan memeluknya di saat dibutuhkan.

"Bang! Apa salahnya kalau aku berharap bisa punya papi baru, atau setidaknya kita bertemu lagi dengan papi kita, mungkin kehidupan kita nggak seperti ini."

"Terserah! Tapi aku nggak mau," desis Kenzo. "Apa untungnya punya papi kalau hanya buat hidup kita menderita. Ingat Kenzie! Gara-gara dia kita yang dijadikan korban!" 

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!