Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam itu semua mendengarkannya
Bunyi itu yang paling diingat Kirana.
Ting. Ting. Ting.
Sendok diketuk ke gelas kristal. Suara kecil, tapi semua obrolan di ruang makan keluarga Wijaya langsung mati.
Rangga berdiri. Satu tangan pegang gelas anggur, tangan satunya lagi — Kirana lihat jelas — menggenggam jari-jari Vania.
"Aku ada pengumuman," kata Rangga.
Kirana pelan-pelan meletakkan sendok. Dua minggu ini firasatnya memang sudah tidak enak. Pulang selalu lewat tengah malam. Ditanya sudah makan belum saja jawabnya singkat.
"Aku mau cerai dari Kirana," kata Rangga. Datar. Seperti lagi bacain jadwal rapat kantor. "Dan setelah itu aku akan nikah sama Vania."
Hening.
Lalu ibu mertuanya malah senyum. Senyum kecil yang ditahan-tahan.
"Akhirnya," desis wanita itu. Keras, sengaja biar satu ruangan dengar. "Lima tahun nikah gak ngasih cucu. Bisnis keluarga juga gak pernah dibantu. Dari awal memang kamu bukan jodoh anak saya, Kirana."
Kirana menatap Rangga. Dicari-cari, barangkali masih ada sisa rasa bersalah di muka itu. Gak ada.
Rangga malah balik menatapnya, menunggu. Menunggu Kirana nangis, ngamuk, bikin drama yang nanti bisa dia pakai buat cerita ke orang-orang, lihat kan, makanya aku tinggalin dia.
Kirana gak ngasih dia kepuasan itu.
"Baik," katanya. Suaranya sendiri terdengar aneh di kupingnya, terlalu tenang. "Surat apa aja nanti aku tanda tangan."
Vania yang dari tadi diam sambil senyum-senyum tipis akhirnya buka mulut.
"Jangan tersinggung ya, Kir," katanya. "Tapi ya memang kita gak selevel dari awal. Kamu tuh terlalu... sederhana. Buat keluarga kayak kita."
Kalimat itu. Kalau beberapa tahun lalu, dada Kirana pasti sudah sesak, pasti sudah lari ke kamar mandi buat nangis diam-diam. Malam ini rasanya beda. Dingin. Bukan sedih lagi, tapi kayak mati rasa setelah kelamaan sakit.
"Makasih lho udah jujur," jawab Kirana. "Jadi aku gak perlu nebak-nebak lagi."
Ibu mertuanya berdiri, matanya menyapu Kirana dari atas ke bawah. Seperti lagi menilai barang retur.
"Kemas barang kamu malam ini juga ya. Bawa barang pribadi kamu aja. Sisanya tinggal. Itu semua kan punya keluarga Wijaya."
Punya keluarga Wijaya. Bahkan koper cokelat yang Kirana beli pakai uang tabungan sebelum nikah pun sekarang jadi punya mereka.
Kirana naik ke kamar. Kamar yang lima tahun dia tiduri tapi gak pernah benar-benar jadi miliknya.
Dia ngemas seadanya. Beberapa baju, buku-buku yang sudah menguning, dan satu kotak kayu kecil di paling dasar lemari.
Kotak peninggalan Ayah.
Ayahnya meninggal tujuh tahun lalu, pas sebelum dia nikah sama Rangga. Perusahaannya bangkrut, lalu sakit. Di rumah sakit, napasnya sudah putus-putus, dia masih sempat bilang,
"Kotak ini jangan dibuka, Nak, sampai kamu bener-bener butuh. Nanti kamu tau sendiri harus ngapain."
Selama ini gak pernah Kirana buka. Sibuk jadi istri baik. Sibuk pengen dianggap pantas sama keluarga Wijaya. Yang malam ini baru dia sadari, semuanya sia-sia dari awal.
Kotak itu dia selipkan ke tas kecil.
Waktu turun, satu koper di tangan kanan, tas kecil didekap di dada, seluruh keluarga besar ternyata sudah nunggu di ruang tamu. Nontonin dia pergi beneran apa enggak.
Rangga berdiri dekat pintu, tangan masuk saku.
"Kirana," bisiknya, pelan biar cuma dia yang dengar. "Maaf ya soal ini. Tapi ini yang terbaik buat kita berdua."
Kirana berhenti di depannya.
"Buat kamu," potongnya. "Yang terbaik buat kamu, Rangga. Jangan bawa-bawa aku."
Untuk pertama kalinya malam itu, topeng Rangga retak. Sekilas doang. Ada kaget, ada ragu. Habis itu datar lagi.
"Supir biar antar kamu. Mau ke mana aja."
"Gak usah," jawab Kirana. "Aku bisa jalan sendiri."
Dia buka pintu. Udara malam Jakarta langsung nampar kulitnya, dingin.
Pintu di belakangnya ketutup pelan. Rumah yang lima tahun dia sebut rumah.
Dia berdiri di pinggir jalan, nunggu taksi. Koper di samping kaki, tas kecil masih dia peluk.
Ponselnya getar.
Nomor tak dikenal.
Kudengar kamu baru aja diusir dari keluarga Wijaya. Kasihan ya. Semoga hidupmu baik-baik setelah ini :)
Kirana natap pesan itu lama. Siapa? Sepupu jauh yang seneng lihat dia jatuh? Atau mulut siapa yang sudah bocor secepat ini?
Gak dibalas.
Taksi berhenti. Kirana masuk, koper ditaruh di sebelahnya.
Baru di dalam taksi itu, untuk pertama kalinya malam ini, tangannya gemetar buka resleting tas kecil.
Kotak kayu itu di sana. Nunggu.
"Kalau saatnya tiba, kamu akan tahu harus apa."
Suara Ayah kedengaran lagi, jelas banget.
Kalung di lehernya — ada kunci kecil yang tujuh tahun ini cuma jadi kalung — dia lepas.
Tangannya masukin kunci itu ke lubang kotak.
Klik.
Tutupnya kebuka.