Pout for Me, Little Mouse.
Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rubanah (Bagian 4)
Julian melangkah mendekat, Mengintimidasi hampir semua orang di dalam tanpa usaha sedikitpun seolah tempat itu miliknya, karena memang benar itu miliknya. bunyi sepatu kulitnya seolah bergema karena keheningan setelah interupsinya.
Beberapa saat yang lalu, Ketika Valeri mengumumkan nama Lana, Enrico sudah mengantisipasi akan terjadinya sedikit kekacauan dan dia diam-diam menelpon Julian.
Matanya memindai ke tengah-tengah konfrontasi, Roy yang terlalu dekat, Liam yang sekarang tampak kehilangan keberaniannya dan Lana yang menoleh bingung sekaligus lega.
Valeri merapikan helai rambutnya dengan cepat saat melihatnya sementara Bianca terlihat sedikit kaku.
Julian berhenti beberapa meter, Wajahnya seharusnya murka jika dia tidak menahan diri. Dia mengulurkan tangan ke arah Lana dengan lembut menyangkal kemarahan yang berkobar di nadinya. Pandangan dinginnya terkunci pada Lana.
Udara terasa menyesakkan menunggu badai atau apapun yang mungkin akan terjadi.
"Schatz, Kemarilah."
Kata-kata singkat, tenang tapi sangat mengejutkan. Ketenangannya berarti situasi ini masih kondusif dan tetap akan seperti itu. Lana tidak menunggu lagi, langsung mendekat dan Julian segera melingkari tubuhnya dengan satu tangan.
Sandiwara pertunangan mereka ini, Tetap berlanjut karena banyak mata melihat mereka. Lana melingkarkan tangannya di pinggangnya, menyembunyikan wajahnya di kain jasnya yang rapi. Gerakan terlatih yang sudah biasa dilakukan, sebuah pertunjukan publik dari hubungan mereka, sebuah kesepakatan diam untuk menampilkan persatuan.
Julian menepuk punggungnya dengan gerakan yang tampak tidak terlalu antusias, membuat Bianca mengepalkan tangan. Tatapan matanya terkunci pada Roy, seolah memberikan peringatan tanpa kata.
"Tenanglah," gumam Julian hambar. "Kau sudah aman sekarang. Mari keluar dari... tempat yang menyenangkan ini."
Ini tempat mu bermain, bukan?. Pikir Lana ingin memutar mata seandainya situasinya memungkinkan.
Dia menjauh dari wanita itu, mendorong Lana ke Mark yang entah sejak kapan berada di belakang mereka. Pandangannya menyapu Liam dengan dingin. "Dan kau, Liam. Sepertinya kita memiliki beberapa hal yang belum selesai dan perlu diskusikan."
Senyum Liam menjadi tegang dibawah tekanan tak terlihat Julian, tetapi sedikit kejengkelan terlihat di wajahnya. "Dan apa itu, Julian? aku baru saja berkenalan dengan tunanganmu. Dia rupanya jauh lebih menarik daripada yang kau tau."
"Aku sangat menyadari... daya tarik Fraülein Keylana. Yang ku khawatirkan adalah kecenderunganmu untuk terlalu dekat dengan hal-hal yang bukan milikmu." Dia menunjuk Keylana di belakangnya tanpa melihat. "Dia milik saya. Apakah Anda mengerti? Ini milik saya, saya yang memutuskan untuk melakukan apapun. Jangan ikut campur." Dia mengulang-ulang sambil berjalan mendekat.
Seluruh ruangan menjadi sangat tegang saat kedua pria itu saling berhadapan, persaingan mereka terasa jelas di udara. Roy mengangkat tangan untuk menenangkan Julian dan Leon, seolah-olah bersiap untuk menghadapi konfrontasi fisik dan alhasil terlihat konyol karena tubuhnya lebih kecil dibanding dua pria itu.
"Cukup," sela Roy. "Kalian berdua membuat keributan. Ini bukan tempat untuk berkelahi."
"Dan kau! Kau membawa Keylana kemari? kau pikir ini taman bermain." Julian membentak
Liam tertawa pendek mengejek mendengar Roy ikut campur. "Oh, gentleman mencoba menjadi penengah. Lucu sekali."
Kemudian, matanya kembali menatap Julian. "Kau dengar apa yang dia katakan, Julian. Jangan sampai kita merusak pesta yang menyenangkan ini dengan persaingan kecil kita."
Mulut Julian mengeras mendengar kata "persaingan," Tidak sudi dianggap bersaing dengan orang itu, Apalagi tentang Lana yang jelas-jelas miliknya. Dia menunjuk dahi Liam dengan jari yang lentik dan kuat itu.
"Jangan terlalu percaya diri," Suara dinginnya lebih tinggi. "Kau tidak cukup penting untuk dianggap sebagai saingan. Kau hanya... merepotkan." Tatapannya menyapu kerumunan orang yang sekarang menyaksikan konfrontasi mereka dengan penuh perhatian.
Orang-orang menunggu langkah selanjutnya dalam permainan perebutan pengaruh yang sengit antara dua pria lajang paling menarik di Berlin.
Suara Lana di belakangnya memecah ketegangan, sengaja dibuat lembut dan anggun.
"Schatz, Sebaiknya kita pulang."
Julian melirik dari sudut matanya lalu berbalik perlahan dengan helaan nafas yang berat. "Tentu saja, Sayang. Tidak ada yang perlu dilakukan lagi disini."
Ungkapan kasih sayang dari keduanya membuat Bianca yang mendengarkan geram menggigit kukunya, tidak sekalipun Julian menjadi sebaik itu padanya dalam perkataan di luar sikap dinginnya apalagi di depan banyak orang.
Lengan Julian membimbing bahu Lana, berjalan ke arah pintu. Mark mengikuti mereka di belakang. Roy merasakan kekecewaan dan kerugian karena Keylana dibawa. Kekacauan Liam membuatnya kehilangan kesempatan berharga, Dia melangkah untuk memanggil.
"Tunggu-"
"Aku bilang tidak ada yang perlu dibicarakan!"
Suara Julian begitu nyaring sehingga bergema, Bahkan Lana pun tersentak di sampingnya, Kemarahan yang tidak pernah dilihat Lana selama dua tahun bersamanya, tepatnya tidak pernah ditujukan padanya. Nafas semua orang seolah terhambat, Roy berhenti melangkah dengan kaku.
Dengan tarikan nafas kecil, Julian kembali membimbing Lana keluar, meninggalkan Identitas Lana yang kini diketahui banyak orang termasuk beberapa Mafioso yang diam dan memperhatikan.
Suara sepatu mereka adalah yang mengisi keheningan saat Julian membimbing Lana naik tangga. Saat mereka keluar dari klub dan memasuki lorong yang relatif tenang, Julian tetap tidak berbicara, pandangannya tertuju ke depan dengan rahang yang keras. Mark tidak berani berkomentar apapun, hanya mengikuti mereka sambil memegang sesuatu di balik Jasnya, Mungkin pistol.
Di tempat parkir, Julian membuka pintu mobil hitamnya yang elegan untuk Lana, gerakannya efisien dan hampir tanpa ekspresi. Mark dengan pengertian langsung duduk di kursi kemudia. Udara di dalam mobil terasa tegang.
Mesin dinyalakan, suara deru rendahnya memecah keheningan. Julian duduk bersandar sambil menyilangkan tangan, melirik Lana, matanya tampak dingin dan menilai.
"Kau punya banyak hal untuk dijelaskan, Lana."
"Roy lah yang mengajak ku, bahkan tidak membiarkan ku pergi dan Pria bernama Liam, Dia memang mempersulit."
Lana menghadap padanya dengan serius, Julian tersenyum tanpa humor.
"Roy? Jadi ini adalah kesalahannya?" Dia melirik dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Dan kau, Lana sayangku, kamu ikut terlibat dalam hal ini? Kau, yang begitu peduli dengan penampilan dan norma sialan, justru berada di tempat seperti itu?" Dia mengalihkan perhatiannya kembali ke luar jendela.
"Jangan harap aku akan percaya bahwa kau korban dalam hal ini." Katanya penuh skeptis dan mengandung nada sarkastik, menyindir dan memprovokasi.
"Kau tidak percaya padaku, Kau pikir aku berbohong seperti pengecut dalam hal ini." Lana mengepalkan tangan emosi.
"Mempercayaimu?" Mendengkus ejekan. "Lana, kau memiliki bakat untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, Penipu ulung."
Mobil berhenti di depan gedung apartemen, Mark mematikan mesin dengan suara "klik" tanpa komentar sepatah kata pun.
"Terserah apa katamu!" Lana pergi keluar mobil dengan marah, menutup pintu mobil dengan suara keras, dia berjalan menuju pintu masuk apartemennya tanpa menoleh ke belakang. Julian mengusap rambutnya dengan frustrasi.
"Pergi, pergilah merajuk, Tikus kecil." Julian mengejek
"Sialan!" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku dalam mantel, menelepon nomor dari daftar kontaknya tanpa ragu-ragu.