Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Bintang Jatuh
"Saya yang tanggung semua biaya. Sekarang pindahkan adik saya ke ruang VIP."
KTP dan kartu bank Raka menghantam meja administrasi IGD RS Harapan Mulia. Perawat di depan komputer terdiam. Di belakangnya, lorong penuh pasien, keluarga panik, bau antiseptik, dan suara roda brankar yang bergerak cepat.
Bibi Lestari duduk di lantai dekat dinding, jilbabnya miring, kedua tangannya menggenggam tas sekolah Bintang. Anak itu terbaring di brankar sempit, wajahnya pucat, bibirnya kering, satu tangan memegang perut kanan bawah meski tidak sadar penuh.
"Nak Raka..." Bibi mencoba berdiri, tetapi lututnya lemas.
Raka langsung berlutut di depannya. "Bibi, saya sudah di sini. Sejak kapan?"
"Dari siang dia mengeluh sakit. Guru telepon. Bibi bawa ke puskesmas, katanya harus ke rumah sakit. Di sini... mereka bilang antre."
Perawat berkata kaku, "Pak, semua pasien kami proses sesuai triase."
Fajar masuk di belakang Raka, memindai ruangan. Ia tidak mengganggu tindakan medis, tetapi berdiri cukup dekat agar tidak ada staf mengabaikan mereka lagi.
"Triase mana?" tanya Raka. "Siapa dokter yang memeriksa? Catatan vitalnya?"
Perawat bingung karena orang yang ia kira keluarga panik bisa menanyakan prosedur dengan jelas.
Seorang dokter muda datang cepat setelah mendengar keributan. Ia memeriksa Bintang singkat, menekan bagian perut, melihat respons nyeri, lalu wajahnya berubah.
"Kemungkinan apendisitis akut. Perlu USG dan bedah segera. Kenapa belum masuk ruang tindakan?"
Perawat menunduk. "Ruang penuh, Dok."
"Penuh bukan alasan untuk anak dengan tanda peritonitis."
Suara baru memotong dari belakang.
"Ada apa ini?"
Pak Santoso, direktur rumah sakit, datang dengan jas putih bersih dan langkah yang terlalu lambat untuk lorong darurat. Ia mendengar ringkasan staf, lalu menatap Raka dan Bibi. Matanya berhenti pada batik sederhana Bibi, tas sekolah kusam Bintang, lalu kembali ke Raka.
"Ruang VIP kami penuh, Pak. Mungkin pasien bisa menunggu di ruang observasi biasa."
Raka berdiri.
"Saya tidak bertanya apakah penuh. Saya bilang pindahkan adik saya ke ruang terbaik yang tersedia dan panggil spesialis bedah anak sekarang."
Pak Santoso menahan tidak suka. "Pak, rumah sakit punya prosedur. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan membayar."
"Bagus. Pakai prosedur. Tunjukkan triase, catatan dokter, daftar kamar, dan alasan tertulis kenapa anak dengan dugaan apendisitis akut menunggu di lorong. Pak Bayu, pengacara saya, sedang menuju jalur telepon."
Fajar sudah menyerahkan ponsel dengan panggilan Bayu aktif.
Suara Bayu terdengar dari speaker. "Selamat malam, Pak Santoso. Saya Bayu Santoso, kuasa hukum keluarga pasien. Saya ingin semua komunikasi setelah ini dicatat."
Pak Santoso berubah pucat sedikit.
Raka membuka aplikasi bank.
[Mimpi: deposit medis sistem Rp5.000. Dunia luar menerima sebagai Rp5.000.000.000.]
Transaksi masuk ke rekening rumah sakit sebagai deposit jaminan perawatan.
Mata petugas administrasi membesar. Pak Santoso melihat notifikasi internal dan akhirnya kehilangan nada lambatnya.
"Siapkan VIP isolasi lantai delapan. Panggil dr. Rendra sekarang. USG portable ke sana."
Dalam lima menit, Bintang dipindahkan. Bibi hampir berlari mengikuti brankar. Raka memegang bahunya agar ia tidak jatuh.
"Bibi, Bintang akan ditangani."
"Kalau kamu tidak datang..."
"Saya datang. Jangan pikir yang lain."
Di ruang VIP, dokter bedah menjelaskan dengan cepat: usus buntu meradang, risiko pecah, operasi harus segera. Bibi menandatangani persetujuan dengan tangan gemetar. Raka membaca dokumen, memastikan tidak ada bagian yang salah, lalu ikut menandatangani sebagai penanggung jawab biaya.
Bintang sempat membuka mata sedikit.
"Kak... sakit."
Raka menggenggam tangannya. "Kakak di sini. Kamu tidur sebentar. Nanti bangun, kita makan nasi goreng Pak Maman kalau dokter bilang boleh."
Bintang mencoba tersenyum, lalu didorong ke ruang operasi.
Lampu merah menyala.
Bibi Lestari duduk di kursi tunggu dan menangis tanpa suara. Fajar berdiri di ujung lorong, menjaga agar tidak ada orang asing merekam. Pak Santoso beberapa kali datang memberi update, kali ini dengan nada jauh lebih sopan.
Raka duduk di depan ruang operasi, tubuhnya diam tetapi pikirannya tajam.
[Mimpi: item tersedia. Ramuan Penyembuhan Menengah. Efek: mempercepat pemulihan pascaoperasi hingga lima kali. Harga: 3.000 poin.]
"Beli."
[Item dibeli. Gunakan setelah operasi selesai dan pasien stabil.]
Mimpi melanjutkan.
[Opsi dampak sosial: donasi Sayap Harapan untuk pasien tidak mampu. Estimasi biaya sistem Rp100.000. Efek: peningkatan akses layanan, reputasi medis, dan pencegahan kasus seperti Bibi.]
Raka menatap lorong IGD di bawah melalui kaca: keluarga duduk di lantai, anak menangis, orang tua memegang map BPJS, petugas kewalahan, dan beberapa wajah terlalu pasrah karena terbiasa menunggu.
Kemarahan yang tadi tajam berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
"Lakukan."
Fajar mendekat. "Bos?"
Raka tidak menoleh dari lampu operasi.
Sebelum Pak Santoso datang, Raka sempat melihat satu keluarga lain duduk di ujung lorong. Seorang ibu memegang botol infus anaknya karena gantungan penuh. Ayahnya menatap loket administrasi dengan wajah kalah sebelum bertarung. Pemandangan itu menempel di kepala Raka. Bibi bukan satu-satunya yang dibuat kecil oleh sistem yang kewalahan dan manusia yang kehilangan empati.
Bayu dari telepon meminta nomor registrasi pasien, nama dokter jaga, dan waktu kedatangan. Fajar mencatat semuanya. Perawat yang tadinya dingin mulai bekerja lebih rapi karena menyadari keluarga ini tidak bisa disuruh menunggu tanpa jejak. Raka tidak ingin menghambat tenaga medis. Ia justru ingin prosedur yang benar dipakai untuk menolong. Jangan jadikan itu alasan untuk mengabaikan pasien.
Ketika deposit masuk, perubahan rumah sakit terlalu cepat untuk tidak terasa pahit. Brankar yang tadi dibiarkan di lorong langsung didorong, lift staf dibuka, dokter spesialis dihubungi. Bibi melihat semua itu dan matanya dipenuhi campuran lega dan luka. Ia senang Bintang ditolong, tetapi juga sadar uang membuat suara mereka tiba-tiba terdengar.
Raka melihat ekspresi itu. Di situlah keputusan donasi mulai tumbuh, bahkan sebelum Mimpi menawarkan opsi. Kalau uangnya hanya menyelamatkan keluarga sendiri, ia menang malam itu. Tapi kalau uangnya bisa memaksa lorong itu berubah, orang-orang yang tidak punya Raka di samping mereka juga mendapat peluang.
Di depan ruang operasi, Bayu tetap berada di telepon meski sudah lewat tengah malam. Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat Pak Santoso tidak bisa kembali menjadi lambat. Fajar membawakan air untuk Bibi. Raka tidak menyentuh kopi. Ia takut tangannya bergetar kalau berhenti memegang kendali.
Malam itu mengajari Raka satu hal baru: uang tercepat pun terasa lambat ketika orang yang dicintai berada di balik pintu operasi.
Fajar berdiri di sampingnya, diam seperti penjaga pintu terakhir.
"Besok kita bicara dengan Pak Santoso. Kalau rumah sakit ini punya lorong untuk orang miskin menunggu tanpa harapan, kita bangun sayap baru supaya lorong itu tidak jadi takdir."