NovelToon NovelToon
Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Apotheosis Of The Solitary Hunter: Highschool Of The Dead

Status: tamat
Genre:Evolusi dan Mutasi / Reinkarnasi / Action / Zombie / Hari Kiamat / Antagonis / Tamat
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: mamang to get her....

"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."

Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.

Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Awal dari Kegilaan dan Darah Pertama

Matahari pagi terbit dengan warna kemerahan yang aneh, seolah membiaskan bayangan darah yang akan segera membasahi bumi. Dari balkon lantai dua mansion miliknya, Thomas berdiri dalam diam. Ia mengenakan celana kargo hitam tebal, sepatu bot militer, dan kaus taktis yang membalut tubuh kekar dan terlatihnya.

Di paha kanannya, sebuah machete baja perisai buatan Indonesia terikat erat di dalam sarung kulit. Di pinggang kirinya terselip pisau komando, sementara di dada dan punggungnya terpasang rompi taktis yang menampung beberapa magazen pistol 9mm dan perlengkapan medis darurat.

Thomas melirik jam tangan militernya. Pukul 09.45 pagi.

"Waktunya tiba," gumam Thomas. Suaranya datar, tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Ia turun ke garasi bawah tanah, menaiki mobil jeep modifikasi berarmor tebal, lalu memacu kendaraannya turun dari lereng pegunungan menuju area perkotaan di sekitar SMA Fujimi. Thomas tidak berniat menjadi pahlawan. Ia keluar hanya untuk satu hal: memastikan situasi lapangan dengan matanya sendiri, serta menguji ketajaman parang baja yang akan menjadi sahabat setianya di dunia baru ini.

Ketika jeep-nya makin mendekati gerbang luar SMA Fujimi, pemandangan kacau mulai terlihat.

Suara sirene ambulan dan mobil polisi melolong histeris di kejauhan. Di persimpangan jalan tak jauh dari gerbang sekolah, beberapa orang berkerumun mengelilingi seorang pria yang tergeletak dengan leher berdarah.

Creeek...

Pria yang tadinya dikira tewas itu mendadak bangkit dengan gerakan kaku yang aneh. Matanya memutih, kabur tanpa pupil, dan mulutnya menganga lebar meneteskan liur bercampur darah. Tanpa peringatan, mayat hidup itu menerkam petugas medis yang mencoba menolongnya, mengoyak tenggorokan pria malang itu hingga darah segar menyembur ke udara.

Jeritan histeris pecah seketika. Orang-orang berlarian tanpa arah, saling dorong, saling injak, membiarkan yang lemah menjadi mangsa empuk.

Thomas menghentikan jeep-nya beberapa puluh meter dari lokasi. Ia keluar dari mobil, menutup pintunya dengan tenang, lalu menarik machete dari sarungnya. Bilah baja berwarna hitam pekat itu berkilat dingin di bawah sengatan matahari.

Sesosok zombie—seorang pria berjas rapi yang baru saja selesai mengunyah wajah korbannya—menoleh ke arah Thomas. Dengan geraman rendah yang mengerikan, mayat hidup itu merangkak cepat menuju arahnya.

"Langkah kaki kaku, pergerakan lambat, bergantung pada pendengaran dan penciuman..." analisis Thomas dalam hati, mengamati setiap detail gerakan lawan.

Ketika jarak zombie itu tinggal dua langkah, Thomas tidak mundur sedikit pun. Ia mengambil satu langkah miring ke kanan dengan sangat presisi, menghindari terkamannya, lalu mengayunkan parangnya dari atas ke bawah dalam satu gerakan memutar yang kuat dan bersih.

CRAAK!

Bilah baja tebal itu membelah tengkorak sang zombie tanpa hambatan sedikit pun, memotong dari dahi hingga ke batas rahang. Cairan hitam bercampur jaringan otak menyembur ke tanah. Mayat itu langsung roboh seketika seperti boneka yang dipotong talinya.

Satu tebasan. Mati mutlak.

Thomas menarik kembali parangnya, menyapu sisa darah di bilah baja itu dengan gerakan terbiasa. Tidak ada sedikit pun rasa jijik atau penyesalan di wajahnya. Baginya, membunuh monster-monster ini jauh lebih bersih daripada berurusan dengan manusia-manusia busuk di sindikat kejahatan.

GGRRRRR...

Suara geraman mengepungnya. Empat zombie lainnya yang tertarik oleh aroma darah mulai berjalan kaku mendekatinya dari berbagai sudut.

Thomas mengetatkan genggamannya pada gagang parang. Matanya melirik ke arah bangunan SMA Fujimi yang mulai riuh oleh teriakan dan kekacauan para murid.

"Tahap pertama dimulai," bisik Thomas dingin. Ia menerjang maju, siap mengukir jalan darahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!