NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dinginnya lantai ruang rapat utama Samudra Group mendadak terasa menusuk tulang bagi siapa pun yang menyaksikannya, terutama bagi Elena yang kini terduduk lemas dengan lutut gemetar di hadapan meja mahoni oval.

Kilau lampu kristal di langit-langit ruangan seolah berubah menjadi sorot interogasi yang kejam, mempermalukan setiap inci keanggunan palsu yang selama ini ia kenakan.

Alvan Samudra berdiri tegak di ujung meja, menjulang bagaikan algojo yang siap menebas kepala pengkhianat tanpa ampun. Di hadapannya, para anggota Dewan Komisaris terpaku dalam keheningan yang mencekam.

Bisik-bisik ketidaksetujuan yang tadinya mendominasi ruangan kini lenyap, digantikan oleh rasa ngeri tatkala menyadari badai besar apa yang tengah menghantam perusahaan mereka.

"Bapak-bapak sekalian," suara Alvan memecah keheningan, rendah namun berwibawa dan menggetarkan dinding kaca ruangan tersebut. "Kalian tadinya hendak melakukan pemungutan suara untuk membekukan jabatan saya atas dasar manipulasi yang disebarkan oleh wanita ini. Tapi sebelum jari kalian menorehkan tanda tangan di atas kertas kehancuran itu, ada hak kalian sebagai pemegang saham untuk mendengarkan kebenaran yang sesungguhnya."

Alvan menoleh ke arah Detektif Hendra yang berdiri di sampingnya. Detektif berpengalaman itu mengangguk kecil, lalu memasukkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak ke dalam soket komputer portabel yang terhubung langsung dengan layar proyektor raksasa di dinding utama.

Klik.

Suara detik pertama dari rekaman audio itu berdesau pelan, memenuhi setiap sudut ruang rapat. Seluruh pasang mata di ruangan itu menatap layar di mana sebuah gelombang suara audio mulai bergetar naik turun.

"Alvan... kalau kamu mendengarkan rekaman ini, itu artinya aku mungkin sudah tidak ada di dunia ini. Elena... dia bukan wanita seperti yang kamu kenal..."

Suara serak almarhum Roy Samudra menggelegar memenuhi ruangan.

Bagi siapa pun yang mengenal Roy, suara itu sangat khas, penuh ketakutan, penyesalan, dan beban berat yang teramat sangat. Seketika itu juga, warna wajah Elena yang tadinya pucat pasih kini berubah menjadi putih kelabu bagaikan mayat hidup.

Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat seiring kepanikan yang merayap melumpuhkan saraf-sarafnya.

"Tidak... itu... itu suara palsu! Rekaman buatan!" teriak Elena histeris, mencoba bangkit dengan mencengkeram tepi kursi komisaris, namun kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya.

"Diam!" bentak Pak Gunawan, komisaris senior yang tadinya paling bersemangat mendukung Elena. Pria tua itu menatap layar proyektor dengan mata terbelalak. "Biarkan kita dengar sampai selesai!"

Suara rekaman Roy kembali berlanjut, membongkar borok yang selama ini tertutup rapi di balik senyuman manis berdarah dingin.

"Dia memaksaku menandatangani dokumen fiktif pengalihan aset penampungan Samudra Group. Dia mencatut tanda tangan Andira untuk menjebak wanita itu, dan... dan malam itu, saat aku menolak menuruti ancamannya, dia mendorongku... Dia memukul kepalaku ke sudut meja..."

Suara napas tersengal Roy di ujung rekaman berangsur melemah, menyisakan dengung statis yang menyayat hati siapa pun yang mendengarkan.

Namun Alvan tidak berhenti di situ. Detektif Hendra langsung mengetuk papan tik laptop, menampilkan puluhan lembar dokumen transaksi perbankan gelap, aliran dana pencucian uang lintas negara, serta bukti pemalsuan tanda tangan digital yang menggunakan IP address milik pribadi Elena di apartemen mewahnya.

"Data ini bukan sekadar tuduhan, para komisaris yang terhormat," ucap Alvan dingin, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru meja komisaris satu per satu. "Ini adalah bukti forensik digital valid yang dikumpulkan selama berbulan-bulan oleh tim penyidik independen. Aliran dana dari rekening perusahaan cangkang fiktif ini bermuara langsung ke rekening rahasia Elena di luar negeri, rekening yang kini telah resmi disita oleh pihak kejaksaan."

Elena menyadari bahwa benteng pertahanannya telah runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi celah untuk berdusta, tidak ada lagi topeng malaikat yang bisa ia kenakan untuk menipu orang-orang di sekitarnya.

Air mata keputusasaan bercampur amarah yang meledak-ledak keluar dari sudut matanya. Ia tidak lagi terlihat anggun, ia tampak seperti binatang buas yang terpojok di dalam sangkar besi.

"Kalian semua bodoh!" geram Elena dengan suara parau melengking, menunjuk ke arah para komisaris satu persatu menggunakan jarinya yang gemetar hebat. "Kalian pikir aku melakukan ini semua sendirian?! Kalian pikir seorang wanita lemah sepertiku bisa merencanakan penyusupan keuangan sebesar ini tanpa ada yang membukakan jalan di dalam dewan ini?!"

Suasana ruang rapat mendadak bergemuruh. Para anggota komisaris saling melempar pandangan penuh curiga.

Pak Gunawan mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah Elena. "Apa maksudmu, Elena?! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dan menyeret kami ke dalam kejahatanmu!"

"Mengalihkan pembicaraan?!" Elena tertawa histeris, tawanya terdengar sumbang dan memekakkan telinga, memantul di dinding-dinding kaca gedung pencakar langit itu. "Tanya pada mereka! Tanya pada orang-orang tua bermuka dua yang duduk di meja mewah ini! Siapa yang memberi tahuku celah keamanan audit internal Samudra Group? Siapa yang membocorkan kata sandi brankas dokumen rahasia almarhum Roy?!"

Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap yang berdiri di belakang Detektif Hendra langsung melangkah maju secara serentak. Salah seorang dari mereka, seorang perwira berbadan tegap dengan lencana perak di dada, membentangkan sepasang borgol baja berkilat di tangannya.

"Nona Elena Rahardian," suara perwira polisi itu tegas tanpa kompromi. "Anda secara resmi ditangkap atas dugaan tindak pidana pencucian uang, pemalsuan dokumen berharga, persekongkolan jahat, dan pembunuhan berencana. Anda berhak untuk diam. Segala sesuatu yang Anda katakan dapat digunakan melawan Anda di pengadilan."

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" Elena meronta-ronta dengan liar saat tangan kekar polisi mencengkeram kedua pergelangan tangannya. Ia menepis kasar tangan petugas, membuat tas tangan mahalnya terjatuh dan isi dokumen berserakan di lantai.

Petugas kepolisian dengan sigap memborgol kedua tangan Elena ke belakang. Wanita itu terpaksa berlutut kembali di lantai, rambut indahnya yang tadinya tertata rapi kini berantakan menutupi sebagian wajahnya yang sembab dan penuh kebencian.

Namun, tepat saat para petugas hendak mengangkat tubuhnya untuk membawanya keluar dari ruang rapat, Elena menghentikan langkah mereka dengan sebuah gerakan mendadak.

Ia mendongakkan kepalanya. Matanya yang merah menyorot tajam penuh amarah, namun di balik tatapan itu, tersimpan sebuah seringai tipis yang mengerikan, senyuman miring seorang pecundang yang masih menyisakan racun terakhir sebelum mati.

Elena memutar pandangannya, lalu mengunci tatapannya langsung pada mata Alvan Samudra yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.

"Kamu pikir ini sudah selesai, Alvan?" bisik Elena, suaranya tajam mendesis bagaikan ular welang yang siap mematuk di rerumputan gelap, namun cukup jelas terdengar oleh keheningan total di seluruh ruangan.

Alvan menyipitkan matanya, tidak bergeming sedikit pun di tempatnya berdiri. "Permainanmu sudah berakhir, Elena. Tidak ada jalan keluar lagi untukmu."

Elena terkekeh kecil, tawanya menyisakan getaran dingin di dada setiap orang yang mendengarnya.

"Kamu merasa hebat karena berhasil menjatuhkanku hari ini, ya?" Elena mendesis pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh misteri. "Kamu pikir aku adalah dalang utama dari semua mimpi buruk keluargamu? Kamu salah besar, Alvan... Kamu terlalu naif untuk melihat apa yang terjadi di balik punggungmu sendiri."

Alvan merasakan ada sensasi tidak enak yang merayap di tengkuknya. "Apa maksudmu?"

Elena mencondongkan wajahnya sedikit ke depan, menatap Alvan dengan sorot mata yang menyiratkan teror psikologis yang mendalam.

"Orang yang memberiku akses... orang yang merancang rencana busuk ini bersamaku dari awal... orang yang paling menginginkan kejatuhan dinasti Samudra..." Elena berbisik pelan, namun setiap kata bagaikan tetesan racun mematikan, "...ada di dalam rumahmu sendiri sejak awal."

DEGGGG!

Jantung Alvan seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Bayangan tentang mansion utama, orang-orang yang keluar masuk di bawah atap rumahnya, mendadak berkelebat cepat di dalam kepalanya.

Sebelum Alvan sempat melontarkan pertanyaan lebih jauh untuk mengorek nama di balik mulut wanita iblis itu, petugas kepolisian langsung menarik lengan Elena dengan tegas.

"Cukup! Waktunya jalan, tersangka!" bentak perwira polisi, lalu menyeret Elena keluar dari ruang rapat melewati pintu ganda yang terbuka lebar.

"Ha..Ha..Ha..Ha... Nikmati kemenangan semu kalian! Sebentar lagi, rumah itu akan hancur dari dalam!" teriakan tawa histeris Elena menggema di sepanjang koridor luar, berangsur-angsur menjauh seiring derap langkah sepatu bot polisi yang membawanya turun menuju basement tahanan.

Keheningan yang pekat kembali menguasai ruang rapat utama lantai atas Samudra Tower.

Para anggota dewan komisaris tertunduk lesu di kursi masing-masing. Beberapa dari mereka tampak berkeringat dingin, saling melirik dengan gelisah setelah mendengar ancaman terakhir dari Elena mengenai "pihak ketiga di dalam rumah."

Pak Gunawan berdiri perlahan dengan tangan yang sedikit gemetar, merapikan jas mahalnya. Ia menelan ludah sebelum berbicara kepada Alvan.

"Tuan... Tuan Alvan," suara Pak Gunawan terdengar jauh lebih lunak dan penuh rasa bersalah dibandingkan beberapa menit lalu. "Kami... kami memohon maaf atas kelengahan dan prasangka buruk kami terhadap kepemimpinan Anda. Kami telah tertipu oleh tipu muslihat wanita itu."

Alvan tidak menoleh ke arah Pak Gunawan. Tatapannya masih terpaku lurus pada daun pintu ganda yang tertutup rapat di ujung ruangan, tempat di mana Elena baru saja diseret pergi membawa rahasia paling berbahaya.

"Rapat hari ini ditutup," ucap Alvan dengan suara datar yang dingin, tanpa memberikan senyuman ataupun kelegaan di wajahnya. "Dan ingat satu hal... siapa pun di antara kalian yang terbukti terlibat dalam persekongkolan busuk Elena, bersiaplah menantikan giliran kalian untuk merasakan tempat yang sama dengannya."

Tanpa menunggu jawaban atau basa-basi dari para komisaris, Alvan berbalik badan secara tegas. Mantel panjangnya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang lebar meninggalkan ruang rapat, diikuti oleh Detektif Hendra dan Bima yang mengekor di belakangnya dengan langkah cepat.

Di dalam mobil sedan hitam mewah yang melaju membelah kemacetan ibu kota menuju mansion utama Samudra, suasana di dalam kabin terasa begitu padat oleh kebisuan.

Bima yang duduk di kursi pengemudi melirik sekilas ke arah kaca spion tengah, memperhatikan ekspresi bosnya yang duduk di kursi belakang dengan tatapan kosong menerawang ke luar jendela.

"Tuan Alvan," Bima membuka suara dengan hati-hati. "Apakah... apakah Anda percaya pada ucapan terakhir Elena tadi? Bahwa ada orang lain di dalam rumah utama yang membantu persekongkolannya?"

Alvan memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit yang empuk. Pikirannya melayang kembali ke paviliun tempat ibunya baru saja sadar, lalu ditarik mundur ke lorong-lorong gelap mansion tempat insiden malam berdarah itu terjadi sembilan bulan lalu.

"Seseorang di dalam rumah..." bisik Alvan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar di atas deru mesin mobil.

Jika apa yang dikatakan Elena benar, itu artinya musuh terbesar mereka selama ini tidak datang dari luar gerbang perusahaan, melainkan tidur di kamar sebelah, makan di meja yang sama, dan tersenyum di balik topeng kepalsuan di bawah atap yang sama dengan Andira dan ibunya.

Dan jika orang itu ada di dalam rumah... maka keselamatan Andira dan ibunya kini berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!