Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Kepulangan Sang Naga
Pagi hari di Vila Puncak Awan terasa begitu damai. Sisa-sisa badai semalam telah menguap, meninggalkan udara pegunungan yang sangat segar.
Su Ruoxue terbangun dengan perasaan sangat bugar. Ia turun ke lantai bawah dan melihat suaminya sudah menyiapkan sarapan sederhana namun menggugah selera di atas meja makan. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa jam yang lalu, halaman depan vila ini menjadi lokasi pembantaian tujuh ahli bela diri tingkat tinggi.
"Pagi," sapa Su Ruoxue dengan senyum cerah. Ia menyesap teh hangatnya. "Kau terlihat... berbeda hari ini, Lin Chen. Matamu terlihat lebih tajam, tapi sekaligus lebih tenang."
Lin Chen meletakkan piring berisi roti panggang, lalu duduk di hadapan istrinya. Ia menatap Su Ruoxue lekat-lekat.
"Ruoxue," panggil Lin Chen dengan nada serius yang lembut. "Pameran Jinling sudah selesai. Jalur distribusi Grup Su sekarang dilindungi penuh oleh Keluarga Shen. Aku sudah menugaskan beberapa petarung terbaik dari Paviliun Naga untuk berjaga dalam bayanganmu."
Tangan Su Ruoxue yang memegang cangkir teh terhenti. Insting kewanitaannya langsung menangkap maksud dari kalimat itu. "Kau... akan pergi?"
Lin Chen mengangguk pelan. "Aku harus kembali ke Ibukota Jingcheng. Ada hutang darah yang sudah tertunggak selama lima tahun. Hutang yang harus ditagih dengan bunga penuh."
Mata Su Ruoxue sedikit bergetar. Ia tahu masa lalu Lin Chen yang kelam, meski tak tahu detail pastinya. Ia tahu pria ini dibuang dan dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
Alih-alih menangis atau melarangnya, Su Ruoxue berdiri, berjalan ke arah Lin Chen, dan memeluk kepala pria itu, menyandarkannya ke dadanya.
"Pergilah. Ambil kembali apa yang menjadi milikmu," bisik Su Ruoxue tegas, memancarkan aura seorang Ratu Es yang mendukung rajanya. "Tapi kau harus berjanji satu hal padaku. Kembalilah dalam keadaan utuh. Jangan lupa, di Donghai... kau memiliki rumah untuk pulang."
Lin Chen memejamkan mata, merasakan kehangatan yang tak ternilai harganya itu. "Aku berjanji."
Ibukota Jingcheng. Pukul 14.00 siang.
Sebuah pesawat jet pribadi mendarat mulus di Bandara Internasional Jingcheng.
Ketika pintu kabin terbuka, udara dingin musim gugur Ibukota langsung menyapu wajah Lin Chen. Ia berdiri di puncak tangga, menatap hamparan gedung pencakar langit metropolis terbesar di Tiongkok itu.
Di belakangnya, Paman Bai melangkah keluar dengan tubuh sedikit bergetar. Air mata menggenang di mata tuanya. Lima tahun yang lalu, di kota inilah ia kehilangan lengan kirinya, diburu bagaikan anjing liar demi melindungi Tuan Mudanya.
"Paman Bai," ucap Lin Chen tanpa menoleh. "Apakah udaranya masih terasa sama?"
"Masih sama dinginnya, Tuan Muda. Dan masih sama busuknya," jawab Paman Bai dengan suara serak, menahan emosi yang meluap-luap.
"Jangan khawatir. Kali ini, kita yang akan membakar kota ini," ucap Lin Chen dingin.
Di landasan pacu, Ah Fei bersama delapan belas anggota Pengawal Naga Hitam sudah menunggu. Mereka telah tiba lebih dulu menggunakan penerbangan komersial dengan identitas tersamar. Berkat pil spiritual dan pelatihan neraka dari Lin Chen, kedelapan belas pemuda jalanan itu kini telah menembus Tahap Awal Tingkat Bumi. Mereka kini mengenakan setelan jas hitam rapi, memancarkan aura elit yang mengintimidasi.
"Tuan Muda!" Ah Fei membungkuk hormat saat Lin Chen turun.
"Bagaimana situasi intelijen yang kusuruh kau kumpulkan?" tanya Lin Chen sambil berjalan menuju deretan mobil SUV hitam yang sudah disiapkan.
"Sudah siap, Tuan," lapor Ah Fei sambil membukakan pintu mobil. "Fokus utama kita saat ini adalah Grup Lin. Tuan Muda Lin Tian baru saja mengakuisisi beberapa perusahaan teknologi raksasa. Namun, yang paling menarik perhatian publik hari ini adalah tunangannya, Ye Mei."
Mendengar nama itu, langkah Lin Chen terhenti sedetik. "Ye Mei?"
"Benar. Sore ini, Ye Mei akan meresmikan pembukaan klub dan merek perhiasan mewah miliknya, 'Meika Empire', di Distrik Pusat Jingcheng," jelas Ah Fei. "Gedung itu dibangun menggunakan dana miliaran Yuan dari Grup Lin. Menariknya... cetak biru bisnis dan desain perhiasannya diduga kuat adalah hasil curian dari brankas pribadi Anda sebelum Anda diusir lima tahun lalu."
Mata Lin Chen menyipit, memancarkan cahaya sedingin es abadi.
Ye Mei. Wanita yang menusuk jantungnya dengan belati beracun di gang bersalju. Wanita yang merampas semua hasil kerja kerasnya dan menggunakannya untuk menaiki tangga sosial Ibukota.
Kematian fisik terlalu murah untuk pengkhianat sepertinya. Lin Chen ingin menghancurkan segala hal yang wanita itu banggakan, menginjak-injak harga dirinya hingga ke dasar neraka, sebelum akhirnya mengirimnya ke alam baka.
"Ah Fei, perintahkan delapan belas pengawal untuk menyebar dan mengawasi seluruh aset Grup Lin. Jangan bertindak sebelum ada perintahku," ucap Lin Chen. "Dan Paman Bai, kau ikut denganku. Kita akan menghadiri pesta pembukaan."
[Ding!]
[Misi Utama Terpicu: Tirai Berdarah Ibukota!]
[Deskripsi: Balas dendam telah dimulai. Hancurkan acara pembukaan 'Meika Empire' milik Ye Mei. Rebut kembali apa yang menjadi hak Anda dan berikan peringatan pertama kepada Keluarga Lin!]
[Hadiah Misi: 10.000 Poin Sistem & Info Rahasia: Lokasi Herbal Penumbuh Tulang (Untuk menyembuhkan lengan Paman Bai).]
Mendengar hadiah terakhir dari sistem, senyum Lin Chen semakin lebar dan mengerikan.
Gedung Meika Empire, Distrik Pusat Jingcheng.
Kawasan itu dipenuhi oleh supercar dan mobil mewah. Karpet merah tergelar megah. Ratusan sosialita elit, artis papan atas, dan pewaris keluarga kaya Ibukota berkumpul dengan gaun dan jas desainer termahal.
Di dalam aula utama yang berlapis emas dan kristal Swarovski, Ye Mei berdiri bak seorang ratu. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah dengan belahan tinggi, serta kalung berlian raksasa di lehernya yang merupakan mahakarya koleksi Meika.
"Nona Ye, selamat! Desain perhiasan Anda benar-benar jenius!" puji seorang istri pejabat dengan nada menjilat. "Dengan bakat ini dan dukungan Tuan Muda Lin Tian, Nona Ye pasti akan menjadi Ratu Bisnis Ibukota!"
Ye Mei tertawa anggun, menyesap sampanye mahalnya. "Bibi terlalu memuji. Ini semua berkat kerja kerasku sendiri selama lima tahun terakhir. Aku menuangkan seluruh jiwa ragaku ke dalam desain ini."
Ye Mei tidak merasa bersalah sedikit pun saat mengucapkan kebohongan itu. Memang, semua desain itu adalah karya Lin Chen di masa lalu yang belum sempat dipublikasikan. Tapi Lin Chen sudah menjadi orang cacat yang dibuang. Siapa yang akan tahu? Siapa yang peduli?
Di sudut lain, beberapa pengawal elit berjaga dengan ketat, memastikan tidak ada orang sembarangan yang merusak pesta sempurna Ye Mei.
Namun, di luar pintu masuk utama...
Brak!
Dua orang petugas keamanan terlempar melewati pintu kaca ganda hingga kacanya retak berkeping-keping. Mereka jatuh mengerang di atas karpet merah dalam aula, mengejutkan para tamu VIP yang sedang bersulang.
"Apa yang terjadi?!"
"Siapa yang berani membuat keributan di acara Keluarga Lin?!"
Musik klasik yang mengalun dari orkestra seketika berhenti. Suasana menjadi hening dan tegang.
Dari balik pecahan kaca pintu, dua sosok pria berjalan masuk dengan santai.
Di depan, seorang pemuda berpostur tegap dengan kemeja hitam yang dibiarkan tanpa dasi, mengenakan mantel panjang yang berkibar pelan. Sepasang matanya menatap tajam ke sekeliling ruangan, memancarkan dominasi yang membuat para sosialita elit tanpa sadar menahan napas dan melangkah mundur. Di belakangnya, seorang pria tua berlengan satu mengikuti layaknya bayangan setia.
Ye Mei yang berdiri di tengah ruangan, seketika membeku. Gelas sampanye di tangannya miring hingga isinya tumpah menodai gaun mahalnya.
Wajahnya berubah dari merah merona menjadi sepucat kertas putih. Bibirnya bergetar hebat.
"L-L-Lin... Lin Chen?!" Ye Mei nyaris tidak bisa mempercayai matanya sendiri.
Nama itu memicu reaksi berantai di antara para hadirin.
"Lin Chen? Bukankah itu Tuan Muda sulung Keluarga Lin yang diusir lima tahun lalu karena menggelapkan dana?"
"Kudengar meridiannya dihancurkan dan dia dikirim ke Donghai untuk menjadi menantu penumpang di keluarga rendahan! Kenapa dia ada di sini?!"
"Tapi... lihat auranya! Apakah orang cacat bisa memiliki tekanan menakutkan seperti itu?!"
Lin Chen mengabaikan bisikan-bisikan itu. Langkahnya mantap, berjalan lurus membelah kerumunan menuju Ye Mei.
Para pengawal elit Keluarga Lin segera sadar dari keterkejutan mereka dan merangsek maju untuk menghalangi Lin Chen.
"Berhenti di sana, Sampah!" bentak kepala pengawal berbadan besar. "Ini bukan tempat untuk anjing buangan sepertimu!"
Lin Chen bahkan tidak mengangkat tangannya. Paman Bai yang berada di belakangnya mendengus dingin. Dengan kecepatan kilat, Paman Bai melesat maju.
BAM! BAM! BAM!
Hanya dengan menggunakan satu lengan kanannya, Paman Bai menghantam tiga pengawal elit itu hingga mereka terbang sejauh sepuluh meter dan menabrak pilar-pilar marmer. Semuanya pingsan seketika dengan tulang rusuk remuk!
Para sosialita menjerit ketakutan dan mundur semakin jauh.
"B-Bai Feng?!" Ye Mei mengenali pria tua berlengan satu itu. Kengerian semakin mencengkeram hatinya. Bai Feng dulunya adalah Grandmaster andalan Keluarga Lin, tapi bukankah dia juga sudah dilumpuhkan?! Bagaimana dia bisa sekuat itu sekarang?!
Lin Chen akhirnya berhenti tepat tiga langkah di depan Ye Mei.
Ia menatap wanita yang pernah berjanji sehidup semati dengannya itu. Wanita yang demi kekayaan, tega menusuk jantungnya.
"Lama tidak berjumpa, Ye Mei," sapa Lin Chen dengan suara tenang yang menggema di ruangan sunyi itu. "Gaun yang bagus. Sayangnya, kau memakai kalung hasil curian."
Wajah Ye Mei memerah karena malu sekaligus marah. Menyadari bahwa Lin Chen hanya berdua dengan pengawal tuanya, keberanian Ye Mei perlahan kembali. Di Ibukota, hukum dan koneksi adalah segalanya.
"Lin Chen! Kau benar-benar sudah gila!" teriak Ye Mei dengan nada tinggi untuk menutupi ketakutannya. "Beraninya kau datang kemari dan membuat kerusuhan! Desain ini adalah milikku! Hak patennya terdaftar atas namaku! Kau hanyalah penjahat yang diusir dari keluarga! Pengawal! Panggil kepolisian Ibukota sekarang juga!"
"Hak paten?" Lin Chen tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat sarkastis.
Ia mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jarinya ke udara.
Sring!
Sebuah energi tak kasat mata melesat dari jari Lin Chen.
TRAAANG!
Kalung berlian raksasa di leher Ye Mei tiba-tiba retak dan meledak menjadi serpihan-serpihan kecil! Serpihan berlian itu berjatuhan ke lantai, menyisakan tali emas yang putus di leher Ye Mei.
"AAAAAAAA!" Ye Mei menjerit histeris, memegangi lehernya yang sedikit tergores. "Kalungku! Kalung utama Meika senilai seratus juta Yuan!"
"Kalung itu bernama 'Mata Air Kesedihan'. Aku yang merancangnya untuk mengenang ibuku," ucap Lin Chen dingin, tatapannya menembus jiwa Ye Mei. "Dipakai oleh wanita berhati ular sepertimu... itu adalah sebuah penghinaan bagi karyaku. Menghancurkannya jauh lebih baik."
"K-Kau... bajingan!" Ye Mei menatap Lin Chen dengan kebencian yang mendalam. Ia segera mengeluarkan ponselnya. "Aku akan menelpon Lin Tian! Begitu dia tiba, dia akan menyuruh para ahli bela diri Ibukota untuk merobekmu menjadi seribu keping!"
Lin Chen mengabaikan ancaman itu. Ia melirik sebuah layar raksasa di panggung yang sedang menampilkan logo perusahaan Meika Empire.
"Menelpon Lin Tian? Silakan. Tapi sebelum dia datang, kurasa perayaan pembukaanmu butuh sedikit kembang api," bisik Lin Chen dengan senyum tipis.
Lin Chen mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya perlahan ke lantai pualam.
"Hancur."
BUMMMMM!!!
Sebuah gelombang kejut energi (Qi) yang sangat dahsyat meledak dari telapak kaki Lin Chen, menyapu seluruh lantai dasar gedung tersebut!
Seluruh kaca jendela berderak hancur! Ratusan etalase kaca yang memajang perhiasan senilai miliaran Yuan pecah secara serentak! Tiang-tiang penyangga retak, dan logo raksasa Meika Empire runtuh dari langit-langit, hancur berkeping-keping tepat di belakang Ye Mei!
Hanya dalam waktu tiga detik, klub dan butik mewah yang dibangun dengan biaya triliunan Yuan itu berubah menjadi puing-puing berdebu layaknya lokasi pasca-gempa.
Para tamu elit berjongkok ketakutan, menutup telinga mereka, tak percaya melihat kekuatan destruktif yang bukan berasal dari bom, melainkan dari hentakan kaki seorang manusia!
Ye Mei terlempar jatuh ke lantai akibat gelombang kejut, gaun mahalnya kotor oleh debu, rambutnya acak-acakan. Ia menatap puing-puing kerajaan bisnisnya dengan tatapan kosong dan putus asa.
Lin Chen berjalan mendekat, menatap Ye Mei dari atas dengan pandangan sang Kaisar yang menghakimi pendosa.
"Sampaikan pesanku pada Lin Tian," ucap Lin Chen dengan nada absolut yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu. "Dalam waktu tujuh hari, aku ingin dia berlutut di depan makam ibuku di Gunung Barat Ibukota, mengakui semua dosanya di hadapan publik."
Lin Chen membungkuk sedikit, menatap langsung ke mata Ye Mei yang gemetar.
"Jika dalam tujuh hari dia tidak datang... aku akan meratakan seluruh properti Keluarga Lin di Ibukota, dan memenggal kepalanya di depan matamu."
Setelah meninggalkan ultimatum mematikan itu, Lin Chen membalikkan badannya dan berjalan keluar dari reruntuhan gedung dengan santai, diikuti oleh Paman Bai, meninggalkan Ye Mei yang menjerit histeris dalam keputusasaan di tengah puing-puing kemegahannya yang palsu.