"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pil kontrasepsi
Matahari pagi telah naik tinggi. Cahaya keemasan menyelinap melalui celah tirai kaca hotel, membentuk garis-garis tipis di atas lantai dan ranjang yang berantakan.
Kelopak mata Kaia bergerak pelan. Begitu kesadarannya kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah hangat matahari... melainkan nyeri di sekujur tubuhnya.
Punggungnya pegal, pinggangnya terasa berat. Dan pangkal pahanya masih berdenyut setiap kali ia sedikit menggerakkan kaki.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat malam tadi. Seketika wajahnya memanas. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi dadanya ketika merasakan kulit bahunya diterpa dinginnya embusan AC.
Rambut bobnya kusut berantakan. Dengan napas pelan ia menoleh ke arah jam dinding.
Jam Delapan tepat.
"Ya Tuhan..." Ia langsung terduduk. "Aku bangun kesiangan..."
"Hari pertama jadi istri, sudah terlambat bangun." Suara datar itu membuat tubuh Kaia menegang.
Ia menoleh, Elio duduk di sofa dekat jendela. Kemeja kasual berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya.
Rambutnya yang semalam sedikit berantakan kini sudah kembali tertata. Di tangannya terdapat secangkir kopi yang tinggal separuh.
Wajah pria itu kembali sama seperti biasanya. Dingin dan sulit ditebak. Seolah apa yang terjadi semalam hanyalah sesuatu yang tidak berarti.
Kaia menundukkan kepala. Entah mengapa... hal itu jauh lebih menyakitkan. Tanpa berkata apa-apa, Elio bangkit. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah kotak kecil di atas kasur.
"Minum." Kaia mengangkat wajah. Tatapannya jatuh pada kemasan pil itu. "Apa ini...?"
"Pil kontrasepsi." Jawaban itu membuat napas Kaia tercekat. Elio memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Aku tidak ingin punya anak darimu."
Kalimat itu diucapkan begitu datar. Tanpa emosi dan tanpa rasa bersalah. Namun membuat hati Kaia terasa seperti diremas. Matanya mulai memanas.
"Kalau kamu masih ingin hidup tenang..." Elio menatapnya lurus. "...pastikan hal itu tidak pernah terjadi. Dan kalau hal itu sampai terjadi maka aku yang akan melenyapkannya."
Keheningan memenuhi kamar. Kaia hanya mampu menunduk. Jari-jarinya menggenggam erat ujung selimut hingga buku-buku jarinya memutih.
Bahkan... ia belum sempat memahami arti malam pertamanya sebagai seorang istri. Namun pagi ini... ia sudah diingatkan bahwa dirinya hanyalah perempuan yang tidak pernah diharapkan hadir dalam hidup pria itu.
Kaia mencoba turun dari ranjang. Begitu kedua telapak kakinya menyentuh lantai, nyeri menjalar dari pangkal pahanya hingga membuat lututnya sedikit bergetar.
"Ah..." Rintihan pelan itu lolos tanpa sengaja. Refleks ia menahan tepi ranjang agar tidak kehilangan keseimbangan.
Elio melirik sekilas.Wajahnya tetap datar. "Di atas nakas ada krim antiinflamasi." Kaia mengikuti arah pandang pria itu. Sebuah tube kecil berwarna putih tergeletak di samping kotak pil.
"Oleskan seperlunya." Tidak ada nada khawatir. Bahkan pertanyaan apakah ia baik-baik saja.
Cara bicara Elio terdengar sama seperti saat ia memberi instruksi kepada pasien di rumah sakit. Profesional dan terasa begitu jauh.
Dengan selimut yang masih melilit tubuhnya, Kaia berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Setiap langkah membuat tubuhnya mengingat apa yang terjadi semalam.
Begitu pintu tertutup rapat, ia menyandarkan punggung pada daun pintu. Napasnya bergetar. Tangannya perlahan membuka selimut yang melilit tubuh.
Pantulan dirinya terlihat jelas di cermin besar. Beberapa bekas kemerahan masih tampak samar di kulit putihnya.Kaia buru-buru memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak. Ia meraih tube krim yang tadi dibawa masuk.
Tangannya berhenti sesaat. Bahkan obat ini... bukan karena Elio mengkhawatirkannya. Melainkan agar rasa sakit itu cepat hilang, seolah malam tadi hanyalah sebuah kewajiban yang harus diselesaikan.
Kelopak matanya kembali basah. Ia berjongkok perlahan di sudut kamar mandi, memeluk kedua lututnya.Isak tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Air matanya jatuh satu per satu membasahi lantai keramik yang dingin.
"Kak Kia..." bisiknya lirih.
"Kalau memang takdir harus mengambil salah satu dari kita... " Bibirnya bergetar. "Aku berharap yang pergi waktu itu adalah aku. Setidaknya... Kakak masih bisa hidup bahagia bersama orang yang sangat Kakak cintai. Dan aku akan tenang."
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kaia keluar dari kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian dengan kaus lengan panjang berwarna krem dan celana kain putih.
Rambut bobnya telah kering dan tersisir rapi. Namun mata yang sembap tetap tak mampu disembunyikan, meski ia sudah beberapa kali membasuh wajah dengan air dingin.
Ruangan masih dipenuhi keheningan. Elio duduk tegak di sofa dekat jendela. Sebuah tablet berada di tangannya.
Tatapannya serius menelusuri layar, seolah perempuan yang baru keluar dari kamar mandi itu tidak pernah ada di ruangan yang sama.
Tanpa mengalihkan pandangan, ia berkata datar, "Baca berita pagi ini."
Langkah Kaia terhenti. Ia menoleh bingung. "Berita apa Kak?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Kaia perlahan meraih ponselnya yang semalam ia selipkan di bawah bantal.
Jemarinya yang masih sedikit gemetar membuka media sosial.Begitu halaman utama muncul, napasnya seakan tertahan. Sebuah foto pernikahan mereka memenuhi layar. Jantungnya berdegup keras.
..."Belum genap satu bulan Kiara Luvena meninggal, sang adik justru menikahi tunangan almarhum."...
...Tangannya mulai dingin. Ia menelan ludah yang terasa begitu pahit. Dengan jari gemetar, ia menggulir layar ke bawah. Judul lain kembali muncul....
..."Kaia Asha Hadinata, putri mendiang artis Ivanka, resmi menggantikan sang kakak di pelaminan."...
...Di bawahnya, ribuan komentar terus berdatangan....
..."Jangan-jangan memang dari awal dia ngincer calon suami kakaknya."...
..."Kasihan Kiara... belum sebulan meninggal, penggantinya sudah duduk di pelaminan."...
..."Pantesan beda ibu. Ibunya aja dulu katanya perebut suami orang."...
..."Kalau aku jadi Kiara, nggak bakal tenang di alam sana."...
..."Jadi OVT, kayak di film- film, kakaknya dibu nuh biar bisa nikah sama pacar kakaknya."...
Kalimat demi kalimat terasa seperti pisau yang menggores perlahan. Pandangan Kaia mulai kabur.
Dadanya sesak. Ia menggenggam ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bagaimana mungkin orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya begitu mudah menghakimi hidupnya?
Mereka tidak tahu... Ia kehilangan kakaknya. Ia kehilangan masa depannya. Dan kini, bahkan harga dirinya ikut dihakimi oleh ribuan orang. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi layar ponselnya.
Di sofa, Elio akhirnya berdiri. Ia memasukkan tabletnya ke dalam tas kerja dengan gerakan tenang, seolah semua pemberitaan itu hanyalah urusan biasa.
Tatapannya singkat mengarah kepada Kaia. Bukan tatapan iba, melainkan dingin.
"Gara-gara kamu," ucapnya rendah, "nama baikku ikut terseret."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada komentar-komentar netizen. Kaia perlahan mengangkat wajah.
Bibirnya bergetar, ingin menjelaskan bahwa ia pun tidak pernah menginginkan semua ini. Namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar.
Elio mengenakan jam tangannya. "Turun. Makan." Ia meraih kunci mobil. "Siang nanti aku harus praktik."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu melangkah keluar lebih dahulu. Pintu kamar menutup pelan. Menyisakan Kaia seorang diri.
Ia menatap layar ponselnya sekali lagi. Komentar-komentar itu terus bertambah setiap detik.
Tidak ada satu pun yang membelanya. Kaia mengusap cepat air mata di pipinya. Lalu menarik napas panjang, berusaha menguatkan dirinya.
Hari ini baru hari pertama ia menyandang status sebagai istri Elio. Namun rasanya... seluruh dunia sudah lebih dulu memutuskan bahwa dialah tokoh jahat dalam kisah ini.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*