"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Seminggu di Bali, Clara rasanya seperti hidup kembali. Pantai berpasir putih tepat di depan teras vila yang mereka sewa menjadi saksi bagaimana Clara mencoba mengubur semua kepahitannya di Jakarta.
Pagi itu, sinar matahari Bali terasa menyengat namun menyegarkan. Clara berbaring di atas sunbed kayu dekat kolam renang vila, membiarkan kulit mulusnya tersiram cahaya matahari. Dia hanya mengenakan bikini two-piece berwarna merah maroon—pilihan Anya yang awalnya sempat diprotes keras oleh Clara.
"Gitu dong, Clar! Senyum!" seru Anya sambil meminum jus kelapanya dari ujung kolam. "Ngapain mikirin dua cowok brengsek itu? Mending kita nikmatin duit tabungan!"
Clara terkekeh pelan, menyesuaikan posisi kacamata hitamnya. "Gue cuma heran, kenapa dari kemarin perasaan gue nggak enak ya, Nya? Kaya ada yang merhatiin."
"Perasaan lu aja kali! Secara lu cantik banget pakai bikini gitu, ya jelas bule-bule yang lewat di pantai pada ngelirik," goda Anya sambil tertawa.
Clara tidak tahu, hanya berjarak satu dinding tanaman bambu di vila sebelah, sepasang mata pekat sedang mengawasinya tanpa berkedip.
Elzio sengaja menyewa vila bernomor 08—tepat di samping vila 07 milik Clara. Dari balkon lantai dua vilanya, Elzio berdiri memegang teropong kecil, menggenggam pembatas besi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam meneliti setiap inci tubuh Clara yang terekspos terbuka. Kulit putih mulus seputih susu itu, lekuk tubuhnya yang menggiurkan, dan bagaimana kain minim itu hampir tidak menutupi apa-apa.
Darah Elzio mendidih. Rahangnya mengeras berat. Rasanya dia ingin melompati pagar bambu itu detik ini juga, melemparkan kain lebar untuk menutupi tubuh Clara, dan membawa wanita itu masuk ke kamar.
"Pak," suara Arka, asisten pribadinya, terdengar ragu saat melangkah mendekat di lantai dua vila rental mereka. "Laporan dari Jakarta sudah keluar. Ibu Clara resmi mengundurkan diri minggu lalu setelah mendapati mantan tunangannya, Ardan, berselingkuh dengan adik tirinya di ruang kerja."
Elzio tidak mengalihkan pandangannya dari Clara. "Pria berengsek itu berani menyakitinya?"
"Sudah saya atur, Pak," jawab Arka lugas. "Semua proyek investasi Mahendra Group dengan perusahaan Ardan resmi dibatalkan hari ini. Perusahaannya terancam bangkrut dalam hitungan minggu."
Elzio menyunggingkan senyum dingin. "Bagus. Buat dia mengemis di jalanan."
Tapi emosinya kembali membakar saat melihat Clara berdiri di samping kolam dan meliukkan tubuhnya untuk merapikan handuk. Hasrat dan kemarahan bercampur menjadi satu di dadanya.
"Bisa-bisanya dia memakai pakaian setipis itu di luar..." gumam Elzio penuh kekesalan.
"Bapak mau saya menyewa seluruh area pantai di depan vila ini agar steril?" tawar Arka tenang.
"Tidak usah," ketus Elzio. "Jika aku bertindak serampangan sekarang, dia akan semakin takut. Tahan diri kamu, Elzio..." bisik Elzio pada dirinya sendiri, meremas kuat jam tangan antik milik Clara yang ada di dalam kantong celananya.
...****************...
Malam harinya, riak gelombang pantai berpadu dengan dentuman musik house yang menggema di sebuah beach club populer. Lampu-lampu neon remang-remang menyoroti puluhan pengunjung yang menari di area terbuka.
Anya dan Clara duduk di salah satu area VIP sofa. Di sekeliling mereka, tiga pria muda lokal dan seorang pria bule berambut pirang sibuk melempar senyuman dan membawakan minuman.
"Clar, udah ya! Jangan banyak-banyak!" Anya menahan tangan Clara yang hendak mengandaskan gelas cocktail ketiganya. "Lu ingat kan kejadian di Jakarta? Lu nggak bisa minum alkohol, Clara!"
"Gue mau lupa, Anya!" seru Clara setengah berteriak menembus dentuman musik. Pipi dan lehernya sudah merona merah. Matanya yang biasanya tajam kini berubah sayu dan bergerak liar. "Gue mau lupain Ardan! Gue mau lupain si CEO gila itu! Biarin gue minum!"
Pria bule di samping Clara tersenyum tipis, melihat kesempatan. Dia merangkul bahu telanjang Clara dan berbisik manis di telinganya. "You're so pretty, sweetheart. Want another drink?"
"Yes! Give me more!" tawa Clara meledak. Suaranya terdengar begitu manja dan tidak terkontrol—persis seperti malam jahanam itu.
Pria bule itu makin mendekat. Wajahnya mengikis jarak, bermaksud mendaratkan ciuman di bibir merah Clara yang meracau. Clara yang sudah mabuk berat hanya tersenyum pasrah, memejamkan mata.
Namun sebelum bibir pria itu menyentuh Clara—
BUK!
Sebuah cengkeraman berurat besi menghantam rahang pria bule itu hingga dia tersungkur jatuh ke atas sofa.
"Get your filthy hands off her!" suara bariton yang amat dingin dan pekat menggelegar di atas dentuman musik.
Anya menjerit kaget, berdiri seketika. "E-Elzio Mahendra?!"
Di belakang Elzio, Arka berdiri sigap. Arka langsung memegang lengan Anya dengan lembut tapi tegas sebelum Anya sempat bereaksi. "Ikut saya, Miss Anya. Biarkan Boss menyelesaikan urusannya."
"Tapi Clara—"
"Dia aman bersama Pak Elzio. Mari," potong Arka menyela, memandu Anya keluar dari area club yang mendadak tegang.
Sementara itu, Elzio tidak membuang waktu. Sebelum pria bule itu sempat berdiri menantangnya, Elzio menyambar tubuh Clara. Tanpa ampun, dia mengangkat Clara dan menggendongnya di atas pundak kanan—seperti membawa karung beras.
"Lepas! Siapa lu?! Lepasin gue!" jerit Clara heboh. Kepalanya yang pusing bergantung terbalik di belakang punggung Elzio.
Elzio berjalan dengan langkah lebar dan tegap keluar dari beach club, tidak peduli dengan tatapan puluhan pasang mata pengunjung.
"Lepas, bangsat! Lepas!" Clara mulai memberontak hebat. Tangannya memukul-mukul punggung tegap Elzio dengan kasar. "Anya! Anya tolongin gue! Anyaaa!"
"Tutup mulutmu, Clara," geram Elzio rendah. Hawa dingin terpancar dari tubuhnya.
"Nggak mau! Lu siapa berani-beraninya ngangkut gue?!" Clara yang mabuk berat tidak mengenali wajah pria itu karena posisi terbalik, tapi dia bisa merasakan aroma parfum woody-leather yang sangat familiar.
Karena kesal gigihnya tidak digubris, Clara memajukan wajahnya dan BLES!
Gigi-gigi tajam Clara menggigit cuping telinga kanan Elzio dengan sangat keras.
"Ssshh! Damn it, Clara!" Elzio meringis, menghentikan langkahnya di koridor jalan setapak yang sepi menuju area parkir VIP.
Darahnya benar-benar mendidih. Kesabarannya melayang jatuh ke titik nol.
PLAK!
Elzio melepaskan satu tamparan keras dan mantap di pantat padat Clara yang hanya terbalut gaun tipis.
"Aww!" Clara menjerit kaget. "Sakit, bodoh!"
"Itu hukuman karena kamu menggigit saya!" tegur Elzio galak.
PLAK!
Satu tepukan mendarat lagi di tempat yang sama, meski kali ini lebih pelan.
"Dan itu karena kamu hampir membiarkan pria asing mencium bibir kamu!" lanjut Elzio tegas.
"Gue benci lu! Turunin gue!" jerit Clara lagi. Tapi kali ini, suaranya berubah menjadi nada rengekan anak kecil. Air mata tiba-tiba menetes dari matanya yang sayu. "Sakit... hobi banget kasar sama gue... jahat..."
Elzio menghela napas panjang. Marahnya mendadak menguap berganti rasa gemas dan protektif yang luar biasa saat mendengar rengekan itu.
Dia akhirnya menurunkan Clara di samping mobil SUV-nya, menyandarkan tubuh wanita itu ke pintu mobil agar tidak jatuh.
"Bisa berdiri yang benar?" tanya Elzio dengan nada menahan gemas.
Clara mendongak dengan mata basah dan pipi merah padam. Saat penglihatannya yang kabur akhirnya berhasil memfokuskan sosok di depannya, napas Clara tertahan.
"Lu..." gumam Clara pelan. Ketakutan dan kenangan malam itu mendadak terlintas singkat di kepalanya, bercampur dengan efek alkohol yang berat. "Si... si CEO gila..."
"Nama saya Elzio, Clara. Bukan CEO gila," koreksi Elzio dengan suara rendah.
"Kenapa lu selalu ada di mana-mana?!" seru Clara terengah-engah, dadanya naik turun. Tangannya yang gemetar mencoba mendorong dada tegap Elzio. "Pergi! Gue takut sama lu! Kenapa lu harus muncul lagi?!"
"Karena kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri!" potong Elzio, suaranya membesar namun sarat akan kekhawatiran. "Kamu pikir saya suka melihat kamu memakai baju minim di tepi pantai sepanjang hari? Kamu pikir saya suka melihat pria lain hampir menyentuh bibir kamu di dalam sana?!"
Clara tertegun, matanya yang basah mengedip polos. "Lu... lu ngeliatin gue dari tadi pagi?"
Elzio tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dia menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Saya tidak cuma memperhatikan kamu dari tadi pagi, Clara. Saya tinggal persis di sebelah vila kamu. Tetangga sebelah kamu."
Mata Clara melebar sempurna. "Lu... lu gila! Lu bener-bener stalker gila!"
"Terserah kamu mau menyebut saya apa," bisik Elzio.
Elzio menangkup kedua pipi hangat Clara dengan kedua telapak tangannya yang besar, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dia menatap lurus ke dalam iris mata Clara yang berair.
"Gue mau pulang... lepas..." bisik Clara pasrah, suaranya mengecil menjadi gumaman manja karena pusing yang makin melanda.
"Tidak ada yang boleh menyakiti kamu lagi, Clara. Termasuk mantan tunangan bodohmu itu," bisik Elzio rendah, suaranya sarat akan kelembutan yang memabukkan. "Dan kamu tidak bisa lari lagi ke mana pun dari saya."