NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 24 : Pengkhianatan Sahabat

Pagi hari di sudut kota metropolitan tidak pernah terasa begitu abu-abu bagi Nadira. Setelah malam yang melelahkan di taman belakang, ia memaksakan diri untuk tetap melangkah, mengabaikan denyut nyeri di kepalanya akibat terlalu lama menangis. Kehidupan harus tetap berjalan, dan tanggung jawabnya di TK Pertiwi tidak boleh terbengkalai hanya karena badai domestik yang sedang mencabik-cabik harga dirinya.

Namun, kejutan lain yang jauh lebih destruktif telah menunggu di ujung jalan.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel cadangan Nadira yang baru ia aktifkan kembali. Pesan itu datang dari nomor yang sangat familier—Rian Pratama. Rian adalah sahabat karibnya sejak semester pertama bangku kuliah. Pria itu adalah sosok yang selalu pasang badan saat Nadira kesulitan biaya modul, dan atas rekomendasi Nadira pula, Rian berhasil diterima bekerja sebagai staf administrasi di lantai operasional Mahendra Group enam bulan lalu.

*“Dira, kita harus ketemu. Tolong, ini penting sekali. Di kafe tua dekat kampus jam satu siang ini. Aku mohon, Dira. Ini soal dokumen yang hilang.”*

Membaca deretan kalimat itu, jantung Nadira berdesir hebat. Ada rasa penasaran sekaligus firasat janggal yang mendadak mencengkeram dadanya. Tanpa berpikir dua kali, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Nadira segera memesan taksi daring dan bergegas menuju tempat pertemuan.

 

Kafe tua di dekat area kampus itu tampak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk di sudut jauh. Di meja paling belakang, dekat jendela yang buram oleh debu jalanan, Rian sudah duduk menanti. Penampilannya tampak sangat berantakan; dasi kerjanya longgar, rambutnya kusut, dan sepasang matanya yang sembap dikelilingi lingkaran hitam pekat, memancarkan kecemasan yang luar biasa.

"Rian," sapa Nadira pelan, menarik kursi di hadapan sahabatnya.

Rian tersentak, mendongak dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan yang nyata. Begitu melihat wajah pucat Nadira, pria itu langsung menundukkan kepala, tidak berani mempertahankan kontak mata.

"Dira... terima kasih sudah mau datang," suara Rian bergetar, jemarinya meremas cangkir kopi yang sudah mendingin.

"Ada apa, Rian? Apa yang kamu ketahui tentang dokumen rahasia Pak Arka?" tanya Nadira langsung pada inti persoalan, suaranya sarat akan desakan emosi yang tertahan.

Rian meneguk ludah dengan susah payah. Setitik air mata kecemasan mulai mengalir di pipinya. "Dira... aku... aku yang melakukannya. Aku yang memberikan kartu akses masuk ke ruang arsip data utama malam itu."

*Deg.*

Nadira mematung seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. "Apa maksudmu, Rian? Jangan bercanda. Itu bukan hal yang bisa dijadikan lelucon."

"Aku tidak bercanda, Dira!" Rian setengah terisak, suaranya parau menahan beban dosa. "Nona Selena... Nona Selena mendatangi kubikal kerjaku seminggu sebelum pesta amal. Dia tahu aku memegang otoritas cadangan untuk pemeliharaan kartu akses logistik lantai atas. Dia memintaku untuk menduplikasi kartu tersebut dan memberikan kode akses manual ruang arsip padanya."

Nadira menggelengkan kepalanya perlahan, air mata mulai mengambang di kelopak matanya yang jernih. "Kenapa, Rian? Kenapa kamu membantunya? Kamu tahu itu ruang rahasia perusahaan tempatmu bekerja! Kamu tahu itu bisa menghancurkan kariermu!"

"Awalnya dia bilang dia hanya butuh bantuan untuk mengambil berkas proposal yayasan milik Tante Sarah yang tertinggal di sana, Dira! Dia bilang dia hanya ingin memberikan kejutan untuk Arka!" Rian mencoba membela diri, menyambar jemari Nadira di atas meja, namun Nadira dengan cepat menarik tangannya mundur, merasa asing dengan sentuhan sahabatnya sendiri. "Demi Tuhan, Dira! Aku tidak pernah tahu kalau dia akan menyalin draf proyek triliunan itu! Aku tidak pernah menyangka kalau tujuan utamanya adalah untuk menjebakmu dan menuduhmu sebagai mata-mata korporat!"

 

Kesunyian yang teramat menyakitkan membentang di antara mereka. Nadira menatap Rian dengan pandangan yang kosong, hancur, dan tidak percaya. Namun, logika Nadira yang tajam menangkap sebaris kejanggalan dari pembelaan diri Rian.

"Hanya karena berkas proposal?" bisik Nadira, suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat Rian gemetar. "Kamu seorang staf administrasi yang paham hukum perusahaan, Rian. Kamu tidak akan pernah mempertaruhkan pekerjaanmu hanya untuk membantu seorang wanita egois seperti Selena mengambil berkas proposal, kecuali..." Nadira menahan napasnya, seolah takut melanjutkan kalimatnya sendiri. "...kecuali ada hal lain yang dia berikan padamu."

Rian langsung terbungkam. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, dan tangisnya pecah seketika di dalam kafe yang sunyi itu.

"Maafkan aku, Dira... Maafkan aku," ratap Rian di sela-sela isak tangisnya. "Keluargaku... ibuku ditipu oleh rentenir ilegal di kampung. Utang kami menumpuk hingga ratusan juta rupiah, dan adikku diancam akan putus sekolah. Rumah kami mau disita minggu lalu. Aku frustrasi, Dira! Aku tidak punya uang sepeser pun!"

Rian menurunkan tangannya, menatap Nadira dengan wajah yang penuh dengan penyesalan yang terlambat. "Nona Selena mendatangi aku membawa koper berisi uang tunai... nominalnya sangat besar, cukup untuk melunasi seluruh utang keluargaku dan membiayai kuliah adikku sampai lulus. Aku khilaf, Dira. Setan telah menguasai pikiranku malam itu. Aku menerima uang itu dan menyerahkan kartu akses tersebut padanya."

*Plak.*

Tanpa sadar, air mata Nadira jatuh membasahi pipinya yang kian memucat. Pengakuan jujur dari mulut Rian menghantam lubuk hati Nadira jauh lebih dahsyat daripada seluruh makian kejam yang dilontarkan oleh Ibu Sarah tempo hari.

Selama ini, di tengah-tengah lingkungan keluarga Mahendra yang asing, kaku, dan penuh kepalsuan, Nadira selalu menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran bahwa ia masih memiliki seorang sahabat sejati di luar sana—seorang sahabat yang mengenal hatinya, yang tumbuh bersamanya dalam kesederhanaan, dan yang selalu bisa ia percaya. Namun hari ini, topeng kebaikan itu runtuh berantakan. Orang yang membukakan pintu bagi Selena untuk menghancurkan hidupnya, orang yang menjadi awal dari seluruh penderitaan dan pengusirannya dari rumah Mahendra, ternyata adalah sahabat terbaiknya sendiri.

"Kamu menjual aku, Rian..." bisik Nadira, suaranya parau dan bergetar hebat karena rasa perih yang teramat sangat di dadanya. "Kamu menjual rasa percaya kita selama bertahun-tahun hanya demi seonggok uang dari Selena."

"Dira, aku mohon, maafkan aku... Aku tidak tahu kalau dia akan mengorbankanmu!" Rian mencoba meraih ujung kardigan Nadira, namun Nadira segera berdiri dari kursinya, melangkah mundur dengan tatapan yang dipenuhi kekecewaan yang teramat mendalam.

"Jangan pernah mendekatiku lagi, Rian," ucap Nadira dengan nada suara yang membeku, menyeka air matanya dengan gerakan yang tegas. "Uang itu mungkin bisa melunasi utang keluargamu, tapi uang itu telah membunuh sahabat yang selama ini aku banggakan. Hari ini... pertemanan kita sudah selesai."

Tanpa menoleh lagi, Nadira membalikkan badannya dan melangkah keluar dari kafe tua itu, membiarkan Rian tersungkur sendirian di atas meja dalam tangisan penyesalan yang tak akan pernah bisa memutar balikkan waktu.

 

Sementara itu, di dalam mobil taksi yang membawanya kembali ke arah paviliun belakang, Nadira hanya bisa menatap kosong ke luar jendela. Hatinya telah mati rasa. Dikhianati oleh sahabat lama, dituduh oleh ibu mertua, dan tidak dipercayai oleh suami sendiri—ia merasa benar-benar telah dikosongkan dari segala bentuk kebahagiaan. Namun, di balik rasa hancur itu, setitik martabat yang teguh membuat Nadira menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia tidak akan membiarkan kebusukan Selena dan pengkhianatan Rian mengunci dirinya dalam status sebagai seorang kriminal.

Di sisi lain kota, di dalam kubikal kerjanya di lantai operasional Mahendra Group, Rian Pratama duduk mematung setelah kembali dari kafe. Kalimat terakhir Nadira—*“Kamu menjual aku, Rian”*—terus bergema berulang kali di dalam gendang telinganya bagaikan kutukan yang menyiksa batinnya. Rasa bersalah yang teramat besar mulai merayap, menghantui setiap detik napasnya.

Ia melihat ke arah slip setoran pelunasan utang ibunya di atas meja. Uang itu kini terasa begitu kotor dan berbau busuk di matanya. Rian tahu, jika ia tetap diam, ia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang seumur hidupnya. Ia telah menghancurkan hidup satu-satunya wanita baik yang pernah mengulurkan tangan menolongnya di masa-masa sulit kuliah dulu.

"Aku harus memperbaikinya... Aku harus menebus dosa ini pada Dira," bisik Rian dengan tekad yang mendadak mengeras di dalam matanya yang sembap.

Rian tahu bahwa tanpa adanya bukti tandingan yang konkret, kata-kata pengakuannya saja tidak akan cukup untuk menumbangkan posisi Selena yang disokong penuh oleh Ibu Sarah. Apalagi, ia mendengar kabar bahwa server utama IT telah dibersihkan secara misterius semalam, dan seorang petugas keamanan bernama Joko mendadak hilang setelah menemukan sesuatu di parkiran bawah tanah.

Akal sehat Rian mulai bekerja secara mandiri. Sebagai staf administrasi yang mengurus logistik pemeliharaan sistem perangkat keras, ia tahu ada satu celah yang sering kali dilewati oleh para peretas maupun pelaku sabotase tingkat tinggi: *Local Terminal Backup.*

Setiap kali kartu akses diduplikasi atau digunakan pada terminal pintu khusus ruang arsip, perangkat pembaca kartu (*card reader*) di depan pintu fisik tersebut selalu menyimpan data log mentah (*raw data log*) dalam bentuk enkripsi luring (*offline*) di dalam memori internal mesin pembaca itu sendiri selama tiga puluh hari sebelum ditimpa oleh data baru. Data luring ini tidak terhubung dengan jaringan server pusat, sehingga penghapusan server utama yang dilakukan oleh orang suruhan Selena semalam tidak akan bisa menyentuh data di dalam mesin fisik tersebut.

Rian melirik jam dinding. Pukul delapan malam. Lantai operasional dan ruang arsip sudah sepi karena seluruh staf telah pulang, menyisakan beberapa petugas keamanan baru yang berjaga di gerbang depan.

Dengan langkah yang diatur setenang mungkin, Rian membawa tas kerjanya dan berjalan menuju lift, menekan tombol menuju lantai tempat ruang arsip data utama berada. Jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan ketakutan, namun bayangan wajah hancur Nadira di kafe tadi siang menjadi bahan bakar yang membakar habis rasa takutnya.

 

Suasana di depan ruang arsip tampak sangat sunyi dan remang-remang. Rian mengeluarkan sebuah obeng kecil dan perangkat pemindai data portabel (*data extractor*) yang biasa digunakan tim teknisi dari dalam tasnya. Ia berlutut di depan mesin pembaca kartu akses yang terpasang di dinding sebelah pintu besi.

Dengan gerakan yang cekatan namun berhati-hati agar tidak memicu alarm sistem sabotase fisik, Rian membuka sekrup pelindung bawah mesin tersebut. Jarinya yang bergetar mulai menghubungkan kabel konektor data dari mesin langsung ke perangkat portabel miliknya.

*Pip... Pip... Pip...*

Lampu indikator pada alat pengekstrak data itu mulai berkedip hijau, menandakan proses penyalinan data log mentah luring sedang berlangsung. Di layar digital kecil alat tersebut, barisan kode enkripsi mulai mengalir turun. Rian menahan napasnya, matanya bergerak liar menatap ke ujung koridor, memastikan tidak ada petugas keamanan yang lewat melakukan patroli.

*“Progress: 80%... 90%... 100%. Download Complete.”*

Rian mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia segera mencabut konektor, merapikan kembali posisi sekrup mesin pembaca kartu seperti semula, dan menyimpan alat pengekstrak data yang kini berisi bukti otentik mengenai siapa pemilik asli dari sidik jari digital dan kartu akses yang digunakan Selena malam itu. Bukti ini akan menjadi peluru mutlak yang tidak akan bisa dibantah oleh tim hukum mana pun di bawah struktur Mahendra Group.

"Dira... aku akan mengembalikan nama baikmu," bisik Rian dengan senyum tipis yang sarat akan harapan tebusan dosa, seraya memasukkan alat tersebut ke dalam saku dalam jaketnya.

Namun, tepat saat Rian membalikkan badannya untuk melangkah menuju arah lift darurat, sebuah langkah kaki yang berat dan tegas mendadak menggema dari arah koridor yang gelap di depannya.

Sesosok pria bertubuh tegap dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku melangkah keluar dari balik bayang-bayang pilar beton. Pendar lampu malam yang temaram langsung mengekspos garis rahang yang tegas, wajah dingin yang kaku bagaikan pahatan es, serta sepasang manik mata hitam yang memancarkan aura intimidasi yang luar biasa mematikan.

Itu Arka Mahendra. Sang CEO rupanya belum pulang dan sedang melakukan inspeksi mandiri setelah mencium adanya ketidakberesan dari laporan hilangnya data log siber semalam.

Arka berdiri tegak di tengah koridor, menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang begitu tajam, seolah-olah sedang melihat seekor tikus yang tertangkap basah di dalam lumbung padinya.

"Rian Pratama," suara bariton Arka yang berat dan rendah menggema di dalam kesunyian koridor, mengirimkan gelombang ketakutan yang instan langsung ke dalam sumsum tulang belakang Rian. "Apa yang sedang dilakukan oleh seorang staf administrasi kelas bawah di depan pintu ruang arsip rahasia pada jam delapan malam dengan membawa peralatan teknisi?"

Rian membeku total di tempatnya berdiri. Seluruh keberaniannya seolah menguap tanpa bekas di bawah intimidasi tatapan mata sang penguasa bisnis yang juga merupakan suami dari sahabat yang telah ia khianati. Situasi kini telah berada di titik paling krusial, di mana bukti penebusan dosa telah berada di dalam saku jaket Rian, namun ia harus berhadapan langsung dengan harimau Mahendra Group yang mulai mengendus arah kebenaran yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!