Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Keesokan paginya. Pukul 06.00.
Lusi terbangun oleh suara ketukan di pintu kostnya.
Tok tok tok.
"Lus? Ini gue. Gue udah di sini. Bawain sarapan. Nasi uduk kesukaan lo. Sama susu kedelai anget. Gue tungguin ya di depan."
Suara Irawan. Ceria. Padahal matahari belum sepenuhnya terbit. Padahal Lusi belum membuka pintu. Padahal ia mungkin sudah menunggu di sana sejak subuh.
Lusi bangkit dari kasur. Membuka pintu. Dan di sana, di depan pintu kamarnya, Irawan berdiri dengan dua bungkus nasi uduk di tangannya. Matanya berbinar. Senyum lebarnya, lesung pipi itu muncul dengan cerah.
"Pagi, Lus! Lo cantik banget hari ini!"
Ini baru jam enam pagi, Wan, batin Lusi. Dan lo udah kayak orang menang lotre cuma gara-gara lihat muka gue.
Tapi yang ia katakan hanyalah: "Masuk."
Dan Irawan masuk, dengan patuh.
Siang harinya. Kampus.
Pemandangan di kampus semakin aneh.
Hari ini, bukan cuma Irawan yang mengekor Lusi. Tapi juga Dimas.
Dimas tidak sedekat Irawan. Ia menjaga jarak sekitar lima meter di belakang. Tapi ia tetap mengikuti. Matanya menatap Lusi dengan campuran kebingungan dan kerinduan yang tidak bisa ia jelaskan.
Irawan melirik ke belakang. "Dimas ngikutin kita."
"Biarin."
"Gue usir?"
"Biarin aja."
"Tapi dia ganggu. Dia ngeliatin lo terus."
"Wan." Lusi menghentikan langkahnya, menoleh. "Aku yang tentuin siapa yang ganggu dan siapa yang nggak. Bukan kamu."
Irawan langsung menunduk. "Iya, Lus. Maaf."
Dan mereka melanjutkan perjalanan. Irawan di samping kiri. Dimas di belakang, lima meter. Seperti sebuah prosesi aneh yang tidak pernah terjadi sebelumnya di kampus itu.
Mahasiswa lain memperhatikan dengan bisik-bisik. Ada yang mengambil video diam-diam. Ada yang langsung meneruskannya ke grup WhatsApp. Gosip mulai menyebar dengan cepat: dua anggota geng paling populer di kampus sudah berubah jadi pengikut setia seorang gadis yang dulu mereka hina.
Pendopo rumah Ki Sarowang. Sore hari.
Bi Tun sudah selesai mengepak barang bawaannya. Satu tas kain berisi baju ganti, makanan kecil buat Lusi, dan sebuah kotak kayu kecil yang diserahkan Ki Sarowang padanya tadi pagi.
"Ini buat Lusi," kata Ki Sarowang saat menyerahkan kotak itu. "Jangan dibuka. Langsung kasih ke dia."
"Siap, Ki."
"Sama satu lagi." Ki Sarowang menatap Bi Tun dengan serius. "Cari tahu soal anak yang bernama Bayu. Di mana dia. Apa yang dia bawa. Dan siapa yang ngasih dia keris itu."
"Kalau udah ketemu, Lusi harus ngapain, Ki?"
Ki Sarowang menghela napas. "Ambil kerisnya. Gimana pun caranya. Selama keris itu masih di tangannya, ikatan Semar Mesem nggak bakal sempurna."
"Dan kalau dia nggak mau nyerahin, Ki?"
Lelaki tua itu menatap langit senja. Matanya yang keemasan berkilat. "Kalau dia nggak mau... bilang ke dia satu nama."
"Nama siapa?"
"Ki Suryo Prawangsa."
Bi Tun mengerutkan dahinya. "Ki Suryo? Dalang wayang itu? Yang manggung di Alun-Alun Utara?"
"Ya. Dia... muridku. Dulu." Ki Sarowang menunduk, ada penyesalan di matanya. "Dan keris yang dipegang anak itu... adalah keris yang dulu kuberikan padanya. Sebelum dia... pergi."
Bi Tun tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah cukup lama tinggal dengan Ki Sarowang untuk tahu bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak diungkit. Ia hanya mengangguk, meraih tasnya, dan berjalan menuju gerbang.
"Oh iya, Lastri."
"Ya, Ki?"
"Sampaikan ke Lusi... Mbah bangga padanya. Apapun yang terjadi, apapun yang orang lain katakan... Mbah bangga."
Bi Tun tersenyum. "Pasti, Ki."
Dan ia melangkah keluar gerbang, menuju terminal, naik bus jurusan Surabaya, membawa kotak kayu yang isinya hanya Ki Sarowang yang tahu.
Malam harinya. Kamar kost Lusi. Pukul 21.00.
Lusi duduk di depan meja. Tiga foto masih tergeletak di sana. Ia menatap foto Bayu satu-satunya foto yang bayangan hitamnya masih samar.
"Apa yang ngelindungin lo, Bayu?" bisiknya pada foto itu. "Dan kenapa lo kayak... udah siap dari awal?"
Ia teringat sesuatu. Sebuah percakapan lama, di perpustakaan, beberapa minggu sebelum malam di hotel.
Kilas balik. Perpustakaan Universitas Adiloka.
"Lo udah lama ya sama Irawan?"
"Udah... hampir tiga bulan, Kak."
"Lo sayang sama dia?"
"Aku... aku sayang, Kak. Kenapa?"
Bayu tersenyum. "Nggak papa. Cuma nanya. Eh, Lus... kakek lo dalang ya?"
Lusi mengerutkan dahinya. "Bukan. Kenapa, Kak?"
"Oh, bukan? Kirain dalang. Soalnya nama lo Arimbi. Itu kan nama wayang. Istri Bima." Bayu menatapnya dengan tatapan yang sekarang Lusi sadari bukan sekadar mengamati. Tapi menyelidiki. "Terus, kakek lo kerja apa?"
"Kakekku... udah lama ninggal, Kak."
"Oh... maaf."
Tapi tatapan Bayu tidak berubah. Tetap tajam. Tetap menyelidiki. Dan sekarang Lusi tahu kenapa.
Kembali ke masa sekarang.
"Dia udah curiga dari dulu," bisik Lusi. "Dia udah nyium sesuatu dari dulu."
Tapi apa hubungannya dengan keris pusaka? Apa hubungannya dengan Ki Suryo? Dan kenapa Bayu bisa lolos dari ikatan Semar Mesem sementara yang lain tidak?
Liontin di lehernya bergetar lagi. Hangat.
Besok, Bi Tun datang. Dia bawa sesuatu dari Mbah Buyut. Mungkin jawabannya ada di sana.
Lusi mematikan lampu. Berbaring di kasur. Menatap langit-langit yang retak.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Irawan.
"Lus, gue udah di rumah. Tadi Dimas nelpon gue. Dia nangis. Katanya dia kangen sama lo. Gue marahin dia. Itu pacar gue, bukan pacar lo. Tapi dia tetep nangis. Kenapa sih, Lus? Kenapa temen-temen gue jadi aneh semua? Kenapa lo jadi... beda? Tapi gue nggak peduli. Yang penting lo masih di sini. Masih sama gue. Iya kan? Lo masih sama gue kan? Lus? Lus? Maaf, kebanyakan nanya. Selamat tidur. Mimpiin gue ya."
Lusi membaca pesan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu ia meletakkan ponselnya, memejamkan mata, dan mencoba tidur.
Tapi kekosongan itu masih ada.
Selalu ada.
Kost Lusi. Pukul 06.30. Pagi berikutnya.
Tok tok tok.
"Lus? Ini gue. Bawain bubur ayam. Sama susu kedelai anget. Udah bangun?"
Suara Irawan di balik pintu. Persis seperti kemarin. Setiap pagi, tanpa gagal, ia sudah berdiri di depan pintu kost Lusi sebelum matahari sepenuhnya terbit. Membawa sarapan. Menunggu dengan sabar. Seperti rutinitas yang sudah terprogram di dalam otaknya.
Lusi membuka mata. Menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Ia tidak langsung bangkit. Ia hanya berbaring di sana, mendengarkan suara Irawan yang terus berbicara dari balik pintu.
"Lus? Udah bangun kan? Kok lampunya masih mati? Oh, mungkin masih tidur. Gue tungguin aja deh di sini. Jangan buru-buru. Tidur lagi aja kalo masih ngantuk. Gue tungguin. Mau sejam, dua jam, nggak apa-apa. Yang penting lo cukup istirahat. Kemarin lo keliatan capek banget. Gue khawatir..."
Dia masih ngomong, batin Lusi. Dia selalu ngomong. Padahal nggak ada yang nyautin.
Ia bangkit, berjalan ke pintu, membukanya.
Wajah Irawan langsung berseri. "Lus! Pagi! Cantik banget pagi ini. Rambut lo agak acak-acakan, lucu. Ini bubur ayam. Masih anget. Susu kedelainya juga masih anget. Gue beli di langganan lo yang di depan gang. Yang jualnya ibu-ibu pake kerudung ijo itu kan? Gue udah hafal sekarang. Dia samaa kenal gue. Tadi dia nanya, 'Buat pacarnya ya, Mas?' Terus gue iyain. Gue bangga banget."
Lusi mengambil bubur dan susu kedelai itu tanpa berkata apa-apa. "Makasih."
"Masukin aja dulu. Nanti dimakan. Gue tunggu di sini. Atau... boleh gue masuk?"
Lusi menatapnya. Irawan langsung menunduk.
"Maaf. Nggak sopan. Pacar juga nggak boleh sembarangan masuk kamar cewek. Gue tunggu di luar aja. Di teras. Sana, sarapan dulu. Pelan-pelan. Nanti tersedak."
Lusi menutup pintu.
Dari balik pintu, suara Irawan masih terdengar tapi sekarang ia berbicara pada diri sendiri. "Buburnya jangan lupa dikasih kecap. Kecapnya udah gue pisahin di plastik kecil. Terus kerupuknya juga ada. Jangan kebanyakan mikir, Lus. Lo kurusan. Makan yang banyak. Tapi jangan terlalu banyak juga, nanti sakit perut..."
Lusi duduk di tepi kasur, menatap bubur ayam di tangannya. Masih hangat. Wangi. Dibuat dengan penuh perhatian.
Beberapa bulan lalu, ia akan menangis bahagia diperlakukan seperti ini. Beberapa bulan lalu, ia akan berpikir bahwa ia adalah perempuan paling beruntung di dunia.
Sekarang? Ia tidak merasakan apa-apa.
Kekosongan ini... apa nggak akan pernah hilang?
Kampus Universitas Adiloka. Pukul 10.00.
Hari ini ada acara di kampus. Bukan acara resmi cuma semacam bazar makanan dan pertunjukan musik yang diadakan oleh BEM. Lapangan basket berubah jadi lautan tenda. Panggung kecil didirikan di ujung lapangan, dengan sound system yang kualitasnya pas-pasan tapi volumenya maksimal.
Mahasiswa berkumpul di mana-mana. Ada yang jajan, ada yang nonton pertunjukan, ada yang sekadar nongkrong sambil main ponsel. Suasananya ramai, riuh, penuh tawa.
Dan di tengah keramaian itu, Lusi berjalan dengan dua pengikut di belakangnya.
Irawan di kiri. Dimas di belakang, menjaga jarak lima meter seperti biasanya. Dua laki-laki yang dulu adalah raja di kampus ini. Dua laki-laki yang dulu menentukan siapa yang keren dan siapa yang cupu. Sekarang, mereka hanyalah bayang-bayang.
"Eh, lihat deh. Itu Irawan sama Dimas?"
"Kok ngikutin Lusi terus sih? Kayak anak ayam."
"Mereka berdua kenapa? Kena pelet semua?"
"Katanya sih iya. Sama Lusi."
"Lusi? Yang di video itu? Nggak mungkin. Mana dia bisa."
"Makanya, jangan nilai orang dari luarnya doang."
Bisikan-bisikan itu tidak lagi mengganggu Lusi. Justru, hari ini ia punya rencana.
Ia berhenti di depan panggung. Menatap Irawan. "Wan."
"Iya, Lus?"
"Kamu sayang sama aku?"
Wajah Irawan langsung berubah. Serius. Khidmat. Seperti sedang menjawab pertanyaan tersulit dalam ujian hidupnya. "Sayang banget, Lus. Lebih dari apa pun. Lebih dari siapa pun. Lo adalah matahari dalam hidup gue. Lo adalah oksigen yang gue hirup. Lo adalah…"
"Cukup." Lusi mengangkat tangannya. "Kalau gitu, aku mau minta sesuatu."
"Apa aja. Apa pun. Lo mau bintang di langit? Gue cariin. Lo mau bulan? Gue ambilin. Lo mau…"
"Aku mau kamu naik ke panggung itu."
Irawan menoleh ke panggung. "Terus?"
"Terus... teriak. 'Aku sayang Lusi Arimbi. Aku cinta mati sama Lusi Arimbi. Tanpa Lusi, aku bukan apa-apa.'"
Keheningan. Satu detik. Dua detik.
Ekspresi Irawan berubah. Ada keraguan di matanya. Ada sisa-sisa kesadaran yang masih bertahan kesadaran bahwa ini akan mempermalukan dirinya di depan seluruh kampus. Irawan yang dulu tidak akan pernah melakukan ini. Irawan yang dulu adalah laki-laki paling gengsi se-Universitas Adiloka.
Tapi Irawan yang sekarang...
"Oke, Lus. Gue lakuin."
Ia naik ke panggung. Mengambil mikrofon dari tangan penyanyi yang baru selesai tampil. Semua mata tertuju padanya.
"Aku Irawan!" suaranya menggelegar dari speaker. "Aku mau ngomong sesuatu!"
Kerumunan mulai memperhatikan. Beberapa orang berbisik, "Ini apaan? Acara dadakan?"
Irawan menatap Lusi yang berdiri di depan panggung. Mata mereka bertemu. Dan Irawan tersenyum lesung pipinya muncul sebelum berteriak sekencang-kencangnya.
"AKU SAYANG LUSI ARIMBI! AKU CINTA MATI SAMA LUSI ARIMBI! TANPA LUSI, AKU BUKAN APA-APA!"
Suaranya menggema di seluruh lapangan. Semua orang terdiam. Lalu, satu per satu, tawa mulai bermunculan.
"WKWKWK APAAN NIH?!"
"IRAWAN GILA YA?!"
"LO SADAR NGGAK WAN?! LO LAGI DIPELETIN!"
Tapi Irawan tidak peduli. Ia terus berteriak. "LUSI ADALAH SEGALANYA BUAT AKU! AKU RELA MATI BUAT DIA! AKU RELA NGELAKUIN APA PUN BUAT DIA! LUSI! AKU SAYANG KAMU!"
Di depan panggung, Lusi berdiri. Menatap. Tanpa ekspresi.
Rasakan, Wan. Rasakan dipermalukan di depan umum. Rasakan ditertawakan. Rasakan jadi bahan lelucon.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥