NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

•••

"Kami pulang dulu Bibi, jaga dirimu baik-baik."

Giselle memeluk hangat wanita paruh baya tersebut, berpamitan padanya sebelum pulang.

"Nona... lebih seringlah kemari, ini juga rumahmu."

Giselle tersenyum, "Akan aku usahakan."

Menoleh pada Jio untuk mengajaknya berlalu pergi.

Jio membungkuk sopan pada Bibi sebelum benar-benar beranjak pergi menuju mobilnya.

Mobil tersebut mulai bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Keheningan menyelimuti beberapa saat sebelum Giselle mengeluarkan suara.

"Terima kasih..."

Jio mengangguk meski pandangannya tetap lurus ke arah jalan di depan sana.

"Jio bisa kita mampir ke restoran di perempatan jalan sebelum menuju apartemenku? Aku lapar hehe..." Ujar Giselle terkekeh.

Jio kembali mengangguk seraya menjawab acuh tak acuh, "Emhh.."

"Tck, kau dengar aku tidak, sih? Jawab yang benar."

Jio bukannya tidak mendengarkan apa yang gadis itu katakan, hanya saja banyak hal yang berputar di kepalanya saat ini.

Mulai dari alasan Giselle mengajaknya menemui sang Ibu dihari ulang tahunnya, Ibunya yang ternyata sudah meninggal, juga mengapa gadis ini memilih tinggal di apartemen sedangkan dirinya memiliki rumah peninggalan sang Ibu.

Dan sekarang ditambah dengan orang-orang yang membuntuti mereka.

"Iya..."

"Tumben kau menuruti keinginanku tanpa protes dulu?"

Jio melirik Giselle sekilas, "Apa aku punya kesempatan untuk menolak?"

"Tentu tidak."

Bukannya tidak tahu, Jio sangat menyadari ketika sebuah SUV hitam di belakangnya ini sudah mengikuti sejak keberangkatannya bersama Giselle pagi tadi.

Beberapa hari sebelumnya pun mobil yang sama juga mengikutinya.

Kini, ketika langit mulai gelap mobil itu masih setia mengekor dalam jarak aman pada mobil Jio. Hingga dia menepikan mobilnya saat sampai di depan restoran yang dimaksud Giselle, bisa dilihat jika mobil itu ikut berhenti.

Meminta Giselle untuk masuk ke restoran terlebih dahulu dengan alasan dirinya akan pergi ke toilet yang langsung Giselle setujui.

Setelah melihat gadis itu masuk, Jio berganti haluan mendekati mobil yang mengikutinya tadi.

Mengetuk kaca mobil, "Permisi?"

Kaca mobil itu bergerak turun menampakkan sosok pria berkacamata dengan setelan jas serba hitam.

Di sebelahnya juga terdapat seorang lagi dengan tampilan serupa hanya tanpa kacamata yang menjadi pembeda, serta ekspresi wajah datar yang mereka tampilkan.

"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jio.

"Tidak ada." Sahut si pria, tanpa ekspresi.

"Jika tidak ada kenapa kalian mengikuti mobilku sejak tadi pagi?”

“Bukan hanya tadi pagi, aku juga melihat mobil ini kemarin, dua hari yang lalu, bahkan beberapa hari sebelumnya.”

Jio berdecak kesal, tak mendapat jawaban.

“Kalau tidak ada kepentingan, mengikuti seseorang bisa disebut sebagai tindakan pengutit. Kalian tentu tahu kebijakan hukum bagi para pengutit."

Pria berkacamata itu kemudian turun diikuti oleh sang rekan di sampingnya tadi.

"Kami pengawal Nona Giselle, kami ditugaskan untuk menjaganya."

"Kenapa dia harus dikawal?"

"Itu bukan urusanmu. Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi Nona, memastikannya tetap aman. Itu sudah cukup untuk menjelaskan keberadaan kami di sini."

Jio membalas tatapan kedua pria itu sama datar, setidaknya sekarang dia tahu jika orang yang mengikuti mereka bukanlah orang jahat.

Yang jadi pertanyaan mengapa Giselle harus dikawal.

"Giselle aman, bersamaku."

Ucapan Jio seolah menegaskan bahwa keberadaan keduanya tidaklah berdampak apa-apa.

Jio berlalu meninggalkan dua orang pria tersebut lalu masuk ke dalam restoran menuju tempat Giselle menunggu.

Dilihatnya gadis itu tengah asik berkutat dengan ponselnya mengabaikan makanan yang sudah tersaji di hadapannya, Jio kemudian duduk di depan gadis itu membuat dia sadar akan kehadirannya.

"Lama sekali. Aku tak tahu makanan kesukaanmu jadi aku pesan makanan yang kusuka, tak apa kan?"

Jio mengangguk, "Kau bilang kau lapar, kenapa tak makan duluan?"

"Aku menunggumu."

Jio menghela napas pelan.

Giselle mulai melahap makanan yang dipesannya. Gadis itu selalu terlihat senang saat menyantap setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

"Boleh aku bertanya?"

Pertanyaan dengan nada yang terdengar serius itu membuat Giselle mendongak kemudian mengangguk beberapa kali, jarang terjadi Jio memulai percakapan lebih dulu.

"Kau bisa tanya apapun padaku."

"Tapi pertanyaan ini mungkin akan menyinggungmu, apa tidak apa-apa?"

Giselle mengangguk yakin, "Tanyakan saja, aku akan menjawab dengan jujur."

"Sejak kapan, Ibumu tiada?"

Giselle tampak berpikir mengingat kembali.

"Ibu meninggal saat usiaku delapan tahun, setelah itu Bibi Asih yang merawatku."

Jio mengangguk paham.

"Kenapa tidak tetap tinggal di sana, bukankah itu rumah peninggalan Ibumu?"

"Aku tinggal di sana sampai usiaku memasuki tiga-belas tahun, lalu ada beberapa orang bodyguard juga seorang wanita paruh baya datang dan membawaku bersama mereka ke apartemen yang sekarang aku tinggali.”

“Bibi Asih tak bisa melakukan apapun sebab mereka mengaku sebagai suruhan dari Waliku, padahal aku saja tidak tahu seperti apa orang yang menyebut dirinya sebagai Wali,"

Giselle menjeda ceritanya saat dirinya tengah menelan kunyahan makanan di mulutnya.

"Lagipula, setahuku saat seseorang mengadopsi anak itu pasti dikarenakan mereka tak memiliki keturunan.”

“Harusnya Waliku membawaku ke rumahnya dan merawatku dengan baik, bukannya memberiku uang, tempat tinggal juga anjing penjaga seperti mereka.”

“Dan kenapa juga dia mengadopsiku? Seharusnya dia mengadopsi anak dari panti asuhan. Aku memang tak punya keluarga tapi aku punya Bibi Asih juga tempat tinggal yang layak.”

“Aku tak habis pikir dengannya." Gerutu Giselle.

Jio benar-benar tercengang.

‘Kebenaran apa lagi ini? Apakah masih ada yang belum aku ketahui?’

"Jadi sekarang kau tinggal di apartemen bersama seorang wanita paruh baya? Tapi aku tidak pernah melihatnya."

"Tidak, dia berhenti setelah beberapa bulan bekerja. Mungkin dia tidak tahan dengan kelakuanku, ya?"

Gadis itu terkekeh.

"Jadi aku tinggal sendiri sampai sekarang. Kecuali bodyguard baru yang dikirimkan oleh Waliku karena yang lama sudah pensiun katanya.”

“Agh... aku benci mereka, mereka selalu ikut campur urusanku, aku jadi tidak tenang meskipun mereka hanya mengawasiku dari jauh."

Jio meneguk minumannya seraya memandang Giselle, rupanya gadis ini memiliki kehidupan yang jauh lebih rumit dari dirinya.

Giselle yang sadar tengah diperhatikan mengalihkan pandangannya pada Jio.

"Jika kau berpikir hidupku menyedihkan, maka itu benar."

Jio lekas menggeleng lalu kembali menyantap makanannya. Giselle tak ambil pusing dengan itu.

"Kau, kenapa jadi petinju?"

Yang ditanya hanya mengendikkan bahu, malas menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin dia jawab.

"Aku masih tak mengerti… kau tidak terlihat kekurangan uang. Kau punya motor juga mobil yang mewah jadi tak mungkin jika kau bermain tinju hanya untuk mendapat uang."

"Hanya sekedar hobi..."

'...Atau bentuk protes terhadap diri?'

Setelah selesai makan Jio membayar tagihan lalu mengantar Giselle pulang ke apartemennya.

Tak tanggung-tanggung gadis itu kembali memaksa Jio mengantar sampai ke depan unit miliknya, yang dikabulkan dengan sangat terpaksa oleh pria itu.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!