"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019: Tengkorak dari Dasar Kolam
Pukul sepuluh pagi, Arka berdiri di tepi kolam bekas tambang dengan mata yang baru tidur tiga jam.
Tidur pendek itu cukup untuk membuat tubuhnya tidak tumbang.
Tidak cukup untuk menghapus panel oranye dari kepalanya.
Di seberang kolam, dua penyelam bersiap memakai tabung. Adira berdiri di dekat garis polisi. Bambang memegang sketsa lokasi yang diambil dari pengakuan Joko.
"Belokan setelah warung tua, masuk jalan tanah, lalu kolam kedua," kata Bambang. "Kalau Joko bohong, saya pribadi akan minta tangannya yang satu lagi diperiksa lebih lama."
Adira menatapnya.
"Secara medis, maksud saya," tambah Bambang cepat.
Arka melihat air kolam.
Tenang di permukaan.
Gelap di bawah.
"Kedalamannya?" tanya Arka.
Seorang anggota SAR menjawab, "Tepi sekitar tiga meter. Tengah bisa tujuh sampai sembilan meter. Banyak lumpur. Visibilitas rendah."
Adira mengangguk. "Target tong plastik biru, kemungkinan diberi semen. Jangan ditarik kasar. Kalau ketemu, pasang tali, angkat perlahan. Semua proses direkam."
"Siap, Bu."
Dua penyelam masuk ke air.
Bambang melihat Arka. "Dok, kamu yakin masih kuat?"
"Kalau saya jatuh, jangan buang ke kolam."
"Humormu makin jelek kalau kurang tidur."
"Berarti masih hidup."
Dua belas menit pertama tidak ada hasil.
Hanya gelembung naik ke permukaan.
Lalu radio dari penyelam berbunyi pecah.
"Objek ditemukan. Bentuk silinder. Warna biru. Setengah tertanam lumpur. Berat."
Adira langsung maju satu langkah. "Jangan buka di bawah. Pasang tali. Tandai posisi."
"Siap."
Bambang melipat sketsa. "Joko tidak bohong untuk bagian ini."
"Pembunuh bisa jujur kalau kejujuran itu membuatnya terlihat seolah sudah mengaku semuanya," kata Arka.
Adira menoleh sebentar.
Ia tidak bertanya.
Tiga belas menit kemudian, tong plastik biru muncul dari air.
Lumpur menempel di sisinya. Bagian atasnya tertutup semen kasar. Bau basah dan kimia semen bercampur dengan air kolam.
Petugas meletakkannya di atas terpal bukti.
Kamera menyala.
Nomor bukti ditempatkan.
Adira berkata, "Dok, prosedur pembukaan?"
Arka memakai sarung tangan ganda. "Foto seluruh permukaan. Ukur. Catat posisi tali dan bekas gores. Ambil swab luar. Setelah itu buka lapisan semen bertahap. Jangan pukul terlalu keras. Kalau isi bergeser, struktur di dalam rusak."
"Dengar semua?" kata Adira.
"Siap."
Mereka bekerja pelan.
Semen tidak tebal sempurna, tetapi cukup untuk membuat tong itu tenggelam. Bagian tutup dipotong bertahap. Setiap pecahan semen masuk wadah kecil.
Dimas yang ikut di lokasi berdiri lebih jauh dari biasanya.
"Mas Dimas," panggil Arka tanpa menoleh.
"Ya, Dok?"
"Kalau mau muntah, jangan ke arah terpal bukti."
Bambang langsung tertawa pendek.
Dimas memegang masker lebih rapat. "Terima kasih atas kepercayaannya, Dok."
Tutup tong akhirnya terbuka.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Di dalamnya ada kantong plastik tebal yang dililit lakban. Bentuknya menjawab semua pertanyaan sebelum dibuka.
Adira menghela napas pendek. "Lanjut."
Arka membuka lapisan luar bersama teknisi identifikasi.
Ia tidak membiarkan rasa mual mengambil alih.
Isi tong itu sudah berubah menjadi jawaban bagi keluarga korban.
Itu bagian tubuh yang sengaja disembunyikan agar seseorang kehilangan nama.
Kepala perempuan.
Dua tangan.
Kondisinya rusak oleh air, tekanan, dan waktu, tetapi masih cukup untuk pemeriksaan identifikasi.
Panel merah muncul singkat saat Arka menatap.
[Penyebab kematian utama: trauma tumpul kepala]
[Pascakematian: mutilasi]
Panel itu menghilang di balik fokusnya.
Ia tidak mengucapkan label.
Ia menunjuk bagian kulit kepala. "Ada tanda trauma tumpul. Cocok dengan pengakuan pemukulan dari belakang. Tapi kita tetap bawa ke IKF untuk pemeriksaan lengkap."
Adira mencatat dengan mata keras. "Tangan?"
"Masih mungkin diambil sidik jari kalau jaringan ujung jari cukup. Harus cepat. Jangan biarkan mengering."
Bambang langsung menghubungi Labfor.
"Minta tim sidik jari siap. Prioritas korban Dewi Anggraini."
Satu jam kemudian, bagian tubuh itu tiba di IKF dengan pengawalan.
Ruang autopsi kembali penuh, tetapi kali ini semua orang bergerak lebih cepat. Tidak ada yang bertanya apakah ini manusia. Tidak ada yang menunggu rasa kaget selesai.
Arka bekerja bersama teknisi identifikasi.
Jari dibersihkan hati-hati.
Kulit ujung jari yang mulai rusak diperlakukan pelan. Metode standar dipakai. Foto makro diambil. Pola ridges yang masih terbaca dikirim ke database.
Dimas berdiri di pintu, menunggu dengan ponsel di tangan.
"Berapa lama?" tanya Bambang.
"Kalau data ada, cepat," jawab teknisi. "Kalau tidak, lama."
Arka melihat jam.
Dua belas menit setelah file masuk, komputer berbunyi.
Teknisi menatap layar.
"Match."
Adira maju. "Nama."
"Dewi Anggraini. Perempuan, tiga puluh delapan tahun. Data KTP cocok. Laporan hilang dari keluarga masuk dua minggu lalu di Polsek setempat."
Bambang menutup mata sebentar.
Dimas berbisik, "Akhirnya punya nama."
Arka menatap layar.
Foto KTP Dewi muncul. Wajah biasa. Senyum kecil. Tidak ada yang istimewa, dan justru itu yang membuat ruangan lebih diam.
Seorang perempuan biasa pergi mencari uangnya.
Ia pulang sebagai empat belas kantong, satu tong biru, dan satu nama yang harus dirakit ulang oleh orang asing.
Adira menurunkan suara. "Keluarga diberi tahu setelah laporan identifikasi resmi keluar. Jangan ada yang bocor ke media."
"Siap, Bu."
Bambang menoleh ke Arka. "Dok, dengan ini korban pertama selesai diidentifikasi. Kita bisa kuatkan BAP Joko."
"Ya," kata Arka.
"Tapi wajahmu tidak terlihat lega."
Arka melepas sarung tangan dan membuangnya ke tempat limbah medis.
"Karena Dewi bukan satu-satunya pertanyaan."
Adira mendekat. "Sampel cold storage?"
"Kontainer dan drainase. Saya minta pengambilan ulang di lokasi. Swab yang sudah dibawa belum cukup. Kita perlu lihat area yang belum disapu tim pertama. Bagian bawah freezer, celah drainase, sisi belakang meja potong, dan kisi besi saluran."
Bambang mengerutkan kening. "Sekarang?"
"Sebelum tempat itu dibersihkan lagi, sebelum ada yang menganggap perkara sudah selesai."
Dimas menatap Adira. "Bu?"
Adira tidak langsung menjawab.
Ia melihat layar identifikasi Dewi.
Lalu melihat Arka.
"Kamu tidak punya hasil DNA final."
"Belum."
"Kamu tidak bisa tulis 'korban kedua' di laporan."
"Tidak."
"Tapi kamu minta kami balik ke cold storage karena residu biologis tidak konsisten."
"Ya."
Adira menarik napas.
"Berapa persen?"
Arka hampir menjawab dengan angka aman.
Enam puluh.
Tujuh puluh.
Lalu ia teringat panel oranye.
Ia juga teringat aturan yang ia tulis sendiri di buku catatan V1.1.
Tidak boleh bicara tanpa alasan observasi.
"Cukup untuk tidak membiarkan petugas kebersihan menyiram lantai besok pagi," katanya.
Bambang menepuk map. "Angka itu mewakili seseorang."
"Itu prioritas kerja."
Adira menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia mengambil ponsel.
"Kevin, siapkan daftar ulang kamera dan akses Blok Dua. Bambang, ambil dua anggota Inafis. Dimas, minta izin tambahan untuk olah ulang titik drainase."
Bambang mengangkat alis. "Jadi kita balik?"
Adira menjawab tanpa menoleh. "Kita balik."
Dimas sudah bergerak. "Siap, Bu."
Arka melihat foto Dewi di layar sekali lagi.
Nama pertama sudah kembali.
Tetapi cold storage itu belum selesai.
Di balik drainase yang terlalu bersih, ada nama lain yang masih tenggelam tanpa wajah, tanpa laporan, tanpa orang yang menunggu di ruang identifikasi.
Dan Arka tidak berniat membiarkannya tetap di sana.