NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Kekacauan di depan meja kasir telah mencapai puncaknya. Suara kemarahan para pelanggan membahana, saling bersahut-sahutan menuntut keadilan. Satu per satu pembeli yang semula mengantre panjang mulai melempar barang belanjaan mereka kembali ke atas meja kasir dengan muka memerah padam.

​"Saya tidak sudi belanja di toko penipu begini! Kembalikan uang saya sekarang juga!" teriak seorang bapak-bapak seraya mendorong dua karton susu ke hadapan kasir.

​"Saya juga refund! Uang saya kembalikan! Jangan sampai saya laporkan toko ini ke dinas perlindungan konsumen!" timpal ibu-ibu yang sebelumnya berdebat sengit dengan Salma.

​Bian mematung tak berdaya. Matanya menatap nanar saat para karyawan kasir dengan tangan bergetar terpaksa membuka laci uang, memproses refund satu per satu, dan menyerahkan kembali lembaran uang tunai milik para pelanggan.

Rak-rak swalayan yang tadi pagi sempat terisi rapi kini tak ada artinya lagi.

Keranjang-keranjang belanjaan bertumpuk kosong di sudut ruangan. Pelanggan yang kecewa melangkah pergi sambil terus mengomel dan merekam video dengan ponsel mereka, siap menyebarkan keburukan toko tersebut ke media sosial.

​Reputasi swalayan yang dibangun beberapa tahun hancur lumat hanya dalam hitungan menit.

​Namun, penderitaan Bian belum berakhir di situ.

​Di sudut area kasir, belasan karyawan swalayan mulai dari penjaga kasir, petugas penata rak, hingga bagian gudang saling berbisik dengan raut wajah cemas dan was-was. Mereka memandangi kehancuran di depan mata mereka dengan rasa cemas yang membuncah. Selama bertahun-tahun bekerja, baru kali ini mereka melihat toko tersebut dihantam badai sedahsyat ini, barang pasokan tertahan, harga dinaikkan secara licik, dan pelanggan mengamuk.

​Mumpung sang pemilik toko, Bian, ada di lokasi, para karyawan itu akhirnya mengambil keputusan bulat. Dipelopori oleh salah satu penjaga kasir senior, belasan karyawan itu melangkah maju menghampiri Bian yang berdiri lemas di tengah ruangan.

​"Pak Bian..." panggil kasir senior itu dengan nada tegas namun getir. "Melihat kondisi toko yang sudah kacau begini, dan cara manajemen mengelola masalah yang makin tidak jelas... kami semua bersepakat untuk mengundurkan diri hari ini juga, Pak."

Duar!

​Ucapan itu bagaikan petir menyambar di siang bolong. Bian mendongak dengan mata membelalak sempurna. "M-mengundurkan diri?! Kalian semua mau resign bersamaan?!"

​"Iya, Pak," sahut petugas gudang di belakangnya. "Kami tidak mau menanggung malu dihina-hina pembeli setiap hari gara-gara permainan harga. Kami juga takut toko ini bangkrut dan kami tidak pernah dibayar."

​Salma, yang sejak tadi emosinya masih membara usai adu mulut dengan pelanggan, seketika meledak mendengar keputusan para karyawan. Rasa angkuh dan murkanya meluap tanpa terkendali. With mata melotot, Salma melangkah maju dan langsung menyemprot belasan karyawan tersebut dengan kata-kata pedas.

​"Eh! Kalian semua benar-benar tidak tahu diri ya!" jerit Salma dengan suara melengking yang memekakkan telinga. "Dasar karyawan tidak tahu untung! Toko lagi ada masalah sedikit, bukannya bantu malah mau kabur beramai-ramai! Kalian pikir kalian itu siapa, hah?!"

​Salma menunjuk wajah mereka satu per satu dengan gaya sok berkuasa. "Dengar ya kalian semua! Kalau kalian berani keluar dari toko ini hari ini, saya pastikan nama kalian bakal diblacklist! Saya bakal pastikan kalian semua tidak akan pernah bisa dapat pekerjaan lagi di luar sana! Biar kalian semua membusuk jadi pengangguran!"

​Ancaman meluap-luap dari Salma yang mengatasnamakan kekuasaan itu bukannya membuat para karyawan takut, melainkan justru memicu rasa muak yang teramat sangat. Mereka menatap Salma wanita yang baru kemarin sore menjadi istri muda bos mereka dengan pandangan paling meremehkan.

​Kasir senior itu maju satu langkah, menatap Salma tanpa rasa gentar sedikit pun.

​"Tidak apa-apa, Bu," jawab kasir senior itu santai namun begitu menohok. "Ancaman Mbak atau Ibu itu kami terima dengan senang hati. Kami tidak takut tidak dapat kerja di luar sana. Tapi tolong... bayar gaji kami sekarang."

​"Betul! Bayar gaji kami dulu!" seru belasan karyawan lain kompak, suara mereka menyatu memenuhi ruangan toko.

​"Besok itu kan tanggal gajian kita!" lanjut petugas gudang dengan nada menuntut. "Kami sudah kerja penuh satu bulan ini. Sebelum kami keluar dari pintu toko ini hari ini, keringat kami harus dibayar lunas."

​"Apa?! Gaji?!" bentak Salma makin histeris. "Kalian sudah bikin kacau, mau kabur, terus masih berani minta gaji penuh?! Nggak ada! Nggak ada uang gaji buat karyawan pembangkang kayak kalian."

​"Salma, diam!" bentak Bian dengan suara pecah.

​Kepala Bian serasa mau meledak. Denyutan di pelipisnya makin menyiksa, menusuk hingga ke saraf otak. Tuntutan gaji dari belasan karyawan yang berdiri mengelilinginya terasa bagai kepungan algojo. Uang kas toko sudah terkuras habis untuk memproses refund barang para pelanggan tadi, sementara uang talangan dari Salma kemarin sebagian besar sudah disetorkan ke distributor.

​Dari mana ia harus mencari uang tunai puluhan juta rupiah untuk melunasi gaji belasan karyawan ini detik ini juga?

​"Pak Bian! Tolong profesional, Pak!" desak kasir senior. "Kami sudah kerja jujur selama satu bulan ini. Kalau Bapak tidak bayar gaji kami hari ini, kami tidak akan ragu melapor ke Dinas Tenaga Kerja dan membawa masalah ini ke jalur hukum."

​Bian memegang dadanya yang terasa sesak. Pandangannya menggelap sebentar akibat tekanan berat yang bertubi-tubi. Ia menoleh ke arah Riko Supervisor Operasional Swalayan yang berdiri pucat di dekat meja kasir utama.

​Dengan napas terengah-engah dan mata yang menyiratkan kepasrahan total, Bian memberikan kode berupa anggukan kecil dan isyarat tangan kepada Riko.

​"Riko..." panggil Bian dengan suara amat pelan, hampir tak terdengar. "Ambil sisa uang kas yang ada di brankas belakang... hitung gaji mereka semua."

​Riko tersentak. "Tapi, Pak... sisa uang kas di brankas sangat tipis. Kalau dipakai bayar gaji semua orang sekarang, kas toko benar-benar nol besar."

​"Bayar saja, Riko!" pangkas Bian lelah, menutup matanya erat-erat. "Hitung gaji mereka sampai hari ini... tapi potong satu hari kerja! Karena mereka tidak menyelesaikan jam kerja hari ini sampai sore."

​Mendengar instruksi Bian bahwa gajian akan dibayarkan meski dipotong satu hari kerja, para karyawan saling berpandangan. Biarpun dipotong satu hari, setidaknya hak mereka selama satu bulan penuh bisa terselamatkan sebelum toko tersebut benar-benar gulung tikar.

​"Baik, Pak. Kami terima potong satu hari. Yang penting bayar tunai sekarang!" tegas kasir senior mewakili rekan-rekannya.

​"Mas Bian! Kamu gila ya?!" jerit Salma tak terima, menarik lengan kemeja Bian dengan kasar. "Kenapa dikasih?! Uang dari mana lagi buat operasional kita kalau uang kasnya habis dipakai bayar mereka?! Mas mau kita makan batu besok?."

​Bian menghentakkan tangan Salma dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Pandangan mata Bian ke arah Salma begitu dingin, hampa, dan penuh kekecewaan yang tak tertahan.

​"Kamu mau mereka melapor ke kantor polisi dan buat toko ini makin hancur, Salma?!" bentak Bian dengan suara bergetar. "Diamlah... tolong diam sekali saja!"

​Salma ternganga, dadanya naik turun menahan amarah dan kekalahan.

​Riko segera bergegas menuju ruang brankas belakang, lalu keluar membawa amplop-amplop berisi uang tunai. Satu per satu belasan karyawan itu mengantre dengan tertib, menerima amplop gaji mereka yang dipotong satu hari kerja, lalu melepaskan seragam toko mereka dan meletakkannya di atas meja kasir.

​Tanpa mengucap kata perpisahan atau rasa hormat lagi pada Bian dan Salma, belasan karyawan itu melangkah mantap keluar dari toko swalayan.

​Pintu kaca swalayan berderit lambat saat karyawan terakhir melangkah keluar. Dalam sekejap, toko yang tadinya ramai dan dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan itu mendadak berubah menjadi sepi, dingin, dan mencekam. Rak-rak barang berantakan, lampu-lampu etalase menyala tanpa ada yang menjaga, dan meja kasir kosong melompong.

​Bian terduduk lemas di atas lantai marmer toko yang dingin, menyandarkan punggungnya pada tiang bangunan. Toko swalayan yang menjadi kebanggaannya, kini resmi mati suri tanpa karyawan dan tanpa pembeli. Dan di sudut ruangan, Salma berdiri mematung dengan rasa panik yang mulai menjalar menyadari bahwa mimpi mewahnya telah hancur sepenuhnya di atas lantai toko yang sepi.

1
falea sezi
🤣🤣 makanya uda punya istri cantik anak ganteng2 berulah sok pengen poligami🤣🤣😒
Nieta Poedjo
cepet sekali derita Bian
Thewie
hahah mampuslah kau bian.. gatal burung kau itukan. sok muda, sok kuat, sok kaya padahal nyatanya alaahhhhhhhh
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!