"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar
"Apa benar kamu sudah tak ingat dengan wajah dari pria malam itu, Nak?" tanya Nenek Yuli pada Ariska dengan hati-hati.
Saat mengetahui kehamilan Ariska waktu itu, Nenek Yuli sedikit kecewa. Walaupun dia bukan keluarga kandung dari Ariska, tapi ada sedikit kecewa dan sedih. Nenek Yuli juga sudah tahu kronologi kejadiannya. Bahkan saat warga sekitar mengetahui kehamilan Ariska, Nenek Yuli berusaha melindungi cucu angkatnya itu. Beberapa warga meminta Ariska pergi dari daerah itu. Namun Nenek Yuli yang sudah tinggal puluhan tahun di daerah tersebut, tentu saja menang karena tahu tentang dia. Pasalnya di daerah tempat tinggal mereka, kebanyakan adalah pendatang.
Mereka hidup dengan segala cacian dan sindiran dari tetangga. Saat Arka sudah lahir pun begitu, sering dikatai anak haram. Namun mereka tutup telinga, tak peduli dengan ocehan warga. Buktinya dengan kelahiran Arka, malah mereka bisa membangun usaha sendiri. Sebenarnya banyak yang meminta pekerjaan dari warga sekitar, hanya saja Ariska menolak. Ariska masih sakit hati karena anaknya sering dikatai anak haram. Berbeda dengan keluarga Lina dan Azura. Mereka malah sering membela Ariska dan Arka.
"Nggak terlalu, Nek. Ariska kan waktu itu menangis dan penglihatannya jadi buram. Waktu mau pergi juga Ariska nggak sudi lihat wajahnya lagi," ucap Ariska dengan suara seraknya.
"Tapi dia bilang akan bertanggungjawab waktu itu. Namun yang namanya begituan, mana ada tanggungjawab. Kebanyakan juga kabur. Apalagi aku tidak cantik dan hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih," lanjutnya.
"Lalu sekarang keputusanmu bagaimana dengan keinginan Arka? Dia kayanya penasaran sekali sama Ayahnya. Terus dia kok bisa cari informasi begitu?" tanya Nenek Yuli lagi.
"Ariska juga tidak tahu, Nek. Nenek tahu sendiri kalau Ariska dan Nana nggak pernah ngajarin begitu. Kami juga tidak paham tentang IT," ucap Ariska sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa mungkin itu kecerdasan dari Ayahnya?" tanya Nenek Yuli membuat Ariska terdiam.
Ariska tidak dapat memastikan hal itu. Dia juga tidak mengenal sosok laki-laki malam itu. Namun dari pakaian dan penampilannya yang rapi dengan jas, sepertinya laki-laki itu bukan dari kalangan orang biasa. Apalagi bau parfumnya yang punya aroma khas orang kaya. Namun Ariska tak mau berpikiran macam-macam. Nanti biar dia bicara dengan Arka tentang hal ini. Jika memang Arka lebih bahagia bertemu dengan laki-laki itu, tak masalah. Namun dia tak mau bertemu dengan laki-laki itu karena masih takut. Padahal tanpa Ariska tahu, Frans hanya mengetahui mengenai dia saja bukan Arka.
"Sabar ya, menghadapi anak pintar seperti Arka itu memang akan membuat kuwalahan. Terutama kepintarannya itu yang kadang tidak masuk logika," ucap Nenek Yuli menenangkan Ariska.
"Iya, Nek." Ariska hanya menganggukkan kepalanya. Dia pikir, menjadi sosok Ibu sekaligus Ayah itu sudah cukup bagi Arka. Namun faktanya tidak sama sekali.
"Sekarang temui Arka. Dia pasti takut kamu marah tadi," suruh Nenek Yuli membuat Ariska menarik nafasnya lebih panjang.
"Aku hanya masih terkejut karena kepintaran Arka. Ditambah memory masa lalu yang membuat trauma itu datang lagi," ucap Ariska yang kemudian keluar dari kamarnya.
"Semoga kamu dan Arka selalu baik-baik saja. Nenek hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian," gumam Nenek Yuli dengan tatapan sendunya.
Grepp...
Ariska langsung memeluk Arka dari belakang saat bocah itu melamun. Azura dan Lina yang tadi sedang menghibur Arka pun memilih menyingkir sebentar. Membiarkan Ariska menyelesaikan masalahnya dengan Arka. Bocah cilik itu terkejut saat ada yang memeluknya. Namun saat melihat ke belakang, Arka langsung tersenyum.
"Mama ijinkan kamu cari Papamu, Nak. Tapi kita tidak bisa asal mengklaim bahwa itu Papamu ya karena bisa jadi salah orang. Kita tunggu saja sampai Papamu mencari. Jika memang Papamu sayang sama Mama dan Arka, pasti dia akan datang untuk bertanggungjawab atas semuanya. Namun jika tidak datang, Mama harap kamu untuk sabar." ucap Ariska dengan keputusannya.
"Iya, Ma. Tapi Mama halus kasih Alka petunjuk tentang sosok Papa. Biar Alka bisa cali infolmasinya," ucap Arka yang ternyata masih kekeh ingin mencari informasi tentang Frans.
"Iya, anaknya Mama. Tapi besok ya, hari ini kerjaan kita masih banyak." ucap Ariska yang sebenarnya belum mau mengungkapkan kejadian pahit itu.
Iya, Mama. Ayo semangat keljanya,
Ompong dua, kok malah makan lagi.
Lapal kali Azula ini, Alka. Habis nonton dlama tangisan Alka,
Heh...
***
Sore ini, Arka mengajak Azura keluar dari toko untuk jalan-jalan. Pekerjaan keduanya sudah selesai. Tinggal packing pesanan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Karena bosan, Arka mengajak Azura pergi. Keduanya saling bergandengan tangan dengan Azura yang sedari tadi melompat kecil. Hingga tangan dari Arka sedari tadi bergoyang terus.
"Ompong, bisa diam ndak kamu itu? Jalan yang benal, kaya plincess itu lho." seru Arka menegur Azura.
"Ndak bisa, Alka. Azula sukanya lompat-lompat bial kaya kangulu," ucap Azura dengan santainya.
"Dibilangin ngeyel mulu sih. Udah ompong, ngeyel lagi. Lasanya ingin..."
"Ingin dibelikan jajan," sela Azura yang langsung menarik tangan Arka.
Cepol... Cepol...
Sempol, ompong.
Ternyata Azura melihat pedagang sempol kemudian mengajak Arka mengejarnya. Lebih tepatnya bukan mengajak, tapi menarik tangannya tiba-tiba. Arka pun berusaha mengimbangi langkah kaki dari Azura yang ternyata begitu cepat. Apalagi kalau sudah soal mengejar jajanan. Beberapa anak kecil yang bermain di taman pun hanya bisa melongo tak percaya melihat adegan itu.
"Alka sama pacalnya itu ada saja dlamanya. Mau beli jajan saja halus lali dan gandengan," ucap seorang bocah laki-laki bernama Ichal.
"Ichal ili ya? Soalnya ndak ada gandengan," ucap Fata, temannya yang lain.
"Ndak ya. Ngapain ili sama Alka yang anak ndak jelas siapa Papanya itu?" seru Ichal dengan tatapan sinisnya.
"Ndak boleh gitu kamu, Ichal. Papanya Alka kan lagi kelja. Alka ju..."
"Siapa yang bilang ndak jelas Papanya Alka, ha?" seru Arka menyela perdebatan antara Ichal dan Fata.
Ternyata seruan dari Ichal itu terdengar oleh Arka yang sedang menemani Azura membeli sempol di dekat mereka. Tentu saja hal itu membuat Arka langsung mendekati mereka. Apalagi tadi ada yang menyebut namanya. Azura pun sudah menarik tangan Arka agar tidak meladeni Ichal. Pasalnya nanti urusannya tambah panjang. Lagi pula sempolnya juga belum selesai dibuat.
"Ayo antli cepol aja, Alka. Ndak usah diladeni olang kaya Ichal itu," ajak Azura sambil menarik tangan Arka.
"Bau sempol lebih enak lho. Dalipada bau badannya si Ichal yang ndak pelnah mandi," lanjutnya tapi tidak dipedulikan oleh Arka.
"Ya kamu yang Papanya ndak jelas, kok pakai nanya." seru Ichal dengan beraninya.
Bugh...
Aaaaa...
Alka...
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣