NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Langit mulai terang dan matahari mulai menampakkan dirinya. Kedua pemuda itu akhirnya sampai di sebuah desa. Evren menghentikan kudanya di depan sebuah penginapan kecil. Ia merasa tidak mungkin melanjutkan perjalanan sekarang setelah berkali-kali ia mendengar Xavier menguap.

“Kamu punya uang kan?” Tanya Evren pada Xavier.

Ia turun dari kuda lalu menyerahkannya pada seorang penjaga penginapan. Xavier turun dibantu oleh Evren lalu ia menatapnya dengan tatapan waspada.

“punya, jangan bilang mau minta kuda lagi?”

Seketika Evren teringat dengan kejadian di penginapan kemarin. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berdehem pelan.

“Maaf untuk kejadian waktu itu,” ucapnya meminta maaf secara langsung kepada Xavier.

Kemudian keduanya masuk ke dalam dan memesan sebuah kamar beserta dengan makanan untuk sarapan.

“lima belas koin,” ucap pemilik penginapan sambil menatap keduanya.

Evren menoleh ke arah Xavier seolah mengisyaratkannya untuk segera membayar pesanan mereka.

“Kamu yakin dulunya seorang jendral bukan perampok?” tanyanya spontan tanpa melihat ke arah Evren. Meskipun begitu, ia tetap merogoh pakaiannya untuk mengambil kantong uang.

Saat mendengar pertanyaan itu, Evren terbatuk-batuk. Ia merasa ada panah yang keluar dari lidah pemuda di hadapannya itu lalu menusuk jantungnya.

“Kalau tidak mau bayar ya sudah, aku lanjut saja tidak perlu istirahat.”

Meskipun dirinya juga membutuhkan istirahat, namun ia sudah terbiasa dengan kehidupan keras tanpa makanan dengan tubuh penuh luka. Kali ini ia hanya tidak memiliki makanan dan tubuhnya dalam kondisi baik-baik saja. Karena itu ia merasa tidak masalah kalau harus melanjutkan perjalanan.

Namun hal itu berbeda bagi Xavier. Perjalanan tenangnya berubah menjadi medan perang begitu bertemu dengan Evren. Tubuh yang biasanya hanya ia gunakan untuk duduk dan membaca buku, sekarang tiba-tiba harus bergerak secara terus menerus. Tubuhnya tidak akan mampu menahan tekanan itu lebih lama lagi.

“Iya iya ini aku bayar,” Ucap Xavier dengan nada sedikit kesal namun pasrah.

Evren diam-diam tersenyum di belakang punggung Xavier. Rencananya berhasil untuk membuat Xavier tetap mau membayarnya. Hari ini ia bisa menikmati makanan dan tidur setelah semalaman harus terus waspada.

Namun senyuman itu luntur seketika saat melihat Xavier mengeluarkan kantong uangnya. Kantong uang berwarna biru muda dengan sulaman burung camar di atasnya. Lalu matanya semakin melotot saat melihat sulaman huruf EV di bagian bawah kantong tersebut.

Itu adalah kantong miliknya yang hilang. Kantong uang itu hanya ada satu di muka bumi ini karena itu adalah buatan tangan sang ibu. Ibunya sendiri yang menyulam dan menjahitnya khusus untuknya.

“Tunggu!” Evren langsung menghentikan Xavier yang hendak mengambil uang dari dalam kantong tersebut.

“Apa lagi? Aku mau bayar.”

“Darimana kamu dapat kantong uangku? OOOOHHH KAMU PENCURINYA YA?” Serunya cukup keras membuat orang di sekitarnya langsung menoleh.

Xavier panik dan langsung membekap mulut Evren. Ia melihat orang-orang yang menatapnya lalu tersenyum canggung. Kemudian matanya melotot ke arah Evren.

“Ini aku dapat dari anak kecil.”

“Anak kecil? Oohhh…”

Ucapan Evren langsung dipotong dan disangkal oleh Xavier saat sadar kemana arah ucapannya.

“Aku bukan komplotannya!”

“Lagipula kamu juga memegang belati ku kan, jadi anggap saja kita impas,” sambungnya sambil melirik belati yang terselip di pinggang Evren.

Evren melirik belati yang ia selipkan di balik ikat pinggangnya. Kemudian ia menggaruk tengkuknya lagi.

“Jadi sejak kemarin kamu membayar pakai uangku?” tanya Evren kepada Xavier karena ia benar-benar merasa penasaran.

“Aku menggunakanya dua kali, pertama aku sudah mengambil ganti rugi untuk uang penginapan waktu itu dan… sekarang,” Ucapnya sambil melirik pemilik penginapan yang masih berdiri menunggu pembayaran.

“tidak ada gunanya aku menyuruhmu yang membayar kalau ternyata memakai uangku sendiri,” gerutu Evren.

Xavier lanjut mengeluarkan lima belas keping uang koin dari kantong uang tersebut, menyerahkannya kepada pemilik penginapan lalu mengembalikan kantongnya kepada Evren. Sedangkan evren hanya menatap datar sambil menerimanya.

Kemarin, saat pertemuan pertama Evren dan Xavier, tepatnya setelah Xavier meninggalkan Evren sendirian di depan penginapan. Seorang pemuda berlari kecil dari dalam penginapan dan menghampiri Evren.

“Tuan, ini milik tuan tampan yang tadi. Sepertinya ini cukup berharga untuknya,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah belati ke Evren.

“Tuan tampan? Apa aku tidak tampan?” Tanyanya pada pemuda itu sambil mengambil belati tersebut dan memeriksanya. Pemuda itu hanya tersenyum kikuk, tidak tahu harus merespon bagaimana.

Belati kecil dengan sebuah ukiran elang yang dilapisi emas. Jelas bukan barang murah. Lalu ia menarik belati itu dari sarungnya dan ia langsung bisa menilai bahwa kualitasnya adalah kualitas terbaik. Meskipun tidak sebaik pedang prajurit di medan perang.

“Aku akan mengembalikannya,” Ucapnya kepada pemuda tersebut.

Setelah pemuda itu pergi, Evren kembali melihat belati tersebut.

“Lagipula dia sudah pergi kan, siapapun yang menemukannya sama saja. Aku akan menggantikannya menggunakan belati ini dengan baik.”

Setelah mengatakan itu, Evren menyelipkan belati tersebut ke ikat pinggangnya lalu melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu, di jalan Xavier melihat seorang anak yang terasa tidak asing. Ia meminta kusir kudanya untuk menangkap anak itu dan membawanya masuk ke dalam kereta kuda. Kemudian ia ingat kemarin sempat melihat anak itu sengaja menubruk pemuda gila itu di tangga dan tangannya dengan cepat meraih kantong uangnya.

Ia waktu itu benar-benar berfikir bahwa pemuda itu sangat bodoh. Bagaimana mungkin ada orang yang menggantung kantong uangnya di pinggang seolah mengumumkan kepada semua orang untuk mencurinya. Apalagi kota ini selama beberapa tahun terakhir memang berada di ambang krisis.

Si anak kecil itu terlihat takut-takut saat menatap Xavier. Sedangkan Xavier, ia sedang memindainya dari atas hingga ke bawah. Lalu matanya tertuju pada sebuah kantong di pinggangnya. Ia langsung mengambil kantong tersebut tanpa izin dan memeriksa isinya.

“lumayan juga,” Gumamnya.

“Apa ini yang kamu dapatkan dari pemuda di penginapan?”

Anak itu terlihat berpikir sesaat lalu mengangguk sebagai jawaban.

“Bagus, uangku kembali,” Ucapnya sambil mengambil sesuai jumlah uang yang tadi ia gunakan untuk membayar penginapan dan makanan pemuda itu.

Setelah mengambil kembali uangnya, Xavier menatap anak itu lalu merogoh bajunya. Mengambil beberapa keping uang dan memberikan kepadanya.

“Beli makanan untukmu dan keluargamu.”

Tanpa basa basi, anak itu langsung menerima uang tersebut lalu berlari keluar dari kereta.

“Tuan muda, kenapa anda memberinya uang?” Tanya sang kusir.

“Di tempat ini mencuri sudah menjadi sebuah pekerjaan, negara sudah lama menghilang dari kota ini,” Ucap Xavier sambil mengintip dari balik tirai jendela kereta kudanya. Melihat lagi kondisi orang-orang lusuh di pinggir jalan.

“Lalu kenapa hanya memberi beberapa keping uang logam saja?”

“Kalau aku memberinya perak, bisa-bisa kita keluar dari kota ini telanjang karena semuanya sudah dirampas.”

Kembali ke saat ini, Evren dan Xavier melangkah masuk ke dalam kamar yang mereka pesan. Evren memutuskan mengambil satu kamar saja. Selain karena untuk berhemat, juga untuk menjaga Xavier tetap dalam jangkauannya. Ia tidak tahu kapan para pembunuh itu akan muncul lagi. Dengan begini, keselamatan pemuda itu bisa lebih terjamin.

Xavier langsung naik ke ranjang dan berbaring meluruskan punggungnya yang terasa pegal. Lalu mengambil sebuah buku dan tenggelam dalam barisan huruf di dalamnya.

Evren meletakkan barang bawaannya ke atas meja lalu mengeluarkan sesuatu. Ia mendekati Xavier dan mengulurkan benda itu kepadanya. Xavier yang merasakan kehadiran Evren di depannya pun langsung menyingkirkan buku dari wajahnya.

Ia melihat Evren mengulurkan sesuatu ke arahnya, sebelah alisnya terangkat dan wajahnya penuh dengan tanda tanya.

“obati dulu lukamu.”

Xavier meraba telinganya yang terluka akibat panah tadi malam. Darahnya sudah kering dan ia bahkan lupa kalau telinganya terluka. Xavier menerima salep obat tersebut, “terimakasih,” ucapnya.

Kemudian Evren mengeluarkan belati yang sejak tadi masih ia simpan lalu memberikannya kepada Xavier. Sudah saatnya benda itu kembali kepada pemiliknya. Namun Xavier hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus mengobati telinganya.

“Itu tidak berguna di tanganku, jadi pakai saja sesukamu,” ucap Xavier dengan mata yang kembali fokus ke lembaran kertas di tangannya.

“Aku pikir ini berharga untukmu.”

“Awalnya memang berharga, tapi sekarang sudah tidak lagi.”

Evren tidak bertanya lebih jauh lagi dan kembali menyimpannya di dalam bajunya. Ia membuka jendela kamar untuk menghirup udara segar sekaligus melihat keadaan di luar. Desa ini cukup tenang dan makmur. Berbeda dengan kota sebelumnya yang terlihat lebih buruk.

“Kamu tahu?” ucap Xavier tiba-tiba membuat Evren menoleh dan melihat Xavier yang masih fokus dengan bukunya.

“Desa ini namanya Desa Elden dan setiap rumahnya memiliki lahan pertaniannya sendiri meskipun kecil. Jadi setiap keluarga memiliki penghasilan sendiri lalu dikumpulkan seminggu sekali untuk ditukar dengan bahan pokok yang belum mereka miliki,” lanjutnya.

“Darimana kamu tau?”

Xavier mengangkat buku di tangannya lalu menggoyangkannya perlahan.

“Bukankah itu hanya buku cerita?”

“Tidak, tentu saja bukan,” Jawab Xavier sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk di atas ranjang.

“Penulisnya bernama Cyrus, dia seorang petualang yang selalu menuliskan sesuai apa yang dia lihat. Aku beberapa kali mengunjungi lokasi tulisannya di sekitar ibukota dan semuanya benar.”

Evren masih tidak mempercayainya begitu saja. Menurutnya menulis cerita lalu membuatnya menjadi buku sama saja seperti seseorang yang sedang mencari nafkah. Penulisnya pasti memiliki caranya sendiri agar membuat bukunya bisa laris di pasaran.

Tidak terasa hari semakin terang, kini bergantian Evren yang berbaring di atas ranjang. Ia melirik Xavier yang duduk di kursi masih sambil membaca, lalu mengeluarkan belatinya dan meletakkannya di samping bantal. Evren memejamkan matanya dan tidak lama kemudian dengkuran halus terdengar dari mulutnya. Xavier melirik Evren lalu diam-diam mengambil belati yang diletakkan di samping bantal sebelum dia tertidur.

Ia duduk bersandar di jendela sambil melihat ukiran elang yang berlapis emas. Belati itu adalah benda yang dihadiahkan kakaknya sebelum ia berangkat ke pangkalan militer. Sarung belatinya sendiri adalah buatan tangan sang kakak dan diukir sendiri oleh sang kakak. Lalu ayahnya membawa sarung tersebut ke pengrajin untuk dipoles agar terlihat lebih bagus.

Setiap kali melihat belati itu, langsung mengingatkannya pada malam sebelum keberangkatannya ke pangkalan militer. Xavier melihat kakaknya sedang berbicara diam-diam dengan kusir keluarga yang akan mengantarnya ke pangkalan militer ibukota.

“aku sudah menyiapkan semuanya, kamu hanya perlu pergi mengikuti rute ini saja,” Ucap sang kakak kepada sang kusir. Kakaknya bahkan memberikan sekantong uang untuk kusir tersebut.

Setelah kakaknya pergi, kusir tersebut menyelipkan sebuah kertas pemberian sang kakak ke bawah tempat duduk kusir.

Setelah sang kusir pergi, Xavier mendekat ke kereta kuda lalu ia mengambil kertas tersebut. Xavier membukanya dan melihat bahwa rute peta itu menuju ke perbatasan di utara bukan menuju ke pangkalan militer ibukota.

Tangannya gemetar dan matanya mulai memerah. Ia memandang kembali belati pemberian sang kakak yang masih berada di genggaman tangannya, lalu matanya menatap lagi ke arah peta yang baru saja ditemukannya. Hatinya terasa dingin, mengalahkan suhu dingin malam itu.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!