“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: godaan demi godaan terhempas
Pagi yang masih terasa hangat itu seolah mengajak menyempurnakan apa yang sempat terhenti.
"Sayang... aku mau lagi, boleh?" bisiknya lembut, jemari besarnya mengusap perlahan di dadaku yang membuatku menahan napas sejenak.
"Ahh... sayang... tapi janji ya, jangan se...seperti semalam yang liar itu," pintaku terbata-bata, wajah memerah padam.
Kevin tersenyum manis sambil mengangguk mantap, mencium keningku penuh kasih. "Aku janji. Kali ini pelan, penuh rasa, dan kita nikmati bersama selamanya."
Gerakannya kini jauh lebih lembut, penuh kehati-hatian, seolah ingin membuktikan bahwa setiap inci diriku begitu berharga dan ia
menjaganya dengan sepenuh hati.
Aku menepuk pelan dadanya, menghentikan usapan tangannya. "Sudah dulu sayang, kamu harus ke kantor. Kan ada rapat penting hari ini. Coba mandi terus siap-siap sana, aku sudah buatkan sarapan—roti dibalut telur dan keju kesukaanmu, makan dulu ya sebelum berangkat."
Kevin tersenyum manis, mengecup puncak kepalaku sekilas. "Siap, sayang. Kamu di sini tenang-tenang saja ya, jaga diri baik-baik. Nanti pas aku pulang, kita selesaikan semuanya pelan-pelan lagi."
Ia bangun perlahan, merapikan selimut di tubuhku, lalu melangkah ke kamar mandi sambil terus menoleh ke arahku dengan senyum yang tak pernah pudar.
Pintu kamar baru saja tertutup di belakang punggungnya, dan aku langsung mengerang pelan sambil merenggangkan tubuh. "Ya ampun... sakit sekali rasanya di sekujur badan. Kevin itu kalau sudah mulai, benar-benar tak kenal kata berhenti..."
Aku melangkah pelan menuju kamar mandi, lalu merendam tubuh dalam air hangat yang telah kucampur sabun mawar wangi. Sensasinya perlahan merelaksasi otot-otot yang tegang, meski perih khas pengalaman pertama itu masih terasa nyata.
Sambil mengusap lembut kulitku, tersenyum kecil tak percaya: Ternyata begini rasanya... di awal memang terasa sakit dan asing, tapi kenangan hangatnya membuat hati justru makin berbunga-bunga.
Di ruang rapat yang biasanya penuh tekanan dan ketegangan, suasana hari ini terasa sangat berbeda. Kevin duduk di kursi kepemimpinannya, namun matanya sering menerawang kosong ke luar jendela—bibirnya tanpa sadar terukir senyum tipis yang tak pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
Para direktur dan manajer yang hadir saling berpandangan heran. Biasanya sosok ini akan tajam, menohok, dan tak memberi ruang bagi kesalahan sekecil apa pun. Namun pagi ini? Ia sesekali mengangguk tanda setuju tanpa banyak komentar pedas, dan tak jarang tertawa kecil sendiri seolah mengingat sesuatu yang manis.
"Maaf... tuan Kevin? Bagaimana menurut Bapak untuk rancangan anggarannya?" tanya salah satu manajer ragu-ragu.
Kevin tersentak, tersenyum sedikit malu namun tetap hangat. "Oh... bagus. Dijalankan saja. Semuanya sudah tepat."
Di dalam hatinya, bayangan wajah merona Alya, suara renyahnya, dan segala kelembutan semalam terus berputar tanpa henti. Cinta ternyata mampu mengubah sosok yang setegar batu karang menjadi selembut kapas—bahkan di tengah kesibukan yang paling berat sekalipun.
Kevin menutup berkas di hadapannya dengan senyum lebar yang tulus. "Baik, rapat hari ini cukup sampai di sini. Kita lanjutkan besok. Semua rancangan sudah sangat baik, persiapan pembangunan sudah tuntas. Kerja keras kalian hargai—besok kalian semua akan menerima bonus tambahan."
Suasana ruangan langsung riuh dengan sorak gembira dan ucapan terima kasih. Para staf pun tak lagi ragu—perubahan sikap pemimpin mereka begitu nyata, seolah ada cahaya baru yang menghidupkan suasana kantor yang dulu kaku.
Kevin pun berdiri beranjak, pikirannya sudah melesat jauh—hanya pada satu orang yang kini menjadi alasan segala senyum dan kebahagiaannya.
Di meja makan kantor yang biasanya sunyi, Kevin kini tersenyum lebar menatap layar ponselnya sambil sesekali menyuap makanan.
Kevin: "Sayang kamu lagi apa?"
Jantungku berdesir senang begitu melihat nama pengirimnya. Segera kuketik balasan.
Alya: "Aku lagi merapikan diri dikit sayang. Kamu sudah makan?"
Kevin: "Sudah nih, lagi makan sekarang. Masih terasa sakit nggak badannya?" disertai emoji tersenyum menggoda.
Wajahku memerah seketika membaca pertanyaannya.
Alya: "Ih kok bahas itu sih... sedikit aja kok."
Kevin: "Ya sudah kalau gitu. Nanti aku selesaikan urusan cepat, pulang lebih awal ya. Tungguin aku di sana ya sayang... muach! 😘"
Aku tersenyum malu sambil memeluk ponsel erat, seolah bisa merasakan kehangatan tatapannya lewat pesan itu saja.
Belum lama pesan terkirim, pintu ruangan terbuka pelan. Sinta melangkah masuk perlahan sambil membawa cangkir kopi, senyumnya dibuat-buat menggoda, berjalan makin mendekat ke arah meja kerja.
"Tuan Kevin... ini kopi hangat kesukaan Tuan," ucapnya manja sambil mencoba mencondongkan badan.
Kevin mendongak dengan tatapan tajam tak terbaca. "Ada apa, Sinta?"
"Melaporkan saja... Alya hari ini tidak masuk, katanya sedang sakit," jawabnya seolah penuh perhatian, padahal ia tahu betul keberadaan Alya.
Kevin hanya diam sejenak—ia paham benar alasan gadis itu tidak datang, tak perlu diberitahu Sinta. Melihatnya makin berani merapat, menampakkan riasan berlebih dan pakaian yang sengaja dibuka lebar hingga memperlihatkan lekuk tubuh, kesabarannya menipis.
"Ada keperluan lain? Jika tidak ada, silakan keluar."
Alih-alih pergi, Sinta justru makin berani, sedikit membuka kerah bajunya lebih lebar berharap bisa menarik perhatian.
Kevin menatapnya dingin sekilas, merasa tawaran itu terasa begitu murah dan memalukan. Ia berdiri tegak, suaranya tegas menggelegar di ruangan itu:
"Jaga batas sopan santunmu. Keluar sekarang."
Sinta terbelalak, tak menyangka akan ditolak setegas itu. Dengan muka merah padam, ia terpaksa berbalik dan melangkah gontai meninggalkan ruangan yang kembali hening.
Kevin kembali menatap layar ponsel, mengusap layar seolah sedang mengusap wajah Alya—tak ada yang bisa menggantikan ketulusan gadis itu, apalagi rayuan murahan semacam tadi.
Di lorong kantor yang sepi, Sinta mencengkeram tasnya erat, rahangnya mengeras menahan emosi yang meluap.
"Ngeselin banget sih si om itu! Padahal udah aku tunjukkan yang terbaik, tapi masih aja nolak mentah-mentah. Biarin aja, nanti bakal aku buktikan sendiri mana yang lebih berkelas! Apa kurang aku? Pintar, penampilan terawat, segala gaya udah aku kasih... Emang hebatnya apa sih Alya itu? Cuma anak kampungan, modal muda doang! Mana ada cantiknya dibanding aku!"
Ia berjalan cepat dengan langkah menghentak, hatinya dipenuhi rasa iri buta yang tak sadar bahwa yang dicari Kevin bukan sekadar rupa atau kepintaran semata—melainkan ketulusan hati yang tak pernah ia miliki.
Setelah semuanya rapi, aku segera bergegas menuju rumah sakit. Begitu masuk ke kamar rawat, aku langsung duduk di tepi kasur sambil menggenggam tangan ibu erat-erat.
"Mama... Alya kangen banget sama Mama..." suaraku lembut tak bisa menyembunyikan rindu. "Gimana kondisi Mama sekarang?"
Ibu tersenyum lembut sambil mengusap punggung tanganku. "Mama sehat kok, sayang. Anak Mama ini perhatian sekali ya. Mama baik-baik saja di sini, perawat dan dokternya juga sangat ramah dan telaten merawat Mama."
Matanya menatapku lekat-lekat. "Tapi Mama lihat... hari ini wajah kamu terlihat jauh lebih cerah dan berseri dari biasanya."
Aku tersenyum lebar menatapnya penuh harap. "Pasti ceria dong, Ma! Kan sekarang sudah bisa ketemu Mama. Mama harus semangat terus ya, cepat sembuh... nanti kalau Mama sudah pulih, kita pulang ke rumah sama-sama seperti dulu lagi."
Dokter berjalan mendekat sambil tersenyum ramah, wajahnya memancarkan kabar yang melegakan.
"Nona Alya, kabar baik. Kondisi Ibu sudah membaik secara signifikan. Sekarang tinggal masa pemulihan pasca operasi saja. Yang paling penting Nona pastikan beliau istirahat cukup, jangan terlalu lelah, dan makan bergizi secara teratur. Dengan begitu proses penyembuhannya akan berjalan lebih cepat dan sempurna."
Aku menahan haru bahagia, menatap Ibu yang juga tersenyum lega di sampingku. Terima kasih Tuhan... perjuangan ini mulai membuahkan hasil.
Kevin melangkah masuk ke apartemen dengan langkah cepat, seketika memanggil pelan sambil menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan.
"Sayang? Kamu di mana? Aku sudah pulang lebih awal..."
Suasana tetap hening. Ia mengecek kamar tidur, ruang tengah, dapur, hingga balkon—tetap tak menemukan sosok yang dicari. Kerisauan mulai menyelinap.
"Kemana dia? Tumben sekali tak pamit atau memberi kabar duluan..." gumamnya pelan, segera meraih ponsel untuk menghubungi Alya.
Kevin: "Sayang kamu di mana?"
Alya: "Aku lagi di rumah sakit sayang."
Kevin: "Kamu sakit? Ada yang luka?"
Alya: "Bukan aku, Mama yang sedang rawat di sini. Kondisinya sudah makin membaik kok."
Kevin: "Biarkan aku ke sana sekarang, sekalian temani kamu."
Alya: "Nggak usah dulu ya, nanti aku pesan taksi online pulangnya kok. Kamu istirahat dulu di apartemen."
Kevin: "Baiklah... aku tunggu kamu di rumah. Hati-hati ya, kabari kalau sudah jalan."
Aku tepuk jidat pelan sambil tersenyum menyesal. "Ya ampun... kok bisa lupa kasih kabar sih? Padahal dia sampai pulang lebih awal cuma buat ketemu aku."
Dalam hati makin terharu—sosok yang dulu terlihat dingin dan jauh, sekarang sampai begitu cemas kalau tak melihatku sebentar. Segera ku kirim pesan singkat lagi: "Maaf ya tadi lupa bilang, tadi asyik ngobrol sama Mama sampai lupa waktu. Kamu istirahat dulu ya, bentar lagi aku pulang."
Angin sore mulai menderu dingin saat aku berdiri menunggu kendaraan di halte. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi lalu lintas yang masih padat. Tiba-tiba sosok pria berpenampilan lusuh dan berbau alkohol menghadang langkahku—tak lain adalah ayah kandungku sendiri.
"Alya... Ayah kangen sekali padamu," suaranya serak sembari mencoba meraih lenganku.
Aku menepisnya kasar dengan mata berkaca tajam. "Untuk apa menyapa? Bukankah sejak lama kita tak lagi punya hubungan apa-apa?"
"Tolong Ayah... Ayah sangat butuh uang sekarang," desaknya memelas.
"Uang untuk apa lagi? Untuk judi? Atau untuk wanita lain yang kamu pelihara di luar sana?" bentakku tak lagi peduli. "Ibu terbaring sakit seperti ini semua karena ulahmu!"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kananku, membuat kepalaku pening seketika. Tanpa belas kasihan ia merampas tas yang kugendong, merobek dompetku dan menyambar seluruh isi uang di dalamnya.
"Dasar anak tak tahu diri! Kamu ada di dunia ini karena siapa hah?! Cepat kasih!" bentaknya kasar. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, ia berlalu begitu saja meninggalkanku yang terdiam terpaku, perih bukan hanya karena pipi yang memerah, melainkan karena luka lama yang kembali terbuka.
Aku buru-buru menyeka air mata yang menetes, menahan isak agar tak terdengar saat masuk ke dalam mobil. Punggungku terasa berat sekali, seolah beban hidup tak pernah benar-benar menjauh.
"Sudah cukup... sudah cukup rasanya begini terus. Kenapa harus orang tua sendiri yang menyakiti paling dalam?" batinku perih. "Kalau Kevin sampai tahu, pasti dia kecewa... atau kasihan setengah mati melihat betapa berantakannya hidupku. Aku malu sekali memperlihatkan sisi paling burukku padanya..."
Sepanjang perjalanan mataku menatap kosong ke luar jendela, berharap waktu bisa berhenti sebentar saja agar tak perlu berpura-pura kuat lagi.