NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Sepasang suami istri itu semakin mempercepat langkahnya menuju ke rumah Pak Harto.

ditengah perjalanan, tiba tiba Joko dan Marni mendengar langkah kaki dari arah belakangnya.

Joko dan Marni kompak menoleh ke belakang, namun saat Joko dan Marni menoleh, tidak ada apa apa selain hanya jalanan setapak yang tampak sunyi sepi.

"tadi perasaan ada suara orang jalan ya buk." ucap Joko masih sambil mencari sumber suara yang sangat jelas ia dengar sebelumnya.

"iya pak, aku juga dengar. Tapi ini kok gada orang ya pak? Apa kita salah dengar ya?" ucap Marni dengan heran dan juga sambil menatap ke belakang mencari sumber suara.

"ah udah lah buk, ayo lanjut jalan." ucap Joko mencoba menghiraukan apa yang baru saja mereka alami.

Mereka kemudian melanjutkan perjalan menuju ke rumah Pak Harto.

Ssssttt ... Sssstt ... Sssttt ..

Langkah Joko dan Marni kembali terhenti saat mereka kembali mendengar suara dari belakang.

Kali ini bukan hanya suara langkah kaki, namun suara seperti orang yang sedang memanggil mereka dari belakang.

"siapa sih." ucap Joko sambil membalikan badannya.

Namun lagi lagi tidak ada seorangpun di belakang.

"udah ah pak, ayo kita cepat cepat ke rumah ndoro Harto." ucap Marni yang tampaknya mulai tak nyaman dengan situasi yang mereka hadapi.

Joko pun menyetujui ajakan sang istri, ia kembali melangkah ke depan mencoba menghiraukan suara suara yang ia dengar.

Jokooo ... Jokkk ... Jokooo...ssssttt ... Jokooo ...

Terdengar lagi suara lirih dari arah belakang yang sekarang suara itu memanggil nama Joko.

Joko dan Marni saling adu tatapan, tampak raut tidak nyaman dari sepasang suami istri ini.

Joko memberikan isyarat untuk tidak usah peduli dengan cara menggelengkan kepalanya.

Jokkk ... Jokooo ... Tungguu jokkk ...

Terdengar lagi suara lirih yang sangat mengganggu Joko dan Marni. Namun kali ini, suara itu kembali terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang berada tepat di belakang mereka.

meskipun ada rasa takut, namun Joko mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke belakang sekali lagi.

Saat Joko menoleh, tiba tiba

"Duaaaaarrrr .."

"Huaaaaaa" teriak Joko dan Marni secara bersama sama karena kaget.

mendengar teriakan Joko dan juga Marni, dua orang yang ada di belakang mereka yaitu Eko dan Arya tertawa terbahak bahak.

"kurang ajar kalian!" teriak Marni kesal dengan kedua orang tersebut.

"sialan! Bikin jantungan aja!" Joko juga tampak memaki Eko dan Arya dengan kesal.

Eko dan Arya masih tertawa mengingat ekspresi ketakutan Joko dan Marni.

"lagian, kalian tengah malam gini mau pada kemana." ucap Arya setelah puas tertawa.

"kami mau kerumah ndoro Harto." ucap Joko yang tampak sambil mencoba menenangkan diri setelah di buat kaget sebelumnya oleh Arya dan Eko.

"ngapain malam malam ke rumah Pak Harto?" tanya Eko.

"aku lupa nyalain lampu rumah tadi, makanya ini mau kesana." jawab Marni.

"kalian nggak takut malam malam kerumah Pak Harto?" tanya Eko kembali.

"ya namanya juga tnggung jawab ko, soalnya aku lupa tadi sore kayaknya belum ku nyalain lampu halaman sama lampu balkon atas." jawab Marni.

"yaudah deh, hati hati aja." ucap Arya.

"yaudah Mas Jok, mbak Mar,.kita lanjut ronda dulu ya. Maaf juga tadi udah ngagetin kalian" ucap Arya.

"ngapain mint maaf, orang mas Jok aja biasanya kek gitu kalo lagi ronda. Hahaha." ucap Eko.

Joko tampak tersenyum,.sementara Marni hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.

setalah menempuh lebih dari 5 menit berjalan kaki,akhirnya mereka sampai di depan gerbang sebuah rumah yang terlihat cukup besar.

"tuh kan bener, lampunya belum aku nyalain Pak." ucap Marni saat melihat suasana rumah Pak Harto yang lumayan gelap hanya bercahakan lampu jalan yang kebetulan terletak dibagian sisi luar rumah Pak Harto.

"yaudah buka gerbangnya kita nyalain lampunya terus pulang." ucap Joko meminta Marni untuk segera membuka kunci gerbang.

Rumah 2 lantai dengan bangunan rumah khas eropa berwarna putih. Bangunannya terlihat tua namun tetap kokoh dan tampak sangat bersih terawat.

Dindingnya seputih salju, berpadu dengan tiang-tiang tinggi yang kokoh menopang teras depan. Atapnya berlekuk anggun dengan jendela-jendela melengkung yang terbuat dari kaca bening.

Halaman di depannya sangat luas, di sudut kiri halaman, tertutup rumput yang rapi. Di sana-sini tertanam bunga berwarna-warni dan semak yang dibentuk indah dan ada satu pohon kelengkeng besar yang tampak tumbuh subur menempel dengan tembok pembatas rumah. Sementara di sudut kanan ada jalan menuju sebuah garasi yang cukup luas yang mampu untuk menyimpan 4 kendaraan.

Joko dan Marni berdiri di depan sebuah gerbang besi rumah mewah tersebut untuk membuka pintu gerbang. Sebelum membuka gerbang, tampak mereka berdua saling tatap satu sama lain sembari menelan ludah. Bukan tanpa alasan mereka berdua ini tampak ketakutan ketika hendak masuk ke rumah Pak Harto, karena sudah menjadi rahasia umum jika rumah Pak Harto ini meskipun terkesan mewah, namun menyimpan banyak misteri di dalamnya. Terutama pohon kelengkeng yang konon terdapat makhluk halus yang menghuni pohon tersebut.

Cklekk .... Krieeekkkk

Joko dan Marni melangkahkan kaki mereka masuk ke halaman yang luas namun sunyi senyap. Rumah putih besar itu gelap tertutup bayangan pekat seolah menelan cahaya. Angin berdesir dingin, membuat perasaan Joko dan Marni bercampur aduk.

mereka berdua terus melangkah, suara langkah kakinya bergema pelan di jalan setapak yang sepi. Semakin dekat ke pintu besar, semakin terasa hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya.

Dengan napas tertahan, mereka terus melangkah menuju ke sebuah pintu besar sebagai jalan masuk ke dalam rumah. Di saat mereka sedang berjalan menuju ke pintu, sesekali Joko menoleh ke arah pohon kelengkeng yang ada di sebelah kirinya. Entah kenapa, rasanya Joko ingin sekali melihat pohon besar tersebut. Namun setelah ia melihat, hanya tampak daun daun yang sesekali bergerak terkena hembusan angin.

Marni tak mau membuang banyak waktu, ia segera memasukan kunci ke dalam lubang kunci pintu dan segera memutarnya.

cklekkk ... Sreeekkkk

"ayo Pak." ajak Marni tak lama setelah membuka pintu.

Joko hanya mengangguk lalu ikut berjalan di belakang Marni.

Mereka berjalan menuju ke salah satu dinding letak dimana sakelar lampu berjejer disana. Satu persatu Marni nyalakan lampu, mulai dari ruang teras, lampu halaman, hingga lampu ruang tamu dan yang lain ia nyalakan.

"lho kok di nyalakan semua buk?"tanya Joko.

"kan kita mau ke lantai 2 pak, nyalain lampu balkon juga, mau jalan gelap gelapan disini?" tanya Marni.

"oh iya." jawab Joko singkat.

setelah lampu dinyalakan, tampak design gaya Eropa kuno yang mewah , namun diselimuti kabut aura mistis yang mencekam. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi ukiran bunga dan dedaunan yang melengkung anggun, berwarna krem pudar dengan lapisan emas yang mulai kusam. Lampu gantung kristal besar bergaya eropa yang tergantung gagah di ruangan itu menjadikan ruangan itu tampak semakin mewah.

Dinding putih bersih, tergantung lukisan-lukisan bingkai ukir berat—wajah-wajah kuno di dalamnya tampak seolah mengikuti setiap gerak langkah yang lewat dan juga lantai berkeramik putih yang terlihat sangat bersih.

Perabotan kayu jati ukir halus tampak megah: sofa berlapis beludru merah tua yang terasa dingin saat disentuh, meja panjang berhias ukiran yang memantulkan bayangan samar. Di perapian besar yang tak menyala, abu dingin masih tertinggal seolah baru saja padam, sementara cermin antik berbingkai perak tampak keruh, memantulkan bayangan yang kadang berbeda dari apa yang ada di hadapannya.

Aroma wangi bunga kering bercampur bau kayu tua dan hawa lembap memenuhi ruangan. Angin pelan menyusup, membuat tirai beludru tebal melambai pelan, seolah ada tangan tak kasat mata yang menyapunya.

Marni lantas mengajak Joko menuju ke lantai dua melewati sebuah tangga beton dengan pegangan besi yang juga tampak Kokok tak termakan usia.

 selangkah demi selangkah mereka berjalan menaiki tangga, hingga akhirnya sampai di lantai dua yang masih tampak gelap, sunyi dan sepi.

Marni kembali meraih sakelar lampu yang terletak tak jauh dari tangga, ia menyalakan lampu dan kini terlihat ruangan yang juga tampak bersih dengan nuansa warna putih.

Di lantai dua rumah Pak Harto, ada 3 buah kamar, satu ruang santai, satu kamar mandi serta balkon yang cukup luas untuk sekedar duduk santai. Tak banyak dekorasi di lantai ini, hanya ada lorong menuju ke kamar serta satu ruangan terbuka dan pintu menuju ke balkon.

"pak, kamu aja yang kesana nyalain lampu pak, aku tunggu disini." ucap Marni yang tampak tak punya nyali saat berada di lantai 2 rumah Pak Harto.

"kamu aja buk, ini kan tugas kamu." ucap Joko yang juga tampak tak terlalu berani untuk hanya sekedar menyalakan lampu balkon.

"yaudah, jatahnya nggak jadi." ancam Marni.

"alah, yaudh aku pulang aja kalo gitu." jawab Joko yang tampak tak takut akan ancaman Marni.

"eh eh eh, ... Kok gitu si. Jadi suami nggak gentle banget" ucap Marni sambil menarik tangan kanan Joko.

"ayo berdua." ucap Marni sambil menyeret tangan kurus suaminya.

Joko tampak tak bisa menolak, ia akhirnya mengikuti Marni menuju ke ujung ruangan lantai dua sebelum pintu balkon.

meskipun bekerja di rumah ini, Marni dan Joko belum pernah sekalipun berada di dalam rumah ini hanya berdua di malam hari. Rasa takut nampak jelas dari raut wajah mereka.

Pelan pelan mereka berjalan menuju ke tempat dimana sakelar lampu berada. Tak ada drama, tak ada kejadian apa apa,mereka akhirnya berhasil menyalakan lampu dan bergegas untuk turun kembali ke lantai bawah. Tak lupa, Marni kembali mematikan lampu ruang tengah lantai dua.

Mereka kembali berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Namun ....

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!