NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Pola yang Tersembunyi

Dua hari setelah Bagas Mahendra hilang, siswa kedua menghilang.

Namanya Lala Wibisono, kelas X, anggota klub biologi. Ia terakhir terlihat di halte kecil dekat toko alat tulis, dua ratus meter dari gerbang belakang SMA Negeri 1 Buana. Payungnya ditemukan tersangkut di pagar kosong. Ponselnya mati. Tidak ada saksi yang jelas.

Sekolah langsung panik.

Orang tua datang menjemput anak-anak sebelum jam pulang. Grup MoBo sekolah dipenuhi pesan marah. Kepala sekolah mengadakan rapat darurat. Polres Buana memasang garis polisi di sekitar halte, tetapi dari jauh Arya Pratama sudah tahu mereka datang terlambat.

Hujan turun semalam.

Jejak apa pun yang tersisa sudah hilang.

Di kelas, Rizky Hartono memukul meja pelan. "Dua siswa dari sekolah kita. Ini bukan kebetulan."

"Memang bukan," kata Arya.

Putri Ayu Dewi menatapnya. "Kamu sudah menemukan sesuatu?"

Arya tidak menjawab di kelas. Ia menunggu sampai istirahat, lalu membawa Putri dan Rizky ke perpustakaan sekolah yang sepi. Di sana, ia membuka buku catatan.

Dua titik merah tergambar di peta.

Gerbang samping dan halte belakang.

"Keduanya berada di luar jangkauan CCTV utama," kata Arya. "Jalurnya memanfaatkan sudut mati yang terbentuk dari bangunan sekolah dan toko sekitar."

Rizky menggaruk kepala. "Sudut mati?"

Arya menggambar garis pandang dari kamera ke jalan. "Kamera melihat seperti mata. Kalau ada tembok, pohon, papan, atau belokan, bagian belakangnya tidak terlihat. Bagas hilang di sini. Lala hilang di sini. Keduanya di titik yang tidak bisa dilihat kamera, tapi masih cukup dekat dengan sekolah sehingga korban merasa aman."

Putri memperhatikan gambar itu. "Korban juga sama-sama punya kegiatan sore."

"Benar." Arya menulis jam: 16.40 dan 16.55. "Selisihnya lima belas menit. Pelaku bergerak setelah sekolah mulai kosong, tapi sebelum jalan benar-benar sepi."

"Kenapa bukan malam?" tanya Rizky.

"Malam terlalu mencurigakan. Sore lebih ramai, tapi orang justru tidak fokus. Semua terburu-buru pulang."

Rizky terdiam.

Putri mengambil pulpen dan menandai area lain di peta. "Kalau pola ini berlanjut, titik berikutnya mungkin di sisi utara. Di sana juga ada gerbang kecil dan bangunan lama."

Arya melihat tanda yang dibuat Putri.

Tidak buruk.

Di dunia ini, jarang ada orang yang bisa mengikuti alur pikirannya lebih dari dua langkah. Putri mungkin tidak secepat dirinya, tetapi ia melihat hubungan.

"Mungkin," kata Arya. "Tapi kita butuh lebih banyak data."

"Lebih banyak data berarti korban ketiga," jawab Putri dingin.

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Arya menutup peta. "Aku tahu."

Malamnya, ia duduk di rumah dan menyusun ulang semua informasi. Nama korban, kelas, kegiatan sore, lokasi, cuaca, rute, waktu, posisi kamera, jarak dari gerbang. Ia juga mencari berita lama di internet. Kecepatan jaringan lambat, artikel banyak salah tanggal, tetapi setelah dua jam, ia menemukan dua kasus kecil dari bulan sebelumnya: tas siswa hilang di dekat gudang olahraga dan laporan siswi merasa diikuti di jalan belakang.

Polisi menganggapnya kejadian terpisah.

Arya tidak.

Ia menempelkan kertas baru di dinding.

Empat kejadian. Dua penculikan. Dua percobaan atau pengamatan awal.

Pelaku berlatih.

Itu kesimpulan pertama.

Kesimpulan kedua lebih buruk: pelaku tidak hanya tahu lingkungan sekolah. Ia tahu perubahan jadwal kegiatan siswa. Bagas keluar dari les tambahan. Lala keluar dari klub biologi. Informasi seperti itu bisa dilihat dari papan pengumuman sekolah, grup kelas, atau orang yang pernah bekerja di lingkungan sekolah.

Arya mulai menulis daftar kemungkinan.

Satpam.

Guru.

Staf tata usaha.

Penjaga lama.

Pedagang sekitar.

Alumni.

Ia tidak menuduh. Ia hanya membuka kemungkinan.

Budi Pratama keluar dari kamar untuk minum. Melihat dinding penuh peta dan catatan, ia berhenti.

"Nak, itu apa?"

"Tugas sekolah," jawab Arya otomatis.

Budi menatap foto berita dua siswa hilang. Ia tidak bodoh secara naluri sebagai ayah. "Ini bukan tugas biasa."

Arya diam.

"Ayah tidak akan melarang kalau kamu ingin membantu. Tapi ingat, kamu masih anak Ayah. Kalau bahaya, jangan sok kuat sendirian."

Suara Budi tidak keras, tetapi membuat Arya meletakkan pulpen.

"Iya, Yah."

Setelah Ayah kembali tidur, Arya menatap peta lagi. Ia menghitung jarak antara dua titik hilang, arah gerak, dan waktu kosong antar kegiatan. Jika pelaku mengikuti pola setengah lingkaran di sekitar sekolah, titik berikutnya akan berada di utara, dekat deretan bangunan lama yang jarang dipakai.

Waktu.

Bagas hilang Senin. Lala hilang Rabu.

Jika pelaku menjaga jarak dua hari, korban berikutnya bisa muncul Jumat.

Tiga hari lagi jika menghitung dari laporan resmi. Dua hari lagi jika menghitung dari waktu penculikan.

Arya menulis angka itu besar-besar.

JUMAT, 16.30-17.10.

Lalu ia menatapnya lama.

Ia bisa diam dan berharap polisi menemukan sendiri.

Atau ia bisa membawa peta ini ke Polres Buana dan membiarkan orang dewasa menertawakannya.

Arya mengambil ponsel dan memotret catatannya. Lalu ia menyusun laporan singkat: kronologi, peta titik buta, prediksi area risiko, dan kemungkinan waktu kejadian berikutnya.

Saat laporan itu selesai, jam sudah menunjukkan 02.17.

Arya tidak merasa mengantuk.

Di layar ponsel, dua wajah siswa hilang menatapnya dari berita.

Jika ia benar, korban ketiga belum hilang.

Malamnya, Arya tidak tidur cepat. Ia menyalakan lampu meja, membuka buku kotak-kotak, lalu menyalin peta lingkungan sekolah dari ingatan. Ia menandai pagar belakang, pos satpam, warung fotokopi, halte angkot, gang sempit di belakang toko alat tulis, dan jalur kecil menuju lahan kosong. Setiap titik diberi angka. Setiap angka diberi kemungkinan waktu tempuh.

Ayahnya masuk membawa segelas susu hangat. "Kamu baru masuk sekolah. Jangan cari masalah dengan polisi."

"Saya tidak mencari masalah, Yah. Saya mencari pola sebelum masalah berikutnya terjadi."

Budi Wijaya menatap anaknya lama. Dulu ia sering diminta datang ke sekolah karena Arya dianggap lamban. Sekarang anak itu duduk di meja dengan wajah tenang, memperlakukan hilangnya dua siswa sebagai soal yang harus segera diselesaikan. Budi ingin bangga, tetapi rasa takut ikut duduk di sebelah rasa bangga itu.

"Kalau kamu salah?"

Arya mengangkat kepala. "Maka tidak ada yang rugi kecuali harga diri saya. Kalau saya benar dan diam, korban berikutnya yang rugi."

Jawaban itu menutup mulut ayahnya. Budi meletakkan susu, mengusap rambut Arya sekali, lalu pergi tanpa memberi nasihat tambahan.

Keesokan paginya, Arya menguji hipotesisnya dengan cara yang membuat Rizky hampir menjatuhkan roti. Ia berdiri di dekat gerbang belakang, menghitung siswa yang lewat sendirian setelah bel tambahan. Dari lima puluh tujuh siswa, dua puluh satu menunduk melihat ponsel, sembilan memakai earphone, empat berhenti ketika ada orang asing bertanya arah. Tidak ada yang sadar bahwa Arya sedang mencatat mereka. Di dunia seperti ini, pelaku tidak perlu cerdas. Ia hanya perlu sedikit lebih sabar daripada para korban.

lum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!