Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bulan Madu. Tujuan: Hawaii.
Setelah begitu banyak keharuan, janji, dan perayaan megah yang akhirnya menyatukan para pasangan di hadapan keluarga serta organisasi Herrera, tibalah saat yang paling dinanti: bulan madu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tak seorang pun dari mereka memikirkan rapat, misi, urusan bisnis, atau tanggung jawab. Selama beberapa hari, yang ada hanyalah mereka dan para wanita yang mereka pilih untuk berbagi hidup.
Pesawat pribadi yang membawa mereka ke tujuan bak surga itu sudah diselimuti suasana romantis.
Gelas-gelas sampanye diangkat untuk merayakan.
Mary bersandar dalam pelukan Dante sambil menatap awan lewat jendela. Sang mafioso melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Mary dan sesekali menaburkan ciuman lembut di rambutnya.
"Bahagia?" tanya Dante pelan.
Mary tersenyum.
"Lebih dari yang pernah kubayangkan."
Dante menangkup wajahnya dengan penuh kasih dan menyandarkan dahinya ke dahi Mary.
"Ini baru permulaan kisah kita."
Beberapa deret kursi di depan, Kevin menatap Graziela dengan pandangan yang berpadu antara cinta dan kekaguman.
Graziela masih tampak tak percaya dengan semua yang telah terjadi.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Kevin.
"Betapa hidupku berubah."
Kevin menggenggam tangannya dan mencium jemarinya.
"Hidupku juga berubah... menjadi lebih baik."
Graziela tersenyum haru dan menyandarkan kepala di bahunya.
Di sisi lain kabin pesawat, Giovanni asyik mengamati Bárbara yang berusaha menyembunyikan senyum setiap kali ia menatapnya.
"Kamu tahu, kan, tak perlu malu-malu di depanku?"
"Aku tidak malu."
"Tentu saja tidak."
Giovanni tertawa melihat Bárbara merona.
Ia menarik Bárbara mendekat dengan lembut dan mencium dahinya.
"Aku masih harus membiasakan diri dengan kenyataan bahwa kamu istriku."
"Dan aku harus membiasakan diri dengan kamu yang mengingatkanku soal itu tiap lima menit."
Keduanya tergelak.
Lebih jauh ke belakang, Pietro dan Natália duduk berpelukan.
Mantan novis itu memandangi luasnya langit sembari merasakan kedamaian di hatinya.
Pietro membelai rambutnya dengan lembut.
"Semua baik-baik saja?"
"Ya."
"Sedang melamun?"
Natália mengangguk.
"Cuma sedang bersyukur kepada Tuhan atas segalanya."
Pietro tersenyum.
"Aku juga."
Ia mencium dahi Natália, membuatnya memejamkan mata.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat.
Tujuan yang mereka pilih benar-benar tampak seperti surga.
Laut berwarna biru toska yang jernih.
Pantai berpasir putih berkilau di bawah cahaya keemasan mentari.
Pohon-pohon palem menari lembut ditiup angin hangat.
Orang-orang dari berbagai budaya berjalan di sepanjang jalan sambil tersenyum, menciptakan suasana yang hangat dan memesona.
Setiap pasangan menuju penginapan eksklusif masing-masing, yang disiapkan khusus untuk momen itu.
Namun masih ada satu kejutan yang menanti mereka.
Di dermaga pribadi yang kecil, sebuah kapal putih yang elegan bergoyang lembut di atas air yang jernih.
Ketika mereka masuk ke dalam kabin, mereka menemukan kelopak-kelopak mawar bertaburan di seluruh ruangan.
Rangkaian bunga yang indah menghias tiap sudut.
Sebotol sampanye tergeletak di atas es di samping santapan yang disiapkan khusus untuk merayakan persatuan itu.
Pemandangannya seolah keluar dari sebuah mimpi.
Dante memeluk Mary dalam dekapannya.
Kevin melakukan hal yang sama pada Graziela.
Giovanni menarik Bárbara mendekat.
Pietro memeluk Natália penuh sayang.
Selama beberapa saat, tak seorang pun dari mereka berkata-kata.
Mereka hanya merasakan kehangatan pelukan orang yang mereka cintai.
Rasa aman.
Cinta.
Kebahagiaan.
Keyakinan bahwa, meski segala kesulitan yang mereka hadapi sampai di titik ini, mereka telah menemukan tempat di mana mereka semestinya berada.
Di hari-hari berikutnya, mereka mengabadikan setiap momen.
Foto-foto di pantai.
Jalan-jalan saat matahari terbenam.
Tawa yang dibagi bersama.
Menyelam di air yang jernih.
Makan malam ditemani cahaya lilin.
Ciuman-ciuman curian.
Pelukan yang berlama-lama.
Kenangan yang akan mereka simpan seumur hidup.
Kini mereka sendirian.
Tanpa tekanan.
Tanpa bahaya.
Tanpa kewajiban.
Hanya laut, langit, cinta, dan kebersamaan satu sama lain.
Bulan madu itu baru saja dimulai.
Dan bagi Dante dan Mary, Kevin dan Graziela, Giovanni dan Bárbara, Pietro dan Natália, itu akan menjadi hari-hari yang tak terlupakan, ketika setiap fajar adalah kenangan baru dan setiap senja adalah penegasan bahwa cinta telah memenangkan semua pertempuran yang mereka hadapi hingga tiba di sini.