Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecat
"Apa maksudnya ini, Ibu Aruna? Anda memecat saya? Tidak bisa. Saya di sini sudah berkontribusi banyak pada perusahaan. Jangan hanya karena anda iri dengan kecantikan saya terus pecat orang begitu saja," seru seorang perempuan dewasa yang langsung tak terima dengan keputusan Aruna.
"Setelah saya lihat CCTV, anda hanya duduk dan makan cemilan selama bekerja di sini. Tidak lupa dengan anda yang sering pergi keluar masuk ruangan Pak Kafka padahal tidak ada urusan. Ingat... Kamu ini ikut tim design yang nanti dijadikan konten marketing divisinya Pak Kafka. Urusan design pun semua harus melalui seleksi dari ketua timmu baru datang ke Pak Kafka. Kamu bukan ketua tim itu," ucap Aruna dengan tegasnya menjelaskan kesalahan dari perempuan di depannya ini.
"Lalu kamu masuk perusahaan ini karena mengancam saudaramu. Saya tidak mau di perusahaan ini ada karyawan yang makan gaji buta dan tak berkompeten. Jangan mentang-mentang kamu bersaudara dengan Ibu Hani, sehingga bisa bekerja seenaknya di sini. Saya tidak peduli kamu anak atau saudaranya siapa. Yang saya tahu kamu tidak mempunyai skill dalam bekerja, Silvy." lanjutnya.
Perempuan yang tengah marah pada Aruna itu adalah Silvy. Dia tidak terima dipecat oleh Aruna. Ibu Hani yang notabene pimpinan HRD pun tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun dia adalah saudara Silvy, tapi tak bisa membelanya. Pasalnya beberapa bukti ditemukan bahwa Silvy memang tidak bekerja. Bahkan ketika diberikan pekerjaan, selalu meminta oranglain untuk mengerjakannya. Semua bukti sudah terekam dalam sebuah CCTV.
Aruna diberi tugas oleh Aldi agar memeriksa karyawan di perusahaan. Setelah diselidiki beberapa jam, alhasil keluar beberapa nama karyawan yang tidak berkompeten. Bahkan Aruna langsung mengirimkan daftar nama itu pada Aldi dan langsung acc. Semua karyawan yang ada dalam daftar, langsung dipecat tak terhormat. Bahkan Ibu Hani yang memasukkan Silvy, terkena surat peringatan. Jika sekali lagi memasukkan karyawan baru yang tidak sesuai prosedur, akan dipecat.
"Jangan gitu dong, baru juga jadi asisten CEO aja belagu. Orang CEO saja santai saja kok situ repot banget mau pecat oranglain," protes Silvy lagi membuat Aruna menghela nafasnya pelan.
"Ibu Hani, jelaskan itu sama saudaranya. Saya mendadak migrain mendengar suara cemprengnya itu," titah Aruna pada HRD yang hanya bisa tersenyum kaku.
"Maaf, Silvy. Kamu benar-benar dipecat, ini semua perintah dari Pak Aldi sendiri. Ibu Aruna ini hanya menjalankan tugasnya. Hari ini kamu terakhir bekerja di perusahaan. Jika masih ngeyel, gaji terakhir dan pesangon kamu akan ditahan." ucap Ibu Hani dengan tegas.
"Hani, aku bilangin sama Tante Yani ya kalau kamu memecatku. Biar dimarahin dan diusir dari rumah," seru Silvy memberikan ancaman lagi.
"Terserah kamu saja lah, Silvy. Daripada aku nanti terkena pecat, ditambah nggak ada uang. Masih bekerja di sini saja sudah aman, nanti kalau diusir tinggal ngontrak." ucap Hani sambil mengangkat kedua tangannya.
Sialan...
Tidak bisa mendapatkan keinginannya, Silvy pun keluar dari ruang HRD dengan raut wajah amarahnya. Bahkan gaji terakhir dan pesangon masih tertinggal di meja Hani. Aruna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Silvy. Jika tidak bisa bekerja, sebaiknya memang langsung dipecat. Apalagi Silvy ini sangat menyusahkan rekannya yang lain. Bahkan beberapa karyawan mengeluh pekerjaannya tambah banyak karena ulah Silvy.
"Jika ada tambahan karyawan baru, laporkan pada saya atau Pak Arifin. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi, Ibu Hani. Saya tidak mau karyawan di perusahaan ini, tidak mempunyai skill sama sekali. Anak magang saja, mereka punya skill dan mau belajar. Masa yang sudah karyawan tetap, cuma duduk doang tapi digaji. Mau enaknya doang, tapi susahnya malah pindah ke oranglain." ucap Aruna memberikan peringatan pada Hani.
"Baik, Bu. Saya akan mengingat pesan Ibu Aruna," Hani hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sudah tidak punya muka lagi karena ulah Silvy.
"Kalau dia tidak minta gaji dan pesangonnya, transfer saja." ucap Aruna yang kemudian pergi dari ruang HRD.
"Sialan kamu, Silvy. Gara-gara kamu, aku dapat surat peringatan. Untung nggak dipecat, bisa susah cari pekerjaan jika keluar dari sini." gumam Hani sambil menghela nafasnya kasar.
***
Saat istirahat, Aruna langsung duduk di meja resepsionis bersama Luna. Ada juga karyawan lain bernama Ayra, dia merupakan orang baru sehingga tak terlalu tahu tentang Aruna. Kebetulan hari ini mereka bertiga membawa bekal. Aruna tadi mampir beli nasi untuk dibawa ke kantor. Dia malas ke kantin perusahaan karena khawatir ada kejadian seperti kemarin.
"Si Silvy itu jadi dipecat, Aruna?" tanya Luna dengan nada informal karena bukan saat bekerja.
"Jadi. Ngamuk dia tadi di ruang HRD, ngancam Ibu Hani. Parah banget itu attitudenya. Kok ya Pak Arifin tuh nggak laporan sama CEO perusahaan buat cek," ucap Aruna menyalahkan Pak Arifin yang sangat lelet mengurus masalah karyawan.
"Pak Arifin kan jarang di kantor, Aruna. Dia itu merangkap asisten CEO juga. Beberapa kali harus ke luar kota dan meeting mendampingi Pak Aldi. Sering juga dia lembur sampai malam, kata satpam yang jaga. Sekarang mah agak santai dia, soalnya udah ada kamu." ucap Aruna menjelaskan.
"Kalau Pak Kafka itu bagaimana, Ibu Aruna? Soalnya beberapa kali aku lihat dia marahin bawahannya. Padahal dia cuma santai menyuruh bawahannya," tanya Ayra dengan hati-hati.
"Entah. Aku baru cek yang karyawan biasa dulu. Untuk manager, ketua tim, dan investor baru besok aku cek. Yang pasti, semua akan aku perlakukan sama rata. Di perusahaan ini, kamu bukan lah temanku. Kamu melakukan kesalahan, tetap akan aku tegur." ucap Aruna sambil menghela nafasnya pelan.
Ayra sudah tahu tentang Aruna yang merupakan istri dari Kafka. Dia sangat terkejut awalnya karena selama ini Ayra melihat sendiri bagaimana kedekatan Kafka dan Silvy. Bahkan dia pernah melihat keduanya di mall sambil bergandengan tangan. Oleh karena itu, dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Aruna kepada Kafka. Dia ingin tahu apakah Aruna tegas dan menegakkan aturan perusahaan untuk semua orang. Jika hanya berlaku untuk orang tertentu, dapat dipastikan kalau Aruna juga sama saja. Memanfaatkan jabatan yang ada untuk kepentingan orang terdekatnya.
"Nggak masalah, tegur atau omelin saja. Toh selama ini, aku bekerja sebaik mungkin sesuai dengan kemampuanku. Jika masih ada kurangnya, aku harap malah ditegur. Kalau langsung didiamkan dan dipecat, malah pusing." ucap Luna menanggapinya dengan santai.
"Benar. Soal pekerjaan, kita harus profesional. Walaupun Kafka itu suamiku ya kalau salah, wajib ditegur. Jika teguran dan peringatan tidak mempan, pecat." ucap Aruna dengan yakin.
Siapa lagi yang mau kamu pecat, Aruna?
Eh...
lanjutttt😍💪
gavin ya thor😄💪
plong banget si kafka udh pergiii ,, akhirnya ny dy mikir juga buat cari kerjaa ,, kalo gx d usiiir pastii msh jd pengangguran truss Dy ,, 😂😂
emnk tuh si kafka harus d ruqyah dluu ,,
trus d retur aj Nasya bpa mu tu ,,
tuker tambah ma yg baru🤭😉