Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 11
Ponsel di tangan Adrian perlahan diturunkan.
Ruangan yang semula sunyi kini terasa semakin berat.
"'Phoenix telah menemukan Pewaris.'"
Kalimat itu terus terngiang di benaknya.
Adrian memejamkan mata selama beberapa detik, seolah sedang memastikan sesuatu yang selama ini hanya menjadi dugaan.
Lalu ia membuka mata dan menatap Raka.
"Naikkan status perlindungan."
Raka mengangguk tanpa bertanya.
"Level berapa, Pak?"
"Delta."
Raka sedikit terkejut.
Selama bertahun-tahun bekerja bersama Adrian, ia hanya pernah mendengar Protokol Delta disebutkan dua kali.
Dan kedua kejadian itu berakhir dengan operasi besar-besaran.
"Baik, Pak."
"Mulai saat ini, tidak boleh ada celah."
"Satu langkah saja mereka mendekat..."
"Unit Bayangan harus sudah berada di depan."
"Dimengerti."
Disisi lain... Arunika memutuskan untuk kembali ke penginapan, sesampainya di sana suasana Penginapan terasa begitu sunyi, setelah keributan yang melibatkan ayah kandung Arunika dan ibu tirinya mereda.
Beberapa tamu yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mulai kembali ke kamar masing-masing.
Pemilik penginapan mengembuskan napas lega.
Arunika masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya kosong.
Meski berusaha terlihat tegar, kedua tangannya masih sedikit gemetar.
Perkataan ayahnya beberapa menit yang lalu masih terus terngiang di kepalanya.
"Kau bukan lagi anakku."
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun.
Bukan karena ia masih berharap mendapatkan kasih sayang.
Melainkan karena akhirnya ia benar-benar sadar...
Ia telah kehilangan keluarga itu sejak lama.
Bukan hari ini.
Bukan kemarin.
Tetapi sejak ayahnya memilih orang lain dibandingkan darah dagingnya sendiri.
Arunika mengusap sudut matanya sebelum menarik napas panjang.
"Aku baik-baik saja..."
Ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
Namun suara itu terdengar begitu rapuh.
Arunika mengusap sudut matanya sebelum menarik napas panjang.
"Aku baik-baik saja..."
Ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
Namun suara itu terdengar begitu rapuh.
Keheningan kembali menyelimuti lobi penginapan.
Hanya suara kipas angin tua yang berputar perlahan serta denting jam dinding yang terdengar samar.
Pemilik penginapan, seorang pria paruh baya yang sejak tadi memperhatikan dari balik meja resepsionis, melangkah mendekat dengan hati-hati.
"Nak..."
Arunika segera mengusap sisa air mata di wajahnya dan memaksakan sebuah senyum kecil.
"Maaf sudah membuat keributan."
Pria itu menggeleng pelan.
"Kamu tidak perlu minta maaf."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Terkadang, orang tua juga bisa membuat kesalahan yang sangat besar."
Arunika hanya tersenyum tipis.
Ia tidak ingin membahasnya lagi.
Baginya, setiap kalimat tentang keluarganya hanya akan membuka luka yang belum sempat mengering.
"Terima kasih, Pak."
Pria itu mengangguk pelan.
"Kalau butuh apa pun, bilang saja."
Arunika kembali mengangguk sebelum berjalan ke kamar di belakang.
Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat. Sesampainya di depan kamar, ia merogoh saku jaketnya untuk mengambil kunci.
Tangannya sedikit gemetar hingga kunci itu hampir terjatuh.
Klik.
Pintu terbuka perlahan, Ruangan kecil itu masih sama seperti saat ia meninggalkannya beberapa jam lalu.
Ranjang sederhana.
Meja kayu kecil.
Jendela yang menghadap ke jalan utama.
Serta koper tua yang masih terletak rapi di sudut ruangan.
Arunika menutup pintu lalu menyandarkan punggungnya di sana. Begitu tidak ada seorang pun yang melihatnya lagi...Seluruh kekuatan yang sejak tadi ia pertahankan seakan menghilang.
Tubuhnya perlahan meluncur hingga terduduk di lantai, Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisnya tidak keras.
Justru begitu pelan.
Namun itulah yang membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan, Ia menangis bukan karena dimarahi. Bukan pula karena diusir.
Melainkan karena hatinya akhirnya menerima kenyataan yang selama ini terus ia sangkal.
Ayahnya benar-benar telah memilih untuk melepaskannya, Selama bertahun-tahun, Arunika selalu mencoba mencari alasan.
Mungkin ayahnya sedang sibuk.
Mungkin ayahnya sedang tertekan.
Mungkin suatu hari nanti semuanya akan kembali seperti dulu.
Namun hari ini...Semua harapan itu hancur.
Tidak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk menghibur dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ia mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya memerah, Napasnya masih belum teratur. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang berada di atas meja.
"Wajahmu benar-benar menyedihkan."
Ia tersenyum kecil kepada dirinya sendiri.
Senyuman yang dipenuhi kepahitan.
"Aku tidak boleh terus seperti ini."
Perlahan ia berdiri, Ia berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Air itu sedikit membantu menenangkan pikirannya.
Setelah mengeringkan wajah menggunakan handuk, Arunika membuka koper miliknya.
Di dalamnya hanya terdapat beberapa potong pakaian, sebuah buku catatan, dan sebuah kotak kayu kecil yang sudah mulai usang.
Kotak itu selalu ia bawa ke mana pun.
Peninggalan terakhir dari ibunya.
Dengan hati-hati ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung sederhana berbentuk burung phoenix yang terbuat dari perak.
Permukaannya sudah sedikit kusam dimakan usia.
Arunika mengambil kalung itu lalu menggenggamnya erat.
"Ibu..."
Suara lirih itu memenuhi ruangan.
"Kalau Ibu masih ada...Apa semuanya akan berbeda?"
Tidak ada jawaban.
Hanya kesunyian yang menemaninya.
Ia mengusap liontin itu dengan ibu jarinya.
Entah mengapa, setiap kali memegang benda itu, hatinya selalu terasa sedikit lebih tenang.
Seolah masih ada seseorang yang memeluknya dari kejauhan.
Sementara itu...Beberapa ratus meter dari penginapan, Sebuah mobil SUV hitam berhenti di sisi jalan.
Mesinnya tetap menyala.
Di dalam mobil, dua pria berpakaian hitam memperhatikan layar tablet.
Salah seorang dari mereka berbicara melalui alat komunikasi.
"Target telah kembali ke penginapan."
Suara dari seberang segera menjawab.
"Pertahankan jarak."
"Jangan lakukan kontak."
"Prioritas hanya pengawasan."
"Dimengerti."
Percakapan singkat itu berakhir.
Namun beberapa detik kemudian...Tablet yang mereka pegang tiba-tiba menampilkan sebuah notifikasi baru.
《Protokol Delta Aktif》
Kedua pria itu saling berpandangan.
Salah satunya langsung duduk lebih tegak.
"Delta?"
"Siapa yang mengeluarkan perintah?"
Belum sempat mereka menyelesaikan pertanyaan itu, layar kembali berubah.
《Seluruh Unit Bayangan memasuki status siaga penuh.》
《Prioritas Utama: Perlindungan nona Arunika.》
Mata kedua pria itu langsung membesar, Salah seorang segera mengambil radio.
"Tim Tiga menerima aktivasi Delta."
"Kami meminta konfirmasi."
Beberapa detik berlalu, Lalu terdengar suara dingin yang sangat mereka kenal.
"Konfirmasi diterima."
"Perintah langsung dari Direktur Adrian."
"Mulai saat ini, seluruh ancaman dikategorikan sebagai prioritas tinggi."
"Jika ada pihak yang mencoba mendekati nona Arunika tanpa izin...Intersepsi segera."
"Jangan beri kesempatan."
"Dimengerti."
Radio kembali sunyi.
Kedua pria itu saling menatap, Mereka tahu arti perintah tersebut. Tidak pernah ada aktivasi Protokol Delta tanpa alasan yang sangat besar.
Artinya...
orang yang mereka lindungi sekarang bukan sanggat penting.
Dan mulai malam ini...Bukan hanya satu organisasi yang bergerak.
Di berbagai sudut kota, kendaraan-kendaraan tanpa tanda pengenal mulai keluar dari garasi rahasia.
Beberapa orang berpakaian sipil menerima pesan yang sama melalui perangkat terenkripsi mereka.
《Unit Bayangan aktif.》
《Lindungi nona Arunika dengan segala cara.》
Di sisi lain kota...Tanpa diketahui siapa pun...
Sepasang mata sedang mengamati penginapan Arunika dari atap sebuah gedung tua.
Pria bertubuh tinggi itu menurunkan teropongnya perlahan.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Jadi... mereka akhirnya bergerak."