NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Malam Terakhir & Kebenaran tentang Siapa Aku

Langit malam itu jernih tanpa awan, dan bulan purnama bersinar begitu terang hingga memutihkan halaman rumah, seakan seluruh alam sedang menonton pertempuran yang akan terjadi. Angin tenang, udara terasa dingin dan bersih — damai yang menipu, sebelum badai terbesar melanda.

Kami bertiga berdiri di ruang tengah, siap untuk apa pun. Arga memegang tanganku erat, jari-jarinya saling mengait dengan jemariku seperti malam sebelumnya. Ibu Arga berdiri di belakang kami, memegang buku hitam leluhur, membaca doa perlindungan yang tertulis di halaman terakhir.

Tepat saat bulan mencapai puncaknya di langit — pukul dua belas malam — udara di sekitar kami tiba-tiba berubah berat. Cahaya bulan yang masuk lewat jendela berubah menjadi perak pucat, dan di tengah ruangan, kabut hitam mulai bermunculan, berputar perlahan membentuk sosok.

Damar muncul — tapi bukan lagi seperti sebelumnya. Tubuhnya dikelilingi api hitam yang perlahan berdenyut, matanya bersinar perak terang, dan di tangannya kini tergenggam sebuah tongkat kayu hitam berujung permata merah menyala. Ia tampak lebih kuat, lebih berbahaya, dan di wajahnya tak lagi ada keraguan sedikit pun.

"Malam ketiga..." suaranya bergema, bukan lagi satu suara tapi banyak suara sekaligus, seakan ribuan bisikan menyertainya. "Bulan purnama kembali, dan perjanjian lama menuntut penyelesaiannya. Kali ini, tak ada batu yang bisa hancur, tak ada cahaya yang bisa melindungi."

Arga melangkah maju, melindungiku. "Kau takkan mengambil apa pun dari kami. Dan kau takkan menyakiti siapa pun di sini."

"Kau pikir ini soal harta, Arga?" Damar tertawa — tawa yang penuh kepahitan dan kemenangan. "Kau benar-benar tak tahu siapa wanita di sampingmu ini, bukan?"

Jantungku berdegup kencang. Tatapannya tertuju padaku, tajam dan penuh arti.

"Freya..." ucapnya pelan, namun kata-katanya menembus hingga ke tulang. "Kau pikir kau hanya jiwa biasa yang tersesat ke dunia ini? Kau pikir kau kebetulan jatuh ke dalam cerita ini?"

Ia melangkah maju perlahan, tongkatnya menunjuk tepat ke arahku.

"Kau bukan sekadar tamu dari dunia lain. Kau adalah Pewaris Cahaya — satu-satunya jiwa yang lahir dari perpaduan dua dunia, yang kekuatannya mampu menyeimbangkan cahaya dan kegelapan. Leluhurku dan leluhurmu — mereka bukan hanya bersahabat. Mereka berjanji: jika sang Pewaris Cahaya muncul kembali, maka ia harus menjadi milik keluarga Suryawijaya. Karena hanya kami yang tahu cara mengendalikan kekuatan itu."

Dunia seakan berhenti berputar di telingaku. Aku — Pewaris Cahaya? Bukan sekadar orang asing yang tersesat? Semua mimpi itu, bayangan itu, tarikan pulang itu — semuanya bukan kebetulan?

"Itu... itu tak mungkin," bisikku, kakiku terasa lemas. "Aku hanya Freya. Aku hanya orang biasa..."

"Orang biasa takkan bisa membelah ikatan yang kubangun selama ratusan tahun," potong Damar tegas. "Orang biasa takkan bisa memecahkan Batu Pembelah Jiwa hanya dengan kekuatan cinta. Kau lebih dari itu, Freya. Kau adalah kunci dari segalanya. Dan aku... aku datang untuk mengambil kunci itu — dan dengan itu, aku akan menguasai kedua dunia sekaligus."

Arga menoleh padaku, matanya penuh kecemasan namun juga keyakinan. "Siapa pun kau, apa pun kekuatanmu — itu tak mengubah apa pun bagiku. Kau tetap Freya, wanitaku. Dan kau berhak memilih nasibmu sendiri, bukan milik siapa pun."

"Benar!" suaraku keluar mantap, meski hatiku masih bergetar. "Aku bukan milikmu, Damar. Aku bukan milik siapa pun. Dan kekuatan ini — jika memang ada — takkan kugunakan untuk kejahatanmu."

Damar mendengus marah. "Kalau begitu, aku akan mengambilnya dengan paksa!"

Ia mengangkat tongkatnya. Cahaya merah menyala melesat ke arahku — tapi Arga melompat menghadang, menahan serangan itu dengan tubuhnya sendiri. Ia terhantam keras, terlempar ke dinding, darah menetes dari sudut bibirnya.

"Arga!" seruku, berlari ke arahnya, hatiku hancur melihatnya terluka.

"Jangan... jangan menyerah..." bisiknya lemah, tapi tangannya masih berusaha meraihku. "Kau kuat... lebih kuat dari yang kau tahu..."

Saat itu, sesuatu di dalam diriku pecah. Bukan ketakutan — melainkan batas yang selama ini menahan diriku. Aku berdiri perlahan, menatap Damar tanpa rasa takut sedikit pun. Cahaya keemasan mulai memancar dari tubuhku sendiri, terang dan hangat, memenuhi seluruh ruangan hingga api hitam di sekeliling Damar tampak redup dan kerdil.

"Kau menginginkan kekuatanku?" suaraku tenang namun berwibawa, terdengar asing namun sangat akrab di telingaku sendiri. "Kau pikir kekuatan itu milikmu untuk diambil? Kekuatan ini lahir dari cinta, dari pengorbanan, dari keinginan untuk melindungi orang yang kucintai. Dan itu — itu bukanlah sesuatu yang bisa kau curi!"

Aku mengangkat tanganku, dan cahaya itu melesat ke arah Damar, menabraknya dengan kekuatan yang begitu besar hingga ia terpental keluar ruangan, menembus dinding, dan jatuh terjerembap ke halaman depan. Tongkatnya terlempar jauh, dan api hitam di tubuhnya padam seketika.

Aku berlari ke luar, diikuti Ibu Arga. Di bawah cahaya bulan purnama, Damar berlutut di tanah, napasnya memburu, wajahnya penuh kekalahan sekaligus ketakutan melihat kekuatan yang baru saja terbangun.

"Ini belum selesai..." desisnya, tapi suaranya tak lagi berwibawa. "Kau pikir kau sudah menang? Kekuatan itu... ia akan memanggil hal yang jauh lebih mengerikan dari aku. Dan saat itu tiba... kau akan berharap kau menyerah padaku."

Ia merangkak mundur, lalu bangkit perlahan dan berlari menghilang ke dalam kegelapan malam — tak pernah kembali.

Aku berbalik kembali ke dalam rumah, berlutut di samping Arga yang masih terbaring. Air mata jatuh membasahi wajahnya. "Arga... maafkan aku... karena aku, kau terluka..."

Ia membuka matanya perlahan, tersenyum lemah namun bahagia. "Terluka... tapi hidup. Dan kau... kau luar biasa, Freya. Itu... itu kekuatanmu. Dan kau menggunakannya untuk melindungi kita."

Ibu Arga datang membawa obat, dan sepanjang malam kami merawatnya. Luka fisiknya perlahan membaik, tapi kami tahu — peringatan Damar bukan ancaman kosong. Kekuatan yang ada padaku kini telah terbangun sepenuhnya, dan itu berarti... sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak menuju kita.

Namun malam itu, di bawah cahaya bulan purnama yang lembut, untuk pertama kalinya aku tak lagi merasa asing di dunia ini. Aku tahu siapa aku — bukan hanya jiwa yang tersesat, bukan hanya karakter dalam cerita. Aku adalah Freya, Pewaris Cahaya, dan wanita yang dicintai oleh Arga. Dan itu cukup.

 

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!