Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gertakan Yueji
Kakek Lubis langsung membukakan pintu lebih lebar, menyuruh Dandi dan Dila masuk ke dalam area galeri yang berpendingin udara. Bau harum cat minyak bercampur aroma kayu manis seketika menyapa hidung kedua kultivator tersebut.
Dandi dan Dila melangkah masuk dengan sangat berhati-hati. Matanya terus bergerak liar memperhatikan interior galeri. Setiap lukisan yang terpajang di dinding kayu itu seolah-olah memiliki nyawa tersendiri, membuat bulu kuduk Dila merinding.
"Mari, Mari duduk dulu Tuan dan Nyonya! Biar Paman panggilkan si Chandra dulu di studio. Dia sedang sibuk corat-coret di atas kanvas dari tadi pagi, " ucap Kakek Lubis ramah sambil mempersilakan mereka duduk di sofa kulit hitam.
"Terima kasih banyak, Pak. Tidak usah terburu-buru, kami bisa menunggu dengan santai, " jawab Dandi dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, takut kalau-kalau salah bicara dan memicu kemarahan penghuni tempat ini.
Kakek Lubis tersenyum lebar, lalu berjalan santai menuju arah studio di lantai dua.
Begitu Kakek Lubis menghilang di balik tangga, Dila membisikkan sesuatu ke telinga Dandi dengan wajah cemas.
"Ketua... Lihat lukisan-lukisan yang terpajang di dinding itu. Energi konsep lukisannya begitu murni! Ini bukan lukisan buatan manusia biasa! "
Dandi menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia menatap sebuah lukisan gunung yang tergantung tepat di depan sofa mereka. Di mata orang awam, itu hanyalah lukisan lanskap biasa, tapi di mata Dandi, tampak pusaran aura alam yang sangat tebal berputar-putar di dalam kanvas tersebut.
"Tenang, Dila... Ingat pesan Romo, kita di sini hanya berpura-pura menjadi pembeli biasa. Jangan sampai kita menunjukkan gerakan yang mencurigakan! " bisik Dandi sambil memegangi erat kotak kayu berisi tanaman obat kuno di pangkuannya.
Sementara itu di dalam studio lantai dua.
Chandra baru saja mencelupkan kuasnya ke dalam cat merah ketika Kakek Lubis mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa permisi.
Brak!
"Chandra! Ada pembeli kaya raya di bawah! Kelihatannya mereka orang asing dari kota luar, dandanannya rapi sekali seperti pengusaha besar! " seru Kakek Lubis dengan wajah sumringah.
Chandra menghentikan usapan kuasnya, lalu menoleh ke arah Kakek Lubis sambil mendesah pelan.
"Aduh, Paman... Aku kan lagi fokus melukis nih, baru dapat ide sedikit tadi. Kenapa gak Paman saja yang layani di bawah? "
"Ayoyoy! Mana bisa begitu, Chandra! Mereka bilang mau ketemu langsung sama pelukisnya! Katanya mau beli karya terbaik kamu! Siapa tahu mereka berani bayar mahal kan? Lumayan uangnya bisa buat beli perhiasan baru buat Yueji biar dia gak usil mulu! "
Mendengar kata perhiasan untuk Yueji, Chandra mendadak berpikir sejenak. Ya ada benarnya juga kata Kakek Lubis, kalau Yueji diberi perhiasan atau baju baru, pasti perhatiannya akan teralih dan tidak akan mengganggunya melukis di studio lagi.
"Yasudah deh, Paman. Aku turun sebentar. Paman tolong jagain studio yah, jangan sampai Yueji masuk terus ngacak-ngacak cat aku lagi. "
"Beres, Chandra! Serahkan sama Paman! " Kakek Lubis menepuk dadanya dengan bangga.
Chandra melepas apron lukisnya, mencuci tangannya yang terkena sedikit noda cat merah, lalu berjalan keluar dari studio menuju lantai bawah.
Di ruang pameran lantai bawah, Dandi dan Dila berdiri seketika begitu mendengar suara langkah kaki menuruni tangga kayu.
Seorang pemuda tampan dengan kaus santai dan celana jeans pendek berjalan mendekati mereka sambil tersenyum ramah. Tidak ada pancaran aura membunuh, tidak ada tekanan intimidasi, pemuda itu benar-benar terlihat seperti manusia biasa tanpa keahlian bertarung sedikit pun.
Namun, Dandi dan Dila justru makin gemetaran. Bagi mereka, semakin tidak terlihat aura seseorang yang sanggup mengguncang langit, semakin mengerikan dan tak terukur tingkat kedalaman kultivasinya!
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Saya Chandra, pemilik sekaligus pelukis di galeri ini. Kata Paman saya tadi, ada yang bisa saya bantu? " tanya Chandra sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Dandi dengan cepat menyambut uluran tangan Chandra dengan kedua tangannya, memegang tangan Chandra dengan sangat khidmat seakan sedang menyalami seorang presiden.
"Selamat siang, Tuan Chandra! Saya Dandi, dan ini rekan saya Dila. Suatu kehormatan yang sangat luar biasa bisa bertemu langsung dengan seorang Maestro hebat seperti Tuan! " ucap Dandi dengan nada suara yang bergetar menahan getaran energi dari tubuh Chandra.
Chandra terkekeh geli mendengar pujian yang dirasanya agak berlebihan itu.
"Hahaha, Tuan Dandi bisa saja. Saya cuma pelukis amatir kok, belum pantas disebut Maestro. Silakan duduk dulu, Tuan. "
Dandi dan Dila kembali duduk di sofa dengan posisi tubuh yang sangat tegap dan sopan, sama sekali tidak berani menyandarkan punggung mereka.
"Jadi, Tuan Dandi dan Nyonya Dila sedang mencari lukisan dengan tema apa nih? Apakah pemandangan alam, atau lukisan dekoratif untuk pajangan kantor? " tanya Chandra santai.
Dandi melirik ke arah kotak kayu di pangkuannya, lalu menyerahkannya secara perlahan ke atas meja di hadapan Chandra.
"Sebenarnya, Tuan Chandra... Kedatangan kami ke sini selain untuk mengagumi maha karya Tuan, kami juga ingin menyerahkan sedikit kenang-kenangan ini. Ini adalah tanaman obat kuno langka yang kami dapatkan dari daerah pegunungan barat. Kami mendengar kabar bahwa Nyonya di rumah ini sempat kurang sehat semalam, jadi kami berharap tanaman ini bisa membantu pemulihannya. "
Chandra terperanjat kaget. Matanya menatap kotak kayu berukir emas yang tampak sangat mahal itu.
Tunggu... Dari mana orang-orang ini tahu kalau Yueji semalam sakit perut karena salah makan?!
Apakah Kakek Lubis yang cerita ke orang-orang pasar sampai beritanya menyebar sejauh ini?!
Chandra langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah heran.
"Wah... Tuan Dandi tahu dari mana kalau istri saya semalam sakit perut? Padahal cuma salah makan doang kok, tidak begitu fatal. Dokter juga sudah racikan obat semalam. Tapi aduh, kotak dan wadahnya mewah banget gini, saya jadi enak nih kalau terima... "
Dila yang mendengar ucapan Chandra langsung menundukkan kepalanya, membatin dalam hati dengan penuh ketakutan.
Gila! Ratu Siluman Rubah Ekor Sembilan yang kekuatannya sanggup menghancurkan satu kota cuma dibilang 'salah makan' dan 'tidak begitu fatal'?! Betapa santainya pemuda ini memperlakukan makhluk legendaris itu!
Dandi dengan cepat melambaikan tangannya.
"Tidak apa-apa, Tuan Chandra! Tolong diterima saja! Ini hanyalah bentuk ketulusan dari kami! Kami hanya berharap bisa menjalin hubungan baik dengan Tuan Chandra! "
"Aduh, terima kasih banyak yah Tuan Dandi. Kamu ini baik banget, padahal kita baru pertama kali ketemu loh, " ucap Chandra sambil tersenyum tulus dan mengambil kotak kayu tersebut.
Tiba-tiba, dari arah pintu samping yang menghubungkan ke area dapur, Yueji muncul dengan gaun cantiknya. Rambut hitamnya yang panjang terurai indah, dan wajahnya sudah kembali segar bugar tanpa sisa lemas sedikit pun.
"Sayang... Siapa tamu yang datang? Kok ramai banget di bawah? " tanya Yueji dengan suara manjanya yang khas sambil berjalan mendekati Chandra.
Begitu Yueji melangkah masuk ke ruang pameran, hawa dingin yang sangat menekan seketika merebak di dalam ruangan.
Dandi dan Dila langsung membeku di tempat duduk mereka. Keringat dingin mengucur deras dari dahi Dila. Matanya bertatapan langsung dengan mata indah Yueji yang berkilat tajam.
Yueji melirik dingin ke arah Dandi dan Dila. Bau aura kultivasi dari Sekte Alam Surgawi yang tercium dari tubuh kedua orang itu membuat Yueji langsung mengenali siapa mereka.
Yueji menyipitkan matanya, bibirnya tersenyum tipis yang sangat mengerikan di mata Dandi dan Dila.
"Oh... Ada tamu dari sekte luar rupanya? " gumam Yueji pelan, cukup untuk membuat Dandi dan Dila merasa nyawa mereka sedang diuji di ujung tanduk.