Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang pernah ditaksir Arsen
Ruangan kerja Arsen sangat luas dan sepertinya dirancang oleh arsitek terkenal dan handal hingga terlihat sangat mewah dan megah. Ananta berjalan ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan gedung gedung bertingkat di sekitarnya.
Arsen tersenyum melihat Ananta terlihat menikmatinya. Dia berjalan ke arah meja kerjanya. Membuka layar laptopnya dan mulai bekerja.
"Di dekat kamu ada roti, selai dan toaster. Juga ada mesin kopi. Tapi kalo mau air mineral dingin atau jus instan, bisa ambil di kulkas. Atau kamu mau makanan dan minuman yang lain? Kasih tau aja, nanti ob yang akan aku suruh beli." Setelah selesai mengatakannya, Arsen kaget sendiri karena baru kali ini dia ngomong sepanjang ini pada seorang perempuan.
Lagi pula baru Ananta perempuan yang dia ijinkan masuk ke ruangannya.
Ananta menoleh padanya dan hanya menganggukkan kepalanya dalam merespon kalimat sepanjang itu. Kemudian mengalihkan tatapnya lagi pada gedung gedung pencakar langit. Terlihat indah, sedikit menghibur hatinya.
"Roti saja," sahutnya tanpa melihat Arsen.
"Oke."
Hening. Arsen sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Ananta sibuk dengan pikirannya yang menerawang jauh
Mungkin nanti setelah menikah kegiatannya selain jaga anak juga bakal jalan jalan dan shopping.
Ananta menghela nafas panjang.
Ya, sudahlah. Ananta akan belajar menerima takdirnya.
Setelah seperempat menit berlalu, Ananta baru merasakan lapar. Dia akan membuatkan roti panggang untuknya dan Arsen. Pasti ngga sopan kalo membuat roti hanya untuk dirinya
"Emm ... Arsen .... Kamu mau diolesi selai apa?" tanya Ananta canggung. Sekarang dia sudah berdiri di depan Arsen.
Arsen mengangkat wajahnya dan agak terkejut melihat Ananta berada di seberang mejanya.
"Rotinya." Ananta menambahkan kalimatnya.
"Mentega aja," ucapnya setelah sesaat terdiam.
"Oke. Mau kopi?" Ananta merasa dia sedang latihan jadi suami istri dengan Arsen. Sekilas wajahnya merona.
"Boleh." Arsen menatapnya lekat.
"Oke." Ananta mengalihkan tatapnya dan langsung pergi dengan jantung yang berdebar keras dan kencang.
Arsen masih menatap Ananta. Bahkan dia seakan lupa kalo pekerjaannya harus cepat dia selesaikan. Tatapnya memaku dan sulit dialihkan dari punggung yang kini sedang sibuk membuat roti dan kopi.
Dering ponsel menyadarkannya.
Ngga lama kemudian Ananta mengantarkan kopi dan roti. Mereka kini duduk berhadapan.
"Kamu pernah punya coffee shop?" Arsen tersenyum miring, dalan hati dia kagum juga karena kopi yang dihidangkan Ananta untuknya seperti kopi di kafe.
Ananta menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Hanya dulu pernah bantu teman. Dia yang ngajarin."
"Laki laki atau perempuan?" Agak panas juga hati Arsen waktu bertanya, karena biasanya yang ahli membuat motif seperti itu laki laki.
"Perempuan."
"Ooo ...." Wajah Arsen tampak lega. Tapi dia berusaha nampak acuh agar ngga kelihatan sempat cemburu.
Haa....? Cemburu? Arsen tanpa sadar menggelengkan kepalanya, mengoreksi perasaannya yang dia rasa salah. Tangannya mengambil roti dan langsung mengunyahnya.
Kening Ananta berkerut melihatnya.
Dia kenapa? batinnya bingung tapi tidak ingin bertanya.
*
*
*
Arsen mengajaknya ke sebuah restoran yang jaraknya cukup dekat dari perusahaannya berada. Restoran yang terletak di dalam sebuah hotel bintang lima.
Sepertinya mereka agak terlambat karena beberapa orang klien sudah berada di sana.
Ananta melirik Arsen yang tampak tenang.
Begitu menyadari kehadiran Arsen, mereka segera berdiri dan wajah mereka seolah tidak masalah dengan keterlambatan Arsen. Tapi Ananta menangkap kekagetan dari wajah seorang perempuan bule yang ada di sana. Ananta melirik Arsen, tapi laki laki itu tampak biasa saja. Atau dia terlalu pintar menyembunyikan ekspresi kagetnya?
Perasaan Ananta mulai ngga tenang.
Dalam hatinya Ananta yakin kalo Arsen mengenal perempuan itu. Dia jadi penasaran, tapi ada laki laki di sampingnya. Terlihat lebih tau belasan tahun menurut pengamatan Ananta.
Suaminya? batinnya menebak karena mereka terlihat mesra. Sementara klien Arsen yang lain juga membawa pasangan, tapi menurut pengamatan Ananta, mereka hanya sebatas bos dan sekretaris.
"Pak Arsen," sapa laki laki muda yang menurut Ananta merupakan pasangan bos dan sekretarisnya. Wajahnya nampak ramah. Ananta yakin umurnya ngga jauh beda dengan Arsen.
"Pak Darya. Saya terlambat, ya?" Arsen menatap jam di pergelangan tangannya. Seharusnya masih lima menit lagi dari waktu yang dijanjikan, batinnya tanpa merasa bersalah.
"Ya, Pak Arsen. Kami yang terlalu cepat. Soalnya anda terkenal super ontime," kekehnya.
Arsen menyeringai.
Laki laki agak tua yang berada di dekatnya tertawa juga.
"Kenalkan, ini investor yang mau bergabung dengan proyek kita," ucap Darya setelah tawanya mereda
"Pak Sudrajat," sambungnya lagi.
Arsen mengulurkan tangannya.
"Selamat bergabung, pak."
Sudrajat yang berusia sekitar empat puluhan itu masih tertawa saat menyambut tangan Arsen.
"Senang bertemu dengan orang orang muda yang menghargai waktu. Dan juga pekerja keras," pujinya dengan tatapan kagum.
Arsen hanya tersenyum merespon pujiannya.
"Kenalkan ini istri saya," ucap Sudrajat mengenalkan perempuan bule yang berada di sampingnya.
Ananta dapat melihat raut canggung perempuan bule itu ketika mengulurkan tangannya.
"Emma Celeste."
Arsen menyambut tenang. Dia genggam tangan yang terasa dingin itu.
"Arsen."
Ananta dapat melihat tatap aneh perempuan itu, seperti ada penyesalan dalam kagetnya
Tapi Ananta melihat sikap Arsen yang seolah baru pertama kali bertemu.
Dia pasti menyembunyikan sesuatu, tuduh Ananta yakin dalam hati.
Setelah jabat tangan itu terurai, Arsen meraih Ananta dalam rangkulan dibahunya.
"Ini calon istri saya, Ananta. Minggu depan kami akan menikah."
Ananta menatap Arsen sekilas karena ngga menyangka Arsen akan melakukan itu di depan kliennya.. Tapi dia mengulurkan tangannya dengan tenang. Yang pertama disambut Sudrajat.
"Katanya kamu anaknya Mas Gala, ya?" Sudrajat tersenyum ramah.
"Iya, pak." Ananta tersenyum ketika klien Arsen mengenal papanya.
"Panggil.om.aja, papamu teman lama Om. Ohya, sampaikan salam saya padanya, ya," ucapnya sambil melepaskan jabat tangan Ananta. Dia mencolek istrinya.
Ananta hanya mengangguk.
"Istri saya. Kalian berempat kelihatannya sebaya. Saya jadi terlihat paling tua," tawanya berderai. Darya dan Arsen tersenyum mendengarnya
Ananta merasakan jabat tangan gadis itu agak kuat. Dia hampir saja meringis, untung berhasil menahannya.
"Emma Celeste."
"Ananta." Ananta membalas tatap tajam istri teman papanya itu.
Dia siapanya Arsen? Kembali benak Ananta meyakini kalo antara Arsen dan istri orang ini pernah ada sesuatu yang belum selesai.
"Oh ya, kenalkan ini sekretaris saya. Sita," sela Darya setelah jabat tangan itu teruraikan.
Ananta membalas uluran tangan Sita.
"Senang bertemu anda, Bu Ananta. Kami pasti datang ke acara pernikahannya."
"Terimakasih, Bu Sita."
"Arsen, jangan lupakan undangan untukku," timbrung Sudrajat.
"Tentu, pak." Arsen mengeluarkan sebuah undangan yang tampak mewah dan memberikannya pada Sudrajat.
"Saya sudah menuliskan nama anda," tambah Arsen lagi.
"Wow .... Terimakasih. Saya pasti datang bersama istri saya."
semangat😉
cerita keluarga baru apa?