Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Malam yang Tak Kuminta
Nyeri itu datang lebih dulu daripada kesadarannya.
Laras mengerang pelan. Tenggorokannya kering, tubuhnya berat, sementara udara kamar sempit itu terasa panas dan berbau alkohol murah. Cahaya merah dari papan penginapan di luar jendela menyusup melalui gorden tipis. Menyala, padam, lalu menyala lagi tepat di atas sosok lelaki berbaju putih yang menunduk di hadapannya.
Wajah lelaki itu tak terlihat jelas.
Hanya bahunya yang lebar. Kancing teratas kemejanya telah lepas. Napas berat menerpa pelipis Laras, tetapi telapak tangan yang menahan di samping kepalanya justru kaku, seolah pemiliknya sedang mengerahkan sisa tenaga agar tidak jatuh menimpanya.
"Kamu dengar saya?"
Suara itu rendah dan serak.
Laras ingin menjawab. Lidahnya terasa tebal. Pikirannya sadar bahwa ia harus menjauh, harus bangun, harus mencapai jendela yang tadi sudah ia ukur jaraknya. Namun tubuhnya tidak mematuhi satu pun perintah. Panas merayap dari tengkuk ke ujung jarinya, membuatnya menggigil sekaligus mencari sesuatu yang lebih dingin.
Tangannya malah mencengkeram kemeja lelaki itu.
Tidak. Bukan begini rencananya.
Beberapa jam sebelumnya, Pak Rusdi telah mendorongnya masuk ke kamar 302 sambil menyelipkan bungkusan kecil ke telapak tangannya.
"Masukkan ke minumannya," kata lelaki yang bertahun-tahun menyebut diri sebagai ayah angkatnya itu. Bau rokok dan arak menempel di napasnya. "Setelah dia tak sadar, buka pintu. Orang-orangku yang akan mengurus sisanya. Kamu tinggal menangis dan bilang dia memaksamu."
Laras masih bisa merasakan kuku kotor itu menekan pergelangan tangannya.
Ia tahu apa arti kalimat tersebut. Foto, ancaman, uang tutup mulut. Sebuah jebakan murahan yang bisa menghancurkan hidup orang lain dan mengisi meja judi Pak Rusdi untuk beberapa malam.
"Kalau aku menolak?"
Tamparan lelaki itu menjawab lebih cepat.
Namun Laras sudah bukan gadis kecil yang hanya bisa meringkuk di sudut dapur. Saat Pak Rusdi meninggalkannya bersama tamu yang belum datang, ia membuka bungkusan itu, menuangkan isinya ke gelas di meja, lalu menggeser kursi ke bawah jendela.
Rencananya sederhana. Lelaki yang masuk akan meminum anggur, tertidur, dan Laras akan keluar lewat jendela kamar mandi. Lantai dua cukup tinggi untuk membuat kakinya cedera, tetapi masih lebih baik daripada kembali ke tangan Pak Rusdi.
Ia tidak tahu anggur di gelas satunya sudah lebih dulu diberi sesuatu.
Ia juga tidak tahu lelaki berbaju putih itu hanya sempat menyesap minuman sebelum menyadari rasa pahit yang aneh.
Setelah itu, ingatannya pecah menjadi potongan-potongan cahaya merah.
Gelas jatuh dan menggelinding di lantai.
Lelaki itu meraih pinggangnya saat ia hampir membentur sudut meja.
"Siapa yang memberimu minuman ini?"
Laras mencoba menunjuk pintu. Jemarinya bahkan tak mampu lurus.
Lelaki itu memaki lirih, bukan kepadanya. Ia menyeret kursi ke depan gagang pintu, lalu mengambil ponsel. Layar di tangannya tampak berlapis-lapis. Belum sempat nomor tersambung, lututnya goyah.
Mereka jatuh hampir bersamaan ke tepi ranjang.
"Jangan tidur," katanya, masih berusaha terdengar tegas. "Sebutkan namamu."
Laras ingin tertawa. Dalam keadaan seperti itu, lelaki asing ini masih meminta nama seolah sedang mengisi laporan.
"Jendela," bisiknya. "Aku harus pergi."
"Kamu bahkan tidak bisa berdiri."
"Lebih baik jatuh."
Kalimat itu membuat lelaki tersebut diam.
Papan neon kembali menyala. Untuk sesaat Laras melihat garis rahang yang keras dan mata gelap yang tengah berjuang tetap fokus. Tidak ada tatapan rakus di sana. Yang ada justru kemarahan dingin, juga sesuatu yang menyerupai kekhawatiran.
Ia mengangkat telapak tangan untuk menghalangi cahaya merah yang tepat mengenai wajah Laras.
Gerakan kecil itu terasa ganjil. Terlalu hati-hati untuk malam sekotor ini.
"Tidak ada yang akan menjatuhkanmu dari jendela," ucapnya. "Tenang dulu."
"Orang-orangnya akan datang."
"Biar datang."
"Kamu tidak tahu mereka."
"Mereka juga belum tahu saya."
Seharusnya Laras mencibir. Entah karena obat, ketakutan, atau suara lelaki itu yang begitu pasti, kelopak matanya malah memanas.
Seumur hidup, tak pernah ada orang yang berdiri di antara dirinya dan Pak Rusdi. Tidak ketika lelaki itu mengambil upah kerjanya. Tidak ketika ia dikurung tanpa makan. Tidak ketika seorang calo menaksir tubuhnya seperti barang di pasar dan Laras harus melarikan diri dengan sandal putus.
Malam ini, seorang asing yang bahkan tak ia kenal namanya berkata, biar datang.
Pintu sempat digedor dari luar.
Lelaki itu bergerak hendak bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia hanya berhasil meraih vas keramik dari meja dan menggenggamnya seperti senjata.
"Jangan buka!" teriak suara Pak Rusdi di balik pintu. "Tunggu sampai waktunya!"
Laras membeku. Lelaki di sampingnya menoleh.
"Itu orangnya?"
Ia mengangguk kecil.
Rahang lelaki tersebut mengeras. "Dia menjualmu?"
Pertanyaan itu menghantam lebih telak daripada tamparan. Laras memalingkan wajah. Ia tidak ingin dikasihani, apalagi oleh orang yang sebentar lagi mungkin ikut hancur karena jebakan tersebut.
"Aku yang memasukkan bubuk ke minumanmu," katanya dengan susah payah. "Jadi jangan sok jadi penyelamat."
"Kenapa?"
"Supaya kamu tidur. Supaya aku bisa kabur."
Lelaki itu menatap gelas di lantai, lalu gelas lain di meja. Pemahamannya datang cepat.
"Minumanmu juga sudah dicampur."
"Aku tahu sekarang."
"Berarti kita berdua dijebak."
Tidak ada tuduhan dalam suaranya. Hanya kesimpulan datar, seperti seorang prajurit yang akhirnya mengenali arah serangan.
Laras ingin mengingatkan bahwa pengakuannya bisa dipakai untuk menyeretnya ke polisi. Namun panas di tubuhnya kembali naik. Napasnya patah. Kamar itu seolah miring, membuatnya tanpa sadar mencengkeram lengan lelaki tersebut.
"Dingin," gumamnya.
Padahal keringat membasahi tengkuknya.
Lelaki itu menarik selimut untuk menutup bahunya. Tangannya bergetar hebat. Ia menjaga jarak sejauh yang mampu, tetapi ranjang sempit dan tubuh mereka yang sama-sama kehilangan tenaga tidak memberi banyak pilihan.
"Lihat saya," katanya.
Laras membuka mata.
"Tarik napas pelan."
Ia mencoba mengikuti. Satu tarikan. Gagal. Tarikan kedua terasa seperti menelan api.
Lelaki itu menyebut sesuatu yang tak sempat ia pahami. Mungkin nama satuan. Mungkin doa. Mungkin sumpah untuk menemukan orang di balik pintu.
Cahaya merah menyala lagi.
Kali ini Laras hanya melihat bayangan telapak tangan yang melindungi matanya, kemeja putih yang kusut di bawah jemarinya, dan garis tipis bekas luka di bawah tenggorokan lelaki itu.
Lalu semua suara tenggelam.
***
Ketika terbangun, Laras langsung duduk terlalu cepat.
Nyeri tumpul menjalar dari pinggang ke pahanya. Kepalanya berdenyut. Ia menarik selimut sampai ke dada, menahan mual sambil memeriksa kamar yang kini disiram cahaya pucat subuh.
Kosong.
Lelaki berbaju putih itu tidak ada di sampingnya. Tidak ada siapa pun di dalam kamar.
Kursi masih mengganjal pintu. Pecahan gelas telah dikumpulkan di atas handuk. Di dekat bantal, ada sebotol air mineral yang sudah dibuka dan dua tablet pereda nyeri dalam bungkus utuh.
Laras tidak menyentuhnya.
Kebiasaan lama membuat matanya lebih dulu mencari jalan keluar. Jendela kamar mandi. Pintu utama. Ponsel yang tergeletak di bawah meja. Tas kain miliknya berada di sudut, talinya putus. Uangnya lenyap, tentu saja. Pak Rusdi pasti sudah mengambilnya sebelum mendorongnya ke kamar.
Ia menunduk melihat pakaiannya. Blusnya kusut, dua kancing terlepas. Roknya masih ada, tetapi miring dan penuh noda debu. Kulit di pergelangan tangannya menyisakan bekas merah.
Potongan ingatan semalam datang tanpa urutan. Napas berat. Pintu digedor. Sebuah telapak tangan menutupi cahaya neon. Suara serak yang terus memintanya bertahan sadar.
Laras menekan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Hidup macam apa ini?" bisiknya.
Marah datang lebih dulu, panas dan pahit. Ia marah kepada Pak Rusdi. Marah kepada dirinya karena kembali tertangkap setelah bertahun-tahun berhasil menjauh. Marah kepada lelaki asing itu karena wajahnya yang kabur masih menyisakan rasa aman yang tidak pantas berada di kamar ini.
Ia turun dari ranjang. Lututnya nyaris tertekuk.
Sebelum sempat mencapai tas, terdengar bunyi kunci dari luar.
Kursi yang tadi mengganjal pintu rupanya telah bergeser. Daun pintu terbuka perlahan.
Laras meraih pecahan gelas terdekat dan menggenggamnya di balik selimut.
Seorang lelaki masuk.
Kemeja putihnya kini rapi, meski ada bekas sobek kecil di dekat manset. Tubuhnya tinggi, membuat ambang pintu penginapan itu tampak terlalu rendah. Kulitnya sawo matang. Alisnya tegas, matanya tajam, rahangnya bersih dan keras. Di bawah tonjolan tenggorokannya, ada bekas luka tipis yang langsung mengembalikan satu potong ingatan Laras.
Ini lelaki semalam.
Dalam cahaya pagi, wajahnya begitu tampan sampai pikiran Laras yang biasanya cepat mendadak berhenti bekerja selama beberapa detik.
Astaga. Pak Rusdi menjebak orang dengan wajah seperti ini dari mana?
Tatapan lelaki itu turun sepersekian detik. Ia melihat bahu Laras yang terbuka dan kancing blusnya yang lepas.
Ia langsung membalikkan badan.
Tidak ada siulan, tidak ada senyum kurang ajar. Ia berdiri menghadap pintu, lalu meletakkan kantong kertas yang dibawanya di atas meja tanpa menoleh.
"Ada pakaian bersih di dalam kantong," katanya. Suaranya sama, rendah dan sedikit serak. "Saya tunggu."
Laras menatap punggung tegak itu. Pecahan gelas di tangannya perlahan turun.
Ia mengenakan blus longgar dari kantong, lalu menarik napas. "Sudah."
Baru setelah itu lelaki tersebut berbalik. Tatapannya tetap tenang, tetapi ada bayangan lelah di bawah matanya.
"Kita bicara."
Nada itu tidak keras. Tetap saja, kalimatnya terdengar seperti keputusan yang tak memberi ruang untuk melarikan diri.
Laras membuka mulut. Ia harus mengaku lagi tentang bubuk tersebut. Ia harus menjelaskan bahwa dialah yang menuangkannya, walau bukan dengan niat mencelakai. Namun tenggorokannya perih. Yang keluar hanya bunyi serak tanpa kata.
Lelaki itu menarik kursi, tetapi tidak duduk terlalu dekat. Ia meletakkan botol air di lantai, tepat dalam jangkauan Laras.
Kemudian ia menatapnya lurus-lurus.
"Namamu. Kasih tahu saya dulu."