Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Satya
Pagi itu Raya bangun dengan mata bengkak dan kepala yang terasa berat, seperti habis menangkap kesedihan seluruh isi dunia di dadanya semalaman. Ponselnya masih tergeletak di lantai kamar, layar retak kecil di sudut karena lemparan yang penuh emosi. Ia memungutnya pelan, menatap wallpaper foto dirinya dan Jack yang tertawa di pantai tahun lalu.
" Astaghfirullah A, apa Aa sudah menikah sama perempuan lain? Atau Aa.... "
Raya tak berani berspekulasi lebih jauh. Karena ia yakin jika Jaka terpengaruh sama pelet kurung ayam seperti yang dikatakan si Mbah di warung kopi itu.
Belum sempat ia menata hati, pintu kamarnya diketuk pelan.
"Neng, ada tamu di depan. Katanya mau ketemu kamu." suara Mamah Yana dari luar.
Raya mengernyit. Jam segini, siapa yang datang mau bertemu? Mana muka gue masih sembab gegara nangis semaleman.
" Siapa Mah? "
" Nggak tau Neng, pakaiannya rapih. Mama udah kasih minum, tinggal kamu temuin aja dia. " ujar Mamah yang sudah pake baju buricak burinong warna merah cabe tanjung.
" Mamah mau kemana udah rapi gitu? " tanya Raya curiga.
" Mau ngebesan ke Rancamaya. "
" Siapa yang kawinan Mah? "
" Si Epul anak pespa butut tea, emang ngedadak Neng soalnya perempuannya udah kabongkaran. "
Raya langsung tepok jidat.
" Hadeuhhh!! mau dikasih makan apa anak dan istrinya si Epul. "
" Teuing atuh Neng. Udah akh Mamah berangkat dulu. " ujarnya sambil menutup pintu kamar putri bungsunya.
Ia bergegas turun dengan wajah masih kusut, dan begitu sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti. Seorang pria berseragam cokelat berbadan tegap, wajah tenang namun tatapannya tajam, duduk kaku di kursi ruang tamu.
Ini bukan seragam polisi, bukan juga seragam satpol PP, dia ini siapa? batin Raya kebingungan.
"Ini dengan saudara, Raya?" pria itu berdiri, mengulurkan tangan sopan.
" I.. iya.. Maaf bapak ini siapa? " tanya Reni gugup.
"Saya Satya. Maaf jika kedatangan saya mendadak dan membuat bingung."
Raya menatap bingung sambil mengingat-ingat apakah ia kenal sama sosok ini.
"Pak Satya... maaf, saya belum pernah...."
"Saya sipir di Lapas Rimbani," potong Satya cepat, seolah tahu pertanyaan Raya belum selesai tapi ingin langsung ke inti.
" Astaghfirullah.. sipir penjara? siapa yang dipenjara Pak?
"Sabar dulu Teh Raya, ada yang harus saya beritahu tentang saudara Jaka."
Nama itu membuat dada Raya mencekat.
"Aa Jaka? Kenapa... kenapa Bapak tau soal Aa Jaka?"
Satya menghela napas, matanya sekilas melirik ke arah Mamah Yana yang masih berdiri di ambang pintu dapur, ikut menyimak dengan wajah cemas.
Mamah Yana menunda keberangkatannya karena penasaran sama tamu itu.
"Boleh saya bicara berdua saja, Teh? Ini agak sensitif."
Raya mengangguk pelan, mempersilakan Satya duduk kembali sementara Mamah Yana akhirnya mundur ke dapur, walau Raya tahu betul Mamah pasti masih menguping dari balik tirai.
"Saya kenal Manda," ucap Satya pelan, memulai. "Dia adik ipar saya, adiknya istri saya."
Raya membeku mendengar nama itu disebut langsung, tanpa basa-basi.
"Manda... yang SPG itu?"
"Iya. Dan saya tau soal hubungannya sama Jaka." Satya menatap Raya lurus, ada sesuatu yang berat dalam tatapannya, seperti orang yang menyimpan bara yang sudah lama ingin ia padamkan. "Teh Raya, saya kesini bukan untuk bikin runyam keadaan, tapi saya juga khawatir. Ada yang nggak beres sama cara Manda deketin Jaka."
"Maksud Bapak?"
Satya diam sesaat, seperti menimbang seberapa jauh ia boleh bicara.
"Manda itu sering berurusan dengan paranormal sejak jadi SPG, istri saya sering marahin dia karena perbuatan musyriknya. Awalnya dia pake susuk buat penglaris, tapi lama-lama dia juga pake ilmu pelet untuk menarik perhatian lawan jenis.
Setiap kali dia deket sama laki-laki yang dia incer, laki-laki itu jadi nggak eling sampai lupa anak istri. Pernah dua kali sebelum Jaka, keluarga pacar Manda melabrak rumah kami dan kasus ini jadi besar."
" Astaghfirullah! Terus Pak Satya tau dari mana alamat rumah saya? "
"Saya dapat alamat Teh Raya karena istri saya diam-diam mengambil dompet Jaka, dan di situ ada kartu mahasiswa milik Teh Raya. "
" Saya baru inget kalau kartu mahasiswa ada di di dia. "
" Istri saya itu kasihan sama korban-korban Manda, jadi kami putuskan untuk cari Teh Raya untuk kasih tau tentang Jaka. "
Jantung Raya berdegup semakin kencang. Kata-kata Ceu Kokom dan Mbah Wongso yang selama ini terasa seperti dongeng, kini mendadak punya bentuk yang nyata di depan matanya.
"Terus... kenapa Bapak baru bilang sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Jaka sudah menghilang sejak 3 bulan yang lalu. "
"Karena selama ini Manda tinggal tidak dilingkungan kami. Sejak dia cari masalah mengambil milik orang lain dengan cara salah, istri saya mengusir dia. "
" Terus, Pak. "
" Dua minggu lalu dia datang bawa si Jaka ke rumah saya," jawab Satya " Istri saya nggak sengaja dengar Manda telpon sama temannya. Dia bilang, 'jangan khawatir, Jaka udah nurut, tinggal nunggu waktu aja buat resmiin semua.' Istri saya curiga dan langsung kasih tau saya untuk selidiki ini. Takutnya kejadian dulu terulang lagi. "
Raya menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang tiba-tiba menyeruak.
"Jadi bener... Aa Jaka beneran di pelet? "
"Saya nggak berani bilang 'pelet' atau apa, Teh Raya. Sebenarnya saya lebih percaya sama hukum daripada mistis," ucap Satya, nadanya lebih tenang, "tapi ini bukan kejadian pertama kali. Dan yang saya tau pasti, itu bukan cinta yang wajar. Itu obsesi. Dan obsesi kayak gitu, biasanya nggak lepas dari 'bantuan' orang lain."
Hening sejenak. Raya menatap kedua tangannya sendiri yang gemetar di pangkuan.
"Terus saya harus gimana, Pak Satya? Saya udah coba doa, saya udah coba ikhlas, saya udah nyariin ke Sukabungah, tapi semua jalan buntu."
Satya mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku seragamnya, sebuah alamat ditulis tangan rapi.
"Ini alamat kos Manda yang sebenarnya. Bukan yang di deket dealer. Jaka sekarang tinggal disana, mereka living together karena diperbolehkan sama yang punya kost." Satya menyerahkan kertas itu. " Terserah Teh Raya mau berbuat apa, karena kewajiban saya hanya memberitahu supaya Jaka lepas dari Manda. "
Raya menerima kertas itu dengan tangan gemetar, matanya menatap tulisan alamat itu lama sekali, seolah membaca nasib yang akan segera terbongkar.
"Kenapa Bapak mau bantu saya? Manda itu keluarga Bapak sendiri."
Untuk pertama kalinya sejak duduk, raut wajah Satya melunak, ada sesuatu yang menyerupai rasa bersalah di sana.
"Karena saya dan ibu pernah kehilangan ayah saya gara-gara cara sihir, pelet dan semacamnya. Saya tidak mau itu kejadian lagi ke orang lain. Begitupun istri saya yang tidak tega sama Teh Raya dan korban Manda yang lain. " Satya berdiri, merapikan seragamnya.
" Terima kasih Pak Satya. "
"Saya cuma minta satu hal, kalau Teh Raya kesana jangan sendirian. Dan jangan emosi karena Manda itu tidak segampang itu dilawan."
Raya mengangguk pelan, meski hatinya sudah bergemuruh hebat. Campuran antara takut, marah, dan secercah harapan yang tiba-tiba menyala kembali.
Setelah Satya pamit dan menghilang di ujung gang, Raya masih berdiri mematung di teras rumah, menggenggam kertas kecil berisi alamat itu erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya benang yang tersisa untuk menuntunnya kembali pada Jack, atau pada kebenaran yang selama ini disembunyikan dari matanya.
Ia meraih ponselnya, jarinya bergerak cepat mengetik pesan ke grup sahabatnya.
[Raya: Guys, gue dapet alamat asli Manda. Besok kita kesana.]
Balasan datang beruntun, penuh tanda seru dan emoji kaget. Namun di tengah semua riuh percakapan itu, satu nama terus terngiang di kepala Raya.
Satya.
Entah kenapa, di tengah kekacauan ini, sosok pria asing yang tiba-tiba muncul membawa kebenaran itu terasa seperti satu-satunya cahaya yang benar-benar bisa dipercaya.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target