Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sinar matahari pagi baru saja menyembul dari balik cakrawala saat aktivitas di Gerbang Utara Kota Awan Suci mulai menggeliat.
Ribuan kultivator pengelana dan pedagang berbaris rapi menunggu giliran pemeriksaan untuk keluar dari wilayah aman pusat benua tersebut.
Lin Xiao melangkah dengan santai membelah kerumunan, diapit oleh Xue Mingyue dan Meng Shan yang telah mengenakan Jubah Sutra Gravitasi di balik pakaian luar mereka.
Di dekat pilar gerbang yang terbuat dari batu giok putih, sosok anggun Nona Yue telah berdiri menunggu dengan sabar.
Gadis misterius itu mengenakan gaun tempur berwarna putih keperakan yang pas di badan, memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
Cadar sutra tipis masih menutupi wajah bagian bawahnya, menyisakan sepasang mata amethyst yang menatap kedatangan kelompok Lin Xiao.
"Kalian hampir terlambat dari jadwal yang kita sepakati semalam, Tuan Lin Xiao." tegur Nona Yue dengan nada merdu namun menyindir.
"Apakah kalian menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengagumi perlengkapan pelindung baru kalian?"
Lin Xiao berhenti tepat di hadapan gadis itu dan menyilangkan kedua lengannya di dada.
"Pahlawan sejati selalu datang sedikit terlambat untuk membiarkan penonton menahan napas mereka, Nona Yue." balas Lin Xiao dengan senyum mengejek.
"Selain itu, aku harus memastikan anjing-anjing pelacak yang mengikuti kami dari kemarin tidak kehilangan jejak."
Nona Yue mengerutkan keningnya, matanya melirik sekilas ke arah jalanan ramai di belakang Lin Xiao.
"Kau sengaja membiarkan mata-mata dari Istana Bayangan Bulan mengikuti kita ke titik kumpul ini?" tanya Nona Yue dengan nada sedikit terkejut.
"Bukankah lebih mudah membunuh mereka di dalam gang gelap sebelum kita berangkat?"
Xue Mingyue melangkah maju dan menjawab pertanyaan tersebut mewakili tuannya.
"Jika kita membunuh mata-matanya di dalam kota, tuannya yang bodoh itu akan bersembunyi dan menyusun rencana yang lebih berbahaya." jelas Xue Mingyue dengan dingin.
"Bosku ini lebih suka mengumpulkan semua sampah di satu tempat dan membakarnya sekaligus di luar batas kota."
Nona Yue tertawa pelan mendengar penjelasan yang sangat arogan dan penuh percaya diri tersebut.
"Kelompok kalian benar-benar memiliki cara berpikir yang sangat unik dan mematikan." puji Nona Yue memutar tubuhnya menghadap gerbang.
"Mari kita berangkat sekarang, perjalanan menuju Domain Bintang Jatuh akan memakan waktu setengah hari berjalan kaki melintasi Hutan Awan Hitam."
Mereka berempat melangkah melewati garis batas penjagaan gerbang kota tanpa hambatan apa pun.
Begitu kaki mereka menginjak tanah berdebu di luar tembok raksasa tersebut, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih liar dan menekan.
Tidak ada lagi aturan perlindungan dari penjaga kota, hukum rimba kini kembali mengambil alih setiap jengkal daratan.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit oleh pepohonan raksasa dengan daun berwarna kehitaman.
Suasana hutan itu terasa sangat sunyi, bahkan kicauan burung monster yang biasanya terdengar kini hilang sepenuhnya.
Lin Xiao terus berjalan dengan langkah konstan, matanya menatap lurus ke depan seolah tidak menyadari apa pun.
"Mereka sudah mengepung kita dari tiga arah yang berbeda sejak lima mil yang lalu." bisik Nona Yue tanpa menolehkan kepalanya.
"Ada dua belas aura tingkat Inti Emas akhir yang bersembunyi di balik pepohonan di depan sana."
"Insting pelacakmu sangat bagus untuk ukuran seorang gadis bangsawan yang manja." balas Lin Xiao memuji sekaligus menyindir.
"Meng Shan, bersiaplah untuk meregangkan ototmu, jangan biarkan mereka merusak jubah barumu."
Sring.
Sebuah anak panah yang memancarkan aura spiritual tingkat tinggi melesat dari balik kegelapan hutan, mengincar punggung Nona Yue.
Wush.
Lin Xiao mengangkat dua jari tangan kanannya ke belakang tanpa melihat dan langsung menjepit anak panah beracun tersebut di udara.
Dia memutar pergelangan tangannya dan melemparkan kembali anak panah itu ke arah pepohonan dengan kecepatan dua kali lipat.
Jleb.
Terdengar suara erangan tertahan dari atas dahan pohon saat anak panah itu menembus bahu penembaknya sendiri.
"Keluar kalian semua, berhenti bersembunyi seperti tikus tanah." raung Meng Shan melangkah maju dan menghantamkan kapaknya ke tanah.
Duarr.
Gelombang kejut dari hantaman kapak itu meruntuhkan belasan pohon di sekitar mereka, memaksa para penyergap untuk melompat keluar.
Dua belas pria berpakaian serba hitam mendarat mengelilingi rombongan Lin Xiao dengan senjata terhunus.
Dari balik barisan pembunuh bayaran itu, seorang pemuda dengan tangan kanan terbalut perban tebal melangkah maju sambil tertawa keras.
"Hahaha! Keberanian kalian patut dipuji karena berani masuk ke hutan ini padahal tahu sedang diikuti!" tawa Tuan Muda Lu dengan wajah penuh kemenangan.
"Tapi hari ini, keberanian kalian itu akan menjadi tiket satu arah menuju neraka!"
Nona Yue menatap pemuda arogan itu dengan pandangan yang sangat merendahkan dari balik cadarnya.
"Tuan Muda Lu, menyewa serikat pembunuh bayaran untuk menyerangku di luar kota adalah tindakan yang sangat bodoh." ucap Nona Yue dengan tenang.
"Apakah kau tidak takut Istana Bayangan Bulan akan menghukummu karena menyinggung faksiku?"
Tuan Muda Lu mendengus kasar dan menunjuk ke arah Lin Xiao dengan tangan kirinya yang masih sehat.
"Aku tidak berniat menyentuh sehelai pun rambutmu, Nona Yue yang cantik." jawab Tuan Muda Lu dengan tatapan mesum.
"Tujuanku hari ini hanya untuk memotong anggota tubuh gembel sombong ini dan membiarkan anjing hutan memakan ususnya!"
Para pembunuh bayaran itu langsung memancarkan aura Inti Emas akhir mereka, menekan udara di sekitar kelompok Lin Xiao hingga terasa berat.
"Bos, targetnya hanya memiliki kultivasi Pembentukan Dasar tingkat delapan, ini akan selesai dalam hitungan detik." bisik pemimpin pembunuh bayaran itu meremehkan.
"Bantai ketiga pengelana miskin itu, tapi jangan lukai gadis bercadar tersebut." perintah Tuan Muda Lu memberikan komando mutlak.
Wush.
Tiga orang pembunuh bayaran langsung melesat maju dari arah depan, mengayunkan belati beracun mereka mengincar leher Lin Xiao.
Namun pemuda dari Kota Jade River itu sama sekali tidak berniat mundur atau menghindar.
Sring.
Lin Xiao mencabut pedang besi berkaratnya dari sarung kulit di pinggangnya.
Sepertiga bilah pedang yang karatnya telah rontok akibat menyerap logam kuno kemarin kini memancarkan kilauan perak kegelapan yang menyilaukan.
"Mari kita uji seberapa tajam gigitanmu sekarang." bisik Lin Xiao pada pedangnya sendiri.
Cras.
Lin Xiao hanya mengayunkan pedangnya secara horizontal dalam satu putaran sederhana tanpa menggunakan Niat Pedang Haus Darah sedikit pun.
Cahaya perak melesat membelah udara, memotong belati spiritual ketiga pembunuh bayaran itu beserta batang leher mereka secara bersamaan.
Tiga kepala manusia terlepas dari lehernya dan melayang di udara, darah menyembur deras mewarnai tanah hutan menjadi merah pekat.
Bahkan tubuh tanpa kepala itu masih berlari maju beberapa langkah sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Keheningan absolut seketika menyelimuti medan pertempuran tersebut.
Mata Tuan Muda Lu membelalak lebar, wajahnya langsung pucat pasi melihat tiga ahli Inti Emas akhir miliknya ditebas layaknya memotong rumput.
"B-bagaimana mungkin?!" jerit Tuan Muda Lu mundur satu langkah dengan kaki gemetar.
"Dia hanya tingkat delapan Pembentukan Dasar! Senjata apa yang dia pegang itu?!"
Pemimpin pembunuh bayaran juga menelan ludahnya dengan susah payah, menyadari bahwa mangsa mereka kali ini adalah monster yang sedang menyamar.
"Formasi pengepungan! Serang dari semua arah secara bersamaan!" teriak pemimpin pembunuh itu mencoba mengendalikan kepanikan anak buahnya.
Sembilan pembunuh yang tersisa segera melompat ke udara dan menerjang kelompok Lin Xiao dari segala penjuru.
"Meng Shan, Xue'er, jangan ikut campur." perintah Lin Xiao dengan suara bariton yang menggema pelan.
"Aku butuh sedikit pemanasan sendirian hari ini."